Genderang Kecaman Umat kepada Prancis, Efektifkah?

Oleh: Chusnatul Jannah

MuslimahNews.com, OPINI – “Rasa cemburu (girah) dalam konteks beragama adalah konsekuensi dari iman itu sendiri. Orang yang beriman akan tersinggung jika agamanya dihina, bahkan agamanya itu akan didahulukan daripada keselamatan dirinya sendiri. Ini pertanda masih adanya girah di dalam dirinya. Bangsa penjajah pun telah mengerti tabiat umat Islam yang semacam ini.

Jika agamamu, nabimu, kitabmu dihina dan engkau diam saja, jelaslah girah telah hilang darimu. Jika girah tidak lagi dimiliki oleh bangsa Indonesia, niscaya bangsa ini akan mudah dijajah oleh asing dari segala sisi. Jika girah telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan. Sebab kehilangan girah sama dengan mati.” (Buya HAMKA)

Girah itu pula yang ditunjukkan umat Islam demi membela Nabi Saw. yang mulia. Aksi mengecam pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Aksi yang tergabung dalam berbagai ormas tersebut memprotes ucapan dan sikap Macron yang membela karikatur Nabi Saw. yang diterbitkan majalah Charlie Hebdo.

Mereka menyeru pemboikotan produk Prancis dan menuntut agar duta besar Prancis di Indonesia dipulangkan ke negaranya. Siapa yang tak marah ketika Nabinya dihina? Siapa yang tak murka kala Rasulullah Saw sebagai teladan terbaik dilecehkan manusia durjana? Bagi mereka yang beriman tentu merasakan kemarahan itu.

Sikap Indonesia terhadap Prancis

Setelah pernyataan Macron dan karikatur Nabi yang melukai umat Islam dunia, negara Arab ramai-ramai memboikot produk Prancis. Pemboikotan itu membuat nyali Prancis agak ciut. Mereka sempat meminta agar negara lain tidak memboikot negaranya. “Seruan boikot ini tidak berdasar dan harus segera dihentikan, serta semua serangan terhadap negara kami, yang didorong oleh minoritas radikal,” kata Kementerian Luar Negeri Prancis mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Minggu (25/10) waktu setempat. (Detik, 26/10/2020)

Baca juga:  Islamofobia di Prancis Lahir dari Ketakutan Barat pada Islam

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan sempat berujar Macron perlu pemeriksaan mental karena pernyataannya. Ia juga menyerukan pada warganya agar tidak membeli produk Prancis. Lalu, bagaimana sikap Indonesia sebagai pemimpin negeri muslim terbesar di dunia? Meski agak terlambat, Indonesia akhirnya mengecam juga.

Presiden Jokowi menegaskan bahwa Indonesia mengecam aksi kekerasan yang terjadi di Paris dan Nice. Indonesia juga mengecam pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron karena dianggap telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia.

“Indonesia juga mengecam keras pernyataan Presiden Prancis yang menghina agama Islam, yang telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia,” kata Jokowi saat konferensi pers secara virtual dari Istana Merdeka Jakarta, Sabtu (31/10/2020). Jokowi menyebut, pernyataan Macron dapat memecah belah persatuan antar umat beragama di dunia. Padahal, saat ini dunia tengah dilanda pandemi virus corona (Covid-19). (Liputan6, 31/10/2020)

Sebelumnya, Indonesia sudah memanggil Dubes Prancis melalui Kementerian Luar Negeri untuk meminta penjelasan. Juru bicara Kemenlu, Teuku Faizasyah, mengatakan Indonesia keberatan dengan pernyataan Macron yang mengaitkan agama dengan tindakan terorisme.

Itulah yang sudah dilakukan Indonesia sebagai bentuk pembelaannya terhadap Nabinya umat Islam. Panggil kedubes, minta penjelasan, dan berakhir pada kecaman. Apakah pemerintah Indonesia akan memenuhi tuntutan massa aksi bela Nabi untuk mengusir Dubes Perancis? Belum tentu.

Pemerintah lebih memilih berhati-hati dalam bertindak. Pemerintah tidak ikut menyerukan memboikot produk Prancis. Seruan boikot produk Prancis hanya disuarakan MUI dan umat Islam sendiri.

Pengamat Hubungan Internasional UI Shofwan Al Banna Choiruzzad menilai kecaman ini tak akan berdampak terlalu signifikan. Apalagi sampai memengaruhi hubungan dagang kedua negara. “Saya kira belum ada kecenderungan ke arah sana ya (hubungan dagang),” ujar dia. Menurut Shofwan, Indonesia masih sekadar menyampaikan respons atas sikap Macron. (Liputan6, 31/10/2020)

Baca juga:  Aliansi Ormas Muslim Indonesia: Macron Bukti Peradaban Munafik Barat, Peringatan bagi Penguasa

Sekat Nation State

Bukan pertama kalinya majalah Charlie Hebdo menghina Islam. Pada tahun 2015, mereka pernah mencetak ulang karikatur Nabi Saw yang berakhir dengan penyerangan kantor majalah tersebut. Dengan dalih kebebasan berekspresi, majalah satire yang berpusat di Prancis itu kerap memprovokasi umat Islam.

Berulang kali Islam dilecehkan, dihina, dan diolok-olok. Berulang kali pula negeri muslim mengecam, mengutuk, dan memboikot. Namun, apakah dengan kecaman itu Prancis kapok? Apakah dengan pemboikotan, negara mereka bangkrut? Apakah dengan pengusiran duta besar, Prancis takut?

Sampai sekarang mereka tetap baik-baik saja. Malah bertambah arogansinya. Tak merasa salah dan enggan meminta maaf. Semua berlaku atas nama kebebasan. Meski demikian, kita patut mengapresiasi respons umat yang marah karena Nabi Saw. dihina. Ekspresi itu ditunjukkan dengan kecaman, kutukan, pemboikotan produk, dan tuntutan pengusiran duta besar Prancis.

Hanya saja, umat Islam dunia bagai buih di lautan. Banyak, tapi tak memiliki kekuatan. Hanya berbekal lisan dan seruan. Tapi lemah menghadapi penghinaan Nabi Saw. yang dilakukan kaum kafir.

Andai saja Erdogan, Jokowi, raja Saudi, Presiden, Perdana Menteri negara Arab dan negeri Islam lainnya menyatukan seruannya mengancam akan memerangi Prancis bila tak berhenti menerbitkan karikatur Nabi Saw, barulah Prancis mungkin akan takut. Sayangnya, sekat nation state memustahilkan hal itu.

Yang dilakukan pemimpin muslim itu sekadar mengecam. Adakah pemimpin-pemimpin muslim berani memutus hubungan diplomatik dan menyeru jihad kepada kaum muslim? Sebagaimana yang sudah pernah terjadi, panasnya bela Nabi Saw akan menyurut seiring berjalannya waktu.

Inilah kelemahan umat. Tersekat oleh paham nasionalisme. Tak punya kekuatan bersatu padu melawan dan menekan Prancis ataupun Barat baik secara politik maupun ekonomi. Para pemimpin muslim lebih memikirkan dampak buruknya bila terus berkonfrontasi dengan Prancis. Mereka lebih mengutamakan kepentingan nasional negara masing-masing dibanding membela kehormatan Nabi Saw.

Baca juga:  Dunia Intelektual Terbungkam Label Radikalisasi

Umat Butuh Persatuan Politik

Bersatu kita kuat, bercerai kita lemah. Nasionalisme telah mengerat tubuh umat Islam menjadi puluhan negara. Dulu, saat Khilafah masih digdaya, Prancis yang ingin mengadakan teater mengenai Nabi Saw pun dibuat merinding dengan ancaman Khalifah Abdul Hamid II. Muruah kaum muslim disegani dunia saat Khilafah masih berdiri tegak.

Namun, kemuliaan itu sirna setelah Khilafah hancur akibat paham nasionalisme. Barat membagi-bagi wilayah Khilafah dengan konsep nation state. Mengoyak tubuh Khilafah menjadi bagian-bagian kecil negeri muslim sebagaimana kita saksikan hari ini.

Umat pun tercerai-berai. Tersandera kepentingan nasional masing-masing. Tersebab Islam tak memiliki kekuatan politik yang mampu menyatukan umat di bawah satu kepemimpinan tunggal.

Menghadapi negara bebal seperti Prancis itu harus dengan kekuatan yang mampu menandingi kedigdayaan mereka. Pernyataan Macron mestinya menyadarkan kita semua bahwa tanpa kekuatan politik, umat tak berdaya. Tanpa institusi yang menjalankan politik pemerintahan, Islam akan terus ditindas dan dihina.

Umat butuh persatuan. Bukan hanya persatuan karena bersatunya perasaan, namun juga bersatunya pemikiran. Tatkala perasaan dan pemikiran menyatu, bukan tidak mungkin rumah besar umat akan terwujud. Ya, rumah besar kita sebagai umat terbaik adalah Khilafah Islamiyah, bukan demokrasi sekuler.

Umat membutuhkan persatuan politik dan ukhuwah Islam. Agar bermunculan kembali sosok sultan Sulaiman Al Qanuni yang disegani Barat. Agar terlahir kembali sosok khalifah Abdul Hamid II yang tegas membela kehormatan Rasulullah dan Islam. Khilafah menjadi urgensi yang tak bisa ditunda lagi. Dengan Khilafah, penghina Nabi Saw merasakan efek jera. Tanpa Khilafah, Islam hanya akan jadi tempat bully-an para pembencinya. [MNews/Gz]

4 thoughts on “Genderang Kecaman Umat kepada Prancis, Efektifkah?

Tinggalkan Balasan