Cinta Nabi? Terapkan Syariat di Muka Bumi

MuslimahNews.com, NAFSIYAH – Peringatan Maulid Nabi ﷺ setiap tahunnya dilaksanakan sebagian kaum muslim lewat berbagai ceramah dan tablig. Namun, ternyata seremoni tersebut ada yang berisi pesan-pesan yang justru mengerdilkan Baginda Nabi Muhammad Saw. dan kebesaran Alquran yang dibawanya.

Bagaimana bisa?

Coba tengok, beberapa menyerukan untuk meneladani akhlak Rasulullah ﷺ secara pribadi, juga untuk mencontoh beliau sebagai pemimpin rumah tangga.

Sayangnya, mereka lupa bahkan enggan meneladani posisi Rasul ﷺ sebagai pemimpin negara atau kepala pemerintahan yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah. Memang bukan tidak ada sama sekali, tapi bisa dikatakan jarang sekali diungkap, seolah keteladanan di sisi itu ada di nomor kesekian.

Risalah Islam yang dibawa Nabi ﷺ melalui Alquran hanya dijadikan sebagai kitab bacaan, bukan untuk diterapkan. Jika pun mengamalkannya, porsinya kecil, misal dalam perkara akidah, ibadah, dan akhlak semata.

Seharusnya, kaum muslim mengamalkan seluruh isi Alquran dan menerapkan hukum-hukumnya tanpa terkecuali, baik perkara akidah, ibadah, muamalat, maupun uqubat (hukum peradilan).

Belum lagi penguasa muslim, pun sering abai bahkan menolak menerapkannya. Mereka bisa berkata teladani Nabi ﷺ, tapi tak mau secara total terapkan syariat yang dibawanya. Inikah bukti cinta pada Nabi ﷺ?

Baca juga:  Perbuatan Rasul saw.

Yang ada, para penguasa kukuh menjalankan hukum-hukum kufur yang bersumber dari ideologi kapitalisme. Mereka enggan menerapkan hukum-hukum Islam, hingga berani memerangi siapa saja yang berjuang untuk menerapkan Islam di muka bumi.

Sikap ini persis seperti Abu Lahab.

Urwah bin az-Zubair pernah meriwayatkan dari Tsuwaibah, mantan budak Abu Lahab yang kemudian pernah menyusui Muhammad ﷺ saat bayi. Disebutkan, Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah karena gembira atas kelahiran Muhammad ﷺ. Namun pada akhirnya, dia menjadi orang yang paling benci, memusuhi dan selalu menghalang-halangi dakwah Nabi.

Jika demikian, di mana tanda mencintai Nabi? Di mana pula letak memuliakan dan mengagungkan Alquran yang diserukan beliau pada umatnya? Mengapa antara cinta dan praktik sangat bertolak belakang. Bukankah mencintai Nabi butuh bukti yang konkret?

Lalu bagaimana?

Pertama, bersungguh-sungguhlah mengikuti ajaran Rasul ﷺ yang berpedoman pada Alquran dan hadis. Akhlak Nabi ﷺ ialah cerminan isi Alquran yang suci dan mulia.

Kedua, seorang muslim wajib mempelajari kehidupan Rasul ﷺ meliputi kehidupan rumah tangga beliau, pengorbanan yang dilalui beliau sebagai pembawa risalah Allah, hingga bagaimana beliau menjadi seorang kepala negara yang visioner.

Ketiga, berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Baca juga:  Menegakkan Syariat Kaffah Wujud Cinta Kepada Nabi Saw. yang Hakiki

Keempat, mencintai apa yang menjadi kegemaran beliau, seperti menjaga sunah, salat tahajud, puasa sunah Senin dan Kamis, hingga sunah-sunah lainnya. Bagaimana kita bisa mencintai Nabi jika jauh dari sunah-sunahnya, bukan?

Kelima, mendakwahkan Islam, seperti yang dilakukan Nabi ﷺ, mengajak manusia untuk menerapkan risalah yang dibawanya. Mencintai Nabi tentu berharap dapat dikumpulkan kembali bersama beliau di Jannah-Nya. Ini akan menjadikan seseorang bersemangat memperjuangkan Islam agar diterapkan di muka bumi.

Allah SWT berfirman,

قُلۡ اِنۡ كُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوۡن

Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku.” (QS Ali Imran [3]: 31)

Kata tuhibuunallah (mencintai Allah) yang datang dari seorang hamba kepada Allah, oleh Allah diberikan konsekuensinya, yaitu keharusan hamba mengikuti jejak perilaku Nabi ﷺ (ajarannya).

Hal itu menjadi syarat akan balasan Allah berupa ampunan-Nya, sebagai Zat yang Maha pengampun kepada semua makhluk-Nya yang mau bertobat. Maka, belumlah terlambat untuk bertobat bagi muslim yang belum menerapkan syariat. Insya Allah.

Ayat di atas juga menjadi pemisah dan pembeda antara siapa saja hamba Allah yang berada di pihak Nabi ﷺ (dengan menjalankan seluruh syariat-Nya tanpa merasa keberatan sedikit pun), dan siapa saja yang tetap dalam kekufurannya (bahkan dalam kemunafikannya karena ragu pada ajaran Islam yang mulia). Subhanallah.

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang bisa membuktikan cinta kita pada Nabi ﷺ, yakni dengan menerapkan syariat-Nya secara kaffah. [MNews/Rnd-Gz]

2 thoughts on “Cinta Nabi? Terapkan Syariat di Muka Bumi

  • 28 Oktober 2020 pada 21:10
    Permalink

    Terimakasih, setelah membaca ini wawasan ku tentang Islam semakin luas 🙏

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *