[News] Resesi Siklik Akibat Islam Tidak Digunakan sebagai Regulasi

MuslimahNews.com, EKONOMI – Pengamat ekonomi Islam, Nida Sa’adah, S.E., M.E.I., berpendapat resesi yang berlangsung siklik saat ini akibat penerapan ekonomi sekuler yang mencampuradukkan antara hak dan batil.

Ustazah Nida menjelaskan, setidaknya ada empat penyebab resesi. Pertama, sirkulasi atau perputaran hanya terjadi di kalangan orang kaya saja (QS Al Hasyr: 7). Kedua, praktik ekonomi ribawi. Ketiga, praktik maysir (spekulasi, gambling/perjudian, praktik gharar (ketidakpastian). Keempat, sifat tamak manusia khas bentukan peradaban sekuler.

Kebijakan yang Salah Menghadapi Pandemi

Tidak dimungkiri, kondisi pandemi memang menghantam perekonomian global. Terkait ini, Ustazah Nida mengecam kebijakan ekonomi dan kesehatan yang salah oleh semua negara saat hadapi pandemi Covid-19 yang menutup semua sektor riil yang dimulai negara-negara besar.

Ia pun membandingkan penanganan pandemi cara Islam yang mengajarkan melakukan karantina lokal (lockdown syar’i). Selain itu, Islam mendukung penuh kesehatan gratis dari kas keuangan baitulmal terhadap area yang terkena wabah.

“Hanya saja, itu tidak dilakukan. Islam tidak digunakan sebagai regulasi, termasuk di Indonesia yang mayoritas muslim,” kritiknya.

Gambaran Sistem Ekonomi Islam

Islam memiliki konsep detail termasuk implementasi solusi antikrisis. Konsep ini diterapkan dalam sebuah negara yang menerapkan syariat Islam, yaitu Khilafah. Ada lima gambaran sistem Islam yang dijelaskan Ustazah Nida.

Baca juga:  Gelombang Resesi di Depan Mata, Rakyat Harus Bagaimana?

Pertama, larangan kanzul mal (penimbunan/menumpuk harta) yang akan menarik perputaran uang di masyarakat, termasuk harta yang disimpan atau ditahan dalam berbagai bentuk surat berharga.

Kedua, mengatur kepemilikan. Islam melarang privatisasi, sehingga aset semacam sumber daya alam dalam deposit melimpah tidak lagi dikuasai korporasi. Dalam hadis dinyatakan umat Islam berserikat dalam tiga hal yaitu air, padang rumput, dan api.

Menurutnya, pasal 33 UUD 45 saat ini menjadi dalih penguasa, karena bumi, air, dan kekayaan alam lainnya dikuasai negara, maka negara dapat memprivatisasi dan memberikan kepada siapa saja yang merapat kepada penguasa.

“Berbeda jika narasinya mengacu pada narasi hadis di atas, maka tidak bisa dimanipulasi sebab alat kontrolnya adalah rakyat yang paham terhadap narasi regulasi itu,” jelasnya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, jika berharap situasi membaik dan ada narasi yang sempurna, hal itu ada pada ayat-ayat suci yang tidak bisa dimanipulasi siapa pun.

Ketiga, menerapkan mata uang yang tidak palsu yaitu berbasis emas dan perak. Ketika mata uang berganti, transaksi akan ekuivalen antara peredaran jumlah uang dengan barang jasa. Ekonomi pun stabil dan produktif.

Keempat, menghentikan kegiatan transaksi ribawi,yang menjadi muara persoalan ini dan juga spekulatif.

Baca juga:  Saat Perbankan Terguncang Isu “Rush”

“Harus ada keyakinan bahwa manusia bisa membangun ekonomi yang kuat tanpa riba, tanpa maysir, dan gharar. Sehingga Allah akan turunkan keberkahan dari langit dan bumi,” ujarnya.

Kelima, penerapan zakat mal dalam regulasi negara. Ustazah Nida menjelaskan, zakat mal akan digarap serius, namun tidak untuk infrastruktur.

“Haram hukumnya (zakat mal untuk infrastruktur, red.). Zakat mal akan disalurkan kepada delapan kelompok sebagaimana QS At Taubah, alhasil program pengentasan kemiskinan berjalan simultan,” tegasnya.

Dengan kelima hal inilah, lanjutnya, telah terwujud perekonomian selama 13 abad yang produktif dan tidak pernah mengalami krisis, yakni pada masa Kekhilafahan Islam. [MNews/Ruh-Gz]

2 thoughts on “[News] Resesi Siklik Akibat Islam Tidak Digunakan sebagai Regulasi

Tinggalkan Balasan