Khilafah Mencetak Ibu Tangguh

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FOKUS – Di masa kejayaan Islam, dunia Islam diwarnai tokoh-tokoh besar. Para Khalifah menorehkan namanya sebagai pemimpin terbaik kala itu. Para pejuang membawa Islam dalam kemenangan gemilang, sosok generasi berkepribadian Islam mumpuni yang memiliki mentalitas mujahid sekaligus intelektualitas mujtahid.

Pada diri mereka tertanam keyakinan kuat bahwa mereka ada semata demi dan untuk Islam, syahid menjadi tujuan tertinggi mereka. Dengan ghirah yang demikian, umat Islam saat itu mampu bangkit menjadi khairu ummah, mercusuar peradaban luhur manusia.

Tentu saja hal ini bukan kebetulan. Di balik generasi berkualitas ini, ada sosok ibu tangguh. Ini semua menunjukkan keberhasilan para ibu terdahulu mendidik anak-anak mereka, hingga menjadi generasi rabbani yang mengerti arti dan hakikat hidup, makna kebahagiaan hakiki, dan semangat pengabdian pada Islam.

Hal ini niscaya, mengingat dalam diri mereka tertanam keyakinan kuat bahwa anak adalah amanah Allah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Mereka paham betul, tidak ada yang bisa memberikan kebahagiaan hakiki pada anak-anaknya selain iman dan takwa. Tak ada harta yang mereka wariskan kepada anak-anak selain keimanan yang kukuh, kecintaan akan ilmu dan amal saleh, serta semangat berkorban demi kemuliaan umat dan Islam semata.

Sampai-sampai, tak jarang kita dapati para ibu di masa itu rela melepas anak-anak kesayangan mereka meraih kemuliaan di medan-medan jihad fi sabilillah.

Tergerus Sekularisme

Kegemilangan generasi di masa kejayaan Islam bertolak belakang dengan gambaran generasi sekarang. Potret buram mendominasi wajah mereka, gaya hidupnya jauh dari tuntunan Islam, iman dan kepribadian mereka rapuh.

Arus sekularisme, kapitalisme, dan liberalisme telah menghantam mereka, membuat mereka hanyut terlalu jauh. Hedonisme menancap kuat dalam jiwa mereka, orientasi hidup mereka bukan lagi rida Allah dan surga-Nya.

Dari sisi tsaqafah, jauh sekali. Jangankan menguasai bahasa Arab, tidak sedikit di antara mereka yang membaca Alquran saja belum lancar.

Dengan kondisi ini, wajar kepribadian generasi muda Islam saat ini cenderung jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka bahkan ter-sibghah gaya hidup serba bebas yang lahir dari proses sekularisasi pemikiran dan gaya hidup melalui berbagai cara dan bentuk.

Baca juga:  Peran Ibu dalam Menjaga Kesehatan Keluarga

Wajar pula jika mereka tumbuh menjadi generasi berkepribadian ganda, lebih suka menjadi pengekor dan pembebek daripada berusaha bangkit berjuang untuk kembali memimpin umat-umat lain di dunia.

Pergeseran Peran Ibu, Buah Sistem Kapitalisme Sekuler

Saat ini, sulit bagi kita menemukan gambaran generasi rabbani dalam wadah masyarakat yang islami. Yang ada justru masyarakat “tanpa bentuk” dengan anak-anak yang mayoritas terdidik para ibu yang hedonis dan materialistis. Para ibu yang tak sedikit dari mereka mengenyam pendidikan tinggi, tetapi tak cukup cerdas untuk mengerti makna hidup dan tujuan keberadaan mereka di dunia ini.

Mereka (para ibu itu) juga tak mampu memahami apa yang dipahami para ibu terdahulu, bahwa anak adalah amanah yang harus dididik sesuai kehendak Sang Pemberi amanah, yakni Allah SWT sebagai Al-Khaliq al-Mudabbir.

Yang mereka pahami, anak adalah aset ekonomi yang harus dididik untuk tujuan-tujuan materi, hingga tak sedikit dari mereka yang ringan hati menyerahkan peran dan tanggung jawab keibuannya kepada orang lain: pembantu rumah tangga atau lembaga-lembaga pendidikan!

Dari sini tampak betapa para ibu –sebagaimana gambaran masyarakat kaum muslim pada umumnya– lebih suka mengadopsi pemikiran yang bersumber dari paham kapitalis sekuler daripada menjadikan Islam sebagai standar berpikir dan berperilaku.

Kondisi ini diperparah dengan tiadanya peran negara. Negara hanya regulator, segala sesuatu dibebankan pada rakyat. Rakyat harus banting tulang memenuhi kebutuhannya, termasuk kebutuhan primer.

Bahkan, berkaitan dengan keamanan dan pendidikan, setiap keluarga harus mencukupinya sendiri padahal biaya pendidikan dalam sistem kapitalis sangat tinggi. Imbasnya, tidak sedikit kaum ibu harus bergulat mencari biaya tambahan.

Hasilnya? Banyak muslimah terkecoh, mereka lebih suka menanggalkan kebanggaan menjadi seorang ibu daripada harus kehilangan karir. Peran ibu kini tak lagi menjadi simbol kemuliaan perempuan, tetapi menjadi simbol keterbelakangan dan keterkungkungan. Bisa ditebak, siapa yang jadi korban? Ya, anak!

Khilafah Mengembalikan Peran Ibu yang Mulia

Islam sebagai diin yang sempurna, menempatkan sosok ibu di posisi yang sangat tinggi sebagaimana laki-laki. Fungsi ibu bukan hanya bersifat biologis, melainkan juga bersifat strategis dan politis.

Baca juga:  Mendidik Calon Ummun wa Rabbatul Bait

Karenanya, Islam menuntut agar kaum perempuan menjalankan fungsi keibuan ini sebaik-baiknya dengan fungsi utamanya sebagai ummun warabbat al-bayt (ibu dan pengatur rumah suaminya). Jika sistem kapitalisme memojokkan peran ibu, Islam justru memuliakannya.

Suatu waktu, Asma’ ra. bertanya kepada Rasulullah Saw., “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah mengutamakan laki-laki dari wanita, maka kami mengimanimu dan mengikutimu. Dan kami para wanita serba terbatas dank urang (dalam amal).Tugas kami hanyalah menjaga rumah dan melayani suami.Kami mengandung anak-anak mereka, sedangkan kaum laki-laki memiliki keutamaan dengan berjamaah, menyaksikan mayat dan berjihad. Apabila mereka berjihad, kami menjaga harta dan memelihara anak mereka. Apakah kami dapat menyamai mereka dalam pahala, wahai Rasulullah?” Lalu Rasul Saw. bersabda, “Pernahkah kalian mendengar dari wanita pertanyaan yang lebih baik dari ini? Kalau semua itu kalian lakukan dengan sebaik-baiknya, niscaya kalian akan mendapatkan pahala yang didapatkan suami-suami kalian.”

Dalam Islam, kesejahteraan tidak bisa diraih hanya lewat peran individu atau keluarga saja, di dalamnya ada peran Negara. Islam menjamin tercapainya kesejahteraan hidup melalui mekanisme penerapan sistem politik ekonomi Islam.

Upaya meraih kesejahteraan ini bukan hanya dibebankan kepada individu dan keluarga, namun juga tanggung jawab negara.

Ayah, berkewajiban untuk mencukupi kebutuhan dirinya juga keluarganya. Dalam Islam, yang pertama bertanggung jawab memenuhi nafkah keluarga adalah ayah.

“Kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian pada para ibu dengan cara yang makruf dan atas ahli waris yang semisal.” (QS al-Baqarah: 233)

Sementara negara, memang tidak akan mencampuri urusan privasi keluarga, tetapi tetap memastikan setiap anggota keluarga mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik.

Sebagai pemimpin negara, Nabi Saw. pernah didatangi Hindun binti Utbah, istri tokoh Quraisy sebelumnya, Abu Sufyan.

Dia berkata kepada Rasul Saw., “Wahai Rasul Allah! (Suamiku) Abu Sufyan adalah seorang kikir. Apakah aku berdosa untuk memberi makan anak-anakku dari hartanya?” Nabi Saw. berkata, “Tidak. Ambil untuk kebutuhan kamu apa yang adil dan masuk akal.”

Negara juga wajib memenuhi kebutuhan warganya, baik kebutuhan dasar sebagai individu (sandang-pangan-papan) maupun kebutuhan kolektif berupa keamanan, kesehatan, dan pendidikan.

Baca juga:  Peran Ibu dalam Menjaga Kesehatan Keluarga

Syariat telah menguasakan kepada negara untuk memungut jizyah, kharaj, dan zakat; memberi wewenang pada negara untuk mengelola harta kepemilikan umum demi kemaslahatan rakyat.

Individunya sendiri akan berusaha keras mencari rezeki demi menafkahi diri dan orang-orang yang menjadi tanggungannya serta menjalankan kewajiban lainnya, sehingga kesejahteraan hidup individu rakyat akan terjamin.

Dengan demikian, para ibu tidak akan dipusingkan hal-hal yang bukan kewajibannya. Ia bisa memaksimalkan peran dan kewajibannya sebagai ummu wa rabbatul bait.

Para ibu dengan ketakwaan tinggi akan menghujani anak-anak mereka dengan cinta dan kasih sayang yang besar, ia akan sempurnakan pengasuhannya, mendidik dengan sabar hingga anaknya dewasa, mampu mengarungi gelombang kehidupan yang menerpanya dengan berpegang teguh pada syariat.

Khatimah

Hanya di bawah kekuasaan Islam sajalah akan tertanam dalam diri perempuan suatu rasa yang sangat besar tentang tugas penting mereka sebagai penjaga rumah dan pengasuh anak-anak mereka, yang mereka lakukan dengan kesungguhan dan kepedulian yang paling serius.

Hukum syariat juga menciptakan unit keluarga yang kuat dan terpadu. Oleh karenanya, hanya Khilafah –yang menerapkan Islam secara komprehensif– yang akan mengembalikan peran ibu dengan benar, memastikan hak dan pengasuhan anak-anak terjamin, dan akan melindungi kesucian dan keharmonisan kehidupan keluarga.

Semoga para muslimah kembali menyadari betapa besarnya tanggung jawab mereka terhadap masa depan Islam dan kaum muslimin, sehingga mereka akan terpacu untuk berlomba meraih kembali kemuliaan sebagaimana para ibu di masa Islam terdahulu.

Mereka akan membina diri dan masyarakat dengan pemikiran-pemikiran Islam dan membentuk pola sikap mereka dengan aturan-aturan Islam, sekaligus berjuang menegakkan syariat Islam dalam wadah Khilafah ala Minhajin Nubuwwah.

Dengan demikian, mereka siap menjadi pendidik dan pencetak generasi mumpuni yang akan membawa umat ini kepada kebangkitan hakiki. Insya Allah. Wallahu A’lam bishshawwab. [MNews/Gz]

3 thoughts on “Khilafah Mencetak Ibu Tangguh

  • 6 Oktober 2020 pada 22:27
    Permalink

    Cara pandang Islam terhadap seorang ibu, posisi yang mulia ,beda dengan kapitalis yang salah kaprah memposisikan seorang ibu

    Balas
  • 6 Oktober 2020 pada 19:13
    Permalink

    MaSyaaAllah, sungguh mulia wanita dalam Islam, sungguh sempurna peranannya. Syukurku mengenal Islam kaffah..
    #WeNeedKhilafah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *