Perjanjian Abraham, Ditandatangani di Atas Genangan Darah Palestina

Oleh: Ragil Rahayu, S.E.

MuslimahNews.com, OPINI – Israel, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain resmi menormalisasi hubungan mereka dengan menandatangani perjanjian Abraham Accords. Perjanjian ini ditandatangani pada 15/9/2020 di Gedung Putih, Amerika Serikat (AS). Presiden AS Donald Trump menyebut perjanjian ini sebagai “Fajar Timur Tengah baru”. (Republika, 3/10/2020)

Perjanjian Abraham ditandatangani Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Bahrain dan UEA. Mereka sepakat “sepenuhnya menormalisasi hubungan”.  Namun, Israel menegaskan normalisasi tidak akan menghentikan rencana aneksasi atau pencaplokan Tepi Barat. (Republika, 4/10/2020)

Pengkhianatan terhadap Rakyat Palestina

Bukan kali ini saja negara-negara muslim mengkhianati perjuangan rakyat Palestina. Sebelumnya, telah terjadi  perjanjian damai antara Mesir-Israel pada 1979. Diikuti dengan perjanjian damai Israel-Yordania pada 1994.

Beberapa negara lain juga akan menormalisasi hubungan dengan Israel. Penasihat khusus Presiden Donald Trump terkait negosiasi Timur Tengah Avi Berkowitz memperkirakan ada tujuh negara muslim yang akan mengikuti UEA.

Salah satu negara tersebut adalah Maroko. Berdasarkan laporan media Israel The Jerusalem Post, Maroko dan Israel akan meluncurkan penerbangan udara langsung. Ini adalah upaya Presiden Donald Trump untuk menormalkan hubungan Arab-Israel.

Arab Saudi pun mengirimkan sinyal untuk berdamai dengan Israel. Pada 11/9/2020, Imam Abdulrahman al-Sudais menyampaikan khotbah Jumat yang mengampanyekan toleransi terhadap nonmuslim. Ia juga secara positif menceritakan hubungan Nabi Muhammad dengan kaum Yahudi.

Khotbah yang dijuluki “pengkhianatan dari mimbar suci” tersebut dianggap membawa pesan politik tersembunyi terkait normalisasi hubungan UEA-Israel. Sebelumnya, Saudi mengumumkan bahwa negaranya akan membuka wilayah udara bagi penerbangan antara Israel dan UEA. (dw[dot]com, 13/9/2020)

Baca juga:  Persekongkolan Terbesar Barat di Abad Modern

Sikap negara-negara muslim ini merupakan pengkhianatan terhadap rakyat Palestina. Mereka menari-nari di atas genangan darah para syuhada dan jerit tangis anak Palestina. Rasa persaudaraan sesama muslim bahkan rasa kemanusiaan telah hilang dari hati mereka.

Penderitaan Palestina

Wilayah Palestina telah dirampas Israel selama beberapa dekade. Pada 1917, Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour yang menjadikan Palestina sebagai “rumah nasional untuk rakyat Yahudi”. Pada 1947, PBB membagi wilayah Palestina menjadi tiga bagian: untuk Yahudi, Arab, dan perwalian internasional di Yerusalem. Sejak itu, Israel menguasai semua wilayah Palestina kecuali Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Akibat pendudukan Israel, kini wilayah Palestina hanya tersisa 15 persen (minanews, 1/3/2020). Pakar geografi dari Komunitas Studi Arab di Yerusalem, Khalil al-Tafakji mengatakan, pada 2030, eksistensi Palestina akan tersisa 12 persen. (Republika, 9/11/2011)

Biro Statistik Pusat Palestina (PCBS) mengatakan, jumlah warga Palestina dan Arab yang gugur sejak Nakba mencapai 100.000 jiwa. Terdapat satu juta kasus penangkapan sejak 1967. Jumlah tawanan di penjara penjajah Israel sekitar 5.700 jiwa pada akhir Maret 2019 (melayu palinfo, 14/5/2019).

Atas berbagai penderitaan rakyat Palestina tersebut, negara-negara Arab dan muslim justru bergandeng mesra dengan Israel sang penjajah. Mereka juga menghamba pada tuannya Israel yakni AS. Pengkhianatan ini terjadi hanya demi mempertahankan kekuasaan mereka.

Kekuasaan yang dimiliki para raja tersebut adalah hasil pengkhianatan mereka terhadap Khilafah Utsmaniyah. Dulu, semua negeri muslim berada di bawah satu payung yakni Khilafah Islamiyah. Namun, Inggris melalui antek-anteknya meruntuhkan Khilafah pada 1924.

Baca juga:  Layakkah Berlaku Rahmah kepada Israel?

Sebelum Khilafah benar-benar runtuh, para penguasa di wilayah Arab telah condong pada Inggris dan mengkhianati Utsmaniyah. Benih-benih perlawanan terhadap Turki Ottoman sudah muncul sejak 1915.

Pada tahun itu, Syarif Hussein mengirimkan anaknya yang bernama Faisal untuk bergabung dengan Jami’yah Arabiyah Fatat. Ini adalah gerakan di Suriah yang bertujuan menggalang kekuatan untuk melawan pemerintahan Turki Utsmaniyah (Weldon Matthews, Library of Middle East History, Volume 10, 2006:15).

Agen Inggris Thomas Edward (T.E.) Lawrence terlibat dalam banyak insiden melawan Turki Utsmaniyah di berbagai tempat. Dibantu persenjataan oleh Inggris, militer Hejaz memperoleh kemenangan atas Turki Utsmaniyah pada 1918. Misi Inggris (bersama Prancis) untuk menguasai Jazirah Arab tercapai.

Syarif Hussein berkuasa di Hejaz. Pangeran Faisal menjadi penguasa di Irak dan Suriah. Pangeran Abdullah menjadi penguasa di Jordan. Pada 1932, Abdul Azis mendeklarasikan nama Arab Saudi yang merupakan gabungan Hejaz dan Najd.

Dengan runtuhnya Utsmaniyah, mereka menjadi raja di wilayah masing-masing. Ketika Timur Tengah “diambil” dari Inggris oleh Amerika Serikat, loyalitas mereka pun beralih ke negeri Paman Sam. Sebagai jaminan atas kekuasaannya, mereka tunduk pada AS dan mengkhianati Palestina.

Khilafah Sang Pelindung Palestina

Terbukti negara-negara bangsa gagal melindungi Palestina dari pendudukan. Negeri-negeri Arab lebih mementingkan kekuasaannya daripada menolong muslim Palestina. Kita tak bisa berharap lagi pada negara-negara tersebut untuk melindungi Palestina.

Kita juga tidak bisa berharap pada PBB. Justru PBB adalah organisasi yang memberikan pengakuan atas Israel. Sampai sekarang, PBB tidak pernah memberikan sanksi atas kejahatan perang AS dan Israel.

Baca juga:  Tentara Israel Bunuh Bocah Palestina Saat Aksi Protes di Perbatasan

Satu-satunya negara yang terbukti melindungi Palestina adalah Khilafah Islamiyah. Akar masalah Palestina adalah karena runtuhnya Sang Pelindung, yaitu Khilafah. Satu-satunya solusi untuk membebaskan Palestina adalah mewujudkan negara Khilafah.

Khilafah akan memimpin 1,5 miliar kaum muslim di seluruh dunia untuk berjihad ke Palestina. Khilafah akan melindungi seluruh wilayah kaum muslim dari penjajahan. Saat itulah Yahudi Israel akan kembali dikalahkan seperti peristiwa Yahudi Qainuqa, Quraidhah, dan Khaibar.

Inilah sikap yang dulu diambil Khalifah Abdul Hamid II. Beliau menulis surat:

Nasihati Dr. Hertzl supaya jangan meneruskan rencananya.
Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (Palestina),
karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam.
Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini
dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka.
Yahudi silakan menyimpan harta mereka.
Jika Daulah Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan pada suatu hari,
maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya.
Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku
daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Daulah Islamiyah.
Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi.
Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.

(Khalifah Abdul Hamid II, 1902)

Inilah sikap Khilafah nantinya. Jika kita mendambakan penderitaan muslim Palestina berakhir, langkah praktisnya adalah mewujudkan negara Khilafah yang akan menumpas Yahudi Israel dari bumi Palestina. Tempat Mi’raj yang mulia. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *