Kala Utang Menjadi Prestasi

Oleh: Kanti Rahmillah, M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI – Kembali Sri Mulyani mendapatkan penghargaan sebagai Finance Minister of the Year for East Asia Pasific dari majalah Global Markets. Setelah sebelumnya pada 2018, Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani memperoleh penghargaan yang sama.

Penghargaan tersebut diberikan Global Markets atas prestasi Sri Mulyani menangani ekonomi Indonesia di masa pandemi. Komitmennya dalam memberikan stimulus fiskal dalam bentuk perlindungan sosial, insentif perpajakan, penjaminan pinjaman dan subsidi bagi sektor usaha yang terdampak paling besar, dikatakan layak diapresiasi. (tribunnews.com, 17/10/2020)

Menurut Sri Mulyani, gelar tersebut merupakan salah satu bentuk keseriusan dan kerja keras seluruh jajaran Kementerian Keuangan dalam menangani pandemi di Indonesia. Bahkan di forum terpisah, Sri pun pernah mengatakan banyaknya utang yang kita peroleh merupakan tanda dipercayanya negara ini dalam mengelola keuangan.

Benarkah nalar yang demikian? Mengapa apresiasi diberikan pada menteri yang gemar berutang? Bagaimana posisi utang dalam perspektif ekonomi politik? Lantas bagaimana Islam memosisikan utang negara? Adakah skema pembangunan tanpa utang?

Kala Utang Menjadi Prestasi

Sontak, penghargaan yang diberikan pada menteri keuangan banyak dipertanyakan publik, terkhusus para ekonom. Pasalnya, kondisi perekonomian Indonesia sedang mengalami guncangan hebat. Tata kelolanya yang amburadul dan solusinya yang buruk ditengarai menjadi kondisi terparah sepanjang sejarah negeri ini merdeka.

Seperti yang disampaikan Fadli Zon bahwa penghargaan terhadap Sri Mulyani sebagai menteri keuangan terbaik kurang tepat, lantaran kondisi ekonomi Indonesia yang semakin buruk. Mungkin penghargaan tersebut wajar diberikan sebuah majalah dan instutusi asing, karena dari kacamata asing hal demikian memang baik. Tapi tidak jika dilihat dari kacamata rakyat.

Ibarat tukang kredit keliling, dia akan merasa senang pada pelangganya yang gemar berutang. Wajar penghargaan seperti bonus atau pujian datang dari tukang kredit pada pelanggan yang loyal karena telah memeberikan benefit yang besar.

Baca juga:  Membangun Negara Mandiri, Bebas Utang dan Jerat Investasi Asing

Celakanya, pelanggan tukang kredit yang loyal tersebut sebenarnya utangnya sudah banyak. Hingga aset yang ia kelola sedikit demi sedikit sudah terjual. Padahal juga aset tersebut bukan miliknya. Entah apa yang menjadi motivasi pengutang loyal tersebut hingga terus saja menambah utang. Padahal di sekelilingnya ada banyak aset yang bisa menjadi solusi atas defisitnya keuangan.

Logika tukang kredit ini, seolah menjadi relevan dengan kondisi saat ini. Penghargaan yang diberikan kreditur tentu bukan untuk mengangkat derajat negeri ini. Justru sebaliknya, penghargaan tersebut seperti paku untuk menjerat bangsa ini menuju keterpurukannya yang semakin dalam. Mudaratnya sampai pada generasi yang akan datang karena mereka terlahir dengan beban utang di pundaknya.

Utang dalam Perspektif Politik Ekonomi Negara Berkembang

Kecenderungan tren utang luar negeri Indonesia atau negara berkembang pada umumnya meningkat. Akibat pemerintah (dalam hal ini eksekutornya adalah Menteri Keuangan) menjadikan utang sebagai skema rutin dalam pembangunan ekonominya.

Menurut Dosen IPB, Dr Muhammad Findi, Utang luar negeri dalam perspektif ekonomi politik terbagi menjadi dua.

Pertama, memosisikan utang sebagai tambahan/penutup kebutuhan dalam kondisi darurat. Hal demikian dilakukan saat langkah-langkah strategis sudah dilakukan, namun pendanaan masih kurang. Misal ketika sumber penerimaan dalam negeri masih belum memenuhi, barulah mengambil langkah utang.

Kedua, menjadikan utang luar negeri sebagai skema rutin pembangunan. Inilah yang dinamakan “jebakan utang”. Indonesia dan negara-negara berkembang terjebak debitor multilateral atau unilateral.

Baca juga:  Utang Membengkak, Ekonomi Menukik, Salah Siapa?

Akhirnya, ketergantungan negara berkembang kepada debitor dan investor asing semakin tinggi. Hal ini akan menyebabkan sejumlah kebijakan dapat disetir. Akhirnya, produktivitas sumber daya ekonomi domestik semakin rendah.

Utang Perspektif Politik Ekonomi Islam

Berbicara utang luar negeri tak bisa dipisahkan dari politik luar negeri suatu negara. Artinya, tidak hanya semata-mata dilihat dari sisi fikih utang itu sendiri. Utang tanpa riba dalam syariat boleh hukumnya. Namun, jika berbicara masalah utang luar negeri yang merupakan kebijakan suatu negara, hendaklah suatu negara memperhatikan kedaulatan negaranya atas semua kebijakan yang dilakukannya.

Pengamat Politik Farid Wadjdi menyatakan, meminta bantuan negara-negara imperialis dalam bentuk apa pun merupakan bunuh diri politik. Bantuan ekonomi berupa utang luar negeri telah digunakan Barat sebagai alat intervensi kepentingan mereka di dunia Islam.

Sebagai negara penerima bantuan, Indonesia harus tunduk kepada kebijakan liberal yang digariskan Barat. Meskipun hal itu berarti “merampok” harta negara dan menambah derita rakyat.

Dengan utang luar negeri ini, sebuah negara terus menerus bergantung kepada asing. Beban bunga utang yang semakin menjulang membuat Indonesia seolah menjadi sapi perah negara penjajah.

Sehingga, yang harus dilakukan pemerintah adalah revitalisasi sumber pemasukan negara untuk mengisi defisitnya anggaran, misal stop privatisasi BUMN, eksploitasi barang tambang, dll.

Namun, hal demikian akan sulit dilaksanakan jika paradigma sistem ekonomi negara kita masih menggunakan sistem ekonomi kapitalisme liberal. Yang menjadikan utang sebagai pondasi utama dalam pembangunan nasional.

Skema Pembangunan Tanpa Utang

Sistem keuangan negara berdasarkan syariat Islam disebut Baitulmal. Dalam kitab Al Amwal, karya Abdul Qadim Zallum, dijelaskan bahwa ada tiga pos pendapatan yang sangat besar. Bukan bersumber dari pajak dan juga utang sebagaimana kondisi keuangan negara kapitalis liberal.

Baca juga:  Waspadai Jeratan Utang IMF Bernama “Corona Loan”

Petama, Bagian Fa’i dan Kharaj. Bagian ini menjadi tempat penyimpanan dan pengaturan arsip-arsip pendapatan negara. Meliputi harta yang tergolong fa’i bagi seluruh kaum muslim, dan pemasukan dari sektor pajak (dharibah) yang diwajibkan bagi kaum muslim tatkala sumber-sumber pemasukan baitulmal tidak mencukupi.

Kedua, Bagian Pemilikan umum. Seperti sumber daya alam yang melimpah digolongkan menjadi kepemilikan umum, bukan milik negara. Negara tidak boleh memberikannya pada asing atau privatisasi. Negara hanya berhak mengelola dan hasilnya diperuntukan bagi kemaslahatan umat sepenuhnya. Bisa dalam bentuk biaya kesehatan, biaya pendidikan, dll.

Ketiga, Bagian Sedekah. Bagian ini menjadi tempat penyimpanan harta-harta zakat seperti zakat uang dan perdagangan, zakat pertanian dan buah-buahan, zakat ternak unta, sapi, dan kambing. Pos ini hanya didistribusikan pada delapan asnaf sesuai firman Allah SWT. Skema pembiayaan ini menjadikan kas negara, yaitu baitulmal menjadi relatif stabil dan tidak mudah defisit.


Sejarah gemilang ditorehkan Khalifah di masa Daulah Abbasiyah Harun Arrasyid. Telah tersohor suasana negara di bawah kekuasaan Khalifah Harun Ar-Rasyid begitu aman dan damai.

Kesejahteraan rakyatnya begitu terasa, hingga sangat sulit mencari orang yang diberikan zakat, infak, dan sedekah. APBN selalu surplus, hingga satu riwayat mengatakan surplusnya di atas 900 dinar.

Sungguh, apabila negeri ini membebaskkan dirinya dari jeratan ekonomi kapitalisme liberal, membuang solusi utang atas skema pembiayaan pembangunannya, lalu beralih menggunakan sistem keuangan Islam baitulmal yang telah terbukti kuat dan stabil, Insyaallah, negeri ini akan terbebas dari setiran asing yang berujung pada menzalimi umat. [MNews/Gh]

3 thoughts on “Kala Utang Menjadi Prestasi

  • 25 Oktober 2020 pada 04:22
    Permalink

    Apapun masalahnya Islam solusinya, semoga semakin sadar bahwa penerapan syariat Islam dlm segala aspek kehidupan adalah kewajiban yg akan membawa keberkahan kebahagian dan keridloan Allah, aamiin,
    Allahu Akbar.

    Balas
  • 24 Oktober 2020 pada 08:58
    Permalink

    Hanya islam solusi terbaik

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *