Hipokrisi Prancis dan Penguasa Muslim yang Membebek Barat, Dr. Nazreen: Mengenaskan

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL – Pemerintah Prancis, dalam hal ini Emmanuel Macron, bersikukuh memberikan dukungan terhadap publikasi ulang karikatur Rasulullah oleh majalah Charlie Hebdo, bahkan memajangnya di gedung-gedung pemerintah. Padahal, kondisi politik lokal dan internasional dipenuhi kemarahan dan kecaman.

Menanggapi hal ini, aktivis muslimah internasional asal Inggris, Dr. Nazreen Nawaz menyatakan inilah potret negara sekuler liberal.

“Macron betul-betul mendukung dan mengeksploitasi momen terbunuhnya Samuel Paty, dengan alasan memuja kebebasan berekspresi. Seolah seperti sapi keramat atau gagasan yang tidak bisa dikritik, bahkan mempromosikannya ke seluruh penjuru dunia,” ujarnya pada Sabtu (31/10/2020).

Ironisnya, menurut Dr. Nazreen, promosi kebebasan berekspresi yang menjadi gagasan suci mereka justru berbenturan dengan gagasan suci agama lain yaitu Islam, dalam hal ini potret Nabi Muhammad Saw.

Dari sini mulai tampak sikap hipokrit atau standar ganda total yang sangat ekstrem. Yakni ketika Macron dan seluruh jajarannya beserta para pemuja gagasan kebebasan berekspresi ini, melabeli Islam sebagai radikal dan teroris saat menolak gagasan tersebut.

“Mereka berusaha melakukan kriminalisasi dan bertaklid buta terhadap gagasan kebebasan berekspresi tersebut, terlepas dari kecacatan dan kepalsuannya,” tegas Dr. Nazreen.

Dr. Nazreen mengungkapkan, sebenarnya jika bicara konteks karikatur ini dan kemarahan kaum muslimin, di satu sisi justru dijadikan senjata politik Macron untuk terus memopulerkan gagasan kebebasan berekspresi. Dan di sisi lain menargetkan komunitas muslim di negaranya.

Baca juga:  Pindahkan Materi Khilafah dan Jihad dalam Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam = Anti-Islam!

Ia menyebut banyak kemunafikan yang dipraktikkan Macron dan jajarannya, seperti saat mengatakan mereka punya kebebasan pers. Namun, saat ada media pada 2019 yang meliput penjualan senjata Prancis ke Saudi Arabia, langsung ditindak Macron.

“Antara pernyataan dan kenyataan tidak sesuai. Termasuk kepada kaum muslimin,” cetusnya.

Dr. Nazreen pun mengecam sebuah anekdot yang berkembang. Anekdot itu berbunyi, “Ada seorang pria mengatakan, jika kamu menghina perempuan, kamu adalah sexis. Jika kamu menghina seorang kulit hitam, kamu adalah rasis. Jika kamu menghina Yahudi, kamu antisemit. Dan jika kamu menghina muslim, kamu mempraktikkan kebebasan berekspresi.”

“Sampai seperti itu kebenciannya. Penyebab utamanya adalah pemujaan kebebasan berekspresi. Dan ini menjadi alat politik untuk menekan kaum muslim di Prancis,” tukasnya.

Selain itu, kebencian terhadap komunitas muslim dan perkembangan Islam di Eropalah yang menjadi latar belakang hal ini. Maka ketika Macron berupaya menekan tombol mesin propaganda anti-Islam dan mengampanyekan nilai-nilai liberal, Dr. Nazreen berharap kaum muslim pun harus berani menekan tombol menentang kembali semua ide rusak tersebut.

“Ide yang mereka jadikan tameng adalah kebebasan berekspresi, yang sebenarnya dibahanbakari kebencian terhadap Islam dan kaum muslimin,” jelasnya.

Baca juga:  Propaganda

Cara Menghentikan Penistaan Rasulullah

Dr. Nazreen juga memaparkan cara agar kaum muslim seluruh dunia bisa menghentikan aksi-aksi penghinaan terhadap Rasulullah, Al-Qur’an, dan agama Islam secara umum yang terus berulang.

Menurutnya, saat ini pemerintahan Barat tidak takut terhadap kemarahan kaum muslimin karena tidak ada satu pun penguasa muslim yang mereka takuti.

“Tidak ada yang sungguh-sungguh merepresentasikan kemarahan dan suara kaum muslimin. Inilah titik kritisnya,” ujarnya.

Dr. Nazreen mencontohkan, salah satunya penguasa muslim di Turki yang bersikap lunak terhadap Prancis di beberapa momen. Juga pemerintahan Saudi yang justru mengorganisir counter campaign untuk membela kepentingan Prancis.

“Sebuah ironi saat mencermati bagaimana sikap penguasa muslim ketika kehormatan mereka sendiri yang diserang. Contohnya, ada 24 pasal yang membentengi penguasa muslim di Arab Saudi ketika ada yang menghina kehormatan mereka atau legitimasi mereka atau eksistensi kekuasaan mereka,” tuturnya.

Dr. Nazreen juga menunjukkan bagaimana sikap penguasa muslim saat Rasulullah dihina. Yakni cukup sekadar retorika mengecam, namun di lapangan mereka terus bergandengan tangan dengan Prancis, khususnya dalam hal counter campaign terhadap upaya boikot produk Prancis.

“Sikap yang sangat mengenaskan dari penguasa muslim,” kecamnya.

Alhasil, kemarahan kaum muslimin pantas untuk tidak ditakuti. Berbeda pada saat abad 19 akhir, Sultan Abdul Hamid II pernah betul-betul marah ketika Prancis dan beberapa negara Eropa akan mementaskan teater yang mereka populerkan dengan mengolok-olok Rasulullah.

Baca juga:  Stop Menistakan Ajaran Islam!

Kala itu, Kekhilafahan Islam sudah dalam kondisi sakit hingga dijuluki “The Sick Man of The Europe”. Namun, Kekhilafahan tetap mengancam akan mengerahkan apa pun untuk menghentikan teater itu.

Hasilnya, Prancis ketakutan dan aktor-aktor pemeran teater itu sebagian diasingkan ke Inggris sebab khawatir dengan tindakan yang akan dilakukan Kekhilafahan.

“Meskipun kondisi Kekhilafahan melemah, tetap ada kekuatan politik yang memiliki keberanian untuk mewakili sikap kaum muslimin. Inilah yang dibutuhkan,” tukas Dr. Nazreen.

Jadi bagaimana cara kaum muslimin menghentikan ini?

“Jawabannya sederhana. Tegakkan Khilafah kembali, yang betul-betul menerapkan Islam tanpa ada wala’ dan tercampur dengan sekularisme ataupun ideologi lain. Murni menerapkan syariat-Nya dan mengerahkan seluruh kekuatan politik, ekonomi, dan militer untuk membela Rasulullah,” jelasnya.

Selama Kekhilafahan tidak ada, ujarnya, penghinaan terhadap Rasulullah, Al-Qur’an, dan ajaran Islam tidak akan pernah bisa berhenti, karena tidak ada satu pun kekuatan politik yang ditakuti. “Ditambah sikap penguasa muslim yang membebek Barat, menjadi pelayan Barat, dan berkhianat terhadap rakyatnya sendiri yaitu kaum muslimin,” pungkasnya. [MNews/Ruh-Gz]

One thought on “Hipokrisi Prancis dan Penguasa Muslim yang Membebek Barat, Dr. Nazreen: Mengenaskan

  • 5 November 2020 pada 20:44
    Permalink

    Kekuasaan rezim muslim hari ini tdk utk menolong agama Alloh namun utk mjd budak dunia

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *