Urgensi Dakwah Khilafah Di Era Fitnah

Oleh: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

MuslimahNews.com, FOKUS – Persekusi dan kriminalisasi terhadap dakwah Khilafah tampak makin masif saja di era sekarang ini. Tak hanya menimpa para pengembannya, tapi juga terhadap gagasannya.

Bagi para penjaga sistem kapitalisme, munculnya dakwah Khilafah memang jadi ancaman besar. Pascaruntuhnya sistem sosialisme di tahun 90-an, hanya ideologi Islam dengan ajaran Khilafahnya yang layak menjadi satu-satunya lawan potensial.

Betul bahwa hari ini Khilafah baru sebatas wacana atau gagasan, namun keberadaan dakwahnya telah memunculkan harapan di tengah kehidupan yang kian kerontang di bawah hegemoni kapitalisme global.

Melalui dakwah inilah, sedikit demi sedikit umat mulai paham, bahwa Khilafah adalah institusi penerap syariat Islam. Yang selain merepresentasi kekuatan politik umat secara global, juga menjanjikan kesejahteraan, sekaligus keberkahan.

Fitnah-Fitnah Tak Terhindarkan

Tak dipungkiri, sejak dunia dikuasai sistem kapitalisme global, berbagai keburukan terus melanda umat. Paham sekulerisme yang menjadi asasnya telah menjadikan akal manusia sebagai tuhan. Kebebasan dan kemanfaatan pun menjadi hal yang disakralkan. Nilai-nilai transedental dan kemanusiaan juga nyaris hilang.

Adapun agama, telah lama kehilangan perannya dalam pengaturan kehidupan. Bahkan tak jarang menjadi bahan olok-olokan atau hanya menjadi stempel bagi berbagai kemungkaran, termasuk kemungkaran terbesar berupa diterapkannya hukum kufur oleh negara dengan dalih kesepakatan.

Wajarlah jika kemudian berbagai fitnah dan bencana begitu merajalela menimpa umat dari masa ke masa. Jauhnya umat dari aturan Sang Pencipta, telah melahirkan krisis multidimensi yang tak pernah lekang dari seluruh sisi kehidupan mereka.

Aspek politik misalnya, begitu sarat dengan intrik para penguasa licik. Dengan segala cara mereka berlomba meraih kekuasaan dan mempertahankannya. Tentu bukan demi rakyat mereka, melainkan demi berkhidmat pada tuannya, termasuk para pemodal yang menyokongnya.

Secara internasional umat Islam telah kehilangan posisi tawarnya. Tak punya kemandirian dan apalagi wibawa. Terpecah belah skenario penjajah bernama konsep “negara bangsa”. Hingga mereka begitu sulit keluar dari posisi sebagai pengekor semata.

Aspek ekonomi pun tak lepas dari berbagai drama. Pilar-pilarnya yang rusak telah menjerumuskan dunia termasuk Indonesia pada jurang krisis dan resesi yang terus berulang. Di saat yang sama, gurita korporasi mengangkangi kekayaan dunia. Menyisakan potret kemiskinan dan gap sosial yang kian lebar menganga.

Baca juga:  Khilafah Belum Juga Tegak, Thalab An-Nushrah Metode Tidak Baik?

Sementara di aspek moralitas, tak usah ditanya. Generasi umat di era ini nyaris kehilangan identitas kemuslimannya. Tenggelam dalam budaya kufur yang merusak masa depan mereka. Membuat mereka merasa asing dengan hakikat agama yang dianutnya.

Ndilalahnya, sistem pemerintahan demokrasi yang diterapkan membuat semua berjalan dengan sangat mulus. Paham “sipilis” seolah menjadi agama baru buat sebagian generasi umat. Sementara sistem hukum yang diterapkan tak mampu membendung semua kerusakan yang ditimbulkan.

Mereka -para penguasa- ini pun, bahkan tampak rida berjalan bersisian dengan negara penjajah pengusung kapitalisme global. Targetnya semata demi beroleh uang recehan serta dukungan kekuasaan yang faktanya hanya sementara.

Tak heran pula jika kebijakan yang mereka keluarkan justru begitu pro kepentingan modal, termasuk pemodal asing. Mereka gelar karpet merah penjajahan dengan dalih demi menggenjot investasi dan pembangunan. Di lain pihak, kepentingan rakyat banyak justru dikorbankan.

Alhasil, di bawah kepemimpinan sistem kapitalisme global, banyak hal yang hilang dari umat Islam. Kemuliaan, kesejahteraan, harga diri dan kehormatan, persatuan dan persaudaraan, kekayaan, bahkan nyawa manusia, benar-benar tak ada artinya.

Benarlah apa yang Rasul Saw. sabdakan,

“Tidaklah perbuatan keji merajalela pada suatu kaum, yang dipraktikkan secara terang-terangan di tengah-tengah mereka, melainkan pasti akan merebak wabah dan penyakit membinasakan yang belum pernah ada pada generasi sebelumnya. Dan tidaklah suatu kaum menahan (tidak membayar) zakat, melainkan mereka akan dihalangi dari tetesan air dari langit, kalau saja bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan. Dan tidaklah suatu kaum (berbuat curang dalam jual beli dengan) mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka akan ditimpa kekeringan yang berkepanjangan dan dahsyatnya beban hidup, serta kejahatan penguasa. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka berhukum dengan hukum selain hukum Allah, melainkan Allah menjadikan musuh menguasai mereka dan merampas sebagian yang dikuasai oleh tangan-tangan mereka. Dan tidaklah mereka menolak (tidak mengamalkan) Kitabullah dan sunah Rasul-Nya, melainkan Allah akan menjadikan pertikaian atau permusuhan antara sesama mereka.” (Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib, no. 2187)

Baca juga:  Tetaplah Istiqamah, jangan Mudah Goyah

Dakwah Khilafah Tak Bisa Ditawar

Apa yang terjadi hari ini sesungguhnya menggambarkan apa yang pernah disampaikan Nabi Saw. di masa lalu. Keberadaan era yang penuh fitnah memang sudah menjadi sunnatullah.

Namun di saat masa itu tiba, tak ada yang beliau Saw. perintahkan selain agar umat bersegera menuju ketaatan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bersegeralah dalam melakukan amalan-amalan sebelum datangnya fitnah-fitnah yang seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang masih beriman namun di sore harinya dia menjadi kafir, atau pada sore hari dia beriman namun di pagi harinya dia menjadi kafir. Dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.” (HR Muslim)

Penggambaran kondisi fitnah seperti potongan malam menunjukkan betapa parahnya kondisi umat di masa itu. Karena bahayanya bisa masuk ke tataran iman, hanya gegara kesenangan dunia yang ditawarkan kekufuran.

Maka di sinilah urgensi dakwah mengajak umat pada penerapan syariat kaffah, yang tak mungkin mewujud kecuali dengan tegaknya institusi Khilafah. Dakwah seperti ini tentu harus berbasis pada penancapan akidah, karena penerapan syariat hakikatnya merupakan buah dari keimanan.

Selain menanamkan akidah yang kukuh, umat pun harus diberi gambaran rinci soal syariat dan maslahat yang ditawarkan Islam saat syariat itu diterapkan. Sehingga, ketaatan yang muncul bukanlah ketaatan semu yang lahir dari doktrinasi. Tapi lahir dari kesadaran penuh akan kebenaran ajaran Islam serta keyakinan penuh bahwa penerapan syariat dipastikan akan membawa rahmat dan kebaikan.

Dr. Hafidz Abdurrahman dalam bukunya Islam Politik dan Spiritual (Lisan al-Haq, Singapore 1998) misalnya, telah menjelaskan dengan gamblang soal kemaslahatan hakiki yang ditawarkan Islam:

Pertama, maslahat dharuriyat. Yakni kemaslahatan yang akan diperoleh manusia untuk mempertahankan kehidupannya, mencakup:

(a) Terpeliharanya akidah, yakni antara lain dengan adanya sanksi (had) atas orang yang murtad dan atas orang-orang yang menyebarkan pemikiran/ideologi rusak,

Baca juga:  Adab sebelum Ilmu

(b) Terpeliharanya negara, yakni dengan adanya sanksi atas orang yang melakukan bughat/pemberontakan,

(c) Terpeliharanya keamanan, yakni dengan adanya sanksi atas para perompak, perusuh dan lain-lain,

(d) Terpeliharanya kekayaan, yakni dengan adanya sanksi atas pencuri dengan nishab pencurian tertentu, hukum ta’zir bagi pelaku suap menyuap dan koruptor, dan lain-lain,

(e) Terpeliharanya keturunan, yakni dengan adanya sanksi bagi pezina, adanya hukum pernikahan, dan lain-lain,

(f) Terpeliharanya kemuliaan, yakni dengan adanya sanksi atas pelaku qadzaf (pemfitnah), hukum menjaga iffah/kesucian diri, dan lain-lain,

(g) Terpeliharanya akal, yakni dengan adanya sanksi bagi peminum khamr, dan lain-lain,

(h) Terpeliharanya nyawa, yakni dengan adanya hukum qishash.

Kedua, maslahat hajiyat. Yakni kemaslahatan yang diperoleh manusia saat menghadapi kesulitan hidup, yakni berkenaan dengan adanya berbagai rukhshah yang diberikan Allah SWT kepada manusia;

Ketiga, maslahat tahsiniyat. Yakni kemaslahatan yang diperoleh manusia ketika melaksanakan hukum yang berkenaan dengan sifat akhlak dan adab, seperti perintah menjaga kebersihan badan dan pakaian, perintah membatasi makan pada makanan yang halal dan thayyib, perintah berakhlak mulia, dan lain-lain, serta;

Keempat, maslahat takmiliyat. Yakni maslahat yang berkenaan dengan penyempurnaan maslahat yang diperoleh manusia ketika menyempurnakan tiga kemaslahatan yang lain, yaitu dengan diperintahkannya dan dilarangnya hal-hal yang menjadi cabang daripada kewajiban atau keharaman yang asal. Misalnya ketika Allah mengharamkan zina, maka semua hal yang bisa menghantarkan kepada zina, seperti tabarruj, menyebarnya pornografi dan pornoaksi juga diharamkan.

Semua kemaslahatan ini, jelas tak mungkin diwujudkan oleh sistem kapitalisme yang lahir dari kerakusan manusia. Apalagi diwujudkan oleh sistem sosialisme yang lahir dari kesombongan akal manusia. Tapi hanya mungkin lahir dari aturan Zat Yang Maha Mencipta.

Oleh karenanya, sudah saatnya kita sambut era penuh fitnah ini dengan kesungguhan dalam berjuang. Agar umat ini terselamatkan dari semua krisis dan bala bencana. Dan agar kelak kita punya hujjah bahwa kita tak berpangku tangan dalam mengembalikan kemuliaan Islam. [MNews/Gz]

8 thoughts on “Urgensi Dakwah Khilafah Di Era Fitnah

  • 13 Oktober 2020 pada 12:10
    Permalink

    Sayangnya mereka yg belum paham malah ikutan untuk mempersekusi khilafah. Sampe kadang” tuh sedih, heran dan mau menjelaskan dg cara yg gimana lagi. Semoga Allah membuka hatinya aamiin

    Balas
  • 12 Oktober 2020 pada 19:39
    Permalink

    Dakwah khilafah untuk meraih berkah

    Balas
  • 11 Oktober 2020 pada 21:24
    Permalink

    Bismillah. Mari kita sambut era penuh fitnah ini dengan kesungguhan dalam berjuang. Allahu Akbar

    Balas
  • 11 Oktober 2020 pada 18:47
    Permalink

    sudah saatnya kita sambut era penuh fitnah ini dengan kesungguhan dalam berjuang. Agar umat ini terselamatkan dari semua krisis dan bala bencana. Dan agar kelak kita punya hujjah bahwa kita tak berpangku tangan dalam mengembalikan kemuliaan Islam.

    Balas
  • 11 Oktober 2020 pada 18:40
    Permalink

    Dakwah Khilafah tidak bisa diabaikan…umat butuh pencerahan untuk bangkit…..

    Balas
  • 11 Oktober 2020 pada 15:05
    Permalink

    MasyaAllah, semoga kita semua Istiqomah di jalan dakwah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *