Ada Apa dengan Film “My Flag”?

Oleh: Asy Syifa Ummu Sidiq

“Dulu Merah Putih dipertahankan dengan darah dan nyawa, sekarang kita harus pertahankan Merah Putih dengan karya dan cinta. / Selagi bangsa ini tetap berdiri, negara ini tetap berdiri, maka benderanya tetap merah dan putih. / Tapi jangan pernah ditipu oleh pengasong-pengasong bendera yang lain. Silakan mengasong bendera, tapi jangan menandingi Merah Putih”. (“My Flag”)

MuslimahNews.com, OPINI – Kalimat di atas adalah cuplikan narasi film “My Flag Merah Putih Vs Radikalisme” yang tayang untuk memperingati Hari Santri Nasional.

Narasi itu diiringi adegan berkelahinya para santri yang membawa bendera Merah Putih dengan santri lain yang membawa panji Hitam Putih. Perkelahian itu melibatkan santriwati yang bercadar dengan yang tidak. Sangat disayangkan, ada adegan pencopotan cadar secara paksa pada santriwati bercadar. (dekannews.com, 25/10/2020).

Tanggapan Tokoh Mengenai Film “My Flag”

Sebagian besar netizen menilai narasi dan adegan tersebut justru mengadu domba sesama umat Islam, memecah belah, dan cenderung mendiskreditkan perempuan bercadar. Bahkan K.H. Luthfi Bashori ikut angkat bicara mengenai film ini. Pengasuh Pondok Pesantren Ribath Al-Murtadla Al-Islami, Singosari, Malang itu menilai film tersebut merendahkan akidah.

“Orang yang memusuhi dan antisyariat bercadar bagi wanita muslimah itu karena akidahnya rembes dan belekan,” ujar Beliau. (RMOLJatim, Senin, 26/10/2020).

Menurut Kiai Luthfi, NU mengakui cadar adalah syariat Islam. Bahkan dalam situs NUOnline, Syekh Syarqawi menulis, “Adapun aurat perempuan di luar shalat dari sisi pandangan laki-laki lain terhadap dirinya adalah seluruh badannya, sampai wajah dan kedua telapak kakinya.” (rmoljatim.id, 26/10/20)

Wakil Sekretaris Jenderal MUI Tengku Zulkarnain pun mengkritik habis-habisan film ini yang dinilai memojokkan wanita bercadar dan cenderung diskriminatif. Beliau menduga ada tujuan mengopinikan wanita bercadar adalah musuh negara. Pun saat dinarasikan tidak boleh ada bendera selain Merah Putih, menurutnya harusnya adegannya kaum santri melawan gerakan separatis, bukan malah berkelahi antarmuslim. (suara.com, 27/10/20).

Baca juga:  Antara Azan dan Cadar: Sinyal Kental Islamofobia

Memunculkan Kegaduhan dan Perpecahan Umat

Sebagaimana ditakutkan banyak netizen, film ini justru membuat gaduh dunia Islam di bumi Nusantara. Rilisnya film pendek ini mengisyaratkan ada perpecahan dalam diri kaum muslim sendiri.

Di satu sisi digambarkan ada kelompok yang getol membela Merah Putih. Di sisi lain para pemuda yang terlihat taat syariat (perempuan bercadar dan menutup aurat) justru digambarkan sebagai musuh Merah Putih.

Bagi masyarakat yang tak paham hakikat syariat Islam, tentu akan menelan mentah-mentah pesan yang tersirat dalam film ini. Seperti menganggap orang/kelompok yang berusaha taat syariat adalah gerakan radikal, musuh bersama yang harus disingkirkan.

Namun bagi masyarakat yang berusaha berpikir jernih, yang memahami Islam adalah agama yang satu, akan mengeluarkan reaksi berbeda. Mereka bisa melihat pesan yang disampaikan film tersebut adalah bentuk adu domba sesama muslim. Jika dibiarkan terus akan mengakibatkan perpecahan dan permusuhan. Ujung-ujungnya, ada pihak tertentu yang akan diuntungkan.

Agenda di Balik Film “My Flag”

Perlu kita ketahui, film ini dirilis NU Channel, namun banyak Kiai NU sendiri yang mengkritik film ini. Bisa dikatakan film ini adalah film buatan liberalis, bukan film yang sejatinya mencerminkan napas NU sebagai ormas Islam terbesar yang telah menelurkan banyak ulama pejuang. Di film ini, mereka (liberalis) tak ingin umat Islam bersatu.

Tentu kita harus ingat strategi Rand Corporation yang membagi umat Islam menjadi empat kelompok. Buku berjudul Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies, yang ditulis Cheryl Benard pada 2003, mengklasifikasi umat Islam menjadi: (1) kaum fundamentalis; (2) kaum tradisionalis; (3) kaum modernis; dan (4) kaum sekularis.

Baca juga:  Enam Negara di Eropa Resmi Melarang Penggunaan Cadar

Dalam kajian Rand Corp., kaum fundamentalis memusuhi Amerika Serikat dan ingin menghancurkan demokrasi modern. Sedangkan kaum tradisionalis cenderung berpandangan moderat. Namun ada pula yang dekat dengan kaum fundamentalis. Kaum muslimin yang dekat dengan Barat adalah kaum modernis dan sekularis. Mereka adalah pendukung pemikiran Barat.

Dengan kajian itu, Rand Corp. memiliki taktik memecah belah kaum muslimin. Empat strategi pun dilakukan, yakni (1) Dukung kaum modernis terlebih dulu; (2) Dukung kaum tradisionalis melawan kaum fundamentalis; (3) Hadapi dan pertentangkan kaum fundamentalis; dan (4) Selektif dalam mendukung sekularis. (al-waie.id)

Dari strategi Rand Corp. tersebut kita dapat mengetahui, salah satu cara memecah belah kaum muslimin adalah membenturkan antara Islam tradisional dan Islam fundamental. Dengan memakai isu nasionalisme dan radikalisme, liberalis mampu mengadu domba umat Islam.

Sebagian kaum muslimin yang termakan isu tersebut akhirnya menganggap orang-orang yang ingin ber-Islam secara kaffah (sesuai Al-Qur’an dan Sunah) berbeda dengan kaum muslimin “asli Indonesia”.

Liberalis menanamkan kebencian pada kaum muslimin (kaum tradisionalis) untuk membenci saudaranya seiman (kaum fundamentalis). Mereka menanamkan bahwa muslim yang taat syariat sebagaimana zaman Rasul tidak relevan jika diterapkan di Indonesia. Salah satunya cadar–yang biasa dipakai orang Arab–mereka sebut budaya Arab yang tidak cocok dipakai di negeri ini.

Bendera pun demikian. Dengan dalih cinta tanah air, mereka ditanamkan untuk membenci bendera selain bendera Merah Putih. Sekalipun itu adalah bendera Rasul, yang notabene memang bertuliskan bahasa Arab, kalimat syahadat laa ilaaha ilallah Muhammad Rasulullah.

Berbagai cara yang dilakukan liberalis untuk menanamkan kebencian antara sesama kaum muslim, tak lain agar seluruh kaum muslimin baik tradisionalis maupun fundamentalis tidak dapat bersatu. Sehingga, mereka dengan mudah menguasai Sumber Daya Alam (SDA) juga membuat kedudukan Barat (AS) aman di dunia. Strategi inilah yang melanggengkan imperialisme atas dunia muslim.

Baca juga:  Enam Negara di Eropa Resmi Melarang Penggunaan Cadar

Mampu Membedakan Lawan dan Kawan

Oleh karena itu, sebagai muslim yang cerdas kita harus mampu membedakan mana kawan mana lawan. Jangan terjebak dalam lubang biawak dan buaya. Kawan sesungguhnya adalah saudara seiman. Bukan sekadar teman, tapi bagaikan saudara. Saudara seiman yang harus saling membantu dan menguatkan, bukan malah membenci satu sama lain.

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al Hujurat: 10)

“Mukmin satu dengan mukmin yang lain itu bagaikan sebuah bangunan. Sebagian menguatkan bagian yang lain.” (HR Imam Muslim, No. 6750, Maktabah Samilah)

Maka, label fundamentalis atau tradisionalis bukanlah label kaum muslimin. Itu adalah label buatan orang-orang Barat yang memusuhi Islam. Label itu mereka gunakan untuk memecah belah umat Islam. Sesungguhnya, musuh yang nyata bagi kaum muslimin adalah orang-orang yang membenci Islam (kafir).

“Apabila kalian bepergian di muka bumi, tidaklah mengapa kalian menqashar shalat kalian, jika kalian takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kalian yang nyata.” (QS An Nisa’ [4]: 101)


Keberadaan film “My Flag Merah Putih Vs Radikalisme” harusnya tidak menjadikan kaum muslim terpengaruh dan terpecah belah. Seyogianya kaum muslimin tetap pada pendirian bahwa mereka semua bersaudara. Bercelana cingkrang atau tidak, bercadar atau tidak.

Mereka seluruhnya harus bersatu melawan musuh utama kaum muslim, yaitu AS dan sekutu-sekutunya yang membawa kapitalisme liberalisme menjajah negeri-negeri kaum muslim. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews/Gz]

7 thoughts on “Ada Apa dengan Film “My Flag”?

Tinggalkan Balasan