Merdeka Belajar, Terobosan Anyar yang Bikin Visi Keilmuan Ambyar

Oleh: Juanmartin,S.Si., M.Kes.

MuslimahNews.com, OPINI – Arah kebijakan dunia Perguruan Tinggi kian menunjukkan keberpihakannya pada korporasi. Konsep knowledge based economy terus digodok hingga menjadi ruh Perguruan Tinggi dalam menjalankan tri dharmanya. Bukannya mengabdi pada masyarakat, buah pikir kaum intelektual justru diabdikan untuk kepentingan korporasi.

Sebagaimana diberitakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah meluncurkan program Merdeka Belajar Episode Enam dengan mengangkat tema “Transformasi Dana Pemerintah untuk Pendidikan Tinggi” secara virtual, Selasa (3/11/2020).

Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan, Merdeka Belajar Episode Keenam lahir dengan fokus pada pembangunan SDM unggul di jenjang pendidikan tinggi. Tak tanggung-tanggung, Kemendikbud akan meningkatkan anggaran dalam konteks kinerja, untuk mencapai mutu yang diinginkan.

Sayangnya, seluruh indikator yang menunjukkan kinerja satu Perguruan Tinggi menguatkan kesan Perguruan Tinggi dipacu untuk bertransformasi menjadi wadah pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan bermental pekerja, minus pemikir.

Di sisi lain, kampus seolah kehilangan independensi dalam menentukan cita-cita tri dharmanya untuk mengurai permasalahan yang ada di masyarakat. Mengapa? Karena indikator kinerja diukur dari ada tidaknya lulusan yang berwirausaha, ada tidaknya mahasiswa yang memiliki proyeksi untuk berwirausaha, termasuk ada tidaknya kerja sama PT dengan dunia industri. Artinya, dunia Perguruan Tinggi disetir dunia industri.

Hal ini terlihat dari apa yang disebut Nadiem sebagai terobosan Merdeka Belajar berikut ini:

Tiga Terobosan Merdeka Belajar Episode Enam

Nadiem menerangkan, Merdeka Belajar Episode Keenam mencakup tiga terobosan yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan tinggi Indonesia. Terobosan Merdeka Belajar Episode Enam yakni:

1. Insentif Berdasarkan Capaian Indikator Kinerja Utama (Untuk PTN).

Insentif kinerja yang disediakan bagi PTN, terang Nadiem, didasarkan pada capaian delapan Indikator Kinerja Utama (IKU) yang kental akan logika kapitalisme. Delapan IKU yang dikatakan merupakan landasan transformasi pendidikan tinggi, yakni: Lulusan mendapat pekerjaan yang layak dengan upah di atas upah minimum regional, menjadi wirausaha, atau melanjutkan studi. Mahasiswa mendapatkan pengalaman di luar kampus melalui magang, proyek desa, mengajar, riset, berwirausaha, serta pertukaran pelajar. Dosen berkegiatan di luar kampus dengan mencari pengalaman industri atau berkegiatan di kampus lain.

Di sini kita layak bertanya, konsep Pendidikan Tinggi seperti apa yang mengajak civitas akademik untuk melakukan pernikahan massal dengan dunia industri jika bukan didasarkan pada logika kapitalisme?

Lantas seluruh ilmu yang didapat harus dibawa ke mana? Kepada para pemilik modal yang menguasai industri atau masyarakat?

Mengapa dikatakan bahwa kebijakan ini kental dengan logika kapitalisme? Karena pemerintah menganut teori trickle down effect. Jika dunia kampus berkontribusi mencetak para wirausahawan yang mampu membuka lapangan kerja, dengan sendirinya masyarakat akan direkrut.

Baca juga:  Kampus dan Intelektual Tersandera Kooptasi Peradaban Sekuler

Apakah cita-cita ini akan mampu menyelesaikan problem kemiskinan dan sempitnya lapangan pekerjaan? Tentu tidak! Karena faktanya, ini hanyalah strategi kapitalisme global untuk menstimulus ekonomi masyarakat agar mereka memiliki daya beli atas barang dan jasa yang produksi para korporasi. Di sinilah jahatnya kapitalisme.

Sementara para intelektual diminta untuk menjadi mesin pembersih masalah ekonomi yang diproduksi kapitalisme, di balik program pengabdian kepada masyarakat yang mereka namakan kebangkitan ekonomi kreatif.

Poin selanjutnya menggambarkan bagaimana PT mengukuhkan dirinya sebagai mesin pembersih masalah ekonomi. PT diminta menjalin kerja sama dengan pihak industri sebagai pelengkap indikator sebelumnya, yakni praktisi pengajar di dalam kampus atau merekrut dosen yang berpengalaman di bidang industri.

Indikator yang tersisa pun menggambarkan bagaimana Perguruan Tinggi di bawah kapitalisme global harus mengikuti indikator pemeringkatan kampus yang lagi-lagi disandarkan pada upaya penyelamatan ekonomi rakyat.

Indikator ini menyatakan bahwa hasil kerja dosen (hasil riset dan pengabdian masyarakat) dapat digunakan masyarakat dan mendapatkan rekognisi internasional, program studi bekerja sama dengan mitra kelas dunia baik itu dalam kurikulum, magang, maupun penyerapan lulusan, kelas yang kolaboratif dan partisipatif, serta program studi berstandar internasional dengan akreditasi atau sertifikasi tingkat internasional.

2. Dana Penyeimbang atau Matching Fund Untuk Kerja Sama dengan Mitra (Untuk PTN Dan PTS).

Kebijakan kedua ini merupakan implementasi poin pertama. Kemendikbud menyediakan dana penyeimbang kontribusi mitra (matching fund). Ekonomi kreatif yang ditopang UKM/UMKM memang merupakan exit strategy ala kapitalisme dalam menangani resesi ekonomi.

Apa yang dilakukan pemerintah melalui Kemendikbud ini menunjukkan lepas tangannya negara dalam mengurus urusan rakyat. Dalam penyediaan dana penyeimbang ini, negara hanya berfungsi hanya sebagai regulator yang berperan memberikan stimulus kebangkitan ekonomi, sedang selebihnya diserahkan kepada rakyat sendiri.

Baca juga:  Inovasi Pendidikan ala Mas Menteri dan PR Besar PPDB

Di era serba digital seperti saat ini, pemerintah cukup memfasilitasi pelaku UMKM dengan membuka link, memberi ruang bagi korporasi penyedia kredit usaha, provider layanan daring dan pemilik marketplace.

Kemendikbud sendiri telah menyediakan platform kedaireka.id bagi perguruan tinggi dan mitra sehingga calon mitra dan perguruan tinggi secara bebas dapat mencari dan memilih mitra yang paling tepat. Urusan selanjutnya, para pelaku UMKM maupun wirausahawan sendirilah yang harus berjuang memenuhi kebutuhan harian mereka.

Sekali lagi, kaum intelektual diminta untuk menggaet calon mitra untuk mengajukan proposal permasalahan yang harus dipecahkan, sementara perguruan tinggi dapat mengajukan solusi yang akan dikaji.

Melalui matching fund, kerja sama perguruan tinggi dan mitra dapat memastikan pembelajaran tetap relevan. Apa yang dimaksud dengan relevan di sini? Yakni saat pengetahuan dosen selalu diperbaharui terkait masalah wirausaha dan mahasiswa siap menjajaki dunia kerja.

3. Program Kompetisi Kampus Merdeka atau Competitive Fund (Untuk PTN Dan PTS).

Kebijakan ketiga, program kompetisi Kampus Merdeka atau competitive fund. Kebijakan yang dibuat melalui sistem kompetisi ini membuat intelektual kian amnesia dengan cita-cita keilmuan mereka.

Bayangkan, dana kompetisi sebesar Rp500 miliar ini digunakan untuk mewujudkan aspirasi masing-masing perguruan tinggi dan mendorong potensi capaian delapan IKU yang masih dipertanyakan relevansinya dengan tri dharma PT.

Dalam kompetisi inilah kita menyaksikan bagaimana sistem kapitalisme telah mendudukkan ilmu di bawah harta seraya menempatkan visi keilmuan para intelektual sekadar berdimensi duniawi semata.

Terobosan seperti apa yang dimaksud Jokowi dalam program Merdeka Belajar ini? Apakah yang dimaksud adalah membangun iklim kompetitif untuk meningkatkan daya saing dalam menjalin sinergi dengan BUMN, industri, talent pool, dan segala yang berbasis digital?

Prestasi seperti apa ini? Saat cita-cita keilmuan para intelektual dibajak kepentingan korporasi, Perguruan Tinggi tidak akan merasakan apa yang disebut merdeka jika di saat yang sama mereka dikekang untuk mengabdikan ilmunya hanya untuk korporasi.

Perguruan Tinggi tidak bisa dikatakan merdeka saat para intelektualnya dijadikan mesin pembersih masalah yang dihasilkan kapitalisme global. Perguruan Tinggi tidak bisa dikatakan merdeka saat ilmu yang harusnya berdimensi ukhrawi justru dibajak sekadar berdimensi duniawi semata.

Baca juga:  "Kampus Merdeka" dalam Cengkeraman Korporasi, akankah Masalah Pendidikan Teratasi?

Pandangan Islam terhadap Ilmu dan Ahli Ilmu

Dalam Islam, ilmu ditempatkan pada posisi yang mulia. Allah memuliakan ilmu juga para ahli ilmu. Allah SWT berfirman,”Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS Al-Mujadalah :11).

Ilmu memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Rasulullah mengibaratkan ilmu laksana air hujan sebagaimana sabdanya, “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dengannya aku diutus Allah, seperti air hujan yang menyirami bumi.” (HR Bukhari)

Maka, dengan ilmunya, sudah selayaknya para intelektual menjadi penerang bagi gelapnya kebodohan sekaligus pemberi solusi atas berbagai masalah masyarakat.

Sayangnya, di alam sekuler, fungsi vital intelektual ini dibajak. Padahal, jika fungsi ini dimaksimalkan, niscaya kehidupan manusia tak akan dililit masalah di tengah banyaknya pakar dari kalangan intelektual. Itulah mengapa intelektual disebut sebagai pilar peradaban.

Ilmu dan iman adalah dua modal penting untuk mencapai tujuan penyelenggaraan pendidikan yakni terwujudnya sosok-sosok yang berkepribadian Islam.

Dengan ilmunya, para intelektual akan hadir memberi solusi. Dengan keimanannya, mereka paham bahwa ilmunya wajib berdimensi akhirat. Alhasil, ilmu yang mereka miliki tak akan dibiarkan dikangkangi harta dan diabdikan untuk kepentingan segelintir orang.

Ali bin Abi Thalib mengungkapkan, “Seorang ahli ilmu akan dijunjung tinggi karena ilmu dan intelektualitasnya, sedang seseorang yang banyak harta akan dijunjung tinggi hanya karena hartanya.”

Jika ilmu telah ditempatkan di bawah harta, sesungguhnya para intelektual telah mengabaikan perkataan sang ahli ilmu, Ali bin Abi Thalib.

Beliau berkata “Harta itu semakin dibagi akan semakin habis. Sedang ilmu, semakin dibagi akan semakin bertambah. Ilmu itu menjaga kita, sedang harta, kitalah yang menjaganya.”

Di tengah arus kehidupan sekuler, saatnya para intelektual menentukan keberpihakannya. Apakah ingin terus terpenjara dalam arus kapitalisme yang membajak fitrah mereka sebagai ahli ilmu, atau memilih merdeka dengan Islam yang memuliakan ilmu dan intelektualitas mereka? [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *