[News] Setelah UEA, Giliran Sudan Menjabat Tangan Berdarahnya Israel

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL – Baru-baru ini, portal washingtonpost merilis artikel berjudul “Sudan and Israel agree to normalize ties, the third such accord since August” (Sudan dan Israel setuju untuk menormalisasi hubungan, kesepakatan ketiga sejak Agustus) (23/10/2020).

Disebutkan, Sudan akan menjadi negara terbaru yang menormalisasi hubungan dengan Israel dan akan disusul lima negara Arab lainnya. Hal itu diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Jumat (23/10/2020).

Atas keputusan ini, Trump juga menyampaikan siap menghapus Sudan dari daftar negara sponsor terorisme, sekaligus siap mencabut blokade bantuan ekonomi dan investasi untuk negara itu.

Sebelumnya, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain telah lebih dulu menandatangani kesepakatan normalisasi hubungan dengan Negara Zionis itu. Kedua negara Teluk itu menjadi yang pertama di Timur Tengah yang mengakui Israel dalam 26 tahun terakhir.

Tikaman Pengkhianatan

Merespons kabar ini, pengamat politik dunia Islam Iffah Ainur Rochmah menegaskan normalisasi hubungan negara Arab dengan Israel bukan hanya mengkhianati perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina, tapi juga merupakan tikaman terhadap Islam.

Menurutnya, fakta ini hanya menambah panjang kumpulan bukti terus berlangsungnya pengkhianatan rezim-rezim demokratis di negeri muslim terhadap Islam dan kaum muslim. Palestina bukan hanya milik saudara muslim yang tinggal di sana, tapi ia adalah tanah kharajiyah yang menjadi hak kaum muslim di seluruh dunia.

Baca juga:  Layakkah Berlaku Rahmah kepada Israel?

“Memperjuangkan pembebasan Palestina dari pendudukan zionis Israel adalah kewajiban bagi seluruh pemimpin muslim seluruh dunia, amanat di pundak seluruh muslim sejak penaklukannya oleh Khalifah Umar bin Khaththab ra.,” ujarnya pada MNews, 25/10/2020.

Normalisasi dunia Arab terhadap Israel ini pun ia tegaskan haram disikapi dengan perhitungan probabilitas lahirnya suasana damai di tanah Palestina.

Iffah pun sangat menyayangkan jika masih ada muslim atau tokoh Islam yang melihat normalisasi ini sebagai strategi dunia Arab melunakkan hati Israel agar tidak bersikap keras dan menekan setiap sendi kehidupan muslim Palestina.

“Dunia Islam benar-benar telah dicekoki racun nasionalisme. Mereka lebih rela memilih mengkhianati Palestina, bahkan menikam Islam demi apa yang disebut ‘kepentingan nasionalnya’,” katanya.

Tak terkecuali Sudan, lanjutnya, yang memutuskan normalisasi dengan Israel dengan kompensasi penghapusan negaranya dari daftar negara teroris versi AS. Pemimpinnya bahkan tanpa malu mengatakan negaranya membutuhkan Israel untuk memperbaiki ekonominya.

“Sebelum memutuskan normalisasi, Sudan telah mengajukan sejumlah SU$10 miliar untuk pemulihan krisis ekonominya,” beber Iffah mengutip pernyataan pemimpin partai oposisi Sudan, Sadiq al Hamdi yang mengkritik kebijakan itu.

Semua karena Sistem Demokrasi

Menjawab pertanyaan MNews soal kenapa kasus memalukan ini bisa terjadi, Iffah menyebutkan hal ini niscaya dalam sistem demokrasi.

Baca juga:  Dampak dari Pemilihan Presiden AS (Bagian 1/3): Kebijakan Trump dan Terbelahnya Amerika

Menurutnya, sistem ini hanya akan melahirkan pemimpin muslim yang lemah dalam mewujudkan kedaulatan negaranya, bahkan berani menantang Allah dan Rasul-Nya hanya demi kepentingan mempertahankan kursi kekuasaannya.

“Semua mesti sadar, Israel tidak akan mengompromikan tujuannya untuk menduduki Palestina secara utuh!” ujarnya.

Bila dunia Islam menganggap solusi problem Palestina adalah “Two State Solution”, lanjutnya, berarti pikiran mereka sudah teracuni logika penjajah dan bermakna menyerahkan secara sukarela dan legal tanah kaum muslim kepada penjajah Israel.

“Inilah sebab urgensi menegakkan sistem Khilafah. Hanya sistem Khilafah dan seorang Khalifah yang bisa menjadi gantungan harapan kembalinya tanah kharajiyah dan kemuliaan Al Aqsha ke pangkuan kaum muslim,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, “tangan” Israel penuh lumuran darah kaum muslimin di Palestina. Biro Statistik Pusat Palestina (PCBS) mengatakan, jumlah warga Palestina dan Arab yang gugur sejak Nakba mencapai 100.000 jiwa. Terdapat satu juta kasus penangkapan sejak 1967. Jumlah tawanan di penjara penjajah Israel sekitar 5.700 jiwa pada akhir Maret 2019 (melayu palinfo, 14/5/2019). [MNews/ SNA-Gz]

4 thoughts on “[News] Setelah UEA, Giliran Sudan Menjabat Tangan Berdarahnya Israel

  • 31 Oktober 2020 pada 21:23
    Permalink

    Sistem sekuler kapitalis membuat umat Islam tercerai berai…

    Balas
  • 27 Oktober 2020 pada 15:13
    Permalink

    Khilafah tak pernah kompromi dengan pembunuh saudara muslimin…

    Balas
  • 26 Oktober 2020 pada 22:08
    Permalink

    Tak selayaknya muslim bergandeng tangan dengan pembunuh saudara semuslim.
    #KhilafahsolusituntasPalestina.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *