Saatnya “Islamic World Order” Kembali Menerangi Bumi

Oleh: Kanti Rahmillah, M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI – Dunia telah porak-poranda di bawah pengurusan sistem kapitalisme. Sistem ekonomi neoliberal yang dipaksakan pada dunia, hanya mampu menciptakan siklus krisis serta menyebabkan penderitaan pada sebagian besar manusia.

Janji keadilan dan kesejahteraan yang terumuskan dalam sejumlah teori, nyatanya tak pernah terealisasi. Bahkan, menyebabkan malapetaka yang terus bertambah dan tak pernah bertepi.

Konferensi Tatanan Dunia Islam yang diadakan di Inggris (31/10/2020), membenarkan bahwa dunia kapitalisme sekuler sudah busuk dari lahirnya. Sistem ini tidak mampu memberikan solusi yang koheren bagi umat manusia. Konferensi daring yang dihadiri lebih dari 2.000 peserta dari berbagai negara ini pun menyimpulkan dunia membutuhkan Islam agar bisa terlepas dari keterpurukannya. (hizb.org.uk, 1/11/2020)

Mengapa kapitalisme tak mampu menyelesaikan permasalahan umat manusia? Lantas bagaimana Islam menjawab seluruh permasalahan umat dengan tuntas?

Pelecehan Nabi di Prancis dan Lemahnya Sikap Para Pemimpin Negeri Muslim

Permusuhan Prancis terhadap Islam dengan melecehkan Nabi dan menebarkan islamofobia, membuat marah kaum muslim dunia. Semakin mendidih kemarahan umat saat sikap para pemimpin negeri muslim tidak tegas dan absurd pada pencela Nabi. Sikapnya seolah sedang menegaskan mereka adalah para boneka yang tak berdaya.

Seperti sikap pemimpin negeri muslim terbesar di dunia ini, hanya bisa mengecam tindakan Prancis, tanpa berbuat apa-apa yang lebih berarti. Untuk sekadar memboikot produk Prancis atau mengusir Dubes Prancis pun tak bisa.

Begitu pula pemimpin negeri-negeri muslim lainnya, seperti Erdogan, hanya mampu menghina balik dan mengecam keras Macron, Presiden Prancis.

Raja Saudi dan pemimpin negeri Islam lainnya juga sama, tak ada satu pun yang berani memutus hubungan diplomatiknya dengan Prancis, apalagi mengancam Prancis dengan mengirimkan militernya agar Macron berhenti menghina Nabi.

Baca juga:  Korporatokrasi di Bawah Naungan Demokrasi

Padahal, ketika Daulah Khilafah tegak berdiri, Prancis yang kala itu akan menggelar teater yang menghina Nabi, diancam Khalifah Sultan Hamid II akan diperangi jika Teater pelecehan Nabi tersebut tetap diselenggarakan. Prancis pun dengan cepat membatalkannya.

Lantas, mampukah Erdogan dan para pemimpin negeri muslim lainnya melakukan hal yang sama? Sungguh, pemimpin kaum muslim hari ini lebih memperhatikan kepentingan politik mereka daripada membela Nabi dan ajarannya.

Penderitaan Umat Kian Meningkat

Telah kita saksikan bersama, penderitaan kaum muslim bukan hanya pada pelecehan terhadap Nabi Muhammad Saw. Tapi juga pelecehan terhadap ajarannya: hijab, cadar, jenggot, dan seluruh identitas kaum muslim dianggap nilai-nilai terbelakang yang dapat memecah belah umat. Padahal, lebih dari sekadar identitas, semua itu adalah wujud ketaatan seorang muslim terhadap ajaran agamanya.

Sikap marahnya umat muslim terhadap pelecehan Nabi malah dianggap telah menabrak nilai-nilai modern mereka, yaitu kebebasan berpendapat. Macron sendiri dengan tegas mendukung penerbitan karikatur Nabi oleh majalah Charlie Hebdo dengan dalih kebebasan berpendapat.

Mirisnya, meski jutaan umat dunia mengecamnya, tak berdaya membungkam sikap peleceh agama. Apalagi jika bukan karena lemahnya kekuatan umat muslim.

Selain itu, narasi Islam agama teroris yang digaungkan pascapeledakan gedung WTC pada 2001 di AS adalah propaganda jahat yang tak terbukti hingga kini.

Kapitalis sekulerlah yang harusnya disebut ideologi teroris karena telah membenarkan penyerangan AS terhadap negeri-negeri muslim. Jutaan kaum muslim meregang nyawa secara nyata akibat hegemoni mereka. Lantas, mengapa AS tak disebut negara teroris?

Sungguh memprihatinkan, kaum muslim seolah menjadi subordinat dan kehilangan muruahnya di hadapan umat dunia. Pembantaian ribuan kaum muslim Rohingya di Myanmar, kaum muslim Uighur di Cina, kaum muslim di Palestina, dan negeri-negeri muslim lainnya demi kepentingan kolonial, seolah tak ada harganya.

Baca juga:  Demokrasi Menyamakan Suara Kaum Cendikia dengan Pengidap Gangguan Jiwa

Dunia menutup mata dan telinga atas hilangnya nyawa jutaan kaum muslim. Padahal, satu saja nyawa umat muslim, nilainya lebih berharga dari dunia beserta isinya.

Lantas apa yang dilakukan para pemimpin muslim? Lagi-lagi mereka hanya mampu mengecam. Kecamannya pun seolah lip service hanya demi kepentingan politik mereka. Mereka telah tersandera Barat, menjadi antek-antek yang ditempatkan Barat untuk memuluskan kepentingan hegemoni Barat atas tanah kaum muslim.

Dunia Rindu Perubahan Nyata, Bukan Fatamorgana

Kegagalan kapitalisme menyelesaikan permasalahan pandemi dan terus berulangnya krisis ekonomi, berbuntut pada kehidupan umat yang serba sulit. Begitu pun ketidakadilan yang begitu terpampang nyata dan kesejahteraan yang tak pernah dikecap mayoritas umat dunia. Semua itu akibat sistem kapitalisme sekuler memimpin dunia.

Maka dari itu, dunia membutuhkan perubahan agar kondisi buruk ini cepat berakhir. Tentunya perubahannya harus mendasar. Bukan sekedar mereformasi kapitalisme yang berujung pada penyelesaian tambal sulam.

Dunia haruslah mengimplementasikan Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah, agar kita bisa mengakhiri kengerian dan tirani yang diciptakan tatanan dunia sekuler ini.

Sungguh, entengnya Jokowi menandatangani Omnibus Law UU Cipta Kerja di tengah derasnya aksi penolakan UU tersebut, contohnya, membuktikan perubahan yang harus terjadi di negeri ini bukan sekadar bergantinya rezim, melainkan juga sistem yang menjadi pijakan pemerintah dalam tata kelolanya.

Sejak Indonesia merdeka, tak ada satu pun rezim yang tidak menjadi antek asing. Kebijakannya selalu berporos pada kemaslahatan asing.

Kasus Omnibus Law membuktikan memperjuangkan perubahan lewat demokrasi sungguh sia-sia. Tak diapresiasinya para demonstran adalah wujud omong kosong demokrasi dalam menjamin kebebasan berpendapat.

Pun ujung nasib gugatan Omnibus Law ke Mahkamah Konstitusi (MK) akan sama seperti kasus UU Ormas dan gugatan hasil Pilpres, nihil tidak akan ada hasilnya. Oligarki kekuasaan telah memenjarakan fungsi MK sebagai lemabaga tertinggi negera.

Baca juga:  Demokrasi Antikritik

Maka dari itu, jangan lagi mau menggunakan demokrasi sebagai jalan perubahan. Selain belum pernah terbukti jalan parlemen mampu mengubah sistem negara, demokrasi juga sistem batil yang diharamkan oleh Allah SWT.

Saatnya Islam Memberikan Solusi pada Dunia

Sungguh, di bulan Rabiulawal ini, ada peristiwa besar selain kelahiran baginda besar Muhammad Saw. Yaitu peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw. dan para Sahabatnya dari Makkah ke Madinah. Peristiwa yang menandakan din Allah SWT secara resmi diterapkan sempurna dalam satu institusi negara.

Sebelum hijrah, masyarakat Madinah menerima Muhammad sebagai Rasul. Namun, ketika Rasul tiba di Madinah, mereka menerimanya sebagai penguasa dan seorang Nabi. Inilah awal baru peradaban mulia memimpin dunia.

Dari perjalanan Rasulullah Saw. kita bisa melihat, sebelum Rasulullah dan para Sahabatnya hijrah, mereka senantiasa mengkritik nilai-nilai Quraisy yang zalim dan merusak fitrah manusia.

Setelah hijrah, Rasulullah dan para Sahabatnya mengimplementasikan nilai-nilai dan hukum-hukum Islam. Artinya, selain menangani dan menunjukkan masalah, Islam juga memberikan solusi pada umat manusia.

Sungguh, di bulan mulia ini, seyogianya kita menghormati perjuangan dan pengorbanan Nabi dan para Sahabat. Bukan sekadar menarasikan cerita mereka, tetapi juga dengan mengikuti jejak mereka berjuang menerapkan Islam secara utuh dalam bingkai negara. Agar Islam mampu menyelamatkan umat manusia dari keterpurukannya.

Perjuangan Rasul dan Sahabatnya telah tertuang dalam Al-Qur’an, hadis, dan kitab-kitab ulama. Maka, masihkah kita tetap menggunakan cara-cara Barat dalam menyelesaikan permasalahan umat? Mari berjuang bersama menerapkan syariat Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah, agar kemuliaan Nabi dan ajarannya kembali menerangi bumi. [MNews/Gz]

One thought on “Saatnya “Islamic World Order” Kembali Menerangi Bumi

Tinggalkan Balasan