Benarkah Sekolah Daring Pemicu Stres? Islam Punya Solusinya

Oleh: Asy Syifa Ummu Sidiq

MuslimahNews.com, OPINI – Pendidikan akan mempertajam kecerdasan dan insting seseorang. Melalui pendidikan, seseorang akan mampu mengubah dunia. Dari pendidikan lahirlah orang-orang bijak dan para negarawan. Setidaknya kalimat-kalimat itu kita pahami sebagai penyemangat dalam menempuh pendidikan.

Namun, apa jadinya jika pendidikan ternoda dan hanya menghasilkan ribuan orang stres yang bernyawa? Mereka merasa tertekan dengan tugas yang diberikan. Di sisi lain mereka dihadang ribuan penghalang mencapai tujuan.

Seperti tragedi besar yang mengegerkan dunia pendidikan di negeri Khatulistiwa ini dengan aksi bunuh diri seorang siswi (16) asal Gowa Sulawesi Selatan. Dikabarkan ia menenggak racun rumput, dan mirisnya, detik-detik aksi bunuh diri itu direkam melalui telepon genggamnya.

Dugaan penyebab kematian itu adalah stres yang dialami siswi saat melaksanakan belajar daring. Pasalnya, si siswi sering bercerita kepada temannya betapa sulitnya ia mengerjakan tugas-tugas sekolah. Ditambah lagi di daerahnya sinyal sangat minim.

Sekolah Daring dan Stres pada Siswa

Menurut Ketua Umum Jaringan Sekolah Digital Indonesia, Muhammad Ramli Rahim, peristiwa stres macam ini bukan yang pertama. Padatnya tugas daring dan minimnya sarana prasarana meningkatkan tekanan pada diri siswa. Tak jarang yang sakit, stres, hingga akhirnya putus sekolah. (sulsel.suara.com, 19/10/20)

Pernyataan di atas dikuatkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Menurut Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti, banyak anak tak mampu mengikuti Pelajaran Jarak Jauh (PJJ). Akibatnya anak-anak tertekan, selain karena terlalu banyak tugas yang dibebankan padahal waktu pengerjaan singkat, juga masalah ketersediaan sarana pendukung PJJ. (tempo.co, 23/7/20)

Namun, masalah-masalah yang lahir di negeri ini justru berlawanan dengan di luar negeri. Dikutip dari Healthline.com, sejumlah peneliti dari Universitas Briston Inggris meneliti 1 000 siswa berusia 13-14 tahun. Dihasilkan 54% anak perempuan mengalami stres saat sekolah sebelum pandemi.

Stres itu justru turun 10% saat sekolah daring. Begitu pula stres pada anak laki-laki, juga mengalami penurunan stres dari 26 ke 18%. Emily Widnall, M.Sc. selaku kepala penelitian ini mengatakan, “Sekolah bagi para remaja dapat menimbulkan kecemasan karena ujian dan hubungan antarteman sebaya, terutama bullying.” (youth.pikiran-rakyat.com, 13/10/20)

Baca juga:  Bagaimana Solusi Sistem Pendidikan Islam Menghilangkan Stres?

Menelisik Sebab Musabab Tekanan Sekolah Daring

Nyatanya, tidak sepenuhnya sekolah daring menyebabkan stres pada para siswa. Menurut Frank A. Ghinassi, PhD, ABPP, Presiden dan CEO Perawatan Kesehatan dan Perilaku Universitas Rutgers Health, ada beberapa faktor pendukung lainnya penyebab stres atau depresi pada siswa.

Di antaranya adalah kekurangan makanan, ekonomi, perselisihan orang tua, status sosial, hubungan antarremaja, kekerasan dalam rumah tangga, dan pencarian jati diri menuju dewasa. (youth.pikiran-rakyat.com, 13/10/20)

Dari paparan para ahli dan kondisi di lapangan, ada sebab internal dan eksternal yang menambah tingkat stres para siswa.

Sebab eksternal, jeratan kemiskinan. Kemiskinan membuat orang tua tak mampu memenuhi kebutuhan anak untuk sekolah daring. Ketidakmampuan menyediakan gawai atau laptop, membeli paket internet, menyediakan makanan bergizi, hingga keterbatasan orang tua mendampingi anaknya membuat tingkat stres semakin meningkat.

Selain itu, kebiasaan anak bersosialisasi dengan teman dan lingkungan berubah drastis di masa pandemi ini. Mereka tak lagi leluasa main, bersenda gurau, atau sebatas mengobrol sebagai obat penat. Istilahnya tak ada sarana yang dapat menyalurkan emosi atau tekanan psikologis. Padahal setiap hari mereka dihadapkan pada tugas sekolah dengan deadline yang singkat.

Tekanan yang tak kalah besar juga berasal dari sistem sekolah (sistem pendidikan). Di mana para guru dikejar target untuk menyelesaikan pelajaran sesuai kurikulum. Dengan kurikulum yang cukup padat, membuat tugas berjejalan silih berganti, padahal waktu dan sarana prasarananya tak memadai.

Adapun sebab internal berasal dari dalam diri siswa. Kekuatan pemikiran yang dimiliki seorang siswa mau tidak mau menyebabkan masalah juga. Seorang siswa bisa stres bahkan depresi dan akhirnya bunuh diri bisa jadi karena imannya lemah. Kurang yakinnya pada prinsip qadha dan qadar membuat mereka memilih jalan yang salah.

Baca juga:  Memutus Laku Orangtua 'Durhaka'

Kematian memang menjadi ketentuan Allah. Tapi cara mendapatkan kematian adalah pilihan. Pilihan inilah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Apakah cara kematiannya diridai oleh Allah atau bahkan sebaliknya.

Sistem Kapitalis Sekuler Merusak Tatanan Kehidupan

Lebih dari semua sebab musabab tadi, penyebab utama dari masalah ini adalah diterapkannya sistem kapitalis sekuler. Termasuk memasukkan pemikiran ala kapitalis sekuler pada sistem pendidikan. Memisahkan agama dari hidup ini.

Menjadikan tujuan utama hidup adalah kebahagiaan dunia, membuat siswa tak lagi memiliki iman yang kuat. Mereka hanya mengandalkan materi. Jika standar kebahagiaanya tak tercapai, ia akan mudah menghalalkan segala cara untuk memenuhinya. Jika jalan buntu yang diperoleh, tak ada satu pun solusi yang dapat menenangkannya kecuali bunuh diri.

Mirisnya, masalah stres akibat sekolah daring sebagian besar dialami negeri-negeri kaum muslimin. Negeri yang dilingkupi kemiskinan, ketergantungan dengan Barat. Bagi negeri-negeri Barat yang kaya, sekolah daring justru menjadi solusi saat pandemi. Mengapa hal ini terjadi?

Inilah yang disebut imperialisme. Penjajahan bangsa Barat atas bangsa Timur (negeri Islam). Barat dengan mudah mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) dari negeri kaum muslimin. Hasil eksploitasi itu mereka bawa ke negara Barat untuk pembangunan dan pembiayaan kehidupan di sana. Negeri kaum muslim hanya ditinggali kawah-kawah lubang galian yang sewaktu-waktu dapat menelan korban.

Penjajahan kapitalis yang sistemis pada negeri kaum muslim telah melahirkan kebijakan yang tak prorakyat. Eksploitasi kekayaan alam yang akhirnya memiskinkan negeri muslim, kebijakan sarana prasarana PJJ yg tidak berpihak pada rakyat, kurikulum yang membebani, orang tua yang terfokus mencari ekonomi hingga tak sempat mendampingi anak belajar, hingga orang tua yang tak mampu membantu kesulitan anak saat belajar karena pendidikan yang rendah, makin menambah deret masalah.

Islam Menghancurkan Imperialisme

Selama kaum muslimin masih tunduk dengan Barat, masalah tak akan selesai begitu saja. Jalan satu-satunya adalah mengambil Islam tidak hanya sebagai agama ritual, tetapi sebagai sebuah sistem yang lengkap dengan segala perangkatnya. Penjajahan imperialis (kafir) hanya akan dapat dihancurkan sistem pula.

Baca juga:  Menggugat Nasib Keramat Generasi di Sistem Demokrasi Saat Pandemi

Islam memiliki kesatuan perangkat lengkap. Mulai dari sistem ekonomi, pemerintahan, pendidikan, hingga sistem sanksi. Jika kita mengambilnya, Allah akan memenangkan kita atas orang-orang kafir.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang salih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nuur [24] ayat 55)

Sistem Pendidikan Islam Menjaga Siswa dari Stres

Sistem pendidikan Islam menjadikan keimanan sebagai landasannya. Para siswa akan dikuatkan keimanannya. Dengan keimanan inilah mereka dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mengenai biaya pendidikan, baik di masa pandemi atau tidak, akan ditanggung negara.

Tentu pembiayaannya bukan berasal dari utang ribawi, tetapi dari pendapatan negara, baik kekayaan negara atau kekayaan umum. Kekayaan negara dapat diperoleh dari fa’i, kharaj, jizyah. Sedangkan kekayaan umum diperoleh dari pemanfaatan SDA.

Jika masih kurang, dapat diperoleh dari kekayaan individu (para dermawan) yang menginfakkan harta mereka untuk pendidikan. Jika masih kurang baru dengan cara menarik dharabah (pajak) pada muslim, laki-laki dan mampu.

Siswa tidak akan memikirkan kesulitan fasilitas pendidikan. Mereka tak mudah stres karena keimanan yang dimiliki. Semua itu hanya dapat direalisasikan oleh sistem pemerintahan Islam yang merupakan paketan dari sistem Islam, yaitu Khilafah. Wallahu a’lam. [MNews]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

4 komentar pada “Benarkah Sekolah Daring Pemicu Stres? Islam Punya Solusinya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *