Cara Khilafah Menghentikan Dominasi Kapitalisme Global (Bagian 1/2)

MuslimahNews.com, TSAQAFAH – Pada akhir abad 20 muncul satu istilah yang sangat populer, yaitu globalisasi. Secara sederhana, globalisasi adalah sebuah upaya sekelompok bangsa melakukan eksploitasi dan dominasi atas bangsa-bangsa lain di seluruh muka bumi ini.

Oleh karena itu, proses globalisasi sesungguhnya sudah terjadi sejak beberapa ratus tahun yang lalu. Hanya saja, bentuk dan metodenya saja yang berbeda. Pada era abad 15-an proses globalisasi ini sudah terjadi dengan sangat masif.

Proses globalisasi ini dikenal dengan istilah kolonialisme atau penjajahan. Metode yang digunakan adalah penjajahan secara fisik atas negara-negara lain, untuk kemudian dijadikan sebagai koloni-koloninya. Negara-negara koloni tersebut selanjutnya dikeruk kekayaan sumber daya alamnya untuk keperluan pengembangan industri di negara mereka penjajah.

Lalu bagaimana bentuk globalisasi pada abad 20 ini? Proses globalisasi pada era abad 20 ini dimulai setelah Perang Dunia II berakhir. Bentuk dan metodenya telah mengalami perubahan.

Namun demikian, bukan berarti proses penjajahan telah berakhir. Penjajahan tetap ada, namun dengan metode yang berbeda. Penjajahan secara fisik memang sudah berakhir, ditandai dengan pengesahan Declaration of Human Right. Sebenarnya itu juga merupakan buatan negara mantan penjajah.

Tonggak sejarah globalisasi pada era abad 20 sesungguhnya telah ditancapkan pada 1944. Pada waktu itu dilaksanakan pertemuan di Bretton Woods, Amerika Serikat. Pertemuan ini dihadiri negara-negara sekutu pemenang Perang Dunia II, yaitu Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.

Dalam pertemuan ini telah disepakati adanya keputusan-keputusan penting yang menandai proses globalisasi dunia dengan cara dan metode yang baru.

Keputusan-keputusan penting yang telah dihasilkan dalam pertemuan di Bretton Woods antara lain:

  1. Pemberlakuan mata uang Dolar AS sebagai mata uang internasional untuk menggantikan mata uang emas dan perak (Dinar dan Dirham) yang dikeluarkan oleh Kekhilafahan Turki Utsmani.
  2. Pembentukan IMF (International Monetary Fund) yang berfungsi sebagai lembaga untuk menjaga stabilitas moneter internasional.
  3. Pembentukan WB (World Bank), yang berfungsi untuk memberi dana (utang) guna membiayai proyek-proyek pembangunan negara-negara bekas penjajahannya.
  4. Pencanangan GATT (General Agreement on Tariff and Trade), yang berfungsi mengatur lalu lintas perdagangan internasional.
Baca juga:  Lonceng Kematian Rezim Demokrasi di Berbagai Belahan Dunia

Sekilas, berbagai keputusan dalam perjanjian Bretton Woods tersebut tampak sangat baik dan bermanfaat bagi negara-negara bekas penjajahannya. Padahal sesungguhnya semua keputusan yang mereka buat memiliki sebuah agenda tersembunyi (hidden agenda), yakni melanggengkan penjajahan mereka. Apa buktinya?

Strategi Hegemoni Ekonomi

Dengan adanya Perjanjian Bretton Woods, negara negara kapitalis dunia akhirnya dapat menjalankan proses hegemoni ekonomi dunia dengan cara yang sangat mudah. Khususnya atas negara-negara bekas jajahannya (yang notabene itu adalah negeri-negeri Muslim). Hal itu berlangsung hingga saat ini. Bagaimana proses hegemoni ekonomi dunia itu dapat diwujudkan?

Hegemoni Mata Uang Dolar AS

Ketika Dolar AS dinyatakan sebagai mata uang resmi untuk perdagangan internasional, sejak saat itulah proses hegemoni ekonomi dunia dapat diwujudkan dengan sangat mudah.

Mengapa? Sebab, sejak Perjanjian Bretton Woods diberlakukan, semua negara bekas jajahan yang sudah menyatakan kemerdekaannya dipersilakan membuat mata uang kertas negaranya sendiri (mata uang lokal).

Syaratnya, banyaknya mata uang yang dicetak harus disandarkan pada banyaknya devisa yang mampu disimpan di Bank Sentralnya. Ternyata, devisa yang menjadi sandarannya adalah Dolar AS. Bukan logam mulia seperti emas dan perak.

Dengan demikian jatuh-bangunnya mata uang lokal sangat ditentukan oleh banyak sedikitnya Dolar AS yang ada di negaranya. Sesuai dengan hukum ekonomi pasar bebas, jika jumlah Dolar AS banyak, nilainya akan turun, dan mata uang lokal nilainya akan naik. Demikian sebaliknya.

Baca juga:  RCEP, Bukti Kapitalisme Global Makin "Nancep"

Oleh karena itu, jika pada suatu saat nilai mata uang lokal tiba-tiba merosot terhadap Dolar AS, bagaimana caranya agar dapat menguat kembali? Caranya tidak lain dengan menarik Dolar AS sebanyak-banyaknya ke dalam negerinya.

Masalahnya, Dolar AS, agar bisa masuk, tidak dapat hanya ditukar dengan mata uang lokal. Dolar AS dapat masuk ke dalam negerinya hanya dengan mengekspor komoditas negara sebanyak-banyaknya, untuk diganti dengan lembaran-lembaran kertas Dolar AS. Padahal lembaran-lembaran itu sebenarnya tidak ada nilainya sama sekali, kecuali hanya secarik kertas saja. Mengapa Dolar AS tidak ada nilainya?

Sejak 1971 Presiden Nixon telah mencabut standar emas sebagai syarat bagi pencetakan Dolar AS. Dengan demikian Dolar AS tidak ada nilainya sama sekali kecuali hanya secarik kertas saja.

Di titik inilah kita dapat memahami betapa proses penjajahan yang sangat canggih dapat berlangsung dengan sangat masif tanpa adanya perlawanan sama sekali.

Berbagai kekayaan komoditas dan sumber daya alam dari negara-negara berkembang (yang mayoritas adalah negeri-negeri Muslim) dapat dikeruk dengan mudahnya. Diganti dengan lembaran-lembaran Dolar AS yang tidak memiliki nilai sama sekali.

Hegemoni Utang Luar Negeri

Hegemoni ekonomi yang kedua adalah utang luar negeri dari negara kapitalis kepada negara bekas jajahannya untuk kepentingan pembangunan negaranya.

Proses pemberian utang ini dikoordinasi lembaga keuangan yang telah mereka buat, yaitu World Bank. Mengapa utang luar negeri ini dapat menjadi jalan bagi proses hegemoni ekonomi?

Baca juga:  Amerika Datang, Demi Apa?

Jawabannya masih terkait dengan mata uang Dolar AS sebagaimana telah dijelaskan di atas. Utang yang diberikan pada mulanya dalam bentuk Dolar AS. Setelah diterima negara debitur, Dolar AS ini akan dikonversi ke mata uang lokal untuk dibelanjakan guna proses pembangunan nasionalnya.

Untuk pengembalian utangnya, ternyata tidak bisa dalam bentuk mata uang lokal, namun harus dalam bentuk Dolar AS ditambah dengan bunga (riba)-nya. Dari titik ini maka kita dapat memahami bagaimana proses hegemoni ekonomi itu dapat terjadi.

Beban pengembalian utang yang sangat berat tentu akan menjadi tanggungan dari negara-negara terjajah ini. Beban itu muncul secara berlapis-lapis. Apa saja beban yang berlapis-lapis itu?

Lapis pertama, karena pengembaliannya harus dalam bentuk Dolar AS, maka negara ini harus dapat memasukkan Dolar AS ke dalam negerinya terlebih dulu.

Caranya? Masih sama, Dolar AS hanya dapat masuk ke dalam negerinya dengan cara mengekspor komoditas negara sebanyak-banyaknya untuk ditukar dengan lembaran-lembaran kertas Dolar AS.

Lapis kedua, risiko nilai tukar.

Umumnya, nilai mata uang lokal cenderung terus-menerus merosot terhadap Dolar AS. Jika mata uang lokal merosot terhadap Dolar AS, maknanya adalah: jumlah utang luar negeri yang harus dibayar menjadi lebih besar dari utangnya yang semula.

Lapis ketiga, beban bunga.

World Bank sebagai lembaga rentenir besar dunia telah menetapkan beban bunga kepada negara debiturnya dengan perhitungan rumus bunga majemuk. Dengan adanya beban bunga ini, beban yang harus ditanggung negara debitur tentu akan menjadi lebih berat lagi. [MNews/Juan]

Bersambung ke Bagian 2/2

4 thoughts on “Cara Khilafah Menghentikan Dominasi Kapitalisme Global (Bagian 1/2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *