[Sirah Nabawiyah] Dari Propaganda Jahat Hingga Pemboikotan

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH – Tidak cukup dengan cara halus, ancaman bahkan penyiksaan ditimpakan pada Sahabat Rasul. Para pemimpin Quraisy terus memutar otak mereka untuk memadamkan cahaya kebenaran yang dibawa Rasulullah Saw.

Kegelapan telah meliputi hati dan pikiran orang-orang Quraisy. Mereka tidak rela semakin banyak orang yang terpengaruh dengan ajaran Muhammad Saw. Islam telah menjadi buah bibir dan perlahan menggerogoti kepercayaan dan keyakinan masyarakat akan agama nenek moyangnya.

Menyebarkan Stigma tentang Muhammad Saw.

Ketika musim haji telah dekat, Rasulullah Saw. tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Beliau dan kelompok dakwahnya akan menyampaikan Islam di antara orang-orang Arab yang datang ke Makkah.

Kaum Quraisy memandang hal ini tidak boleh didiamkan. Mereka merancang strategi agar orang-orang yang datang untuk berhaji tidak terpengaruh dengan perkataan Muhammad Saw. dan sahabatnya.

Para pemimpin Quraisy berkumpul di rumah Walid bin Mughirah. Walid bin Mughirah berkata kepada mereka, “Wahai orang-orang Quraisy, sungguh musim haji telah tiba. Di musim haji ini delegasi-delegasi bangsa Arab akan mendatangi kalian. Mereka telah mendengar masalah kalian ini. Untuk itu satukanlah pendapat kalian, lupakan perselisihan agar kalian tidak saling mendustakan atas pendapat yang kalian sebarkan.”

Mereka berkata, “Katakan saja Muhammad itu dukun!” Walid bin Mughirah berkata, “Jangan, demi Allah dia bukan dukun. Muhammad tidak pernah berkomat-kamit dan bersajak layaknya dukun.”

Mereka pun ingin memberi cap bahwa Rasulullah Saw. adalah orang gila, namun ini tidak masuk akal. Begitu pula mereka ingin mengatakan Muhammad Saw. adalah penyair. Dan sekali lagi ini dibantah mereka sendiri.

Pun ketika mereka ingin mengatakan Muhammad adalah seorang tukang tenung. Mereka tidak pernah menemui Muhammad Saw. meniup-niupkan napasnya pada buhul-buhul tali, sebagaimana dilakukan para tukang tenung.

Habis akal para pemimpin Quraisy. Mereka tidak menemukan stigma yang cocok untuk pribadi Rasulullah Saw. Akhirnya mereka berpendapat bahwa cap yang mendekati dengan Muhammad Saw. adalah penyihir.

Baca juga:  Pemboikotan terhadap Dakwah Rasulullah Saw.

Cap Penyihir

Muhammad datang dengan perkataan yang mengandung sihir. Perkataannya mampu memisahkan tali persaudaraan, hubungan suami istri, dan ikatan kekeluargaan.

Kaum Quraisy mulai duduk-duduk di setiap jalan yang dilalui orang-orang yang datang ke Makkah untuk berhaji. Setiap orang yang lewat diberitahu agar berhati-hati dengan Muhammad Saw. Mereka menjelaskan berbagai kedustaan mengenai Rasulullah Saw.

Maka di musim haji kali ini, bangsa arab dihebohkan dengan isu mengenai Muhammad Saw. dan ajarannya. Kaum Quraisy tidak menyadari apa yang mereka propagandakan juga membuat sebagian besar jemaah haji penasaran tentang siapa Muhammad Saw. dan apa ajarannya. Kondisi ini telah membukakan pintu tersebarnya Islam keluar Makkah.

Meskipun Rasulullah Saw. didustakan, dituduh dukun, orang gila, penyair, tukang tenung, dan penyihir, beliau tetap mendakwahkan agama Allah SWT dengan terang-terangan. Beliau tidak menyembunyikan sesuatu yang dibenci kaumnya. Rasulullah Saw. tetap mencela agama dan berhala mereka.

Upaya Bujuk Rayu Melalui Utbah bin Rabi’ah

Utbah bin Rabi’ah pergi menemui Rasulullah Saw. Di samping beliau, dia berkata, “Wahai kemenakanku, sesungguhnya engkau bagian dari kami seperti yang engkau ketahui. Engkau mempunyai kehormatan di dalam keluarga serta mempunyai keluhuran nasab. Sungguh engkau telah membawa perkara besar kepada kaummu. Engkau memecah belah persatuan mereka dan menjelek-jelekkan mimpi-mimpi mereka, mencaci maki tuhan-tuhan mereka dan agama mereka, dan mengafirkan orang tua mereka yang telah meninggal dunia. Maka dengarkanlah perkataanku, karena aku akan mengajukan tawaran yang bisa engkau pikirkan, dan semoga engkau menerima sebagian dari tawaran tersebut.

Rasulullah Saw. berkata kepada Utbah, “Katakan saja wahai Abu Al Walid, aku mendengar perkataanmu.”

Utbah melanjutkan perkataannya, “Kemenakanku, apabila dengan apa yang engkau bawa ini engkau menginginkan harta, kami akan mengumpulkan seluruh harta kami agar engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami. Apabila engkau menginginkan kehormatan, engkau akan kami angkat sebagai pemimpin dan kami tidak akan memutuskan perkara tanpamu. Apabila engkau menginginkan kekuasaan, engkau akan kami angkat sebagai raja. Dan apabila yang datang kepadamu adalah sebangsa jin yang tidak mampu kamu usir, kami akan carikan tabib untukmu dan mengeluarkan harta kami hingga engkau sembuh darinya, karena boleh jadi jin mengalahkan orang yang dimasukinya hingga ia sembuh darinya.

Baca juga:  Jadilah Ahlun Nushrah

Setelah Utbah selesai bicara, Rasulullah Saw. berkata, “Apakah engkau sudah selesai berbicara wahai Abu Al Walid?

Utbah menjawab, “ Ya, sudah.

Rasulullah Saw. melanjutkan perkataannya, “Jika begitu dengarkanlah apa yang aku katakan.

Lalu Rasulullah Saw. membacakan, “Bismillahirrahmanirrahim. Ha Mim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata, “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula).(TQS Fushilat: 1-5)

Rasulullah Saw. terus melanjutkan bacaannya. Utbah mendengarkan dengan saksama. Ketika Rasulullah Saw. sampai pada ayat sajadah, beliau bersujud. Kemudian beliau berkata, “Wahai Abu Walid, setelah kamu mendengarkan apa yang baru saja engkau dengar, masihkah kamu dengan sikapmu?

Setelah itu, Utbah yakin Muhammad Saw. jauh dari keinginan mencari dunia. Muhammad Saw. jauh berbeda dari pemimpin yang ada. Utbah berpendapat dia harus menyampaikan kepada kaumnya tentang Muhammad Saw. dan akan menasihati mereka sebagaimana nasihat yang diterimanya.

Baca juga:  [Sirah] Titik Awal Dakwah Rasulullah Saw.

Pemboikotan terhadap Rasulullah Saw. dan Pembelanya

Kaum Quraisy melihat berbagai upaya yang mereka lakukan menemui kegagalan. Rasulullah Saw. dibela oleh Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Mereka kemudian menempuh cara lain, yakni memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Tidak boleh menikah dengan wanita mereka, tidak boleh menikahkan mereka, dan tidak bertransaksi jual beli apa pun dengan mereka.

Mereka menyepakati keputusan tersebut. Mereka menuliskannya di atas lembaran dan menggantungkannya di dalam Ka’bah sebagai bentuk ketegasan sikap atas hal itu.

Bani Hasyim dan Bani Muthalib bergabung dengan Abu Thalib, bersama-sama mereka pergi ke lembah miliknya dan berkumpul di sana, tetapi Abu Lahab bin Abdul Muthalib malah berpihak kepada kaum Quraisy.

Mereka tinggal di lembah hampir selama tiga tahun. Melihat kondisi Bani Hasyim dan Bani Muthalib, ada beberapa pemuka Quraisy yang menaruh belas kasih.

Adalah Hisyam bin Amr, dia kemenakan Nadhalah bin Hasyim bin abdi Manaf dan jalur ibunya. Dia tergolong orang yang terhormat di tengah kaumnya. Hisyam menemui beberapa pemuka Quraisy. Mereka bersepakat untuk mengakhiri pemboikotan atas Bani Hasyim dan Bani Muthalib.

Kegagalan demi kegagalan upaya kaum Quraisy membuat mereka mulai merasakan kelemahan posisi mereka di hadapan Rasulullah Saw. dan kelompok dakwahnya. Sementara silih bergantinya ujian, mulai dari stigma, bujuk rayu, bahkan pemboikotan, tidak membuat pemikiran kelompok dakwah Rasul Saw. ini bergeser sedikit pun atau berkompromi dengan orang-orang yang memusuhi dakwah.

Al-Qur’an al Karim pun senantiasa mengingatkan kelompok dakwah ini, di antaranya dengan firman-Nya,

Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak pula kepadamu.(QS al Qalam: 8-9) [MNews/Rgl]

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al Azhar Press

5 thoughts on “[Sirah Nabawiyah] Dari Propaganda Jahat Hingga Pemboikotan

Tinggalkan Balasan