Lakon “Crewmate” atau “Impostor”, Sama Buruknya bagi Anak

Oleh: Endiyah Puji Tristanti, S.Si.

MuslimahNews.com, KELUARGA – Membersamai anak dalam usia tumbuh kembang sangat membahagiakan, lalu disusul anak memasuki usia mumayiz. Meski dikatakan di usia ini anak sudah memasuki fase mampu membedakan suatu yang baik dengan yang buruk, namun akalnya sendiri belum sempurna sebagaimana akal orang dewasa.

Anak mumayiz masih membutuhkan bimbingan orang tua untuk menilai dan memilih setiap ragam peristiwa baik tentang benda atau perbuatan. Pada fase ini, anak akan mencerap berbagai maklumat (informasi) dari lingkungan terdekat, baik dunia nyata pun dunia maya.

Anak membutuhkan pembimbing “hebat” untuk menemukan jati diri. Jangan sampai orang tua kalah start! Dunia gemol (game online) lebih mendominasi ruang belajar anak. Meski tak semua gemol berkiprah negatif, banyak buku pendidikan islami dengan desain gemol menarik sengaja diproduksi. Alasannya karena dunia anak adalah dunia belajar.

Memilihkan Sarana Belajar

Belajar bisa kapan saja dengan sarana apa saja. Orang tua dituntut memahami konsep hadharah wal madaniyah. Hadharah ada sekumpulan pemahaman tentang kehidupan yang bersifat khas ditentukan akidah yang menjadi asasnya. Dalam hadharah ada madaniyah, yakni sarana dan prasarana yang digunakan manusia dalam berbagai aktivitas.

Dunia sekuler tak pernah aman, riskan mengandung konten merusak pemikiran anak. Ghazwu tsaqafiy (perang pemikiran) bisa masuk melalui berbagai madaniyah. Maka, orang tua muslim wajib cermat memilihkan sarana belajar anak, memperhatikan ada tidaknya pertentangan dengan akidah dan syariat Islam, baik itu dalam konten, bahasa, aturan main, audio, visual, dan lainnya.

Bagi orang tua membentengi akidah/keimanan anak bukanlah pilihan tetapi harga pasti. Anak adalah investasi dunia akhirat. Tak selamanya orang tua bisa mendampingi kehidupan anak. Ajal bisa datang menjemput kapan saja. Merugi orang tua yang mati meninggalkan anak-anak tanpa bekal agama yang baik.

Anak yatim bukanlah anak yang ditinggal mati kedua orang tua hingga ia menjadi miskin. Akan tetapi, anak yatim yang sebenarnya ialah seorang anak yang menemukan ibunya yang kurang mendidiknya dan menemukan ayah yang sibuk dengan pekerjaannya.” (baca kitab Tarbiyatu al-Aulaad Fii al-Islaam)

Hati-Hati Game Sejenis “Among Us

Langsung maupun tidak langsung, rutin bermain game meski durasinya pendek akan membentuk pola tertentu pada anak. Setiap game punya “syariat”. Anak akan sukarela terikat dengannya agar dirinya bisa diterima sebagai pemain.

Lingkungan sosial pada game tak jarang terhubung langsung dengan orang lain di dunia nyata. Hasil pola interaksi yang terbangun bisa membentuk cara berpikir dan cara merasa yang sama pada anak.

Di titik inilah game sejenis “Among Us” bisa membahayakan kepribadian anak. Begitu sederhana, ada crewmate sebagai lakon protagonis dan ada impostor sebagai lakon antagonis. Masing-masing membawa karakter tokoh yang ada di dunia nyata.

Crewmate dalam investigasi dan diskusi merasa benar untuk mencurigai dan memvonis siapa saja yang dianggap membahayakan tanpa ada bukti dan dalil. Anak diajarkan berdalih bukan berdalil.

Lain dengan impostor yang hanya berpikir untuk menimpakan keburukan pada pihak musuh. “Visi jahat” menghalalkan segala cara, penuh kepura-puraan ditempuh sampai mengadu domba musuhnya.

Walhasil, tak sedikit pemain “Among Us” membawa permusuhan mereka ke dunia nyata untuk persoalan yang remeh. Visi tak berbobot telah menguras daya imajinasi, anak terlatih berasumsi terhadap segala sesuatu.

Ya, game ini telah menghalangi anak untuk belajar metode berpikir yang benar. Anak dibentuk untuk mengabaikan fakta dan dalil, berpikir semau gue, bebas lepas tanpa batas syariat.

Ini hanya satu contoh game yang nirfaedah terhadap perkembangan anak dilihat dari sudut pandang Islam. Game lain sejenis masih bejibun banyaknya, yang lebih berbahaya pun tak sedikit.

Hidup Itu pilihan

Ada sahabat Ali bin Abi Thalib di sekitar usia tujuh tahun telah memiliki keberanian untuk memilih kebenaran. Memilih Islam sebagai Diin, menyiapkan dirinya menanggung risiko hidup yang tidak ringan. Untuk ukuran anak seusianya, Ali bin Abi Thalib sosok yang luar biasa.

Sejak memilih Islam, kehidupan sahabat dan sepupu Rasulullah ini dicurahkan di jalan dakwah mendampingi kekasih-Nya, Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tidak ada kesia-siaan, semua amalnya berbobot. Wajar, Ali dipilih untuk menggantikan tidur di ranjang Rasulullah pada malam peristiwa hijrah ke Yatsrib (Madinah).

Semua berawal dari satu keputusan penting: berani memilih dalam kebenaran. Dengan demikian betapa orang tua sangat perlu mencurahkan perhatiannya pada usia prabalig anak-anaknya.

Proses memahami standar benar dan salah, manfaat dan mudarat, terpuji dan tercela, baik dan buruk dimulai sejak seseorang belum menjadi mukalaf (akil balig).

Di tengah arus sekularisasi yang demikian masif, lingkungan sosial dan opini medsos menjadi ajang gesekan berbagai pemikiran hak dan batil. Bersabar dalam menyiapkan anak menjemput usia balig dan bersabar membersamai anak menjalani fase mumayiz adalah satu-satunya pilihan setiap orang tua Muslim.

Allah SWT berfirman, “Dan bersabarlah! Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Anfal ayat 46)

Bila Allah SWT telah bersama seseorang, apa hal yang perlu dikhawatirkan? Insya Allah segala sesuatu akan dimudahkan. Aamiin. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *