Pengamat: UU Ciptaker, Watak Kapitalis Rasa Komunis

MuslimahNews.com, NASIONAL — Ustazah Iffah Ainur Rochmah mengkritisi soal UU Cipta Kerja yang diketok pada 5/10/2020 tengah malam lalu. Menurutnya, UU tersebut dijadikan dalih penguasa dalam mengatasi resesi, padahal memberi karpet merah bagi investor dan asing.

“Ini seperti menjadikan rakyat sebagai “jongos” di rumahnya sendiri. Memberangus aspirasi rakyat, merepresi dengan kekerasan, dan memperlakukan rakyat sebagai musuh,” ujarnya.

Jadi dilihat, lanjutnya, memberi karpet merah kepada investor dan asing adalah watak kapitalis. Sedangkan memperlakukan rakyat dengan kekerasan adalah rasa komunis. Rakyat masih juga didorong untuk judicial review ke MK.

“Apakah ada peluang UU ini tidak bermasalah atau regulasi yang lahir dari judicial review ini nantinya berpihak kepada rakyat? Dari aturan mainnya saja sudah bermasalah,” tanyanya retoris.

Ia menjelaskan, dalam pasal 59 ayat 2 UU No 8 Tahun 2011 tentang MK, disebut jika diperlukan perubahan terhadap undang-undang yang telah diuji, DPR atau Presiden segera menindaklanjuti putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Namun, pada 01/09/2020 ada penghapusan terhadap pasal tersebut.

“Sehingga, jika Judicial Review dipenuhi, tidak ada kewajiban DPR atau Presiden untuk menindaklanjuti,” kritiknya.

Menurut Ustazah Iffah, sorotannya bukan hanya di substansi UU dan membiarkan umat menempuh jalur yang sejatinya masih satu kerangka dengan yang melahirkan UU itu, yakni demokrasi.

“Semua perangkat demokrasi akan menihilkan harapan rakyat memperoleh kemanfaatan. Mengapa? Karena demokrasi melahirkan hukum jahat,” tukasnya.

Ustazah Iffah merinci, di dalam demokrasi, standar benar dan salah tidak baku melainkan bersandar pada kesepakatan dan suara mayoritas (aklamasi dan voting). Syahwat kekuasaan dan kerakusan duniawi menjadi pengendali kekuasaan; Pemerintah dikendalikan pemilik modal yang mendanai kampanye dan oligarki; Negara cukup menarik rente dan pajak, tidak perlu menyejahterakan rakyat; Rakyat sebagai pemilik kekuasaan, hanya dimanipulasi untuk mendapat dukungan elite. Inilah wajah asli demokrasi, bukan akibat penyimpangan rezim tertentu.

“Oleh sebab itu umat wajib mengambil solusi dari aturan Ilahi dan mencampakkan demokrasi,” tegasnya.

Wajib Mengambil Solusi dari Ilahi

Ustazah Iffah mengutip pernyataan Ibnu Jauzi, “Sungguh telah cukup lama rasa heranku terhadap orang yang beriman kepada Allah azza wa jalla, beriman kepada balasan-Nya. Sementara ia memilih melayani penguasa padahal ia melihat sekali kezaliman nyata yang dilakukannya.”

Ustazah Iffah menjelaskan makna melayani penguasa adalah berada dalam posisi yang regulasinya seperti yang diciptakan tadi (kezaliman–red.). “Untuk itu wajib mengambil solusi yang bersumber dari Ilahi dan mencampakkan demokrasi,” tandasnya.

Ustazah Iffah menegaskan tidak cukup menolak satu regulasi ini saja (UU Ciptaker–red.) karena tidak akan bisa menyelesaikan resesi, tetapi masih banyak regulasi lain yang cepat atau lambat akan menghasilkan masalah-masalah baru karena tidak berbasis aturan Ilahi.

Ia pun mengutip sabda Rasulullah saw., “Akan ada setelahku para umara’. Siapa yang masuk kepada mereka dan membenarkan kedustaan mereka dan mendukung kezaliman mereka maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya dan tidak disediakan atasnya telaga (di Hari Kiamat). Dan siapa yang tidak masuk kepada mereka (para umara’ tersebut) dan tidak membenarkan kedustaan mereka, dan tidak mendukung kezaliman mereka maka maka dia adalah dari golonganku, dan aku golongannya, dan dan baginya disediakan telaga (di hari kiamat).” (HR Ahmad). [MNews/Ruh-Gz]

2 thoughts on “Pengamat: UU Ciptaker, Watak Kapitalis Rasa Komunis

  • 25 Oktober 2020 pada 17:57
    Permalink

    Astagfirullah.. semoga rakyat cepat tersadar kalau demokrasi itu menyengsarakan rakyat

    Balas
  • 24 Oktober 2020 pada 22:23
    Permalink

    Saatnya buang demokrasi tegakan Khilafah Rasyidah ‘alaa minhajinabi

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *