Ka’bah, Baitullah Pertama, Saksi Bisu Dakwah Rasulullah Saw.

Oleh: Siti Nafidah Anshory

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS – Ka’bah (الكعبة) secara bahasa berarti kubus. Faktanya, Ka’bah memang merupakan bangunan berbentuk kubus yang terletak di dalam Masjidilharam.

Ahli sejarah mengatakan, bentuk kubus itu bukanlah tanpa alasan, melainkan didesain sedemikian rupa mengingat letak geografisnya di bumi sejajar dengan letak Baitulmakmur di langit.

Dikutip dari Ensiklopedia Al-Qur’an, Ibnu Abbas dan mayoritas mufasir memandang Baitulmakmur adalah sebuah bangunan di langit keempat yang sejajar dengan Ka’bah.

Ibnu Abbas mengatakan, Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Baitulmakmur sepadan dengan lokasi Baitulharam di Makkah. Seandainya ia terjatuh dari langit keempat, pasti akan mendarat tepat di lokasi Baitulharam.”

Baitulmakmur adalah tempat yang istimewa, sampai-sampai Allah SWT bersumpah dalam Al-Qur’an, “Demi Bukit Thur, dan kitab yang ditulis pada lembaran yang terbuka, dan demi Baitulmakmur.” (QS ath-Thur: 1-4)

Allah SWT menamainya Baitulmakmur karena para malaikat memakmurkan tempat itu dengan melakukan ibadah dan bertasbih kepada-Nya, secara terus-menerus.

Menurut Ali bin Abi Thalib ra., sebanyak 70 ribu malaikat memasukinya setiap hari untuk beribadah, kemudian keluar dan tidak pernah kembali lagi ke sana. Karena, hari selanjutnya merupakan giliran 70 ribu malaikat lainnya untuk beribadah di dalamnya.

Ka’bah beberapa kali disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadis dengan sebutan Bait (Rumah), Bait al-Haram (Rumah Suci), Bait Allah (Rumah Allah), Bait al-Ateeq (Rumah Tua), dan Awal al-Bait (Rumah pertama).

Dalam buku Atlas Haji dan Umrah disebutkan, Nabi Adam as. adalah orang pertama yang membangun Baitullah (Ka’bah). Lalu di masa berikutnya, fondasinya ditinggikan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah mereka berada di Makkah atas perintah Allah SWT.

Baca juga:  Dakwah Rasulullah Saw. Era Makkah

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’.” (QS Al-Baqarah: 127)

Setelah itu, Ka’bah mengalami beberapa kali renovasi. Sekitar 10 tahun sebelum bi’tsah kenabian Muhammad ﷺ misalnya, bangunan Ka’bah sempat rusak diterjang banjir bandang.

Seluruh kabilah Arab pun bersama-sama memperbaikinya, termasuk baginda Nabi ﷺ. Bahkan beliaulah yang tampil menyelesaikan pertikaian soal siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad di tempatnya.

Di masa itu, Ka’bah menjadi pusat syirik atau paganisme terbesar. Tercatat sekitar 360 patung tersimpan di sana. Yang terbesar dinamai Hubal, Lata, Uzza, dan Manat.

Sementara bagian dinding dalam Ka’bah penuh lukisan malaikat dan para nabi, termasuk lukisan nabi Ibrahim yang sedang memegang azlam (anak panah sebagai alat undi) dan patung burung dara dari kayu.

Ka’bah di Masa Rasulullah ﷺ

Saat Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul (610 M), Ka’bah menjadi saksi titik awal dakwah sekaligus titik tolak dakwah beliau dan kelompoknya di tengah-tengah masyarakat.

Di fase itulah, berbagai peristiwa penghinaan, cacian, dan celaan dialami beliau dan para Sahabat. Sebagiannya terjadi di hadapan Ka’bah.

Namun Ka’bah pula yang menyaksikan geliat dakwah sesaat setelah Umar ra. masuk Islam. Umar ra. secara atraktif memimpin masirah (demonstrasi) bersama para Sahabat lainnya untuk menunjukkan jati diri kelompok dakwah Rasul ﷺ yang siap terjun ke tengah umat.

Setelah itu, tantangan demi tantangan makin berat di hadapi umat Islam. Tak hanya persekusi dan kriminalisasi, tapi juga pemboikotan yang sekaligus menjadi tahun-tahun kesedihan.

Saat itu Ka’bah menjadi saksi kezaliman penguasa kufur, dengan ditempelnya dokumen keputusan boikot di dindingnya. Umat Islam dan para pendukungnya dari kalangan Bani Hasyim disingkirkan di sebuah lembah dan dilarang bermuamalat dengan kaum yang lainnya.

Baca juga:  [Tapak Tilas] Peradaban Baru itu Bermula dari Puncak Gunung Cahaya

Tiga tahun kemudian, Ka’bah menjadi saksi pertolongan Allah bagi dakwah. Atas izin-Nya, rayap menghancurkan dokumen itu hingga keputusan boikot batal dengan sendirinya.

Namun, Ka’bah pun menjadi saksi kebebalan para pemuka Quraisy untuk terus memilih menjadi musuh dakwah. Hingga Allah berkenan memberi izin sebagian umat Islam melakukan hijrah pertama ke Habasyah demi perlindungan bagi si lemah.

Pertolongan Allah SWT

Di tahun ke-13 bi’tsah, saat dakwah menemui stagnasi di Makkah, Rasulullah ﷺ melakukan ikhtiar thalabun nushrah (meminta pertolongan) demi perlindungan dakwah serta mencari kekuasaan kepada berbagai pemimpin kabilah.

Qadarullah, dari Madinahlah pertolongan itu datang. Kota itu pun menjadi tempat hijrah kedua umat Islam, bahkan menjadi titik irtikaz (pusat) kekuasaan politik Islam  pertama di mana syariat Islam tegak dengan sempurna.

Maka, kemuliaan dan wibawa umat Islam mulai memancar dari Madinah. Satu demi satu kabilah-kabilah Arab masuk ke dalam Islam atau tunduk di bawah kekuasaan Islam.

Banyak peristiwa heroik berupa perang jihad fi sabilillah, di mana kemenangan demi kemenangan diperoleh pasukan umat Islam. Makin kokohlah negara Madinah sebagai negara adidaya baru dengan visi baru: Menghapus kekufuran dan menebar rahmat ke seluruh alam.

Tatkala di tahun kedelapan setelah hijrah, peristiwa menyangkut Ka’bah terjadi secara menakjubkan. Kota Makkah sebagai simbol utama kekufuran, berhasil ditaklukkan dengan damai yang dikenal sebagai peristiwa futuhat Makkah.

Di saat itu, seluruh berhala dihancurkan. Ka’bah dibersihkan dari kesyirikan. Seluruh penduduknya menerima Islam. Makkah pun dikukuhkan menjadi tanah haram, yakni tanah yang tidak boleh diinjak oleh penganut kekufuran.

Baca juga:  Makkah, Satu di Antara Dua Kota Suci

Beberapa tahun sepeninggal Rasulullah ﷺ setelah periode ketiga kekhalifahan, umat Islam dilanda fitnah hingga berpecah belah. Saat itu, pasukan Yazid bin Muawiyah datang menyerbu Makkah dan melemparkan katapel raksasa hingga menyebabkan dinding Ka’bah roboh dan terbakar. Setelah itu, Abdullah Ibnu Zubair tampil memperbaikinya.

Hanya saja, karena dipandang tak sesuai dengan bentuk semula, pemuka Makkah berselisih. Lalu Al-Hajjaj Ibn Yusuf meruntuhkan Ka’bah dan membangunnya kembali seperti sebelum diubah Ibnu Az-Zubair.

Setelah itu Ka’bah kembali ke fungsinya yang asli. Sebagai kiblat umat Islam serta menjadi bagian dari ritual haji dan umrah, yakni ibadah tawaf (memutari Ka’bah sebanyak 7 kali, ke arah berlawanan dengan arah jarum jam).

Selalu Dirindukan

Dari masa ke masa, nyaris tiap detik Ka’bah dan Masjidilharam tak pernah sepi dari orang yang salat dan tawaf, saat umrah maupun haji. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia, dengan kerinduan yang sama: Beribadah kepada Allah di pusatnya, sekaligus tapak tilas perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ, panutan hidup yang dicintai umatnya.

Kini, di masa sekarang ini, umat manusia Allah uji dengan datangnya pandemi Covid-19 yang luar biasa, hingga aktivitas ibadah menyangkut Makkah dan Ka’bah pun seakan “dipaksa” berhenti.

Allah seolah-olah sedang memberi manusia kesempatan untuk berpikir, betapa sudah jauhnya mereka dari Allah, hingga untuk sementara Allah beri penghalang besar antara mereka dengan Rumah-Nya. Subhanallah. [MNews/Gz] Disarikan dari berbagai sumber.

2 thoughts on “Ka’bah, Baitullah Pertama, Saksi Bisu Dakwah Rasulullah Saw.

  • 2 November 2020 pada 15:09
    Permalink

    Betapa ingin segera mengunjungi baitullah. Ya Allah berilah kami Rizqi yg luas untuk bekal mengunjungi baitullah. Aamiin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *