Membentengi Anak dari Pandemi K-Pop

Oleh: Ummu Fairuzah

MuslimahNews.com, KELUARGA – “Bunda, adik ngantuk tapi mau youtube dulu… Pokoknya K-Pop!” Apa sikap kita, jika ananda demam boyband and girlband? Astaghfirullah… Bunda salihah mana yang rela buah hatinya lebih mengenal kuffar ketimbang sosok Rasulullah dan Para Sahabat. Bukan selawat dan kalimat thayyibah terlantun dari lisan mungil nan suci, namun lirik lagu-lagu Korea.

Tanpa penerapan Islam kafah, betapa berat beban kaum ibu. Tak ada junnah (perisai) bagi generasi. Membangun akidah Islam anak bagai melukis di atas air. Sangat melelahkan meski berbuah pahala keikhlasan. Laa haula walaa quwwata illabillahi…

Ingatlah pesan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam teruntuk kaum ibu,

“…dan istri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR Bukhari-Muslim)

Sebagaimana manusia dewasa, anak juga butuh idola. Fitrah mempertahankan diri (baqa’) mendorong anak mencari sosok hebat versi akalnya yang belum sempurna.

Siapa idola anak, tentu tak jauh dari apa dan siapa yang “membersamainya”. TV, gadget, orang tua, guru, teman, pembantu, sopir, semua bisa menjadi sosok hebat bagi anak. Bergantung kualitas dan kuantitas momen yang dibangun bersama anak.

Mengidolakan BTS, Oh My Girl, misalnya, tentu bukan sekadar belajar budaya Korea tentang hanbok, jeogori, baji, dan chima. Tetapi anak sedang belajar nilai, gaya hidup, dan kepribadian. Anak-anak adalah peniru yang baik!

Baca juga:  Korean Wave, “Role Model” Budaya Liberal dari Timur

Apa dan siapa idola anak, sangat bergantung bagaimana ayah ibu membentuk persepsi anak. Juga bagaimana orang tua menyediakan daya dukungnya (sarana dan lingkungan).

Sebagai muslim, sudah tentu sosok yang layak diteladani adalah Rasulullah. Maka, orang tua harus mengupayakan sosok Rasulullah tertanam di persepsi sang anak sebagai sosok idolanya, bukan yang lainnya.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allâh.” (QS al-Ahzâb [33]:21)

Membangun “Imunitas” Buah Hati

Berharap pada sistem sekuler untuk melindungi anak dari hedonisme jelas mustahil. Sembari berusaha melakukan perubahan di tengah umat dengan beriringan munajat doa-doa pada waktu mustajab, ada beberapa hal yang baik bagi orang tua.

Pertama, ayah-bunda sevisi. Tak ada kata terlambat, zaman anak dan orang tua memang berbeda. Luangkan waktu terbaik untuk bicara perkara penting tentang kepribadian anak yang ingin dibentuk. Pastikan bukan waktu sisa, sebab anak adalah investasi dunia akhirat. Ayah itu desainer, ibu manajer lapangan.

Kedua, gadget tak butuh belaian. Fenomena aneh zaman now. Satu keluarga makan di restoran, masing-masing fokus pada gadget pribadi. “Dosa” itu dipertontonkan di hadapan anak. Yang membutuhkan belaian kasih sayang itu wajah mungil di dekapan kita. Baginya, sentuhan orang tua lebih bermakna dibandingkan “sahabat” lima inchi hadiah ulang tahunnya. Bangunan komunikasi atas dasar iman dan cinta lebih bermakna bagi anak. Namun sayang, orang tua tanpa sadar mengabaikan hak buah hati untuk dicintai.

Baca juga:  K-Pop dan Drakor, Inspirasi Fatamorgana

Ketiga, mencarikan best friend forever. Bila anak telah mumayyiz, dia butuh lingkungan sosial. Terkadang lingkungan sekitar rumah, sekolah, bahkan masjid tempat belajar mengaji tidak kondusif.  Sebaiknya anak tidak dipaksakan bergaul dengan dalih belajar sosialisasi.

“Imun” anak belum sempurna, akalnya terbatas untuk membedakan baik dan buruk. Memilihkan teman bermain bagi anak salah satu tugas penting orang tua. Pasalnya, anak usia sekolah dasar kini sudah mengenal istilah best friend forever (BFF).

Sebaiknya orang tua memfasilitasi anak agar tidak salah memilih sohib. Ortu bisa meminta anak untuk mengundang BFF-nya ke rumah sebagai wasilah mengenal lingkungan pergaulan anak. Bisa dilanjutkan dengan menjalin silah ukhuwah antarkeluarga untuk menyamakan visi keluarga muslim.

Keempat, halqah keluarga intensif. Tiap pekan bisa dua sampai tiga kali mengisi halqah, seminar, pengajian, ternyata anak sendiri tidak tersentuh. Padahal ayat, “jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka” masih berlaku.

Maka, menjadwalkan halqah keluarga termasuk prioritas. Setiap anggota keluarga bisa bergantian sebagai pengisi. Tak harus lama, cukup 7 sampai 15 menit dilanjutkan diskusi agar tidak membosankan bagi anak.

Berikan giliran bagi anak turut menjadi ustaz/ustazah. Biarkan mereka memilih topik yang sesuai pemahaman mereka atau orang tua membantu memberikan beberapa pilihan tema. Dengan demikian orang tua bisa memahami berbagai maklumat sang anak.

Baca juga:  Korean Wave, “Role Model” Budaya Liberal dari Timur

Kelima, sahabat-shahabiyah idola.Agendakan yaumu siroh wa tarikh setidaknya satu bulan sekali. Family days out near me intinya hari keluarga. Tak harus pergi ke pantai, di rumah tetap bermakna. Bersama anak bercerita tentang sirah Rasul dan Sahabat, tentang keimanan, keteguhan, pengorbanan, dan kiprah beliau.

Masih banyak hal penting karya orang tua untuk belaian jiwa. Perlindungan berlapis sangat dibutuhkan anak-anak untuk bertahan dari serangan gaya hidup kufur yang mengancam dari berbagai sudut. Pada hakikatnya anak itu suci, seharusnya dia lebih mudah memahami kebaikan daripada mengikuti keburukan. Wallaahu a’lam. [MNews/Gz]

2 thoughts on “Membentengi Anak dari Pandemi K-Pop

  • 3 Oktober 2020 pada 14:36
    Permalink

    Sejak dini anak sudah harus dipahamkan mana yang haq dan mana yang batil

    Balas
  • 3 Oktober 2020 pada 12:39
    Permalink

    Ya Rabb …..lindungi kami sekeluarga dari berbagai kerusakan dunia-akhirat

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *