Memosisikan Kembali Kaidah Akhaffu Dhararayn (Bagian 2/2)

Sambungan dari Bagian 1/2

Oleh: K.H. Hafidz Abdurrahman, M.A.

MuslimahNews.com, TSAQAFAH – Adapun dharar (kemudaratan) yang menimpa diri sendiri, yaitu ketika seseorang melakukan sesuatu yang bisa membahayakan diri sendiri, maka hukumnya bisa jadi makruh, sunah, atau haram.

Larangan Rasul kepada para sahabat untuk tidak memasuki kawasan wabah (ardh thâ‘ûn), misalnya, adalah larangan yang tidak mengikat (ghayr jâzim), atau makruh. Sikap seorang wanita lebih memilih bersabar dengan imbalan surga atas kesabarannya ketimbang didoakan oleh Nabi saw. agar kakinya yang bengkak disembuhkan oleh Allah adalah contoh perbuatan mudarat yang disunahkan.

Sedangkan dharar yang menjadi implikasi dari perbuatan yang secara syar‘i diperbolehkan, seperti jihad dan dakwah, yang bisa mengantarkan pada kematian, maka hukumnya tetap diperintahkan. Karena itu, adanya dharar yang menjadi implikasi jihad atau dakwah tersebut tidak bisa mengubah hukum yang asalnya wajib menjadi haram, karena ada mudaratnya.

Sebaliknya, mati syahid—baik dalam jihad maupun dakwah—tersebut merupakan perkara yang dinyatakan oleh Allah sebagai kebaikan, bukan dharar. Hal ini dipuji oleh Allah dalam firman-Nya:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلاً

Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Lalu di antara mereka ada yang gugur (sebagai syahid) dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu (giliran untuk mati syahid); mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya)” (QS al-Ahzab [33]: 23).

 Aplikasi Kaidah Akhaffu ad-Dhararyn

Baca juga:  Memosisikan Kembali Kaidah “Akhaffu Dhararayn” (Bagian 1/2)

Di samping hadis yang dikemukakan oleh penulis al-Mawâhib al-Jalîl di atas, ada beberapa hadis lain yang bisa dijadikan argumentasi kaidah ini, antara lain adalah perbuatan Rasulullah saw., yang sekaligus menunjukkan bagaimana cara Rasulullah saw. menentukan pilihan, ketika dihadapkan pada dua dharar (kemudaratan) yang berbenturan.

Ini terjadi ketika Rasulullah dan para sahabat melakukan peperangan pada bulan Ramadan. Berpuasa dalam kondisi seperti ini bisa menyebabkan stamina pasukan tempur tidak prima dan mengakibatkan pasukan kaum Muslim akan mengalami kekalahan di medan perang.

Dalam hal ini, Rasul memerintahkan para sahabat agar membatalkan puasa, supaya stamina pasukannya prima, dan pada akhirnya bisa menunaikan jihad dengan baik dan sempurna sehingga kemenangan akan berpihak kepada mereka.

Memang, hukum berbuka puasa pada bulan ramadan adalah haram, tetapi kekalahan dalam peperangan akibat tidak primanya stamina karena faktor kesengajaan juga haram, bahkan lebih diharamkan dibandingkan dengan berbuka pada bulan Ramadan.

Sebab, kekalahan dalam pertempuran adalah lebih mudarat dan lebih berbahaya atas kaum Muslim. Karena itu, dalam kasus seperti ini, Rasulullah saw. menginstruksikan agar pasukan perangnya membatalkan puasa mereka.

Artinya, beliau memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan perbuatan yang tingkat keharamannya lebih ringan. Ini berlaku dalam konteks ketika dua hukum yang sama-sama mengakibatkan dharar (kemudaratan) tersebut tidak bisa dikerjakan bersama-sama pada waktu yang bersamaan.

Contoh lain, di medan perang, pasukan kaum Muslim haram merusak senjata yang mereka miliki. Sebab, Allah memerintahkan pasukan kaum Muslim untuk selalu waspada bahkan harus selalu membawa senjata di wilayah pertempuran hatta pada saat shalat sekalipun.

Baca juga:  Memosisikan Kembali Kaidah “Akhaffu Dhararayn” (Bagian 1/2)

Allah Swt berfirman dalam QS an-Nisa [4]: 102, yang artinya :

“Hendaklah mereka waspada serta memegang senjatanya. Orang-orang kafir itu bercita-cita agar kalian lengah dari senjata  dan harta benda kalian lalu mereka menyerang kalian sekaligus.”

Ayat ini menunjukkan bahwa menghancurkan senjata adalah haram karena lebih berbahaya dibanding dengan meletakkan senjata. Namun, jika senjata tersebut tidak dihancurkan diduga kuat akan dikuasai oleh musuh, maka senjata tersebut memang harus dihancurkan agar musuh tidak menjadi lebih kuat dibanding kaum Muslim.

Bahkan Rasulullah saw. telah mengharamkan setiap hal yang menimbulkan bahaya (dharar) atas kaum Muslim. Beliau bersabda :”‘Tidak ada bahaya dan membalas keburukan dengan keburukan” (HR Ahlad dan Ibnu Majah).

Karena itu, menghancurkan senjata kaum Muslim adalah haram dan penguasaan musuh atas senjata tersebut haram pula, tetapi menghancurkan senjata tersebut akan lebih ringan bahayanya. Karena itu, berlakulah kaidah akhaffu adz-dzararayn.

Akan tetapi, jika kedua hukum yang mengakibatkan dharar (kemadaratan) tersebut bisa dikerjakan pada waktu yang sama maka hukum mengerjakan keduanya sama-sama wajib. Tidak ada lagi pilihan; mana di antara keduanya yang lebih ringan dharar (mudarat)-nya.

Sebab, dalam kasus lain, seperti dalam kasus Perang Badar, Rasul tidak memerintahkan agar pasukan perangnya membatalkan puasa mereka, tatkala puasa mereka itu tidak mengakibatkan hilangnya keprimaan stamina mereka.

Hanya saja, ketika seseorang tidak dalam konteks untuk memilih salah satu di antara kedua dharar tersebut, maka dalam konteks seperti ini juga tidak ada pilihan; mana di antara keduanya yang paling ringan dharar-nya.

Baca juga:  Memosisikan Kembali Kaidah “Akhaffu Dhararayn” (Bagian 1/2)

Misalnya, lokalisasi pelacuran yang jelas-jelas dharar itu dihukumi jâiz (tidak haram) dengan alasan untuk menghindari dharar yang lebih besar, yaitu berkembangnya transaksi seks liar. Ini merupakan contoh penggunaan kaidah akhaffu ad-dhararyn yang keliru.

Sebab, kedua bentuk dharar tersebut merupakan pelanggaran hukum syariat yang bisa dihindari, dan tidak mengharuskan masyarakat untuk memilih salah satu di antara keduanya.

Kesimpulan

Dari uraian di atas bisa disimpulkan, bahwa penggunaan kaidah Akhaffu ad-Dhararyn tersebut harus memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

  1. Jika masing-masing dharar tersebut kedudukannya sama—sama-sama berbahaya dan membahayakan, sedangkan masing-masing tidak bisa dihindari (baik dengan meninggalkan perintah ataupun melaksanakan larangan)—maka yang harus dipilih adalah mana di antara kedua dharar tersebut yang paling ringan. Di sinilah, kaidah akhaffu ad-dhararayn tersebut berlaku.
  2. Jika masing-masing dharar tersebut kedudukannya sama—sama-sama berbahaya dan membahayakan, sedangkan masing-masing bisa dihindari (baik dengan melaksanakan perintah ataupun meninggalkan larangan)—maka tidak diperbolehkan memilih mana di antara kedua dharar tersebut yang paling ringan. Dalam hal ini, kaidah akhaffu ad-dhararayn tersebut jelas tidak berlaku.
  3. Ketika seseorang tidak dalam konteks untuk memilih salah satu di antara kedua dharar tersebut, maka dalam konteks seperti ini juga tidak ada pilihan; mana di antara keduanya yang paling ringan dharar-nya. Dalam hal ini, kaidah akhaffu ad-dhararayn tersebut jelas tidak bisa dipergunakan

Wallaahu a’lam [MNews/Juan]

One thought on “Memosisikan Kembali Kaidah Akhaffu Dhararayn (Bagian 2/2)

  • 23 Oktober 2020 pada 21:43
    Permalink

    Hanya islam solusi terbaik

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *