[Sirah] Muhammad Saw. Sebelum Diutus Menjadi Rasul

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH – Muhammad Saw. adalah seorang laki-laki yang diberi julukan al-Amin, orang yang tepercaya. Keluarganya dan masyarakat Arab sangat menghormatinya. Beliaulah orang yang akan dibebankan padanya misi kepemimpinan umat manusia, hingga mencapai puncak kegemilangannya.

Nasabnya yang Terhormat

 Beliau adalah Muhammad bin Abdillah (Syaibatul Hamdi) bin Abdil Muththalib bin Hasyim (‘Amrul “Ula) bin Abdi Manaf (al Mughirah) bin Qushai (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Muad bin Adnan.

Sedangkan nasab beliau dari jalur ibu yaitu Aminah binti Wahhab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr.

Nasab yang terhormat ini sangat berpengaruh terhadap Muhammad Saw. dan terhadap orang orang yang Beliau seru nantinya.  Mayoritas masyarakat Arab tidak menemukan cacat pada nasab Muhammad Saw. Beliau diterima sebagai hakim sebab Beliau bagian dari tokoh Quraisy  yang tinggi nasabnya.

Ayah Muhammad Saw. wafat saat Beliau masih dalam kandungan ibunya, Aminah. Beliau Saw. disusukan kepada seorang wanita dari Bani Sa’ad bin Bakar, Yaitu Halimah binti Abu Duaib. Keluarga Halimah mendapatkan keberkahan dari Allah SWT dengan menyusui Muhammad Saw. yang yatim.

Muhammad  Saw. ketika bersama ibunya Aminah binti Wahhab dan kakeknya Abdul Muththalib berada dalam pemeliharaan dan penjagaan Allah. Sehingga beliau tumbuh dengan baik dan penuh kehormatan.

Baca juga:  Meneladani Nabi Muhammad saw. dalam Membangun Negara

Kala Beliau berumur enam tahun, ibunya wafat di Abwa’, yaitu tempat antara Makkah dan Madinah. Ketika Beliau Saw. berumur delapan tahun, kakek Beliau  Abdul Muththalib wafat. Selanjutnya Muhammad Saw.  pindah ke rumah pamannya, Abu Thalib.

Status yatim Muhammad Saw. menjadi lengkap dengan wafatnya kedua orang tua beliau dan kakeknya, sehingga Beliau Saw. menjadi perhatian dan curahan kasih sayang. Bukan saja karena beliau yatim, namun karena Beliau juga cerdas, berakhlak mulia, dan memiliki kepribadian yang kuat. Semua inilah yang menjadikan orang-orang kagum dan selalu mengingatnya.

Banyak Melakukan Perjalanan

Dengan pamannya, Abu Thalib, Muhammad Saw. telah melakukan perjalanan ke negeri Syam. Beliau Saw.  juga membawa barang dagangan Khadijah.

Beliau Saw. di negeri Syam tidak hanya sebentar, sehingga Beliau Saw. dapat menyaksikan keadaan rakyat dan negerinya. Disamping itu Beliau Saw. dapat melihat langsung tipe manusia yang berbeda dengan tipe manusia yang ada di Hijaz.

Menikah dengan Khadijah

 Khadijah binti Khuwailid adalah pedagang yang berwibawa dan berharta. Dia mengupah banyak orang untuk memperdagangkan hartanya ke berbagai negeri yang jauh. Ketika mendengar berita tentang kejujuran, sifat amanah, dan akhlak Muhammad Saw., Khadijah menawarkan hartanya kepada Beliau Saw. untuk diperdagangkan di Syam.

Khadijah ra. menawarkan dirinya untuk menjadi istri Muhammad Saw.  Beliau  Saw. pergi bersama pamannya Hamzah menemui Khuwailid bin Asad untuk meminang Khadijah. Kemudian Muhammad  Saw. dinikahkan dengan Khadijah dengan mahar dua puluh ekor unta.

Baca juga:  Misi Hijrah belum Selesai

Khadijah ra adalah wanita pertama yang menjadi istri Rasulullah Saw.  Umur Khadijah waktu itu 40 tahun dan Muhammad Saw. berumur 25 tahun.

Senang Mengasingkan Diri 

Mengasingkan diri sambil merenungi nikmat dan karunia  Allah SWT merupakan ibadah orang Arab yang masih teguh memegang  agama Ibrahim. Muhammad Saw. seringkali keluar menuju Gua Hira, sebuah tempat yang berada di dataran tingggi dan jauh dari keramaian.

Beliau Saw. melakukan itu untuk menjauhkan diri dan merenungkan apa yang terjadi di masyarakat Arab kala itu.  Berbagai  bentuk kezaliman, penyembahan berhala, beragam kemusyrikan, dominasi kalangan elit terhadap rakyat kecil, dan berbagai kerusakan lainnya.

Apabila masa mengasingkan diri selesai, Beliau saw  turun dari Gua Hira menuju Kakbah. Di Kakbah, Muhammad Saw. melakukan tawaf lalu pulang ke rumahnya.

Saat berada di gua Hira inilah, dalam keadaan antara tidur dan bangun Beliau Saw. menerima wahyu yang pertama, melalui perantaraan malaikat Jibril.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,  Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya(TQS. Al Alaq ayat 1-5)

 Muhammad  Saw. pulang menemui keluarganya. Khadijah istri beliau melihat perubahan pada wajah Muhammad Saw. Beliau menceritakan apa yang dialaminya.

Khadijah berkata, “ Gembiralah dan tegarlah  wahai putra paman, Demi Zat yang Menguasai Diri Khadijah, sungguh aku benar benar berharap bahwa engkaulah Nabi yang ditunggu-tunggu umat ini.”

 Pelajaran Bagi Pengemban Dakwah

 Sesungguhnya Allah SWT menjamin tersebarnya nama Muhammad saw dan menjadikannya sorotan masyarakat sejak Beliau masih kecil. Keluarganya terhormat baik dari jalur bapaknya maupun ibunya.

Baca juga:  Hikmah Isra’ Mi’raj: Rasulullah Saw. Imam Para Nabi

Beliau adalah anak yatim piatu yang cerdas dan berakhlak mulia. Orang orang yang bertemu dengannya terpengaruh dengan kecerdasan dan kebaikan perangai Muhammad Saw.

Beliau Saw. suka merenungkan berbagai peristiwa yang dialami dan ditemuinya. Berbagai kesyirikan, kerusakan dan kezaliman yang terjadi, secara akal dan firah,  harusnya tidak menimpa manusia. Harus ada yang melakukan perubahan, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Adalah risalah Islam yang Allah turunkan kepada Muhammad saw untuk menjadi solusi terhadap seluruh problematika yang terjadi pada umat manusia. Hari ini risalah tersebut kembali disampaikan oleh para pengemban dakwah.

Pengemban dakwah harus menempa pribadinya menjadi sosok yang cerdas dan juga berperilaku terpuji. Hingga masyarakat menaruh kepercayaan kepada pengemban dakwah dan menerima apa yang disampaikannya.

Namun semua orang tahu bahwa jalan dakwah dipenuhi dengan onak dan duri. Banyak hal yang tidak menyenangkan dan bahkan menyakitkan. Sehingga tidak mungkin ada yang sanggup menjalaninya, kecuali orang yang kuat imannya, ikhlas, amanah, jujur, dan tepercaya. Wallahu’alam. [MNews/Rgl]

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al AzharPress

Tinggalkan Balasan