[Tafsir QS ‘al-Mursalat: 41-45] Balasan Bagi Kaum yang Bertakwa (Bagian 2/2)

Sambungan dari https://www.muslimahnews.com/2020/09/28/tafsir-qs-al-mursalat-41-45-balasan-bagi-kaum-yang-bertakwa-bagian-1-2/


Oleh: K.H. Rokhmat S. Labib

MuslimahNews.com, TAFSIR – Tafsir QS ‘al-Mursalat [77]: 41-45

إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي ظِلَٰلٖ وَعُيُونٖ ٤١  وَفَوَٰكِهَ مِمَّا يَشۡتَهُونَ ٤٢ كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيٓ‍َٔۢا بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ٤٣  إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٤٤ وَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ٤٥

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata air-mata air. Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini. (Dikatakan kepada mereka), “Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (QS al-Mursalat [77]: 41-45).

Beberapa Pelajaran Penting

Pertama: Balasan yang diterima oleh orang-orang yang bertakwa berkebalikan dengan balasan terhadap orang-orang kafir.

Menurut Fakhruddin ar-Razi, ketika Allah SWT pada Hari Kiamat mengirimkan kepada orang-orang kafir zhill dzî tsalâts syu’ab (naungan yang memiliki tiga cabang), Dia pun menyediakan bagi orang-orang Mukmin tiga macam kenikmatan yang menjadi kebalikan darinya, yakni: zhilâl (naungan), ‘uyûn (mata air, sungai) dan fawâkiha (buah-buahan) (QS al-Mursalat [77]: 41-42).30 

 Jika orang-orang kafir diberikan zhill (naungan) yang tidak bisa menaungi, juga tidak bisa mencegah bara api dan dahaga, maka naungan orang-orang yang bertakwa benar-benar bisa menaungi. Di dalamnya ada mata air yang airnya segar dan bisa menghilangkan dahaga, serta membatasi antara mereka dengan nyala api, dan terdapat buah-buahan yang mereka senangi dan mereka inginkan.31 

Kedua: Penghuni surga mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Dalam ayat ini disebutkan: Wa fawâkiha mimmâ yasytahûna  (dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini). Makna ayat ini, sebagaimana menurut para ulama, penghuni surga akan mendapatkan buah-buahan yang mereka inginkan.

Bukan hanya merasakan lezatnya buah-buahan yang tersedia, namun juga mendapatkan buah apa pun yang mereka inginkan dan angankan. Bukan hanya buah-buahan. Semua yang mereka inginkan pun akan diperoleh di dalam surga (Lihat: QS Fushshilat [41]: 31-32; QS az-Zukhruf [43]: 71).

Ketiga: Balasan yang diterima oleh manusia di akhirat adalah buah dari amal yang yang mereka kerjakan selama di dunia.

Sebagaimana telah dipaparkan di muka, ini dapat dipahami dari firman Allah SWT: bimâ kuntum ta’malûna (karena apa yang telah kalian kerjakan). Huruf al-bâ‘ dalam ayat ini adalah li as-sabab (menunjukkan sebab).

Juga firman-Nya: Innâ kadzâlika Najzî al-muhsinîn (Sungguh demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.). Artinya, surga beserta berbagai kenikmatan sebagai balasan Alalh SWT kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang yang berbaik.

Selain ayat ini, banyak ayat lainnya yang isinya senada, seperti QS an-Nahl [16]: 32, al-Zuhruf  [43]: 72, dan lain-lain. Surga yang merupakan balasan kepada penghuninya, dengan jelas juga disebutkan dalam QS al-Ahqaf  [46]: 14).

Sebagaimana orang-orang bertakwa yang dimasukkan surga sebagai balasan atas amal yang mereka kerjakan, demikian pula dengan para penghuni neraka. Mereka mendapatkan siksa yang amat pedih disebabkan oleh amal perbuatan yang mereka kerjakan selama di dunia (Lihat: QS al-Sajdah [32]: 14).

Surga yang merupakan balasan kepada penghuninya, dengan jelas juga disebutkan dalam QS al-Taubah [9]: 94). Amat banyak ayat senada dengan ini bahwa manusia tidak mendapatkan balasan kecuali apa yang telah mereka kerjakan di dunia (lihat QS Yasin [36]: 54).

Lalu bagaimana mendudukkan ayat-ayat tersebut dengan hadis dari Jabir ra. bahwa Nabi saw. bersabda,

لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَلَا يُجِيرُهُ مِنْ النَّارِ وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنْ اللَّهِ

Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkan dirinya ke dalam surga dan menyelematkan dia dari neraka, tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah (HR Muslim).

Menjelaskan Hadis  ini dan semacamnya, Imam al-Nawawi berkata. “Dalam lahiriah hadis-hadis ini, yang menunjukkan pada ahlul haqq bahwa seseorang tidak berhak mendapatkan pahala dan surga dengan ketaatan, padahal Allah SWT telah berfirman, “Masuklah kalian ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kalian kerjakan.” (QS al-Nahl [16]: 32)

Juga  dinyatakan, “Itulah surga yang diwariskan kepada kalian disebabkan karena amal-amal yang dulu kalian kerjakan” (QS al-Zuhruf  [43]: 72). Demikian pula ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa amalan bisa memasukkan orang dalam surga. Semua itu tidak bertentangan dengan hadis-hadis tersebut.

Akan tetapi, makna ayat-ayat itu adalah: Sungguh masuk surga itu disebabkan oleh amalan. Kemudian ada taufik dari Allah untuk beramal dan ada hidayah untuk ikhlas pula dalam beramal. Amal-amal itu diterima karena rahmat dan karunia Allah.

Dengan demikian benarlah bahwa seseorang tidak masuk surga hanya semata karena amalnya. Itulah yang dimaksudkan dalam hadis. Kesimpulannya, sesorang masuk surga adalah karena ada amalan. Artinya, disebabkan oleh amal. Amalan itu merupakan rahmat Allah. WalLâhu a’lam.”32

Keempat: Kesamaan antara al-muttaqîn dan al-muhsinîn. Al-Muttaqîn adalah orang-orang yang bertakwa.

Al-Muhsinîn adalah orang-orang yang berbuat ihsân (kebaikan). Keduanya memiliki perbedaan makna meskipun terdapat titik temu di antara keduanya.

Dalam ayat ini diberitakan, kedua golongan ini memliki kesamaan balasan. Keduanya mendapatkan balasan berupa surga. Ini disebutkan dalam firman Allah SWT,

إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٤٤

Sungguh demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS al-Mursalat [77]: 44)

Menurut para mufassir, ayat ini memberitakan bahwa sebagaimana Allah SWT balasan surga, demikian pula balasan yang akan diberikan kepada al-muhsinîn (orang-orang yang berbuat kebaikan). Ini berarti, ada kesamaan balasan yang akan diterima oleh mereka. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [MNews/Rgl]


Catatan kaki:

30      Lihat: Ar-Razi, Mafâtîh ala-Ghayb, vol. 30, 780

31      Ar-Razi, Mafâtîh ala-Ghayb, vol. 30, 780

32      An-Nawawi, Syar-h al-Nawawi ‘alâ Muslim, 17 (Beirut: Dar Ihya` al-Turats al-‘Arabiy, 1362) , 160-161

2 thoughts on “[Tafsir QS ‘al-Mursalat: 41-45] Balasan Bagi Kaum yang Bertakwa (Bagian 2/2)

Tinggalkan Balasan