Pemboikotan terhadap Dakwah Rasulullah Saw.

MuslimahNews.com, TARIKH – Kaum Quraisy melihat bahwa para sahabat Rasulullah Saw. mendapat perlindungan keamanan di Habasyi. Mereka tidak mampu mengembalikan kaum muslim ke Makkah. Mereka juga tidak mampu berbuat banyak untuk menyakiti Rasulullah Saw. karena mendapat jaminan keamanan dari Bani Hasyim dan Bani Muththalib.

Para pembesar Quraisy bersepakat melakukan pemboikotan terhadap Rasulullah Saw. dan para pembelanya di antara Bani Hasyim dan Bani Muththalib. Kaum Quraisy dilarang melakukan transaksi jual beli dengan mereka. Juga tidak boleh menikahkan dan dinikahkan dengan salah seorang di antara mereka.

Mereka menulis teks pemboikotan itu di atas lembaran yang digantung di tengah dinding Kakbah. Agar menjadi bukti kuat bahwa kaum Quraisy wajib terikat dengan pemboikotan ini.

Yang menulis teks pemboikotan di atas lembaran adalah Manshur bin Ikrimah. Rasulullah Saw. mendoakan keburukan untuk Manshur agar jari-jarinya rusak.

Kaum Quraisy melakukan pemboikotan sesuai dengan yang tersurat dalam teks pemboikotan. Abu Lahab paman Rasulullah Saw. bergabung dalam konspirasi pemboikotan ini.

Pemboikotan berlangsung selama tga tahun. Selama itu Rasulullah Saw. dan kaumnya benar-benar menderita. Mereka tidak mendapatkan kebutuhan pokok, kecuali yang dikirim oleh sebagian sahabat dengan sembunyi-sembunyi.

Kesempitan hidup dialami Bani Hasyim dan Bani Muththalib akibat pemboikotan tidak manusiawi yang dibuat atas instruksi kaum Quraisy. Penderitaan yang menimpa Rasulullah beserta kaumnya selama tiga tahun telah menggerakkan hati hingga memunculkan simpati pada kaum yang tertindas ini. Meski mereka tidak beriman terhadap ajaran yang diserukan Rasulullah Saw.

Hisyam bin Amr misalnya, selama pemboikotan dia datang dengan membawa keledai yang dimuati makanan dan kebutuhan lain dan memberikan semuanya. Namun yang dilakukannya hanya perlindungan individu yang tidak banyak berguna di hadapan kekejaman kaum durjana. Perbuatan semacam itu tidak mampu menyelesaikan masalah, kecuali sebatas meringankan saja.

Baca juga:  Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah ﷺ yang Pemberani

Akhir Pemboikotan

Tidak ada yang bisa menyelesaikan masalah kecuali mengakhiri keputusan pemboikotan yang tidak manusiawi itu. Untuk itu Hisyam bin Amr berjalan di kegelapan malam menemui Zuhair bin Abi Umayyah bin Al Mughirah, sedang ibunya Zuhair adalah Atikah putri Abdul Muththalib.

Hisyam berkata, “Wahai Zuhair, pakah engkau suka makan makanan, memakai pakaian dan menikahi wanita. Engkau tahu betul keberadaan para bibimu, dimana orang Quraisy dilarang melakukan transaksi jual beli dengan mereka. Tidak boleh menikahkan atau dinikahkan dengan mereka. Seandainya ajakan seperti yang menimpa bibimu diserukan pada para bibi Abi al Hakam bin Hisyam, maka aku akan bersumpah demi Allah untuk tidak mematuhi selamanya.”

Mendengar itu Zuhair berkata, “Celaka engkau wahai Hisyam, apa yang dapat saya perbuat? Jika saya seorang diri. Demi Allah seandainya ada orang lain selain saya, niscaya saya akan benar-benar merusaknya hingga pemboikotan berakhir.”

Hisyam berkata, “Sudah ada orang lain selain engkau.” “Siapa dia?” tanya Zuhair. “Saya,” jawab Hisyam. Zuhair berkata kepada Hisyam, “Kami masih ingin orang ketiga.” Kemudian Hisyam pergi menemui al-Muth’im bin ‘Adi.

Kepadanya Hisyam berkata, “Wahai Muth’im, senangkah mengaku jika orang-orang dekat kami di antara Bani Abdi Manaf binasa, sedang engkau menyaksikan sendiri, bagaimana sikap orang-orang Quraisy terhadap mereka? Demi Allah, jika hal itu menimpa kelompokmu, maka dapat dipastikan engkau dengan segera menolongnya.”

Muth’im berkata, “Celaka engkau, apa yang dapat aku perbuat? Sedang aku seorang diri.” Hisyam berkata, “Sudah ada orang lain selain engkau.” “Siapa dia?” Tanya Muth’im. “Aku,” jawab Hisyam. Muth’im berkata, “Kami perlu orang ketiga.” “Sudah ada,” jawab Hisyam. “Siapa dia?” Tanya Muth’im. “Zuhair bin Abi Umayyah,” jawab Hisyam.

Baca juga:  Manhaj Sirah Nabawiyyah dan Tarikh Islam (Bagian 2/2)

Muth’im berkata lagi, “Kami masih butuh orang keempat.” Lalu Hisyam pergi menemui Abu al-Bakhtariy bin Hisyam. Kepadanya Hisyam berkata seperti yang dikatakan kepada Muth’im bin ‘Adi.

Abu al-Bakhtariy berkata, “Adakah seseorang yang akan membantuku mengerjakan hal ini?” “Ya, ada,” jawab Hisyam. Abu al-Bakhtariy bertanya, “Siapa dia?” Hisyam berkata, “Zuhair bin Abi Umayyah, Muth’im bin ‘Adi dan aku sendiri.” Abu al-Bakhtariy berkata, “Kami masih perlu orang kelima.”

Lalu Hisyam pun pergi menemui Zam’ah bin al-Aswad bin al-Muthallib. Hisyam berkata kepadanya tentang kondisi kerabatnya dan hak-haknya yang diperkosa. Mendengar hal itu Zam’ah berkata, “Adakah seseorang yang akan membantuku dalam menjalankan tugas yang kamu serukan ini?” “Ada,” jawab Hisyam. Lalu Hisyam menyebutkan nama-nama orang yang telah ditemuinya.

Akhirnya mereka semua berjanji untuk bertemu pada malam hari di suatu tempat di gunung yang berada di dataran tinggi Makkah. Setelah semua berkumpul di sana, mereka membuat konsensus untuk bersama-sama melakukan tindakan yang dapat mengakhiri pemboikotan sebagaimana yang tercantum dalam lembaran yang digantung di dinding Kakbah. Zuhair berkata, “Aku yang akan memulai terlebih dahulu, sehingga akulah orang pertama yang akan berbicara.”

Ketika pagi tiba, mereka segera pergi ke tempat dimana mereka biasa berkumpul. Zuhair bin Abi Umayyah pergi pagi-pagi sekali. Setelah melakukan thawaf sebanyak tujuh kali, lalu dia berdiri dan bicara di hadapan banyak orang,

“Wahai penduduk Makkah, kami dapat menikmati makanan dan memakai pakaian, sedang Bani Hasyim menghadapi penderitaan, sebab dilarang melakukan transaksi jual beli dengan mereka. Demi Allah, saya tidak akan berdiam diri, sampai saya bisa merobek lembaran yang berisi perintah pemboikotan yang tidak manusiawi ini.”

Baca juga:  [Sirah] Titik Awal Dakwah Rasulullah Saw.

Abu Jahal –yang berada di pojok masjid- berkata, “Kamu pembohong, demi Allah, kamu jangan coba-coba merobeknya.” Zam’ah bin al-Aswad berkata, “Wahai Abu Jahal, engkaulah sebenarnya orang yang paling pembohong. Kami tidak senang dengan tulisan lembaran itu, sebagaimana yang engkau tulis.”

Abu al Bakhtariy berkata, “Zam’ah benar, kami tidak senang dengan apa yang tertulis dalam lembaran itu, dan kami tidak mengakuinya.” Al Muth’im bin’Adi berkata, “Keduanya benar dan bohonglah orang yang mengatakan selain itu. Kami berlepas diri di hadapan Allah dari kezaliman akibat tulisan yang ada dalam lembaran itu.”

Hisyam bin ‘Amru juga berkata seperti itu. Melihat kenyataan ini, Abu Jahal berkata, “Pasti hal ini telah diputuskan semalam dan mereka telah merencanakannya tidak di tempat ini.” Sambil duduk di pojok masjid, Abu Jahal menyaksikan hal itu.

Kemudian Muth’im mendekati lembaran untuk merobeknya. Namun dia mendapati lembaran itu telah dimakan rayap, kecuali kalimat “Bismika Allahumma.”

Kejadian ini benar-benar mengagumkan. Bagaimana tidak, permusuhan berubah menjadi simpatik oleh pihak yang sama. Namun tidak perlu heran, karena itu kehendak Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ ٱللَّهُ ۖ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَٰكِرِينَ

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (QS Al Anfal : 30).

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji. [MNews/Rgl]

2 thoughts on “Pemboikotan terhadap Dakwah Rasulullah Saw.

  • 8 Oktober 2020 pada 13:13
    Permalink

    Makar manusia akan kalah dengan makar Allah SWT.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *