Anak Laki-laki Kita Seorang Pemimpin

Oleh: Ummu Fairuzah

MuslimahNews.com, KELUARGA — Seorang ‘ibadurrahman berdoa, “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (TQS al-Furqon: 74)

Ayat ini memiliki kandungan yang besar. Berisi doa orang tua untuk anak-anaknya, doa dengan ketulusan dan pengharapan besar. Terkabulnya doa ini akan menjadi obat atas setiap peluh pengorbanan dalam mengandung, melahirkan, dan mengasuh mereka.

Anak dan kepemimpinan dua perkara yang berkait erat. Untuk membentuk anak sholih, penyejuk hati membutuhkan peran para pemimpin yang bertakwa. Akan sangat mudah melahirkan generasi emas di bawah asuhan pemimpin bertakwa yang menerapkan syariat penjaga dan pelindung masa depan mereka.

Dan Islam telah menetapkan dua syarat pertama pemimpin adalah laki-laki-muslim. Maka Allah Swt telah melebihkan sebagian kepada laki-laki karena mereka memiliki tanggung jawab besar dalam kepemimpinan.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).(TQS an-Nisaa’:34)

Sangat wajar betapa bangga dan bahagia orang tua yang memiliki anak laki-laki. Mereka telah memperoleh kepercayaan atas amanah besar dari Rabb-nya. Tentu kebanggaan ini perlu disertai kesadaran bahwa sesungguhnya melahirkan seorang pemimpin berarti siap dengan konsep pendidikan bagi para calon pemimpin.

Melahirkan Seorang Pemimpin

“Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR al-Bukhari dan Ahmad)

Sifat utama seorang pemimpin adalah bertanggung jawab, baik atas urusan dirinya, lingkungannya, orang-orang yang dipimpinnya dan alam semesta. Karakter tanggung jawab akan membuahkan sifat berani, empati, teliti, peduli, jujur, kasih sayang dan welas asih. Sementara karakter tanggung jawab membuang sifat egois, acuh, jahat, keji, pecundang, hipokrit dan culas.

Bukankah Rosulullah Saw telah berdoa untuk pemimpin yang penyayang serta berdoa untuk pemimpin yang jahat,

“Ya Allah, siapa saja yang memimpin (mengurus) urusan umatku ini, yang kemudian ia menyayangi mereka, maka sayangilah dia. Dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia.”  (HR Muslim No 1828)

Tentunya tanggung jawab yang dimaksud di sini karakter yang lahir dari keimanan sahih, sehingga pemimpin hanya takut kepada Allah Swt. Bayangan hisab akhirat senantiasa terbenakkan dalam jiwanya. Penilaian manusia atas dirinya bukanlah tujuan, semata hanya keridhoan Rabbnya yang ingin digapai.

Membangun karakter kepemimpinan pada anak membutuhkan dukungan lingkungan dan suasana kondusif. Anak memerlukan qudwah wa uswah bukan sekedar kata dan retorika. Qudwah membutuhkan pembiasaan baik di rumah, sekolah, dan masyarakat.

Jadi, makna melahirkan seorang pemimpin bukan semata melahirkan (wiladah) bahkan lebih bermakna menjalani proses panjang membangun aqidah dan syakhshiyah kepemimpinan pada seorang anak laki-laki dilanjutkan dengan segenap upaya mengokohkan karakter yang telah terbangun.

Nabi Saw bersabda,

“Seseorang mendidik anaknya itu lebih baik baginya dari pada ia menshadaqahkan (setiap hari) satu sha’.”  (HR  Imam at-Tirmidzi dari Jabir bin Samurah ra)

Mendidik Anak Laki-Laki

Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” ( TQS at-Tahrim: 6)

Qatadah, ketika menafsirkan ayat ini mengatakan,

 “Yakni, hendaklah engkau memerintahkan mereka untuk berbuat taat kepada Allah dan melarang mereka dari berbuat durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menerapkan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan dan bantulah mereka untuk menjalankannya. Apabila engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, maka peringatkan dan cegahlah mereka.” (Tafsir al-Quran al-’Azhim 4/502)

Demikian besar tanggung jawab orang tua kepada anaknya salah satunya  memberikan pendidikan terbaik. Adapun beberapa hal penting dalam pendidikan anak laki-laki antara lain:

Pertama, membacakan adzan dan iqomat di telinga bayi baru lahir. Untuk menanamkan akidah Islam yang kokoh sebagai fondasi baginya kelak ketika dewasa, juga menjaga dari gangguan syaitan dan hawa nafsu.

Kedua, mengkhitankan anak laki-laki. Tidak ada ketentuan hukum kapan usia terbaik untuk khitan anak laki-laki. Namun karena khitan baik bagi kesehatan, dan bersih diri merupakan keutamaan ibadah, sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Sebab, kala usia tujuh tahun anak sudah harus dibiasakan untuk beribadah salat lima waktu.

Ketiga, memperdengarkan murattal di rumah. Baik dilakukan setiap waktu tidur, bermain, makan, belajar dan waktu lainnya. Anak-anak yang terbiasa mendengarkan bacaan murattal akan lebih mudah menghafal baik menghafal ayat-ayat alquran maupun tsaqofah islam dan ilmu lainnya.

Keempat, mengajak anak salat lima waktu dan mendengarkan tausiyah setelah salat di masjid. Dalam salat berjemaah ada banyak keutamaan dan pelajaran penting bagi kepemimpinan.

Kelima, mengajak anak ke majelis taklim duduk di antara shaf laki-laki. Pemimpin berada di depan, lebih utama dia memahami ilmu mendahului orang yang dipimpinnya. Karenanya anak laki-laki yang telah disapih, baik baginya banyak ikut ayah bersama jama’ah laki-laki dalam momen-momen seperti majelis taklim. Tentunya masyarakat juga perlu dibiasakan menerima kehadiran anak kecil dalam masjid.

Keenam, memberikan mainan anak laki-laki, menghindarkan mainan anak perempuan. Anak laki-laki bermain mobil, pesawat, boneka super hero, pedang, senjata. Tidak benar memberikan anak laki-laki mainan boneka, barbie, kitchen set, dan mainan anak perempuan lainnya. Sebab mainan membentuk pola jiwa.

Ketujuh, membiasakan olahraga memanah, berenang dan berkuda. Jihad merupakan kewajiban utama bagi laki-laki muslim. Kemampuan dan teknik dasar menggunakan senjata dapat diperoleh dari olahraga jenis ini.

Kedelapan, memelihara binatang rumahan. Kemampuan mengurusi suatu urusan dapat diperoleh dari kebiasaan memelihara binatang. Setiap binatang memiliki kekhasan masing-masing. Dengan memelihara binatang rumahan anak akan terbiasa mengerti kebutuhan hewan kesayangannya. Bukankah sosok Amirul Mukminin Umar bin Khattab mampu memimpin dengan kasih sayang dalam mengurusi urusan kaum muslimin karena sejak kecil terbiasa menggembala onta milik ayahnya.

Kesembilan, membiasakan bersedekah dengan tangannya. Banyak orang berlomba-lomba bersedekah. Namun tidak banyak yang membiasakan anaknya bersedekah dengan tangannya. Padahal bersedekah memunculkan sifat empati, welas asih dan pertautan hati yang kuat. Tahaddu tahabbu, saling memberi maka akan saling mencintai.

Kesepuluh, memilihkan guru terbaik. Siapa yang tidak mengenal Sultan Muhammad al Fatih? Seorang penakluk hasil didikan guru terbaik. Syekh Ahmad bin Ismail Al-Qurani seorang ulama yang berilmu lagi faqih, masyhur dengan berbagai keutamaan dan Syekh Aaq Syamsuddin seorang ulama yang nasabnya bersambung pada Abu Bakar ash Shiddiq dan seorang yang pengetahuannya tidak terbatas pada satu bidang sebagaimana kebanyakan ulama pada masanya.

Selain sepuluh poin di atas ada keutamaan lain yang bisa dilakukan orang tua dalam mendidik anak laki-laki, misalnya memberi nama yang baik, aqiqah, tahnik, mengenalkan kisah para sahabat Rasul, para Khalifah, para imam mahzab dan ilmuwan-ilmuwan Islam.

Semoga Allah Swt memampukan setiap orang tua muslim dalam mendidik anak laki-laki menjadi para pemimpin bertakwa. Aamiin Yaa Rabbal Alamin. [MNews/Juan]

One thought on “Anak Laki-laki Kita Seorang Pemimpin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *