Islamofobia di Prancis Lahir dari Ketakutan Barat pada Islam

Oleh: Kanti Rahmillah, M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI – Rasialisme Presiden Prancis Emmanuel Macron berbuntut panjang. Seruan negara-negara Timur Tengah untuk memboikot produk-produk Prancis menggema ke seluruh dunia. Pasalnya, Prancis sedari dulu merupakan negara yang terang-terangan menghina Nabi dan ajarannya.

Pernyataan Macron yang menyerang Islam dan komunitas muslim dengan mengatakannya sebagai separatisme, mengundang murka kaum muslim. Tak tangung-tanggung, dirinya dengan berani mengatakan Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia. Maka, penutupan puluhan masjid dan pesantren dianggap sebagai tindakan keras terhadap muslim.

Mengapa pemerintahan Prancis begitu fobia terhadap Islam? Mengapa Dunia Barat begitu sibuk menarasikan Islam Teroris? Lantas bagaimana agar Nabi dan ajarannya kembali dimuliakan?

Islamofobia Akut di Prancis

Pada 2/09/2020, Majalah Charlie Hebdo kembali menerbitkan karikatur Muhammad Saw. Bukan kali pertama majalah sayap kanan ini menghina Nabi dan ajarannya. Walaupun mendapatkan banyak kecaman dari berbagi negara, nyatanya pemerintah Prancis mendukung ulah Majalah tersebut.

Nahasnya, kali ini berujung pada tewasnya guru sejarah di salah satu sekolah di Paris pada 16/10/2020. Samuel Paty, tewas setelah mengajar materi kebebasan berekspresi. Pety menggelar diskusi di kelas dan menampilkan kartun Muhammad Saw. yang ada di majalah Charlie Hebdo.

Presiden Prancis langsung memanfaatkan momen tersebut dengan menyebutnya sebagai bentuk serangan dari teroris Islam. Akhirnya, warga Prancis beramai-ramai mengutuk kejadian tersebut. Mereka sengaja menutup mata atas sumber tragedinya yaitu penghinaan terhadap Nabi.

Macron menegaskan pembunuhan ini dilakukan kelompok Islamis yang ingin merebut masa depan Prancis. Islamofobia akut yang dihembuskan penguasa Prancis telah menyulut kebencian warganya terhadap Islam.

Baca juga:  Cintailah Islam, Jauhi Islamofobia

Hingga pada 18/10/2020, terjadi peristiwa penusukan kepada dua orang muslimah di bawah menara Eiffel. Mereka ditikam beberapa kali hingga menembus paru-parunya, hanya karena mereka berhijab. Bahkan, pelaku menyebut muslimah tersebut dengan panggilan “orang arab kotor”. (republika, 22/10/2020)

Prancis Negara dengan jumlah Muslim terbesar di Eropa

Awalnya, Prancis adalah negara Katolik, namun pada 1907 Prancis menetapkan negaranya menganut prinsip Lacite, yaitu memisahkan antara agama dan kehidupan.

Seiring dengan itu, pertumbuhan populasi kaum muslim semakin besar di Prancis. Kini, umat muslim di Prancis merupakan populasi muslim terbesar di Eropa. (republika, 10/10/2020)

Ribuan muslim bermigrasi secara besar-besaran ke daratan Eropa, terutama Prancis. Populasinya terus bertambah seiring dengan banyaknya warga Prancis yang menjadi mualaf. Ajaran Islam yang memuaskan akal dan aplikatif, mampu mengubah pandangan sebagian masyarakat Prancis yang ateis dan sekuler.

Ajarannya yang sesuai fitrah manusia, mampu menciptakan ketenangan. Hingga merebut banyak hati masyarakat Prancis.

Begitu pun pandangan Islam terhadap keluarga dan keturunan, menjadikan kelahiran anak dari seorang muslim begitu besar. Berbeda dengan pandangan hidup warganya yang sekuler kapitalis, akhirnya tren kelahirannya terus menurun.

Tentu, populasinya yang semakin besar (hingga 7 juta jiwa di tahun 2020) mau tak mau mewarnai corak interaksi masyarakatnya, termasuk kegiatan ekonominya. Banyaknya produk halal di supermarket dan adanya jam khusus wanita di kolam renang. Menjadi satu indikasi bahwa market muslim di Prancis semakin besar. Inilah yang menjadi ketakutan Barat terhadap Islam.

Islamofobia Lahir dari ketakutan Barat pada Islam

Kebebasan berekspresi yang menjadi dalih atas penghinaan Nabi adalah wujud inkonsistennya demokrasi. Pada saat yang sama, Prancis sedang merenggut hak muslim untuk bebas beragama. Dan menurut keyakinan kaum muslim, pembelaan terhadap nabi adalah syariat yang harus dilakukan kaum muslim.

Baca juga:  Cina Lakukan Penghancuran Masjid Besar-besaran di Xinjiang

Sungguh, kaum muslim harus memahami bahwa islamofobia yang sengaja dihembuskan Barat kepada dunia adalah wujud kebencian yang nyata dari mereka.

Upaya Barat dalam menciptakan islamofobia di tengah masyarakat dunia adalah bentuk ketakutan mereka terhadap kebangkitan Islam.

Barat sangat menyadari peradaban busuk yang mereka terus pertahankan perlahan akan mati ditelan kerusakannya sendiri. Maka, segala daya dan upaya dilakukan untuk membendung tegaknya Khilafah Islam.

Karena itu Khaled Abou el-Fadl, seorang professor di UCLA School of Law, merekomendasikan narasi alternatif demi menghilangkan keywords dalam Islam yaitu Khilafah, daulah (negara) Islam, jihad, dan hijrah.

Hijrah adalah bentuk berpindahnya pola pikir dan tingkah lakunya. Wajar jika Marcon tengah menghilangkan narasi tersebut dengan menggodok RUU yang menguatkan paham sekularisme dalam upayanya menandingi separatis Islam di dalam negerinya.

Begitu pun jihad, negara Islam, dan Khilafah yang merupakan kekuatan kaum muslim, sengaja dilemahkan dan dikaburkan.

Pelabelan Islam radikal terhadap muslim yang menginginkan diterapkannya syariat Islam secara kaffah. Menghadirkan Islam moderat sesuai arahan Barat adalah upaya mereka menjegal kebangkitan Islam.

Khilafah Bungkam Negara Pencela Nabi

Sungguh menyedihkan, di bulan Maulid Nabi, manusia yang paling dirindukan kaum muslim, ternyata kembali dihinakan.

Semakin menyayat hati saat kaum muslim hanya mampu mengecam dan memboikot produk. Kaum muslim tak mampu menindak tegas kepada para penghina Nabi. Padahal, hukuman bagi para penghina Nabi adalah penggal sampai mati.

Baca juga:  Propaganda

Bagi umat muslim, menghina atau menghujat Nabi hukumnya haram. Sanksi bagi pelakunya adalah hukuman mati. Hal tersebut dijelaskan secara panjang lebar oleh al-Qadhi Iyadh dalam Kitab al-Syifa bi-Ta’rif Huquq al-Mushthafa

“Ketahuilah–semoga kita diberi hidayah taufik–bahwa siapa pun yang menistakan Nabi, menghina beliau, atau menganggap beliau tidak sempurna pada diri, nasab, dan agama beliau, atau di antara akhlak beliau, atau menandingi beliau, atau menyerupakan beliau dengan sesuatu untuk menistakan beliau, atau meremehkan beliau, atau merendahkan kedudukan beliau, atau menjatuhkan beliau, atau menghinakan beliau, maka ia termasuk orang yang menistakan beliau. Hukum yang berlaku atasnya adalah hukum pelaku penistaan, yaitu dihukum mati sebagaimana yang akan kami jelaskan ini.”

Jika pelakunya adalah individu, negara akan menetapkan baginya sanksi berupa ta’zir karena apa yang dia hina berhubungan dengan agama. Sanksi ta’zir yang akan dia dapatkan berupa hukuman mati. Jika pelakunya muslim, hukumannya mati tanpa diterima tobatnya.

Adapun jika pelakunya negara, seperti yang dilakukan Prancis, Khalifah tak akan segan-segan berjihad melawan negara tersebut. Hal ini pernah dilakukan pada masa Utsmaniyah, Khalifah Abdul Hamid II terhadap para pencela agama.

Kala itu, dengan tegas Khalifah akan memerangi negara Prancis dan Inggris jika drama bertajuk “Muhammad atau kefanatikan” karya Voltaire (pemikir yang kerap menghina Nabi) tetap dipentaskan.

Akhirnya, Prancis serta-merta membatalkan drama tersebut. Inilah kekuatan Khilafah dan kewibawaan Khilafah yang akan mampu melindungi kemuliaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [MNews/Gz]

7 thoughts on “Islamofobia di Prancis Lahir dari Ketakutan Barat pada Islam

  • 29 Oktober 2020 pada 05:39
    Permalink

    Kaum muslimin memerlukan pelindung yg menjadikn mereka berwibawa

    Balas
  • 29 Oktober 2020 pada 04:45
    Permalink

    Luar biasa fobia Barat ini. Dengan segala cara mengerahkan kekuatannya untuk membendung kebangkitan Islam det narasi islamofobia. Ketahuilah, Islam agama yang dipelihara langsung oleh Rabb semesta alam, sekuat apapun kekuatan yang dikerahkan, tdk akan mampu melemahkan Islam. Maka, sadarlah wahai manusia!! Justru Islam yang akan mampu mengangkat harkat dan derajat baik di dunia maupun akhirat

    Balas
  • 29 Oktober 2020 pada 04:18
    Permalink

    Mereka melakukan ini karena mereka tau ummat islam saat ini lemah, dan kekuatan islam hanya ada syariat islam yakni khilafah

    Balas
  • 28 Oktober 2020 pada 23:04
    Permalink

    Astaghfirullah, kaum muslim yang dahulu disegani karena kekuatan Khilafah, kini dipermalukan dan dilecehkan ajarannya. Hanya dengan Khilafah, Barat akan menghentikan penghinaannya

    Balas
  • 28 Oktober 2020 pada 19:05
    Permalink

    Semoga ketika khilafah tegak kita akan mendapat kn pemimpin yg bijak seperti kholifah sultan abdul hamid

    Balas
  • 28 Oktober 2020 pada 17:35
    Permalink

    Astaghfirulloh… Semoga Khilafah Rosyidah segera tegak sehingga tdk akan ada lagi yang berani terang terangan menghina Rasulloh SAW.

    Balas
  • 28 Oktober 2020 pada 14:42
    Permalink

    Islamophobia akan terus terjadi jika khilafah belum tegak…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *