Opini

Benarkah Kehancuran Negara karena Ketidakadilan?

Oleh: Asy Syifa Ummu Sidiq

MuslimahNews.com. OPINI – Pembicaraan masalah keberlangsungan suatu negara selalu menarik untuk dikuliti. Ada yang bilang, negara yang kuat tergantung dari pemimpinnya. Tapi banyak juga yang menyatakan tergantung dari aturan yang dipakainya.

Perdebatan masalah ini selalu datang silih berganti. Tentunya tak akan pernah menemukan titik temu jika keduanya hanya ingin beradu.

Beberapa hari yang lalu, pembicaraan masalah kehancuran negara menjadi topik hangat. Pembicaraan ini dimulai oleh seorang tokoh karismatik yang dianggap salah satu politikus yang kompeten. Beliau adalah seorang profesor dan mantan ketua Mahkamah Konstitusi.

Prof. Mahfud MD dalam sebuah cuitan di akun Twitternya pada Senin (2/10/20) menuliskan, “Ketika diminta tidak menghukum orang yang bersalah, Nabi Muhammad Saw. mengatakan kepada keluarga Bani Mahzum, ‘Ketahuilah, hancurnya bangsa dan negara terdahulu disebabkan ‘jika ada orang besar bersalah dibiarkan tapi kalau ada orang kecil bersalah langsung dihukum had’ kepadanya’.”

Cuitan ini langsung mendapat komentar dari beberapa akun. Di antaranya ada yang kembali menulis ulang hadis tersebut. Bahkan ada yang menyatakan hal itu tengah terjadi di negeri sendiri. Di mana orang kaya/tokoh jika bersalah dibiarkan, sedangkan orang miskin jika bersalah langsung dihukum.

Namun, dalam cuitan selanjutnya profesor yang menjabat sebagai Menkopolhukam itu kembali menulis, “Ini lagi, ‘Tabqaa al dawlah al adilah wa in kaanat kaafiratan wa tafnaa al dawlah al dzolimah wa in kaanat muslimatan’: Akan terus kuat negara yang diselenggarakan dengan adil meski negara itu kafir, akan runtuh negara yang dipimpin dengan zalim meski negara itu Islam.” Kuncinya: ‘keadilan’.”

Artinya, jika suatu negara itu kafir, tapi dalam menjalankan pemerintahan sudah adil, dapat dipastikan negara tersebut akan tetap berdiri. Walaupun tidak menutup kemungkinan juga keruntuhannya tinggal menunggu waktu.

Baca juga:  Shamima dan Wajah Ketidakadilan Demokrasi Sekuler

Begitu pula dengan negara Islam. Meskipun negara tersebut menganut Islam, tapi jika pemimpinnya tidak adil, dapat hancur pula. Sebagaimana terjadi pada negara zaman dahulu. Seperti Mesir, Persia, atau Romawi. Negara-negara tersebut hancur karena kesenangan dan ketidakadilan.

Bagaimana dengan pernyataan tersebut? Benarkah penyebab kehancuran sebuah sebuah negara adalah ketidakadilan?

Mendalami Makna Keadilan

Adil dalam bahasa Arab memiliki makna kebalikan dari zalim. Adil secara bahasa  memiliki beberapa makna. Di antaranya memberikan hak pada yang berhak dan mengambil yang tidak berhak, serupa dan sama, balasan atau tebusan.

Sedangkan menurut ulama Ibnu Abbas, adil adalah kalimat Laa illaha illallah. Menurut Hazm, adil adalah tidak berbuat dosa besar dan tidak berbuat dosa kecil secara terang-terangan. Sedangkan menurut Ibnu ‘Atiyyah adil, adalah setiap kewajiban yang berupa akidah, syariat, melaksanakan amanat, meninggalkan kezaliman, insaf, dan memberikan hak.

Maka, secara umum keadilan dapat dimaknai sebagai menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tempatnya di sini tentu disesuaikan dengan bagaimana syariat memandang.

Jika syariat memerintahkan melaksanakan, kita pun melaksanakan. Begitu pula sebaliknya, jika syariat memerintahkan meninggalkan, kita pun meninggalkan.

Pertanyaannya, apakah saat ini keadilan juga diterapkan pada negara-negara bukan Islam?

Menguak Fakta Keadilan dalam Kapitalisme

Dalam hukum kapitalisme (bukan Islam) saat ini sering kali mengucap kata “adil”. Mereka beranggapan apa yang mereka putuskan adalah pilihan terbaik untuk rakyat. Mereka pun telah menyatakan segala kebijakan itu telah berlandaskan pada keadilan.

Padahal kenyataannya, ucapan adil hanya di bibir saja. Dalam aktivitasnya, keadilan cenderung dinilai secara subjektif. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa keadilan dalam pandangan Barat justru bersifat relatif. Dapat disesuaikan dengan waktu, tempat, dan pihak yang menerapkannya.

Baca juga:  Kembalikan Masjid pada Fungsinya

Bagi mabda kapitalisme, kata adil hanya diserahkan pada pandangan otak. Adil sebatas penilaian manusia semata. Walhasil unsur-unsur humanisme dapat masuk dalam kebijakan. Tidak dapat dimungkiri pula penilaian pandangan Barat hanyalah manfaat. Sehingga dalam melaksanakan keadilan pun akan dicari manfaatnya.

Selain itu nilai-nilai humanisme pun sering dipakai untuk mewujudkan keadilan. Maksudnya, dalam memutuskan hukuman bagi tidak kejahatan sering dipakai nilai kemanusiaan. Misalnya hukuman memotong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina yang telah menikah/cambuk bagi pezina yang belum menikah, hukuman qishas bagi yang membunuh, memerangi musuh, dll. Semua itu dinilai melanggar hak asasi manusia. Melanggar nilai humanisme/kemanusiaan.

Mereka (pandangan Barat) beranggapan bahwa hukum syariat Islam yang dikenakan pada pelaku kejahatan bukanlah tindakan yang manusiawi. Justru dengan hanya memasukkan mereka ke penjara atau memberikan denda adalah hukuman yang lebih manusiawi.

Padahal, yang namanya manusia punya kelemahan. Mereka cenderung punya subjektivitas atas keputusan mereka, sehingga humanisme tak akan mampu melahirkan keadilan sebagaimana mestinya.

Contohnya, betapa banyak pelaku kejahatan yang tidak dihukum sebagaimana mestinya. Akhirnya mereka mengulangi tindak kejahatan itu lagi.

Contoh riil adalah kejahatan dalam kasus Rangga. Di mana pelaku ternyata mantan residivis. Beberapa tahun sebelumnya ia pernah melakukan pembunuhan. Hanya diberi hukuman sebatas penjara. Itu pun mendapat pengurangan jatah tahanan dan dapat keluar penjara. Bukannya insaf, ternyata ia mengulangi kesalahannya lagi. Bahkan lebih parah dari sebelumnya. Dengan tega ia menghabisi nyawa anak kecil serta nekat memperkosa ibu si anak tadi.

Inikah keadilan dalam konsep kemanusiaan, di mana hukuman tak memberikan efek jera pada pelaku? Tentu bukan keadilan semacam ini yang rakyat inginkan.

Keadilan yang Dirindukan

Jika hanya mengandalkan konsep keadilan menurut manusia, kita tak akan mendapatkan apa-apa. Jangankan pahala, ketenangan dalam bernegara pun tak akan didapat. Maka, satu-satunya tempat yang dapat dijadikan acuan berperilaku adil hanyalah Zat Yang Mahaadil, yaitu Allah SWT.

Baca juga:  [Nafsiyah] Runtuhnya Kezaliman Hanya Soal Masa

Berperilaku adil sebagaimana yang diperintahkan Allah. Memenuhi segala sesuatu sesuai porsinya. Dengan memberikan hak dan melaksanakan kewajiban dalam berbagai bidang. Seperti adil dalam menerapkan hukum syara’, adil dalam mengurusi urusan umat hingga adil dalam memutuskan kebijakan.

Misalnya, sikap adil dalam memberikan hukuman bagi penjahat. Dapat memberikan efek jera pada pelaku, sekaligus menahan yang lain mengikuti kejahatan tersebut. Di sisi lain hukum Islam juga berfungsi sebagai penebus dosa. Sehingga nanti saat di akhirat tidak dimintai pertanggungjawaban.

Contoh lainnya, menempatkan pengurusan umat pada prioritas pertama. Memberikan hak rakyat, seperti menyediakan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan hingga keamanan. Tentu pelaksanaannya disesuaikan dengan hukum syara’.

Semua itu adalah gambaran keadilan dalam Islam yang akan mewujudkan keadilan hakiki. Namun syariat yang lengkap ini tidak akan berjalan tanpa pemimpin yang amanah dan taat beribadah. Karena dalam ketaatannya akan mampu menempatkan Islam pada porsinya.

Oleh karena itu, tidak hanya butuh orang yang beriman untuk menegakkan keadilan. Tapi juga diperlukan alat yang hebat untuk memuluskan tujuan, yaitu syariat-Nya.

Ditambah dengan lembaga yang menerapkan syariat, yang dikenal dengan institusi Khilafah. Dengan begitu negara hebat yang dimimpikan akan terwujud. Sehingga Allah akan menurunkan nikmatnya dari langit dan bumi.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: Al-A’raf [7]: 96) [MNews/Gz]

6 komentar pada “Benarkah Kehancuran Negara karena Ketidakadilan?

  • araimah

    keadilan itu hrs standar syariat

    Balas
  • Rinanda cahyawati

    Semoga segera tegak?

    Balas
  • Sistem bobrok demokrasi kapitalis hanya menciptakan ketidakadilan dalam negara yang akan memicu rakyat untuk mengeritik,berontak,meminta negara bersikap adil karena rakyat bukan hanya yang ada di kota besar tapi diseluruh penjuru negeri ini,hanya ISLAM yang akan mampu memberikan keadilan diseluruh dunia ini dengan penerapan hukum yang kaffah

    Balas
  • Tidak ada yg mampu mewujudkan sebuah keadilan kecuali dr yg Maha Adil. Maka jk ingin mewujudkan keadilan pake aturan dr yg Maha adil yaitu aturan Islam.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *