Bu Sri Yakin Indonesia Selalu Mampu Keluar dari Krisis. Begini Respons Pakar Ekonomi Islam

MuslimahNews.com, NASIONAL – Kolonialisasi yang sempat dialami Indonesia disebut Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengakibatkan perekonomian nasional hancur. Pernyataan itu disampaikan saat mengenang perjalanan perekonomian Indonesia dalam upacara peringatan Hari Oeang Republik Indonesia yang ke-74.

“Tantangan perekonomian yang kita hadapi sangat berat, perekonomian kita hancur akibat perang dan warisan dari penjajahan dan kas negara dalam situasi yang tiada,” katanya, Sabtu (31/10/2020).

Dilansir dari kompas.com, Sri Mulyani mengatakan Indonesia pernah mengalami era nasionalisasi, hiperinflasi, krisis ekonomi dan keuangan tahun ‘98, dan kemudian tantangan krisis global.

Kini, perekonomian nasional kembali menghadapi tantangan akibat pandemi Covid-19. Namun mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu meyakini, layaknya krisis-krisis lampau, krisis kali ini dapat dilalui Indonesia.

“Setiap krisis, bangsa Indonesia selalu mampu keluar dari krisis dan menjadi lebih baik. Kita juga akan berjuang dalam menghadapi situasi saat ini dengan semangat yang sama,” ucapnya.

Sejahtera yang Sesungguhnya

Menanggapi keyakinan Sri Mulyani itu, pengamat sekaligus pakar ekonomi Islam Nida Sa’adah, S.E.Ak., M.E.I. menuturkan, salah satu kelemahan dan kegagalan sistem ekonomi sekuler terletak pada alat ukurnya dalam menilai kesejahteraan. Sistem ekonomi sekuler bertumpu pada angka-angka untuk menilai kesejahteraan masyarakat, termasuk dalam menilai terjadinya resesi ekonomi, krisis ekonomi, dll.

Baca juga:  22 Juta Orang Kelaparan di Era Jokowi, Pengamat: Hanya Islam Solusi Bebas Kepentingan

“Ekonomi Islam lebih riil dalam menilai kesejahteraan, situasi yang lebih baik, ekonomi yang stabil, dst. Parameternya adalah kehidupan masing-masing orang, per individu orang di masyarakat,” ujarnya pada MNews, 3/11/2020.

Ia menjelaskan, seseorang bisa dikatakan sejahtera ketika semua orang per individu terpenuhi hak-hak dasarnya sebagai manusia, baik kebutuhan pokok individualnya maupun massalnya.

“Artinya, masyarakat dinilai baik secara ekonomi ketika tidak ada seorang pun yang kelaparan, tidak ada seorang pun laki-laki dewasa yang menjadi pengangguran, tidak ada seorang pun bayi atau anak yang telantar, tidak ada seorang pun perempuan yang bekerja keras menafkahi dirinya sendiri dan anak-anaknya, dst. Jadi ukurannya orang per orang, individu per individu,” urainya.

Misalnya, dalam kebutuhan pokok massal akan pendidikan dan kesehatan, semua warga negara terpenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatannya secara gratis dan berkualitas, individu per individu.

Kondisi ini disebut Nida pernah terwujud dalam sistem peradaban Islam di masa lalu. Kala itu, suasana kehidupan terasa berjalan baik, kesejahteraan betul-betul dirasakan semua orang dalam negara Khilafah, apa pun taraf perekonomiannya.

“Dirasakan semua. Bukan hanya oleh orang-orang yang berada pada kelas ekonomi atas, para pejabat negara, oligarki yang merapat pada kekuasaan dan semacamnya, sebagaimana negara sekuler,” paparnya.

Baca juga:  Harga-Harga Naik, Kado Pemerintah untuk Rakyatnya

Ia menambahkan, meskipun tidak semua warga negara Khilafah adalah orang-orang kaya, namun semua warganya well-educated dan kesehatannya terjaga dengan baik.

Kalimat Menkeu Sri Mulyani yang mengatakan “kehidupan lebih baik, krisis bisa dilalui”, itu disebut Nida hanya bisa dirasakan orang-orang dalam kelas ekonomi tertentu. Sebab faktanya, kehidupan masyarakat miskin seakan diabaikan dan dipandang sebelah mata.

“Tidak semua fakta kehidupan ekonomi per individu tertangkap sempurna karena sistem negara demokrasi tidak memiliki perangkat itu,” jelasnya.

Ia pun membandingkan dengan sistem Islam, pemerintahan yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. dan dilanjutkan para Khalifah setelah wafatnya beliau.

Ia menjelaskan, sistem Islam mampu memastikan kehidupan sejahtera sampai level per individu warganya. Ekonominya yang stabil dan produktif juga membuat negara fokus meningkatkan kualitas hidup warganya secara simultan. Sehingga, tidak habis energi negara sekadar untuk bisa bertahan dan keluar dari krisis.

“Jadi, betulkah Indonesia selama ini sudah merdeka, jika kehidupan warganya tidak jauh berbeda dengan potret di masa kolonial?” sindirnya. [MNews/Gz]

One thought on “Bu Sri Yakin Indonesia Selalu Mampu Keluar dari Krisis. Begini Respons Pakar Ekonomi Islam

  • 5 November 2020 pada 18:51
    Permalink

    lw mmng indonesia mampu keluar dr kriris tdk ada rakyat yg sengsara

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *