Utang Indonesia Warisan Belanda, Nida Sa’adah: Gagal Merdeka?

MuslimahNews.com, KOMENTAR POLITIK – Utang pemerintah pusat hingga akhir Agustus 2020 tercatat sebesar Rp5.594,93 triliun. Utang ini naik Rp914,74 triliun dibandingkan Agustus 2019 yang tercatat Rp4.680,19 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan, utang Indonesia yang sudah mencapai ribuan triliun itu merupakan warisan dari Belanda. Pernyataan ini disampaikannya saat acara Pembukaan Ekspo Profesi Keuangan pada 12/10/2020 lalu.

Menurutnya, saat negeri ini merdeka, secara keuangan balance sheet tidak 0 Rupiah. Harta kekayaan yang ada rusak karena perang, dan seluruh investasi yang sebelumnya dilakukan Belanda menjadi investasi pemerintah Indonesia.

Dengan kata lain, masih menurut Sri Mulyani, Belanda yang pernah menjajah selama 3,5 abad itu tak hanya memberi warisan ekonomi yang rusak, tapi juga utang. Utangnya menjadi utang Republik Indonesia. Besarnya sekitar US$ 1,13 1,13 miliar atau setara Rp15,8 triliun.

Sejak saat itulah, tandasnya, penyusunan APBN untuk pembangunan dan aktivitas ekonomi Indonesia tak lepas dari dari utang. Mulai dari orde lama maupun orde baru. Bahkan, di akhir orde baru terjadi krisis keuangan Asia yang membuat utang Indonesia meningkat lebih dari 100%.

Di masa reformasi juga tak berbeda. Kebutuhan keuangan Indonesia juga masih mengandalkan utang. APBN sering mengalami defisit dan tekanan luar biasa. Meski demikian, Sri Mulyani menekankan bahwa dari berbagai krisis yang berulang kali terjadi, Indonesia bisa menghadapinya dan lulus lebih baik,

Baca juga:  Badai PHK Tiba, dari Indosat hingga Krakatau Steel. Pakar Ekonomi Nida Sa’adah: Khilafah Islam Punya Strategi Jitu Soal Ini

Gagal Merdeka?

Hal ini mendapat respons dari pengamat sekaligus pakar ekonomi Islam, Nida Sa’adah, S.E.Ak., M.E.I.. Menurutnya, pernyataan Menkeu Sri Mulyani itu jadi semacam pengakuan tidak langsung bahwa selama ini Indonesia gagal menjadi negara merdeka.

“Pernyataan Menteri Keuangan itu cukup menggelitik. Apa parameter yang digunakan untuk menilai situasinya makin baik? Karena yang jelas terlihat adalah utang yang makin bertumpuk dan dampak lanjutannya adalah Indonesia harus melepas satu demi satu aset milik umat kepada negara/lembaga kreditur!” tegasnya.

Nida mempertanyakan kenapa selalu mengandalkan utang dalam pembiayaan ekonomi, terlebih utangnya ribawi. Padahal menurutnya, membangun tanpa utang sangat niscaya dilakukan jika negara menerapkan sistem ekonomi Islam dan konsep keuangan negara baitulmal.

Konsep baitulmal ini pernah diterapkan selama 13 abad sepanjang peradaban Khilafah Islam. Ia menjelaskan, baitulmal memiliki tiga pos besar pemasukan negara yang jumlahnya sangat besar dan berkelanjutan. Tiga pos tersebut yakni dari pengelolaan aset milik umum, pengelolaan aset milik negara, dan zakat mal.

“Saat itu, kas keuangan negara sangat besar tanpa membebani rakyat dengan pajak. Juga tanpa berutang kepada negara lain atau lembaga keuangan internasional,” ujar Ustazah Nida kepada MNews, 18/10/2020.

Baca juga:  “Debtocracy”, Utang Najis, dan Negara Islam

Selama 1.300 tahun itu pula, lanjutnya, defisit keuangan negara hanya terjadi dua kali. Suatu fenomena yang tidak bisa ditandingi negara modern mana pun hari ini.

Defisit pertama terjadi di awal pemerintahan Nabi saw. karena merupakan negara yang baru berdiri. Namun, defisit itu bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari setahun, tepatnya pascaperistiwa Fathu Makkah.

“Defisit kedua terjadi di masa Ibnu Furad akibat beberapa penyimpangan pengelolaan. Ini pun bisa diselesaikan ketika semua regulasi diperbaiki kembali mengacu kepada syariah kaffah,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Nida pun heran mengapa para penguasa selalu menolak semua regulasi yang diberikan Islam dan malah mengandalkan utang ribawi.

“Abaikah kita dengan peringatan Allah Ta’ala yang mengatakan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba?” mirisnya sembari mengutip surah Al Baqarah ayat 275.

Ustazah Nida mengingatkan, ketika praktik riba sudah merajalela di sebuah negeri, maka tunggulah saat kehancuran negeri itu.

“Itu adalah peringatan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Lalu kepada siapa seharusnya umat menambatkan kepercayaan dan harapan?” pungkasnya. [MNews/SNA-Gz]

2 thoughts on “Utang Indonesia Warisan Belanda, Nida Sa’adah: Gagal Merdeka?

  • 20 Oktober 2020 pada 16:08
    Permalink

    hmmm…..selalu dan selalu cari kambing hitam padahal kambingnya sendiri tidak selalu berwarna hitam.

    Balas
  • 19 Oktober 2020 pada 20:47
    Permalink

    Untuk percaya butuh bukti. Sejarah Islam adalah bukti bagaimana hukum Allah yang diterapkan khilafah mengatur seluruh persoalan hidup termasuk masalah ekonomi yang memberikan kemaslahatan bagi umat. Sistem kapitalis tak pernah memberikankan bukti bahwa sistemnya mampu menyelesaikan seluruh persolaan ekonomi dan memberikan kesejahteraan pada masyarakat. Allahu Akbar

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *