Kebutuhan Pemuda Berjuang Tegakkan Khilafah

Oleh: Apri Hardiyanti, S.H. (Ketua Kornas Kohati Periode 2018-2020)

MuslimahNews.com, FOKUS – Jas Merah, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” demikian kata Bung Karno dalam melihat pergerakan mahasiswa di Indonesia. Tahun 1966 menjadi penanda awal mahasiswa menjadi oposisi di era pemerintahan Soekarno.

Lahirnya sejumlah organisasi kemahasiswaan menjadi motor penekan terhadap pemerintahan Soekarno. Sebagai organisasi katalis yang memperjuangkan perubahan, mahasiswa adalah representasi gerakan pemuda yang menjadi pengontrol kekuasaan saat itu.

Peristiwa Tritura yang berisi pembubaran PKI, Perombakan kabinet Dwikora, dan penurunan harga pangan, lahir dari generasi awal gerakan mahasiswa yang memilih model gerakan di jalanan sebagai kekuatan penekan.

Gerakan mahasiswa memiliki agenda utama kritik kebijakan hingga tumbangkan rezim sebagai puncak perjuangannya untuk membela kepentingan rakyat. Krisis ekonomi yang terjadi pada masa Orde Baru dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok, isu korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) kemudian memicu lahirnya gerakan reformasi.

Timeline Pergerakan Mahasiswa

Tahun 1998 merupakan akumulasi kekecewaan dan penderitaan yang dirasakan masyarakat Indonesia selama kurang lebih 32 tahun. Mahasiswa memiliki peran besar menggulingkan pemerintahan tirani. (Jakarta.go.id, 01/01/2017)

Pascareformasi, gerakan mahasiswa lebih banyak mati suri, kesibukan kuliah, kapitalisasi pendidikan, dan berbagai upaya depolitisasi dengan arus pemberdayaan ekonomi pemuda (ekonomi kreatif) cukup mengalihkan peran utama mahasiswa sebagai pengontrol kebijakan zalim penguasa.

Bahkan ketika pilpres yang disinyalir banyak kecurangan hingga hilangnya nyawa petugas KPPS, mahasiswa tetap bergeming. Kala itu, “BEM” tidak lagi identik pergerakan mahasiswa, tetapi berganti jadi “Barisan Emak Militan”.

Pada 2019, kezaliman semakin nyata dipampangkan rezim oligarki (penguasa sekaligus pengusaha) yang hendak melemahkan KPK demi melindungi para koruptor. Menjadi titik tolak bangkitnya kembali pergerakan mahasiswa. Aksi turun ke jalan dalam skala sangat luas dan masif, tidak hanya di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Yogya, tapi meluas sampai kota-kota kecil. (Kompas, 24/09/2019).

Dan 2020 ini, mahasiswa kembali membara akibat pengkhianatan rezim oligarki berupa pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja (Ciptaker).

Di tengah kegagalan pemerintah RI menangani pandemi Covid-19, ada defisit APBN, pelemahan fiskal, kebakaran hutan, skandal Jiwasraya, defisit BPJS, harga-harga kebutuhan pokok terus melambung, ataupun daya beli masyarakat terus menurun.

Baca juga:  Demonstrasi Mahasiswa, Harus Berujung pada Perubahan Besar dan Mendasar

Pergerakan turun jalan mahasiswa bersama elemen buruh menuntut cabut UU Ciptaker, alih-alih diperhatikan pemerintah, yang terjadi justru dihadapi oleh tindak represif aparat kepolisian.

Banyak sekali kerugian, rusaknya fasilitas, korban terluka, berjatuhan hingga orang hilang. Aksi yang banyak menimbulkan korban dari kalangan mahasiswa, lagi-lagi berkutat pada tuntutan cabut kebijakan dan puncaknya turunkan rezim.

Muara Gerakan Pemuda

Sejak awal orde lama, orde baru, dan era reformasi, sejatinya muara pergerakan mahasiswa masih pragmatis. Berbagai perjuangan hingga pengorbanan mahasiswa untuk rakyat belum menghantarkan pada kesejahteraan.

Kenyataan kezaliman rezim penguasa dari masa ke masa, semakin blak-blakan berpihak pada kapitalis. Liberalisasi SDAE semakin kaffah dengan legalisasi kebijakan UU prokapitalis lokal, asing, maupun aseng. UU Ciptaker menjadi karpet merah kepentingan asing meskipun harus menggadaikan kedaulatan bangsa.

Berdasarkan fakta di atas, muara pergerakan pemuda saat ini perlu dan mendesak untuk direevaluasi, mengapa sampai saat ini visi gerakan mereka tidak juga menampakkan hasil, bahkan terlihat kehilangan arah dan disorientasi.

Akibat kapitalisme dan Demokrasi

Pergerakan mahasiswa masih belum menyentuh pada permasalahan mendasar dan sistemis yang terjadi di negeri ini. Mahasiswa aksi tolak UU Ciptaker hingga menuntut rezim turun, tanpa mengkaji apa yang menyebabkan adanya UU tersebut dan kenapa rezim penguasa tersandera kepentingan kapitalis.

Akar permasalahan bangsa ini adalah diterapkannya sistem kapitalisme dan demokrasi. Sistem ini telah melahirkan oligarki kekuasaan. Dampak yang terjadi ialah adanya tirani minoritas (pemilik modal) kepada mayoritas (rakyat).

Jauh sebelum Omnibus Law digagas, sudah banyak UU yang dibuat Pemerintah dan DPR yang merugikan rakyat serta hanya menguntungkan segelintir penguasa dan pemilik modal. Semisal UU Migas, UU Minerba, UU SDA, UU Penanaman Modal, dll.

Melalui UU semacam inilah, para pemilik modal swasta dan asing leluasa menguasai kekayaan alam negeri yang notabene milik rakyat, seperti minyak bumi, gas, emas, perak, hutan, lahan perkebunan, dll.

Baca juga:  Mendamba Mahasiswa Istimewa di Sistem Penuh Tipu Daya, Apa Bisa?

Persoalan Fundamental Pergerakan Pemuda

Sejatinya pergerakan pemuda harus diarahkan pada tujuan yang tidak pragmatis, melainkan perubahan fundamental dan sistemis. Oleh sebab itu, beberapa poin kritis perlu jadi bahan pertimbangan bagi gerakan pemuda saat ini untuk menyongsong kegemilangan dan kesuksesan perjuangan pemuda.

Pertama, kegagalan gerakan yang dilakukan pemuda selama ini karena tidak paham sejarah terbentuknya negara Indonesia dan sistem pemerintahan demokrasi.

Pragmatisnya gerakan mahasiswa akibat tidak “out of the box” dari nation state dan demokrasi, yang seolah menjadi harga mati. Padahal, jika memahami sejarah dengan benar, bagaimana Indonesia akhirnya menerapkan demokrasi tidak lain karena “skenario” negara adidaya Amerika serikat.

Dikutip dari buku Nationalism and Revolution in Indonesia (1952) karya George McTurnan Kahin, menyebutkan Amerika Serikat hadir di Konferensi Meja Bundar (KMB) Den Haag untuk mengawal proses perundingan Indonesia-Belanda.

AS sengaja mengawal proses kemerdekaan untuk memastikan sistem pemerintahan yang diadopsi Indonesia adalah demokrasi. Dengan sistem demokrasi inilah para kapitalis bisa leluasa “menguasai” negara. Sejak itu pintu negeri ini terbuka bagi neokolonialisme merampok SDAE secara legal.

Dari pemahaman sejarah ini, maka pergerakan mahasiswa bisa memahami kerusakan sistem kapitalisme dan demokrasi. Karena itu, tuntutan mereka harusnya berparadigma ganti sistem, tidak cukup sebatas tuntutan hapus kebijakan atau pembuat kebijakannya saja.

Kedua, lack of knowledge (Kurang ilmu dan pemahaman) Ideologi Islam dan sistem pemerintahan Khilafah.

Pergerakan mahasiswa sulit menyadari bahwa persoalan bangsa yang sistemis adalah kegagalan kapitalisme. Ini karena mereka tidak memiliki pemahaman Islam (Khilafah) sebagai sistem pembandingnya.

Lack of knowledge konsep sempurna Islam dalam mengatur kehidupan dan metode penerapannya, menjadikan pergerakan mahasiswa kehilangan identitas.

Profil idealis tergerus visi duniawi, bersifat temporal nirmanfaat, dan peta gerakan mahasiswa lebih banyak terpapar stigma menyesatkan. Mirisnya, mereka pasrah dengan “labeling” tersebut.

Ketiga, tidak memahami metode perubahan sahih yang dicontohkan Rasulullah saw.

Selama ini, metode perubahan pergerakan mahasiswa tidak jelas dan membingungkan. Berbagai cara yang dilakukan pergerakan mahasiswa mulai dari mengkritik, masuk parlemen (jihad konstitusi), hingga aksi turun jalan (damai maupun anarkis), belum juga membuahkan hasil.

Baca juga:  Omnibus Disahkan Buru-Buru, Siapa yang Diburu?

Selagi gerakan pemuda masih menitipkan kepercayaan pada “hantu demokrasi” atau demokrasi halusinasi sebagai jalan perubahan, maka gerakan mereka tidak akan memberi hasil apa pun dan menghantarkan pada kesia-siaan belaka.

Kebutuhan Pemuda Memperjuangkan Penegakan Khilafah

Secara faktual, sistem kapitalisme dan demokrasi terbukti gagal menyejahterakan. Saatnya mahasiswa dan para pemuda negeri ini mengkaji sistem alternatif yang mampu menjadi solusi problematik bangsa. Ketika kapitalisme telah gagal dan sosialisme-komunis meninggalkan luka menyayat, maka satu-satunya pilihan adalah Islam dengan sistem pemerintahannya–Khilafah.

Terbukti, Khilafah Islamiyah menorehkan jejak sejarah yang gemilang selama 1.300 tahun. Khilafah mampu menguasai dan mengatur kepemimpinan global yang menyejahterakan, mendamaikan, dan menyejukkan.

Bahkan jika sistem ini kembali diterapkan, maka Allah SWT Maha Pencipta alam semesta sendiri yang menjanjikan keberkahannya.

Allah SWT berfirman, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan-Ku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.(QS An Nur: 55)

Oleh karenanya, jika menyadari agenda besar mahasiswa sebagai agen perubahan atau pembaharu, seyogianya gerakan mahasiswa segera melakukan refleksi dan reorientasi visi gerakan ideologis yang lebih terukur.

Para aktivis pergerakan mahasiswa harus memahami kunci kebangkitan umat yaitu ideologi Islam dan sistem pemerintahan Khilafah sebagai metode penerapnya.

Berikutnya, aktivis mahasiswa harus menyatukan visi gerakannya dalam sebuah bingkai perjuangan menegakkan penerapan syariat Islam secara kaffah dalam institusi kenegaraan yang paling diridai Allah, yakni Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. [MNews/Gz]

5 thoughts on “Kebutuhan Pemuda Berjuang Tegakkan Khilafah

  • 17 Oktober 2020 pada 20:17
    Permalink

    Pemuda harus ideologis

    Balas
  • 15 Oktober 2020 pada 20:20
    Permalink

    Semoga umat Islam sadar akn wajibnya islam kaffah

    Balas
  • 15 Oktober 2020 pada 20:06
    Permalink

    semoga mahasiswa mnjdi gardang tetdepan dlm perjuamgan utk menegakan khilafah

    Balas
  • 15 Oktober 2020 pada 18:34
    Permalink

    Saatnya para pemuda bangkit untuk perjuangan yang sesungguhnya..yi menjadi sebaik-baik pemuda wujudkan perubahan mendasar untuk masa depan agama..

    Balas
  • 15 Oktober 2020 pada 07:31
    Permalink

    Allahu Akbar. Yang muda yang berjuang. Memang sudah seharusnya mahasiswa sadar akan solusi paling manjur satu-satunya di dunia yaitu khilafah.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *