Buku Dijegal, Sinyal Kekalahan Intelektual

Oleh: Kanti Rahmillah, M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI – Indonesia darurat persekusi! Setelah marak para ulama dipersekusi, gini giliran karya literasi. Sebelumnya, film dokumenter “Jejak Khilafah di Nusantara” dijegal. Namun, makar Allah SWT di atas segala-galanya, setelah dijegal, film tersebut malah semakin viral.

Maka, akankah buku karya Felix Siauw berjudul “Muhammad Al Fatih 1453” yang dipersekusi ini semakin menginspirasi kawula muda? Iya! Atas izin Allah SWT.

Sebagaimana diwartakan banyak media, Kepala Dinas Pendidikan Bangka Belitung Muhammad Soleh membatalkan surat edaran yang mewajibkan peserta didik SMA/SMK sederajat untuk membaca dan membuat rangkuman buku “Muhammad Al Fatih 1453” tersebut.

Awalnya, alasan pihaknya mewajibkan para siswa membaca buku tersebut semata untuk meningkatkan minat literasi pada anak. Pengambilan buku yang memuat biografi tokoh Muhammad Al Fatih (MAF) pun semata karena sosoknya yang seorang pejuang. Penaklukan Konstantinopel di bawah tangannya adalah sejarah perjuangan yang patut diteladani.

“Kita inginkan memberi semangat literasi, memberi mereka pengetahuan sejarah sambil mengingatkan. Dan kita kemarin meminta siswa membaca buku Muhammad Al Fatih karena perjuangan menaklukkan Konstantinopel adalah sejarah perjuangan yang luar biasa,” sebutnya. (Bangkapos, 3/10/2020)

Namun sungguh sayang, beberapa pihak keberatan hingga Dinas Pendidikan Babel menganulir hal tersebut dan mengganti dengan buku lainnya.

Ada apa dengan buku MAF, hingga keberadaannya seolah ditakuti? Mengapa hal-hal yang berbau sejarah kaum muslim seringkali dipersoalkan? Mengapa persekusi terhadap kaum muslim dan ajarannya semakin marak? Apakah hal demikian adalah wujud kekalahan intelektual? Apakah ini yang dinamakan Islamofobia? Lantas apa yang seharusnya kaum muslim lakukan?

Ada Apa dengan Buku Muhammad Al Fatih?

Buku MAF 1453 adalah buku sejarah Islam yang memuat kisah perjuangan sang tokoh dalam merealisasikan bisyarah Rasulullah Saw.. Kerja keras disertai keyakinannya terhadap apa yang dikatakan Rasulullah Saw. telah membuahkan hasil nyata. Benteng pertahanan Konstantinopel yang sulit ditembus, akhirnya takluk di tangan pemuda 21 tahun tersebut.

Dalam ulasannya, Felix Siauw menyampaikan tujuan diterbitkannya buku tersebut adalah agar para pembaca paham sejarah kaum muslimin dan kejayaan Islam. Ia mengajak kaum muslim untuk meneladani sosok MAF, sosok ahli ibadah yang sejak balig tak pernah meninggalkan salat tahajud. MAF juga seorang ahli ilmu. Di usianya yang masih muda, MAF telah menguasai sembilan bahasa, sirah nabawiyah, juga menjadi ahli geografi dan politik.

MAF adalah panglima perang terbaik dengan janissary-nya yang terbaik pula. Keduanya telah dipuji Nabi Saw. jauh sebelum MAF lahir ke dunia. Maka dari itu, sosok MAF lebih layak dijadikan inspirasi bagi kawula muda daripada Oppa K-POP dan K-Drama.

Akan tetapi, tidak semua suka kisah inspiratif itu. Wakil Ketua MPR yang juga Ketua DPP PDIP, Ahmad Basarah mengatakan, tokoh nasional lebih patut dibahas dan kisah-kisah keteladanannya lebih punya alasan untuk dibahas, daripada tokoh yang ia sebut “asing”.

“Saya tidak habis pikir, jika alasan mewajibkan buku tokoh bangsa asing ini adalah agar para siswa meneladani kepahlawanan dan kepemimpinan tokoh-tokoh di masa lalu, padahal masih banyak keteladanan dan ketokohan pahlawan nasional yang layak dibaca,” kata Basarah (cnn[dot]com, 3/10/2020)

Sungguh keterlaluan apa yang disampaikan Basarah, karena dalam Islam, tidak ada sekat negara untuk meneladani sosok yang layak dijadikan inspirasi. Pahlawan Nusantara ataupun pahlawan mancanegara, jika sosok tersebut berjuang atas nama Allah SWT, maka seyogianya diteladani.

Selain itu, apakah Basarah sedang mengatakan Rasulullah Saw. dan para Sahabat berasal dari luar Nusantara dan tidak layak dijadikan panutan? Realitasnya, sosok Nabiyallah dan para Sahabat adalah “tokoh asing”. Begitu pun para Imam Mazhab yang kesemuanya adalah tokoh yang lahir di luar negeri ini. Apakah mereka tidak layak untuk dijadikan teladan?

Jika demikian, maka tidak berlebihan jika pernyataan Basarah sudah terkategori mengolok-olok agama, karena seluruh ajaran agama Islam dibawa Rasulullah Saw. dan kaum muslim wajib taat dan meneladaninya.

Bisa jadi, penolakan tokoh asing sebagai panutan lahir dari paham Islam Nusantara yang membatasi diri dengan nation state dalam beragama. Akhinya, sosok teladan pun sempit maknanya.

Khilafahfobia adalah Kelas Akut Islamofobia

Sungguh, persekusi terhadap para ulama dan karya literasi adalah bentuk kekalahan intelektual. Seharusnya, jika memang buku tersebut mengandung hal-hal buruk, diulas dan didiskusikan. Lalu hadirkan karya ilmiah yang sepadan, bukan memberangus.

Baru kali ini ada persekusi buku. Di sisi lain. buku-buku komunis yang merupakan ideologi PKI banyak beredar di pasaran. Buku porno yang jelas-jelas merusak generasi apalagi, berjamur bahkan seolah dilestarikan. Lantas kenapa buku-buku tersebut tidak dipersekusi? Apalagi kalo bukan Islamofobia akut yang menjangkiti sebagian kaum muslim.

Islamofobia adalah suatu sikap kebencian dan ketakutan akan semua hal yang berbau Islam. Lihat bagaimana hijab, celana cingkrang, hingga jenggot dipersoalkan. Termasuk ajarannya, seperti Jihad dan Khilafah yang merupakan bagian dari syariat Islam.

Islamofobia sengaja disuntikkan Barat kepada negeri muslim. Sehingga penyakit ini bukan hanya menjangkiti nonmuslim saja, bahkan kaum muslim dibuat alergi dengan apa yang ada pada ajaran agamanya sendiri.

Ketua PWNU Bangka Belitung, K.H. Jaafar Siddiq salah satunya. Ia mengatakan, dirinya menolak bukan semata karena penulisnya Felix Siauw, namun karena isinya memuat tentang Khilafah. Menurutnya, sekalipun penulisnya bukanlah Felix Siauw, namun bila isinya tentang Khilafah, tetap akan dikritisi. Ia mengaku, memang betul Muhammad Al Fatih adalah pejuang, tetapi kalo orientasinya Khilafah itu salah. (Bangkapos, 3/10/2020).

Sungguh menyesakkan dada, Khilafah yang merupakan ajaran mulia dihinakan. Inilah ujung dari penyakit Islamofobia, yaitu Khilafahfobia. Padahal, Islam tak akan bisa diterapkan sempurna tanpa adanya sistem Khilafah yang menaunginya.

Berjuang Menerapkan Islam Kafah

Pelarangan ajaran Khilafah oleh pemerintah tak menjadikan ajaran ini susut kemuliaannya. Justru bagi kaum muslim seharusnya semakin bisa melihat bagaimana negeri ini memperlakukan Islam dengan sewenang-wenang akibat sistem kufur yang menjadi landasan bangsa ini bekerja.

Felix Siauw dalam menanggapi persekusi bukunya, menuliskan kisah Thufail bin Amru. Saat Thufail masuk ke Makkah untuk melakukan tawaf di Kakbah, dirinya diwanti-wanti kaum Quraisy yang jahil (bodoh) untuk mewaspadai Muhammad. Quraisy sadar betul, militansi Rasulullah Saw. dan para pengikutnya dalam menyebarkan dakwah Islam akan sampai pada Thufail.

Quraisy pun menjelek-jelekkan Nabi Muhammad dengan mendeskripsikan sosoknya yang berbahaya, membuat perpecahan dan ketegangan, memecah-belah, intoleran, membuat ricuh, dan menimbulkan konflik perpecahan keluarga. Quraisy terus mengoceh membeberkan keburukan versi mereka.

Namun, Thufail yang merupakan pemuka kaumnya yang dikenal kedermawanannya, luas pergaulannya, dan cerdas, tentu tak akan mudah percaya. Apa yang ia dengar justru membuat dirinya penasaran bahkan akhirnya memeluk Islam. Hingga darinyalah berbondong-bondong kaumnya masuk Islam, termasuk Abu Hurairah yang sekarang terkenal sebagai penghafal hadis.

Oleh karena itu, persekusi buku ini hanyalah tantangan dakwah abad 21. Jauh sebelumnya, Rasulullah Saw. dan para Sahabat mengalaminya, juga Muhammad Al Fatih dalam perjuangannya mendakwahkan Islam ke seluruh umat manusia.

Penjegalan, propaganda, penyiksaan, serta pemboikotan adalah hal yang fitrah terjadi pada setiap perjuangan mengembalikan kehidupan Islam. Pangeran Diponegoro, Sunan Gunung Jati, Sunan Gresik, Buya HAMKA, dan tokoh Nusantara lainnya. Mereka pun tak luput dari rintangan tersebut dalam upayanya mensyiarkan Islam Kafah.

Mari kita teladani para pendahulu kita untuk senantiasa istikamah mendakwahkan Islam, walau persekusi dan rintangan lainnya terus menghampiri. Agar tampak izzatulislam tatkala syariat Islam diterapkan dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. [MNews/Gz]

2 komentar pada “Buku Dijegal, Sinyal Kekalahan Intelektual

  • 7 Oktober 2020 pada 15:52
    Permalink

    Sungguh gerakan Khilafahfobia semakin merajalela, Islam terus dikriminalisasikan, sedangkan sekularisme diagung-agungkan…

  • 7 Oktober 2020 pada 14:56
    Permalink

    Innalillahi …. kalau ada pejabat yg bilang tokoh asing, apakah mereka tdk sadar dg sistem yg saat ini sdg meninabobokan mereka juga buatan asing? Yg entah negara mana yg pernah berhasil dg sistem kapitalisnya.
    Klu Kisah MAF, JELAS BUKTI SEJARAH NYATA KEBERHASILANNYA. WAJIB DI TIRU OLEH KAUM PEMUDA ISLAM KAFFAH.

Tinggalkan Balasan