Kezaliman dan Kesesatan di Dunia Sebelum Islam Datang

MuslimahNews.com, TARIKH – Siapa saja yang mencermati keadaan dunia sebelum diutusnya Muhammad Saw. akan menemukan dunia diwarnai berbagai kerusakan, kezaliman, dan kesesatan. Berikut penjelasannya:

Kezaliman Politik

Kekuasaan terhadap manusia dimonopoli oleh komunitas tertentu di antara mereka. Komunitas yang memonopoli kekuasaan ini senang memaksakan kehendaknya kepada rakyat. Tanpa memberikan hak kepada siapa pun untuk mengemukakan pendapat dalam menyusun program dan cara kerja penguasa.

Terjadi perampasan terhadap sentral kekuasaan politik negara. Keadaan seperti ini terjadi di negara Romawi dan Persia, di negeri bawahan mereka, dan negeri lainnya.

Kezaliman Sosial

Hanya kelas sosial tertentu yang dapat menjadi pemimpin di suatu masyarakat. Di Romawi, masyarakat dibagi menjadi dua kelas sosial, yaitu tuan dan hamba, bangsawan dan rakyat jelata. Sehingga di Romawi ada dua jenis undang-undang.

Undang-undang untuk kalangan bangsawan disebut undang-undang Romawi. Sedang undang-undang untuk daerah kolonial dan rakyat disebut undang-undang proletariat. Di antara kedua undang-undang tersebut terdapat perbedaan yang sangat besar.

Padahal waktu itu negara Romawi merupakan negara yang paling besar perhatiannya terhadap masalah perundang-undangan. Apalagi jika dibandingkan dengan negara Persia yang undang-undangnya digali dari paganisme.

Apalagi jika dibandingkan dengan bangsa Arab. Mereka tidak memiliki undang-undang dan peraturan. Mereka hanya memiliki seperangkat adat istiadat yang berbeda-beda antara satu suku dengan yang lainnya.

Selain itu, masyarakat yang ada sebelum datangnya misi kenabian Muhammad Saw. telah kehilangan ikatan antarindividunya. Yang ada hanyalah ikatan kesukuan yang tegak di atas asas ashabiyah (fanatisme) jahiliah.

Kezaliman Ekonomi

Masyarakat dan negara belum berpikir untuk membuat peraturan pendistribusian kekayaan yang adil untuk semua manusia. Sehingga lahir kelas sosial yang memiliki kekayaan melimpah ruah. Di sisi lain, ada kelas sosial yang tidak memiliki kekayaan sama sekali.

Baca juga:  Pertempuran Ayn Jalut: Saat Mamluk Menghentikan Laju Imperium Mongol

Sehingga secara alami kekuasaan akan dipegang oleh kelas sosial yang memiliki kekayaan. Oleh karena itu, mereka dengan leluasa membuat berbagai cara yang dapat memuaskan sifat rakusnya. Tetapi mereka tidak pernah merasakan puas, kecuali bertambah rakus.

Dengan demikian, mereka lebih bersemangat lagi dalam bertransaksi bisnis dengan cara riba. Bahkan memberikan pinjaman dengan cara riba yang berlipat ganda telah menjadi adat istiadat. Sehingga tidak ada seorang pun yang mengingkarinya.

Kesesatan Akidah

Orang-orang Romawi yang beragama Nasrani berkeyakinan bahwa Allah salah satu di antara yang tiga. Isa anak Allah dan dalam diri Isa ada dua sifat: Lahut (sifat ketuhanan) dan Nasut (sifat kemanusiaan). Sedangkan orang -orang Persia berkeyakinan bahwa Tuhan itu ada dua: Ahuramazda (tuhan kebaikan) dan Ahriman (tuhan kegelapan).

Orang-orang bangsa Arab berkeyakinan bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT,

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ ۚ قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah”. Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS Lukman [31]: 25)

Di samping Allah, orang-orang Arab percaya dan menyembah banyak tuhan (politeisme). Apabila kalian bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian harapkan dari patung-patung ini?” Mereka akan menjawab, “Dia mendekatkan kami kepada Allah yang ada di langit.”

Kesesatan akidah ini pasti berdampak pada terjadinya penyimpangan dalam beribadah. Bahkan sering peribadatan mereka itu terlihat lucu. Misalnya salat orang Arab yang paganisme berupa siulan dan tepukan tangan, keduanya tidak memiliki arti dan tujuan.

Baca juga:  Bahkan Khalifah pun Minta Dikritik

Haji mereka dipisahkan antara penduduk Makkah asli dengan pendatang yang tidak memiliki tempat tinggal. Orang Makkah ketika tawaf di Kakbah tetap memakai pakaiannya, sedangkan orang pendatang ketika tawaf di Kakbah dalam keadaan telanjang. Ketika musim haji, orang Makkah kalau memasuki rumah lewat pintu depan, sedangkan orang pendatang lewat pintu belakang.

Kesesatan Pemikiran

Akal dibelenggu dan ditutupi cadar hitam, sehingga tidak dapat melihat jelas dan membedakan warna dengan tepat. Pikiran menjadi lemah dan tidak mengerti bahwa batu tidak bisa mendekatkan seseorang kepada Allah.

Zat yang bisa mendekatkan kepada Allah adalah ikhlas dan amal saleh. Bahkan pemikiran sampai pada tingkat pemahaman substansi yang terbalik. Sehingga meyakini bahwa kezaliman merupakan sarana terbaik untuk menjaga kebenaran.

Syair yang mereka yakini adalah:

Gunakan kamu punya senjata

Jika kamu tidak ingin binasa

Berbuatlah zalim kepada manusia

Sebelum manusia menzalimi kita

Kesesatan dalam Jiwa

Masyarakat yang ada saat itu tidak dibangun di atas asas persaudaraan. Inilah yang menyebabkan hilangnya kejernihan jiwa mereka. Bahkan masyarakat tersebut dibangun di atas dua asas berikut ini:

Pemaksaan. Yakni yang kuat memaksa yang lemah. Inilah yang membakar jiwa dengan kebencian. Akhirnya jiwa manusia menjadi gelap.

Manfaat dan kepentingan sepihak. Asas inilah yang menumbuhkan sifat egoistis dalam jiwa dan meremehkan orang lain. Hal tersebut tampak jelas sekali dalam dua masyarakat yaitu Romawi dan Persia.

Baca juga:  Khilafah Membangun Infrastruktur

Sehingga orang Romawi yang berpiutang senang menerima pelunasan utangnya melalui tubuh orang yang berutang. Hal semacam itu tidak akan terjadi pada kebanyakan masyarakat yang hidup dengan tipe tertentu, seperti masyarakat etnis di Jazirah Arab.

Mereka diharuskan bersikap baik terhadap yang lain dalam beberapa hal. Sehingga pada masyarakat ini ditemukan adanya sikap tolong menolong, dermawan, dan sebagainya. Sifat dan sikap egoistis tidak akan ditemukan dalam masyarakat yang bertipe seperti itu, kecuali dalam beberapa hal saja.

Meski demikian, pengecualian ini tetap memberi peluang tumbuhnya sikap egoistis sampai pada batas yang membangkitkan rasa kasihan. Ketika yang berutang belum mampu melunasinya, maka orang yang berpiutang memberinya waktu lagi namun harus dibayar dengan berlipat ganda.

Sungguh, ulasan ringkas tentang kondisi dunia ini membuat hati manusia berteriak memohon pertolongan. Ketika Sang Penolong melepaskan cahaya, maka kegelapan pun terbelah. Namun pemimpin zalim senantiasa memelihara kegelapan.

Untuk itu Sang Penolong harus memliki pedang (kekuatan) yang dapat menghancurkan dan menumbangkan kesombongan para pemimpin tiran dan zalim. Sehingga kezalimannya hilang dari rakyat. Agar cahaya yang dilepaskan tidak mengalami benturan dengan penghalang-penghalang kokoh yang akan menghalangi tersebarnya cahaya.

Muhammad Rasulullah Saw. pendiri negara Islam membuat pedang dan membawanya. Beliau berusaha menumbangkan para penguasa penyebar kezaliman dan kegelapan. Menghilangkan mimpi buruk yang menyelimuti masyarakat.

Beliau menyingkirkan penghalang tersebarnya cahaya Islam yang diembannya. Beliau melakukan semua itu demi menyelamatkan manusia dari berbagai bentuk kezaliman dan kegelapan. [MNews/Rgl]

Sumber: Sirah Nabawiyah, M. Rawwas Qol’ahji.

5 thoughts on “Kezaliman dan Kesesatan di Dunia Sebelum Islam Datang

  • 17 Oktober 2020 pada 20:26
    Permalink

    Islam datang bagaikan cahaya

    Balas
  • 16 Oktober 2020 pada 20:44
    Permalink

    Luar biasa kezaliman dan kesesatan ditengah tengah masyarakat. Umat butuh syariah.

    Balas
  • 16 Oktober 2020 pada 04:33
    Permalink

    Islam datangnya membebaskan manusia dari kegkegelapan menuju jalan cahaya

    Balas
  • 15 Oktober 2020 pada 20:33
    Permalink

    Islam rahmatan lilalamiin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *