Editorial: Islam Moderat, Jalan Selamat Dunia Akhirat?

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Situasi pandemi ternyata tak menyurutkan tekad pemerintah dan negara adidaya untuk terus menancapkan gagasan moderasi Islam. Ide yang dipercaya bisa menangkal ekstremisme yang masih merebak di dunia ini terus diaruskan dengan berbagai cara dan di berbagai momentum.

Saat kunjungan ke Indonesia, Menlu AS Mike Pompeo bahkan secara khusus mengangkat topik ini sebagai salah satu pesan utamanya. Terutama saat dia hadir dalam acara GP Ansor bertajuk Nurturing the Shared Civilizational Aspirations of Islam Rahmatan lil ‘Alamin yang dihadiri tokoh-tokoh agama nasional serta para diplomat. (liputan6.com, 29/10/2020)

Di acara itu, ia memuji habis-habisan pemerintah Indonesia yang dipandang konsisten mengusung Islam damai (nama lain Islam moderat), tradisi toleransi dan demokrasi di tengah-tengah masyarakat yang plural. Di saat sama, ia mengkritik orang-orang yang memakai nama Islam untuk melakukan kekerasan.

Pompeo juga mengatakan, sejak Reformasi 1998, Indonesia telah memberikan contoh positif kepada dunia tentang bagaimana aspek yang berbeda-beda, kelompok etnis yang berbeda-beda, dan juga ideologi yang berbeda-beda dapat hidup bersama dengan damai (nama lain untuk sikap moderat).


PERNYATAAN Pompeo ini memang bukan tanpa alasan. Pemerintah terutama di era Jokowi memang tampak sangat serius memastikan proyek moderasi Islam dan deradikalisasi bisa sukses mendampingi penyempurnaan proyek liberalisasi dan kapitalisasi yang berjalan massif di sektor ekonomi dan sektor-sektor publik lainnya.

Sejak sistem kapitalisme menghegemoni dunia, Indonesia memang sudah langsung terseret masuk dalam arus liberalisasi dan kapitalisasi di berbagai bidang kehidupan, terutama sektor ekonomi. Tapi posisinya jelas bukan sebagai subjek, melainkan sebagai objek.

Penjajahan yang berlangsung sangat lama berikut upaya sekularisasi yang ditancapkannya, rupanya telah berhasil membuat bangsa ini tercerabut dari akar spirit Islam yang kuat dalam hal kepemimpinan dan dalam tradisi inovasi di berbagai bidang kehidupan.

Alhasil, potensi sumber daya manusia dan alam yang demikian besar dimiliki bangsa ini tak cukup menjadi modal untuk tampil sebagai bangsa yang kuat. Alih-alih bangkit memimpin dan mandiri, sekadar bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa adidaya saja, tampaknya sulit diwujudkan.

Bahkan ketika negeri ini dinyatakan ‘merdeka’, para pemimpinnya seolah kelimpungan dan menampakkan ketergantungan yang sangat pada ‘bantuan’ negara-negara besar. Sehingga atasnama upaya memacu pembangunan dan dalih tak siap modal, teknologi serta keahlian, Indonesia pun masuk dalam rancangan kerja sama internasional yang menghancurkan masa depan.

Baca juga:  Membebaskan Muslimah dari Islamofobia

SAAT itu arus investasi modal asing masuk dengan deras menyertai proyek-proyek mercusuar di negeri berumur jagung ini. Tak terkecuali proyek-proyek eksplorasi sumber daya alam strategis yang membuat Indonesia menjadi salah satu medan persaingan pengaruh di antara negara-negara kapitalis rakus.

Dampaknya, pelan tapi pasti, jatuhlah seluruh manfaat dari potensi kekayaan dan sumber daya yang dimiliki, ke tangan para kapitalis asing, yang berkolaborasi dengan para penguasa antek di negeri ini dan didukung kekuatan negara pengusung kapitalisme global.

Mereka pun seakan mendapat karpet merah untuk leluasa merampok kekayaan milik rakyat dengan berbagai cara. Termasuk melalui perjanjian-perjanian kerja sama, jebakan utang dan tekanan politik yang hingga saat ini jeratannya sulit dilepaskan.

Alhasil gunung emas, ladang minyak dan gas alam, batu bara, baja, potensi hutan dan laut, dan lain-lain, nyaris semuanya jatuh ke tangan kapitalis asing. Sementara negeri ini terjerumus dalam kubangan utang, hingga negara pun nyaris tergadai.

Namun berjalannya waktu ternyata tak cukup untuk membuat bangsa ini, terutama para penguasanya, belajar untuk lepas dari berbagai bentuk penjajahan dan membangun visi kemandirian. Kalaupun ada, semua itu hanya muncul dalam pidato-pidato bombastis yang nyatanya tak pernah bisa terealisasi.

Maka dari era ke era, kondisi Indonesia makin terpuruk saja. Bahkan di era pemerintahan hari ini, rezim penguasa makin tak berdaya menghadapi agenda liberalisasi pasar global. Terbukti malah membuka pintu lebih lebar lagi terhadap proyek-proyek investasi modal asing. Khususnya dari kapitalis Barat, Amerika dan kapitalis timur Cina.

Tak hanya di sektor yang digadang-gadang bisa menstimulus pertumbuhan ekonomi dan menyerap tenaga kerja yang nyatanya masih menjadi PR ekonomi Indonesia. Bahkan secara liar investasi pun merambah ke sektor-sektor jasa dan proyek padat modal yang mengukuhkan persoalan minimnya kesejahteraan mayoritas rakyat.

Tak juga hanya di sektor non strategis, tapi juga di sektor strategis yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Hingga kemiskinan begitu merajalela. Dan kesenjangan ekonomi pun kian menganga.

Bahkan demi menyukseskan target menggaet sebanyak mungkin investor asing ini, pemerintah rela menyiapkan berbagai suprastruktur, termasuk perangkat aturan dan kelembagaan yang memanjakan para investor asing dan para anteknya.

Baca juga:  Bunuh Diri Politik di Balik Pengarusan Istilah Berbau Moderasi Islam

Di antaranya adalah dengan memproduksi berbagai undang-undang liberal yang melegitimasi perampokan dan melanggengkan penjajahan. Seperti dengan munculnya Undang-Undang Minerba, UU Omnibus Law dan yang lainnya. Dan di luar itu mereka pun dengan senang hati menciptakan suasana yang kondusif, agar liberalisasi dan kapitalisasi berjalan mulus, tanpa hambatan yang berarti.


Tak dimungkiri, bahwa salah satu tantangan terberat bagi suksesnya proyek liberalisasi dan kapitalisasi ini justru datang dari kekuatan ideologi Islam. Pasalnya, hanya Islam yang memiliki cara pandang politis yang mampu menunjukkan bahwa liberalisasi dan kapitalisasi melalui investasi asing adalah bentuk lain penjajahan.

Karenanya, negara-negara adidaya pengusung kapitalisme berikut antek-anteknya sangat berkepentingan untuk menjauhkan Islam ideologi dari umat Islam. Bahkan mereka menyebut kekuatan Islam ideologi ini sebagai bahaya hijau (green peril) yang menggantikan bahaya merah (red peril/sosialisme) yang telah ‘mati’ sejalan dengan runtuhnya Uni Soviet di tahun 90-an.

Munculnya narasi soal terorisme dan radikalisme yang disimbolisasi bahkan dimonsterisasi dengan model gerakan ISIS, Dais, Al Qaida, Jamaah Islamiyah dan sejenisnya, adalah cara mereka merusak citra Islam ideologis sekaligus menghimpun dukungan dunia melawan kebangkitan Islam.

Ini dikarenakan, gagasan Islam kaffah dan Khilafah kian tak terbendung, sejalan dengan geliat dakwah yang berhasil membangun kesadaran ideologis umat akan hakekat jati diri mereka dan hakekat akar berbagai persoalan yang mereka hadapi. Yakni berupa adanya hegemoni dan penjajahan kapitalisme global di negeri-negeri mereka.

Maka sejalan dengan narasi melawan teror dan radikalisme itu, mereka pun gencar mengaruskan narasi Islam moderat yang dipandang sejalan dengan nilai-nilai dan kepentingan Barat. Dengan target, umat Islam menjauh dari Islam politik dan tetap berposisi sebagai pengekor barat, tanpa merasa sudah mengkhianati ajaran-ajaran Islam.


DEMI sukses agenda ini, mereka pun melakukan berbagai riset dan pendekatan. Termasuk dengan menggandeng para pecundang dari berbagai kalangan untuk menjadi agen penjajahan. Mulai dari kaum cendekiawan, aktivis LSM, kalangan media, bahkan kalangan ulama yang hati dan pikirannya sudah terikat pada dunia.

Tak heran jika kita temukan, cendekiawan, aktivis, jurnalis, bahkan ulama muslim yang kencang menyerukan pentingnya moderasi Islam. Seolah-olah Islam ala Barat ini adalah jalan keselamatan bagi dunia dan akhirat.

Baca juga:  Menggelikan, Benar-benar Menggelikan

Lalu di saat sama mereka menyerang gagasan-gagasan yang mengungkap pentingnya melawan penjajahan dengan berpegang teguh pada ideologi Islam dan menerapkannya dalam kehidupan. Seolah-olah ideologi Islam adalah jalan kehancuran.

Mereka bahkan gencar membantu rezim penguasa untuk berjalan bersama penjajah, melegitimasi kezaliman mereka dan di saat sama memusuhi para pejuang Islam kaffah dan Khilafah.

Mereka pun terus mendorong penguasa untuk mengambil sikap keras kepada kelompok-kelompok yang mendidik umat agar bangkit melawan penjajah yang bersembunyi di balik proyek-proyek kerja sama dengan penguasa. Hingga persekusi, kriminalisasi dan alienasi para pendakwah menjadi lazim terjadi di negeri ini.

Mereka tampaknya sudah nyaman mengambil posisi sebagai pendukung dan cheerleader bagi penjajahan. Termasuk nyaman terlibat dalam proyek penyesatan dan pecah belah.

Mereka rela menjadi aktor dan aktris, atau menjadi amplifier dalam menyerukan pentingnya berpegang teguh pada demokrasi dan sekularisme. Seakan-akan dua paham inilah yang akan mengeluarkan bangsa ini dari keterpurukan, keterjajahan, dan membawa mereka pada kemuliaan.

Mereka sejatinya tengah menjalankan peran sejarah, sebagai penghalang-penghalang dakwah, yang kemenangannya justru telah dijanjikan Allah. Mereka benar-benar telah menukar hidayah dengan kesesatan yang menjerumuskan, didunia dengan kian kokohnya penjajahan dan di akhirat dengan azab tak berkesudahan.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS Al-An’am: 112)

Adalah tugas kita, menyadarkan umat akan situasi sebenarnya. Bahwa mereka saat ini ada di antara dua pilihan. Berislam dan cara Barat yang mengundang kemudaratan. Atau istikamah memegang Islam kaffah dan Khilafah, yang menjanjikan kemuliaan.

Hanya dengan kesadaran ideologislah, umat akan mampu membaca hakikat kebenaran, bahwa semua yang terjadi di dunia ini, berjalan dalam skenario benturan peradaban yang ujungnya ada pada kemenangan Islam. [MNews/SNA]

5 thoughts on “Editorial: Islam Moderat, Jalan Selamat Dunia Akhirat?

  • 3 November 2020 pada 21:57
    Permalink

    Islam itu jelas hak dan bathilnya

    Balas
  • 3 November 2020 pada 21:54
    Permalink

    Islam sebagai solusi

    Balas
  • 3 November 2020 pada 11:10
    Permalink

    Ideologi Islam dianggap sebagai green peril

    Balas
  • 3 November 2020 pada 08:30
    Permalink

    Subhanallah, sungguh licik cara barat merubah pemikiran bangsa Indonesia

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *