Sekularisme, Jalan Deideologisasi Santri

Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si. (Koordinator LENTERA)

MuslimahNews.com, OPINI – Atmosfer sekuler adalah kehidupan abnormal bagi pendidikan generasi. Masyarakat telah bertransformasi menjadi lingkungan yang justru tidak mampu menjalankan fungsi pendidikan generasi sebagaimana mestinya.

Pondok, Solusi Praktis Dampak Sekularisme

Kita bisa lihat betapa tayangan media massa meruntuhkan bahkan merusak nilai moral. Gaya hidup bebas (pornoaksi, pornografi, aksi tawuran, sadisme, kriminalitas, dsb) menjadi suguhan harian bagi generasi di tengah-tengah masyarakat. Benar-benar jauh dari kata kondusif bagi suasana pendidikan dan pembelajaran.

Merespons hal ini, tak heran jika di sebagian kalangan umat Islam, menguat gelombang untuk mengirim anaknya ke pondok pesantren. Di samping itu, sekolah-sekolah Islam terpadu (SIT) juga mulai gencar menerapkan konsep boarding school (sekolah berasrama).

Semua itu semata-mata upaya untuk mengefektifkan anak agar tak terlalu banyak “bermain”. Artinya, diharapkan agar anak konsentrasi dengan pendidikannya. Terlebih tantangan pergaulan bebas dan kenakalan remaja juga makin menggila.

Meski demikian, tetap harus ada upaya yang sebanding untuk memutus/menghilangkan sekularisasi dan liberalisasi. Ini agar pondok pesantren juga efektif menjalankan fungsinya dalam membentengi kerusakan generasi.

Ini pula yang tentu saja perlu kita senantiasa ricek berdasarkan makna Hari Santri Nasional (HSN). Yang terkhusus tahun 2020 ini, HSN harus diperingati di tengah pandemi. Kendati demikian, tak semestinya mengurangi makna HSN itu sendiri. Terlebih, tantangan dari luar pondok bagi generasi muda Islam, jelas-jelas berasal dari luar Islam. Yakni arus kehidupan bermuatan sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Ketiganya adalah anak kandung kapitalisme, ideologi yang meniscayakan pemisahan ajaran Islam sebagai tata aturan kehidupan.

Resolusi Jihad Kaum Santri

Sebagaimana dikutip dari tirto.id (21/10/2020), tanggal 22 Oktober ditetapkan menjadi HSN berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015 di Mesjid Istiqlal Jakarta. Sejarah penetapan HSN ini merujuk pada satu peristiwa bersejarah yakni Resolusi Jihad yang dibacakan oleh pahlawan nasional KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945. Resolusi ini berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Indonesia pasca Proklamasi kemerdekaan sebagai kompensasi pengambilalihan daerah bekas jajahan Jepang.

Baca juga:  Sekularisme Singkirkan Islam dari Negara

Lewat Resolusi Jihad itu, kaum santri memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia agar menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan, agama dan Indonesia, terutama terhadap pihak Belanda dan kaki-tangannya. Bagi NU, baik Belanda maupun Jepang telah berbuat kezaliman di Indonesia.

Yang terjadi berikutnya, adanya Resolusi Jihad membawa pengaruh yang besar. Karena membuat rakyat dan santri melakukan perlawanan sengit dalam pertempuran di Surabaya. Banyak santri dan massa yang aktif terlibat dalam pertempuran ini. Perlawanan rakyat dan kalangan santri ini kemudian membuat semangat pemuda Surabaya dan Bung Tomo turut terbakar. Hingga akhirnya perjuangan tersebut menewaskan pemimpin Sekutu Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Mallaby tewas dalam pertempuran yang berlangsung pada 27-29 Oktober 1945 hingga memicu pertempuran 10 November 1945.

Peran Strategis Santri

Mencermati semua ini, tentu umat Islam patut menyadari peran strategis santri dan pesantren. Di tengah hiruk-pikuk maraknya perilaku amoralisasi generasi muda, pesantren masih selalu menjadi solusi. Pesantren, bagaimana pun, adalah tempat yang tepat untuk menempa diri, menuju pertaubatan sejati. Di tambah lagi era digitalisasi kehidupan kaum muda hingga memunculkan istilah generasi Z, nyatalah bahwa pesantren adalah sarana efektif agar mereka tak mudah ikut gerusan zaman berikut arah pergaulan yang negatif. Pada intinya, tak sedikit para orang tua yang meyakini bahwa pesantren dapat memberikan penjagaan dan pendidikan secara holistik bagi putra-putri bangsa.

Karenanya, peringatan HSN yang tak jauh dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, layak kiranya untuk membuat kita menyadari, bahwa para santri adalah kaum muda harapan negeri. Karena santri adalah orang yang mendalami agama Islam, orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh, dan orang yang shalih. Artinya, jika peran strategis santri dikembalikan sebagaimana definisinya, maka sungguh besar potensi santri untuk kemajuan bangsa. Patutlah kabar gembira dalam sabda Rasulullah ﷺ berikut ini.

Baca juga:  Sekularisme dalam Balutan Indeks Kota Toleran

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi ﷺ, beliau ﷺ bersabda: “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Deideologisasi Santri

Karena itu, sungguh sangat krusial untuk diwaspadai jika terdapat upaya-upaya membelokkan potensi santri. Terlebih untuk mengukuhkan eksistensi rezim sekular dan hegemoni kapitalisme. Misalnya deideologisasi ajaran Islam dalam kurikulum pesantren. Di mana, terdapat pemahaman umum di tengah-tengah masyarakat, bahwa ada pesantren yang hanya mengajarkan Islam sebatas ilmu alatnya, seperti bahasa Arab, fikih, syarah kitab-kitab syarah hadits, tafsir, dsb. Namun melupakan poin-poin yang memuat sistem perpolitikan dalam Islam, sistem pergaulan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem pendidikan dan pembelajaran Islam, sistem peradilan dan persanksian dalam Islam, sistem pemerintahan Islam, siroh Nabi ﷺ, bahkan hingga ke ranah aktualisasi dakwah dan jihad.

Padahal Islam adalah metode kehidupan, di mana tata aturan kehidupan Islam-lah yang akan digunakan untuk menjalani hidup sehari-hari. Dan inilah yang hendaknya lebih diberdayakan di pesantren. Bukan pembelajaran yang sekedar ilmu alat saja.

Akan sangat disayangkan jika ada santri, alumni pesantren, atau bahkan kyai, yang masih menghalalkan riba, aktivitas hura-hura dengan hiburan dari biduan, menista bendera tauhid, termasuk juga yang bersikap abu-abu tanda ketidaktegasan terhadap perbedaan yang haq dan bathil.

Baca juga:  Macron Ultimatum Pemimpin Muslim untuk Menerima Nilai-Nilai Sekuler. Pengamat: Bukti Hipokrisi Demokrasi!

Belum lagi jika sedang tahun politik, yang memanfaatkan pesantren sebagai kantong massa demi mendongkrak perolehan suara. Tak perlu heran, jika ada para elit politik praktis yang mendadak ‘blusukan’ ke pesantren-pesantren, memberi bantuan dana, fasilitas, dsb. Padahal, ini sungguh meminggirkan sekaligus menumpulkan posisi strategis santri tadi.

Seyogianya kita juga ingat kembali, bahwa penetapan HSN erat kaitannya dengan Resolusi Jihad. Ini juga demi mengingatkan kita mengenai peran kaum santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Santri yang kerap dikenal berkutat seputar urusan agama, ternyata para mujahid pejuang Islam. Dan yang diperjuangkan jelas penegakkan hukum Islam agar kembali menjadi pengatur kehidupan.

Di negeri kita yang tengah darurat multidimensi, sejatinya tak kalah darurat pula andil santri bersama umat berjuang secara politis mengembalikan Islam sebagai sistem aturan kehidupan. Deideologisasi santri tak ubahnya penjajahan pemikiran agar santri tak melek akan peran politisnya.

Khatimah

Umat ini butuh solusi mendasar dari Sang Khalik, di mana ujung tombak pembelajarnya adalah para santri. Individu-individu muslim memerlukan perasaan, pemikiran, dan peraturan yang satu yakni ideologi Islam, di mana efektivitas simpul-simpul penyampainya ada di tangan para santri.

Menilik makna filosofis sejarah HSN, sudah selayaknya mengembalikan peran para santri sebagaimana spirit Resolusi Jihad. Hendaklah santri menjadi garda terdepan pembela dan pilar perjuangan Islam. Selayaknya, para santri menjadi motor-motor penggerak kebangkitan dan konstruktor peradaban Islam.

Terlebih di tengah kian bebasnya invasi tsaqafah Barat berikut maraknya persekusi dakwah dan kriminalisasi ajaran Islam, para santri adalah orang-orang yang menempati posisi krusial sebagai simpul-simpul persatuan umat. Kesadaran inilah yang semestinya menjadi ruh dakwah para santri. Jangan sampai mudah menukarnya dengan iming-iming nominal harta dunia, fanatisme organisasi, jabatan maupun kekuasaan. [MNews]

6 thoughts on “Sekularisme, Jalan Deideologisasi Santri

  • 24 Oktober 2020 pada 00:45
    Permalink

    Santri adalah bibit masa depan anak bangsa,, sudah seharusnya di fasilitas dan hanya khilafah yg mampu mengatur semua

    Balas
  • 23 Oktober 2020 pada 21:58
    Permalink

    Saatnya buang demokrasi kembali pada Khilafah Rasyidah ‘alaa minhajinabi.

    Balas
  • 23 Oktober 2020 pada 21:41
    Permalink

    Hanya islam solusi terbaik

    Balas
  • 23 Oktober 2020 pada 18:57
    Permalink

    Santri adalah estafet ulama’ untuk menjaga warisan rasulullah. Deideologisasi santri sama halnya ingin memadamkan cahaya Allah. HSN momentum menjadikan santri dan pesantren sebagai penjaga islam yg terpercaya .

    Balas
  • 23 Oktober 2020 pada 18:42
    Permalink

    hanya pendidikan islam mampu mncetak generasi yg baik..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *