Khilafah, Junnah Pengemban Dakwah

Oleh: Wiwing Noeraini

MuslimahNews.com, FOKUS – Serangan terhadap Islam dan persekusi terhadap para pengemban dakwahnya terus saja terjadi, bahkan semakin meningkat. Kelompok propagandis liberal selalu mengeluarkan narasi sinis terhadap Islam dengan mengaitkan Islam dengan radikalisme. Padahal, hingga saat ini mereka gagal mendefinisikan apa itu radikalisme.

Serangan deradikalisasi terhadap ajaran Khilafah dan para pengembannya juga semakin keras. Untuk itu rezim melibatkan semua elemen bangsa. Pemerintahan pusat hingga aparatur Desa dan Kelurahan, para tokoh agama, kaum intelektual, tokoh masyarakat, juga ormas Islam, semua dilibatkan.

Di sisi lain, terjadi perusakan masjid dan penyerangan terhadap ulama, tampak pemerintah seolah tidak peduli. Respons yang diberikan hanya sekadar kecaman dan seruan untuk menindak pelaku. Jika kasus ini dibiarkan terus terjadi, maka bisa menjadi teror dan melahirkan suasana tidak aman di tengah masyarakat.

Para dai dituduh radikal dan membahayakan. Dakwah dibatasi dengan program sertifikasi dai. Sekalipun akhirnya program ini berubah nama menjadi “Penguatan Kompetensi Penceramah Agama”, tapi intinya sama. Siapa pun yang dakwahnya dianggap tidak sesuai rezim, jangan harap akan mendapat legalitas dari penguasa.

Demikian juga para aktivis dakwah media. Mereka ditangkap, dituduh melakukan ujaran kebencian dan menyebarkan hoaks. Dilepas sebentar, lalu ditangkap lagi. Anehnya, tindakan serupa tak berlaku pada berbagai akun medsos yang terang-terangan menghina dan menyerang tokoh dan ormas Islam, bahkan menghina dan menista ajaran Islam.

Ujian Para Pengemban Dakwah

Persekusi yang menimpa pengemban dakwah hari ini, juga dialami Rasulullah Saw. dan para Sahabat. Mereka diuji Allah SWT melalui penentangan juga fitnah keji. Allah SWT menyebut mereka sebagai syayâthîn. Allah SWT berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ…

“Demikianlah Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin…” (QS al-An’am [6]: 112).

Imam Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya mengatakan, ujian yang disebutkan Allah SWT dalam ayat ini tidak hanya menimpa Rasulullah Saw., tetapi juga berlaku umum bagi orang-orang yang mengikuti beliau dalam dakwah.

Baca juga:  Nyasar Nyisir Jejak Sejarah, Urgennya Mitigasi Serangan terhadap Ide Khilafah

Rasulullah Saw. yang mulia pernah disebut sebagai orang gila (QS al-Hijr [15]: 6), tukang sihir (QS Shad [38]: 4), penyair gila (QS Shaffat [37]: 37), pemecah-belah persatuan kaumnya, dsb..

Rasulullah Saw. dan para Sahabat juga diembargo kegiatan sosial dan ekonominya, dikucilkan di lembah tandus selama tiga tahun. Sebagian Sahabat -terutama yang lemah- ditangkap, disiksa, bahkan ada yang dibunuh.

Rasulullah Saw. pun tak lepas dari penyerangan secara fisik. Ditaburi duri-duri di depan rumah, ditaburi isi perut unta di atas kepala, bahkan pernah dicekik dan hampir dibunuh.

Sekalipun begitu berat ujian yang harus dihadapi para pengemban dakwah, tapi satu hal yang pasti, para penentang dakwah akan menuai azab Allah SWT sebagaimana firman-Nya,

“…..Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan, mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat. Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini dan sekali-kali tidak ada bagi mereka penolong selain Allah. Siksaan itu dilipatgandakan kepada mereka yang selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihatnya.” (QS Huud [11]: 18–20).

Demikianlah, dalam sistem kufur, para pengemban dakwah mendapatkan penentangan yang luar biasa. Bagaimana dalam sistem Islam yaitu dalam negara Khilafah?

Khilafah, Junnah Pengemban Dakwah

Dakwah adalah sebuah kewajiban dan amalan yang sangat mulia sebagaimana dinyatakan dalam banyak ayat Alquran (Di antaranya lihat QS Fussilat [41] :33; QS Ali Imran [3] : 104, 110; QS Al Ashr [103] : 3).

Negara Khilafah akan menjamin tertunaikannya kewajiban dakwah ini dan akan melindungi para pengembannya dari berbagai ancaman dan tekanan. Ini karena Khilafah adalah junnah (perisai) pengemban dakwah.

Rasulullah Saw. bersabda,

Baca juga:  (Islam) Khilafah Vs. Islam Wasathiyah, Sebuah Pertarungan Antara Al-Haq dan Al-Bathil

إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ،

Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Frase “Imam” dalam hadis ini bermakna al-Khalifah. Al-Imam al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyyah berkata, “Al-Imamah adalah pembahasan tentang Khilafah Nubuwwah untuk menjaga agama dan mengatur dunia dengannya.”

Makna ungkapan kalimat “al-imamu junnah” adalah perumpamaan sebagai bentuk pujian terhadap imam yang memiliki tugas mulia untuk melindungi orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya sebagaimana dijelaskan al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim,

“(Imam itu perisai) yakni seperti as-sitr (pelindung), karena imam (khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari mencelakai kaum muslimin, dan mencegah antar manusia satu dengan yang lain untuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, dan manusia berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.”

Negara akan melindungi pengemban dakwah dengan mengeluarkan larangan penyiaran berita bohong, propaganda negatif, fitnah, penghinaan, dan semua bentuk persekusi terhadap ajaran Islam dan para pengemban dakwahnya.

Negara Khilafah juga akan menertibkan, baik individu maupun kelompok di masyarakat yang melakukan fitnah atau serangan fisik untuk membubarkan pengajian, menakut-nakuti ulama, atau menghalangi masyarakat yang ingin mendengarkan nasihat atau ceramah keislaman dari para ulama.

Negara Khilafah akan menugaskan polisi (syurthah) untuk menjaga keamanan seluruh warga dari berbagai persekusi baik di media sosial maupun secara langsung. Polisi bisa menghukum orang-orang yang dicurigai (ahl ar-raib) bekerja sama dengan kafir harbi fi’lan (musuh umat Islam). Orang-orang yang seperti ini bisa muslim maupun ahli dzimmah, bisa individu maupun organisasi. Kalau sekarang, mereka itu seperti aktivis liberal, LSM komprador, dan antek-antek AS, Inggris maupun sekutunya yang lain yang memusuhi Islam. Dalam kasus ini negara Khilafah juga bisa memata-matai mereka.

Para pejabat negara Khilafah juga akan menjadi pengayom bagi semua aktivitas dakwah, sehingga tak mungkin melakukan tindakan maupun mengeluarkan pendapat yang kontraproduktif dengan dakwah Islam. Jika pejabat negara ini melakukan tindakan persekusi terhadap para pengemban dakwah, maka ini termasuk kezaliman.

Baca juga:  Dalam Kecaman dan Kutukan, Netanyahu Senang Dikunjungi Yahya Staquf

Di negara Khilafah, kezaliman ini akan diselesaikan lembaga peradilan yang disebut Mahkamah Mazhalim, sebuah peradilan yang dipimpin Qâdhî Mazhâlim untuk menghilangkan kezaliman negara terhadap orang yang berada di bawah wilayah kekuasaannya. (Kitab Ajhizat Daulah al-Khilafah)

Khilafah Memfasilitasi Dakwah

Negara Khilafah tak hanya menghentikan persekusi dakwah, bahkan akan memfasilitasi dakwah seperti membuka luas semua masjid untuk kajian keislaman, juga memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para dai untuk meyampaikan dakwah Islam kaffah di semua media massa yang ada.

Negara akan mengarahkan dan mengontrol agar semua kontennya adalah ajaran Islam yang menyeluruh, mencakup semua aspek kehidupan, yang bersumber dari Alquran dan hadis.

Negara juga akan membiayai dakwah dan memastikan dakwah sampai ke seluruh pelosok wilayah kekuasaan Khilafah, sehingga tidak ada satu pun tempat di wilayah kekuasaan negara Khilafah yang penduduknya tak paham Islam.

Bahkan negara Khilafah akan mengirim para ulama, para dai, ke seluruh penjuru dunia untuk menyebarkan Islam ke seluruh umat manusia. Itu karena mengemban dakwah Islam adalah aktivitas utama Daulah Khilafah Islamiyah, selain penerapan hukum-hukum Islam di dalam negeri.

Demikianlah, hanya Khilafah yang mampu melindungi dakwah dan para pengembannya, juga menyelesaikan berbagai problem yang dihadapi umat manusia hari ini. Hanya Khilafah, satu-satunya institusi yang mampu menerapkan secara keseluruhan syariat Allah SWT, Sang Khalik, Sang Pencipta manusia, juga bumi dan seluruh isinya.

Kembali tegaknya Khilafah adalah pasti. Sekalipun semua musuh Islam bersatu untuk menghalangi tegaknya, Khilafah tetap akan berdiri. Kita bergabung dalam perjuangan penegakannya ataukah tidak, ia juga tetap akan berdiri.

Sekarang tinggal kita mau memilih, menjadi pejuang, penonton, atau penentang yang berakhir dengan kehinaan? WaLlahu a’lam bishshawab. [MNews/Gz]

5 thoughts on “Khilafah, Junnah Pengemban Dakwah

  • 13 Oktober 2020 pada 12:34
    Permalink

    Maa syaa Allah.. semoga apa yg kita perjuangkan segera bisa terwujud dg pertolongan Allah aamiin
    Inna nashrallahi qariib

    Balas
  • 13 Oktober 2020 pada 12:03
    Permalink

    Saat ini tiada junnah….maka mewujudkannya sangat urgen….

    Balas
  • 13 Oktober 2020 pada 05:23
    Permalink

    Betul sekali ,di dlm sistem sekuler kpitalism ini dakwah seperti kmbli ke zaman jahiliyah dl ,ktk mendakwahkan kbran islam malah mnjd tertuduh dan membahayakan pdhl sbtlnya musuh musuh Allah lah yg membahayakan dunia

    Balas
    • 13 Oktober 2020 pada 12:01
      Permalink

      Saat ini tiada junnah….maka mewujudkannya sangat urgen….

      Balas
  • 13 Oktober 2020 pada 02:51
    Permalink

    MasyaAllah, sistem yang dinanti oleh ummat untuk segera tegak

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *