Tersandera Utang, Ekonomi Nyungsep

Oleh: Juanmartin, S.Si., M.Kes.

MuslimahNews.com, OPINI – Bank Dunia telah merilis laporan International Debt Statistics (IDS) 2021 atau Statistik Utang Internasional. Dalam laporan itu, Indonesia masuk ke dalam daftar 10 negara berpendapatan kecil-menengah dengan utang luar negeri terbesar di dunia. (finance.detik.com)

Tepatnya, Indonesia ada di peringkat ke-6 negara berpendapatan rendah menengah yang memiliki utang besar. Selain Indonesia, negara berpendapatan rendah dan menengah lainnya yang masuk dalam 10 besar dengan utang luar negeri terbanyak adalah Argentina, Brazil, India, Meksiko, Afria Selatan, Thailand, Turki, dan Rusia.(cnnindonesia)

Bank Dunia mencatat, rasio utang luar negeri Indonesia tahun 2019 terhadap ekspor ialah 194%. Sementara, rasio utang terhadap gross national income (GNI) atau pendapatan nasional bruto sebesar 37%.

Dari total itu, utang luar negeri Indonesia tahun 2019 lebih didominasi oleh utang jangka panjang yakni mencapai US$ 354,54 miliar atau sekitar Rp 5.238 triliun. Sementara, utang luar negeri jangka pendek sebesar US$ 44,79 miliar atau sekitar Rp 661 triliun.

Dilihat dari kategori krediturnya, utang luar negeri 2019 terbesar berasal dari sektor swasta yakni sebesar US$ 181,25 miliar atau sekitar Rp 2.678 triliun, sementara dari penerbitan surat utang sebesar US$ 173,22 miliar atau sekitar Rp 2.559 triliun.

Sementara itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus menyatakan Indonesia berpotensi turun kelas menjadi negara berpenghasilan menengah bawah (lower middle income country) tahun ini. Saat ini, Indonesia masuk dalam kategori negara berpenghasilan menengah ke atas (upper middle income country).

Resep Utang, Bikin Tekor

Sejak masa pemerintahan presiden Soeharto, pelan namun pasti Indonesia sesungguhnya telah masuk dalam jerat lintah darat dunia yakni IMF. Melalui resep yang diberikannya, IMF telah  mendorong Indonesia masuk ke dalam jebakan utang yang berkepanjangan. Dalih membangkitkan ekonomi nasional melalui utang hanyalah angan-angan. Bukannya bangkit, malah kian terpuruk.

Baca juga:  Solusi Khilafah Menjamin Ketahanan Pangan di Masa Wabah

Tiap rezim berganti, berutang masih saja dianggap solusi bagi ekonomi nasional. Setiap rezim dapat dipastikan mewariskan utang ke rezim berikutnya. Rezim yang berkuasa pun tak pernah absen untuk menambah utang.

Sebab resep yang diberikan masih sama. Begitu seterusnya hingga utang Indonesia terus membengkak, beranak-pinak dan diwariskan turun-temurun ke anak cucu. Harapan ekonomi meroket yang pernah dituturkan Presiden Jokowi ibarat dongeng. Bukannya meroket yang ada malah nyungsep.

Ekonomi Indonesia jadi rentan. Para investor bahkan begitu berhati-hati meski hanya sekadar untuk “memarkir” sahamnya di Indonesia, padahal Indonesia sendiri telah begitu vulgar membuka diri terhadap para investor. Melalui berbagai regulasi, kita bisa melihat bagaimana Indonesia begitu bernafsu terhadap para investor.

Utang yang menumpuk telah memandulkan peran negara, dialihkan kepada para investor. Negara sama sekali tak menjalankan fungsinya sebagai pengurus ekonomi rakyat. Negara hanya bertindak sebagai calo bagi para investor.

Utang dan investasi ibarat berlian yang dikejar pemerintah. Menteri Luhut bahkan mengejar investor hingga ke negeri Cina. Meski tak sedikit juga utang yang berkedok investasi.

Utang memang tumbuh subur di negeri ini. Negara seolah tak punya solusi selain mencari utang. Bahkan untuk menyelesaikan masalah pandemi yang terjadi saat ini, berutang masih juga dianggap sebagai resep maknyus andalan bangsa.

Pandemic bond dipandang mampu mengurai berbagai pandemic shadow yang muncul akibat pandemi virus corona. Tak tanggung-tanggung, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, menerbitkan surat utang bertenor 50 tahun.

Baca juga:  Ekonomi RI -5,32%, Lebih Parah dari Prediksi Sri Mulyani dan Airlangga

Secara garis besar, Sri mengatakan, Pandemic Bond merupakan sumber pembiayaan yang akan digunakan sebagai cadangan bagi negara untuk menghadapi efek domino dari Covid 19 (Republika). Kelak, virus berlalu meninggalkan utang. Bukannya sehat, negeri ini harus siap tekor.

Kemandirian bangsa akan semakin pupus. Tak hanya itu, negeri ini akan semakin mudah didikte asing, aseng dan asong. Rasanya tak perlu menunggu 30 tahun untuk Indonesia sold out  seperti yang dikatakan Prabowo. Bisa jadi lebih cepat, kurang dari 30 tahun. Apalagi UU Omnibus Law sudah disahkan. Apa masih kurang fakta yang menunjukkan bahwa Indonesia terjajah neoimperialisme?

Islam Mewujudkan Negara Mandiri

Islam memiliki pandangan yang khas bagaimana menjalankan sistem pemerintahan tanpa intervensi  dan melakukan pelayanan kepada rakyat tanpa menengadahkan tangan, mengemis ke negara lain.

Khilafah Islamiyah wajib menjadi negara mandiri dan terdepan. Mandiri dalam artian tidak memiliki ketergantungan pada negara lain, terdepan dalam arti menjadi pemimpin bagi negara lainnya. Rasulullah saw. bersabda: “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.” (HR. Ad-Daruquthni)

Negara mandiri tak akan mudah didikte negara lain. Terlebih sekularisme Kapitalisme menguasai dunia seperti saat ini, dimana negara debitur dalam sandera negara kreditur. Kebijakannya diintervensi, sumber daya strategisnya digadaikan, wibawanya merosot di mata dunia.

Dalam sistem kapitalisme saat ini, utang bermutasi menjadi alat politik negara untuk menguasai negara lainnya. Maka Khilafah akan menutup celah bagi negara kreditur untuk menekan Khilafah dengan utang yang diberikannya. Allah SWT berfirman, “..dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa: 141).

Baca juga:  Defisit BPJS Kesehatan: Komplikasi Kezaliman Rezim Demokrasi dan Cacat Bawaan Model Pembiayaan Kesehatan Sekularisme

Untuk itu, Khilafah berupaya untuk membiayai seluruh kebutuhan warganya secara mandiri. Seluruh pembelanjaan pemerintah dalam rangka memenuhi kebutuhan rakyat diambil dari baitulmal.

Baitulmal sendiri memiliki sejumlah pos-pos pemasukan tetap yakni  fai’ (anfal, ghanimah, khumus), jizyah, kharaj, ‘usyur, harta milik umum yang dilindungi negara, harta haram pejabat dan pegawai negara, khumus rikaz dan tambang, harta orang yang tidak mempunyai ahli waris, dan harta orang murtad.

Jika pemasukan baitulmal Khilafah tidak stabil atau mengalami kekosongan kas, sejumlah skema dapat diterapkan agar kondisi ekonomi dapat pulih yakni dengan menetapkan kewajiban pembiayaan kepada kaum yang dipilih dari kalangan yang memiliki kelebihan harta (aghniyah)

Khilafah bisa saja berutang jika seluruh instrumen pemulihan ekonomi telah dijalankan. Tapi Khilafah tidak akan tunduk dengan aturan utang berbunga (ribawi) dan tidak akan menjadi negara yang mudah didikte. Khilafah hanya akan membayar utang pokoknya saja.

Allah SWT berfirman, “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS Al-Baqarah: 279)

Penutup

Indonesia sendiri sesungguhnya dikaruniai berbagai sumber daya alam potensial di mana sebagian besarnya masuk dalam peringkat sepuluh besar di dunia. Jika sumber daya alam ini dikelola dengan baik, niscaya bisa menjadi faktor penggerak perekonomian yang potensial.

Negeri ini punya modal untuk menjadi Negara yang bebas dari segala utang. Sayangnya, sistem kapitalisme yang diadopsi berikut karakter pemimpin yang minus sosok negarawan, telah membawa negeri ini tersandera utang, dengan capaian ekonomi yang terus merosot. Wallaahu a’lam. [MNews]

6 thoughts on “Tersandera Utang, Ekonomi Nyungsep

  • 18 Oktober 2020 pada 17:58
    Permalink

    Pemimpin kapitalis mewariskan derita hutang berkepanjangan. Mudah mengambil hutang krn rakyatlah yg akan membayarnya melalui harga2 komoditas yg melambung dan pajak beraneka rupa. Sungguh, tak layak disebut pemimpin!

    Balas
  • 17 Oktober 2020 pada 19:57
    Permalink

    Kapitalisme hanya memikirkan kapital, kapital dn kapital. Gak peduli kebijakannya bikin rakyat sengsara atau tdk, yg penting dirinya makmur. Watak asli kapitalisme. Tinggalkan kapitalisme dan tegakkan khilafah islam.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *