Zuhud terhadap Dunia

MuslimahNews.com, NAFSIYAH – Tatkala Umar bin Khaththab menjumpai Nabi Saw. karena urusan yang mendesak, ia melihat Nabi sedang berbaring di atas sehelai tikar yang terbuat dari pelepah daun kurma. Terlihat jelas bekas daun kurma pada badan Nabi yang putih bersih. Di tempat kepala beliau ada sebuah bantal yang terbuat dari kulit binatang yang dipenuhi daun dan kulit pohon kurma.

Lalu, Umar juga memperhatikan keadaan kamar Nabi. Terlihat tiga lembar kulit binatang yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut kamar, selain itu tidak terdapat apa pun.

Umar menangis sesenggukan melihat keadaan Nabi yang seperti itu. Tiba-tiba Rasulullah bertanya kepada Umar, “Mengapa engkau menangis?”

“Bagaimana saya tidak menangis, ya Rasulullah. Saya sedih melihat bekas tanda tikar yang engkau tiduri di badan engkau yang mulia dan saya prihatin melihat keadaan kamar ini. Semoga Allah mengaruniakan kepada tuan bekal yang lebih banyak,” Jawab Umar.

Umar juga mengatakan, orang-orang Persia dan Romawi yang tidak beragama dan tidak menyembah Allah, raja mereka hidup mewah. Mereka hidup dikelilingi taman yang di tengahnya mengalir sungai, sedangkan Rasul, hidup dalam keadaan sangat miskin.

Mendengar jawaban Umar, Rasulullah berkata, “Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu mengenai hal ini. Dengarlah, kenikmatan di alam akhirat tentu akan lebih baik daripada kesenangan hidup dan kemewahan di dunia ini.”

Baca juga:  [Nafsiyah] Agar Hidup Lapang

Beliau menambahkan, “Jika orang-orang kafir itu dapat hidup mewah di dunia ini, umat Islam pun akan memperoleh segala kenikmatan tersebut di akhirat nanti. Di sana, kita akan mendapatkan segala-galanya.”

Mendengar sabda Nabi, Umar menyesal. Lalu, ia berkata, “Ya Rasulullah, memohonlah kepada Allah SWT untuk saya. Saya telah bersalah dalam hal ini.”

Firman Allah SWT,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17)

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS Al A’laa: 16-17)

Kepemimpinan Umar

Dalam kepemimpinannya, Umar bin Khaththab ra pun menunjukkan kehidupan yang zuhud. Hal ini dapat diketahui saat beberapa Sahabat ra., di antaranya Ali, Utsman, Zubair, dan Thalhah berkumpul dalam suatu majelis untuk membicarakan usulan agar tunjangan untuk Khalifah Umar bin al-Khaththab ditambah, karena sepertinya tunjangan itu terlalu kecil.

Namun, tidak seorang pun di antara mereka yang berani mengusulkan hal itu kepada Umar. Akhirnya, mereka bersepakat untuk meminta bantuan Hafshah, salah seorang istri Nabi Saw, yang merupakan putri Khalifah Umar ra.

Ummul Mukminin Hafshah kemudian menyampaikan usulan tersebut kepada ayahnya (Umar ra.). Mendengar itu, Khalifah Umar bukannya senang, beliau tampak marah.

Baca juga:  Teladan Aisyah ra. dalam Bersedekah

Beliau berkata, “Siapa yang telah mengajukan usulan itu? Seandainya aku tahu nama-nama mereka, aku akan memukul wajah-wajah mereka!” Kemudian ia berkata lagi, “Sekarang, ceritakan kepadaku pakaian Nabi Saw., yang paling baik yang di rumahmu.”

“Beliau memiliki sepasang pakaian berwarna merah yang dipakai setiap hari Jumat dan ketika menerima tamu,” jawab Hafshah.

Umar bertanya lagi, “Makanan apa yang paling lezat yang pernah dimakan oleh Rasulullah Saw. di rumahmu?”

“Roti yang terbuat dari tepung kasar yang dicelupkan ke dalam minyak…,” jawab Hafshah.

Khalifah Umar lalu berkata, “Sekarang pergilah. Katakan kepada mereka, Rasulullah Saw. telah mencontohkan pola hidup sederhana, mereka cukup dengan apa yang ada demi meraih kebahagiaan akhirat. Aku tentu akan mengikuti teladan beliau…”

Zuhud Menjadi Pilihan

Masya Allah, jika kita bayangkan pada masa kini, di tengah-tengah sistem kehidupan sekuler yang serba materialistis, rasanya mustahil itu terjadi. Namun, itulah yang pernah terjadi dalam sejarah ketika kehidupan Islam diterapkan, ketika sistem pemerintahan Islam ditegakkan. Dan ketika syariat serta nilai-nilai Islam diamalkan para penguasa Muslim.

Dalam sejarah pemerintahan Islam, kehidupan zuhud sering menjadi pilihan para Khalifah kaum Muslim. Padahal mereka para kepala Negara Islam yang mewarisi wilayah kekuasaan yang sangat luas. Artinya kalau mau, sangat mudah bagi Khalifah mana pun, dengan kekuasaan yang sangat besar itu, bergelimang dalam kemewahan.

Baca juga:  [Nafsiyah] Agar Hidup Lapang

Pengingat bagi Kita Semua

Coba kita bandingkan dengan para pemimpin dalam sistem kapitalis sekuler, gaji yang sangat tinggi, rumah dinas yang lengkap, mobil dinas yang mewah, masih juga haus akan tunjangan sana sini. Sistem ini hanya melahirkan para pemimpin yang bobrok dan korup.

Cobalah mereka renungkan apa yang dikatakan oleh Abu Hazim (seseorang yang dikenal begitu zuhud), saat ia ditanya, “Apa saja hartamu?”  Ia pun berkata, “Aku memiliki dua harta berharga yang membuatku tidak khawatir miskin. Pertama, rasa yakin kepada Allah dan kedua tidak mengharap-harap apa yang ada di sisi manusia.”

Lalu ada yang bertanya padanya lagi, “Tidakkah engkau takut miskin?” Ia memberikan jawaban yang begitu memesona, “Bagaimana aku takut miskin sedangkan Allah sebagai penolongku adalah pemilik segala apa yang ada di langit dan di bumi, bahkan apa yang ada di bawah gundukan tanah.”

Hendaknya menjadi pengingat kita semua, nasihat ulama salaf, bahwa zuhud terhadap dunia adalah seseorang tidak berputus asa terhadap sesuatu yang luput darinya dan tidak begitu berbangga dengan nikmat yang ia peroleh. [MNews/Rnd-Gz]

2 komentar pada “Zuhud terhadap Dunia

  • 3 November 2020 pada 08:40
    Permalink

    Hanya islam solusi terbaik

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *