Fokus

Khilafah Pencetak Generasi Tangguh Penegak Peradaban Mulia

Oleh: Dedeh Wahidah Achmad

MuslimahNews.com, FOKUS – Generasi tangguh yang diharapkan akan melanjutkan peradaban Islam adalah generasi ber-syakshiyah Islamiyah, yakni mereka yang menghiasi dirinya dengan kepribadian Islam.

Ketika berpikir, mereka menjadikan Islam sebagai patokan sehingga memutuskan hukum segala sesuatu halal atau haram semata berdasarkan penilaian Islam. Ketika memenuhi tuntutan naluri serta kebutuhan jasmaninya, mereka pun menstandarkannya dengan syariat Islam. Akan tampak dalam perilakunya yang senantiasa menyesuaikan tuntunan syariat.

Tentu saja generasi seperti itu tidak lahir begitu saja, apalagi dalam kehidupan yang didominasi ideologi yang bertentangan dengan Islam, pasti akan sulit terbayangkan.

Kemunculan generasi berkepribadian Islam harus melalui proses pendidikan yang baik. Sebuah proses menanamkan keimanan terhadap Islam sebagai satu-satunya sistem kehidupan yang benar, mengajarkan hukum syariat, dan membiasakan peserta didik dalam ketaatan sempurna. Dan yang bisa merealisasikannya hanyalah institusi Khilafah Islamiyah.

Khilafah Islam Menjamin Terselenggaranya Pendidikan yang Baik dan Gratis

Pendidikan Islam bertujuan untuk mencetak generasi bertakwa. Bukan hanya banyak menguasai ilmu dan pintar berteori, namun pengetahuan yang dimilikinya akan membangun pemahaman yang tercermin dalam amalnya.

Keimanan menjadi fondasi perbuatannya. Dalam kitab Usus Al Ta’liim Al Manhaji disebutkan tujuan pendidikan: (1) membentuk kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) bagi peserta didik, (2) membekali peserta didik dengan ilmu-ilmu keislaman (tsaqafah islamiyyah), dan (3) membekali peserta didik dengan ilmu-ilmu yang diperlukan dalam kehidupan, seperti sains dan teknologi.

Jadi, fungsi strategis pendidikan tak hanya mentransfer berbagai pengetahuan (knowledge) seperti sains dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Lebih dari itu, pendidikan adalah instrumen pembentuk peradaban dan pandangan hidup (the world view) suatu bangsa atau umat. (Hizbut Tahrir, 2004: 7-8).

Terlaksananya pendidikan yang baik dan berkualitas ini membutuhkan kehadiran negara sebagai penanggung jawab. Berdasarkan sabda Nabi ﷺ,

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam itu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR al-Bukhari).

Tanggung jawab negara dalam masalah pendidikan paling tidak meliputi tiga perkara: Pertama, menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang layak dan cukup, baik jumlah maupun jenisnya. Semua fasilitas tersebut harus sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan bisa didapatkan seluruh rakyat secara gratis.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Al-Nafsiyah

Tercatat dalam sejarah Khilafah, Sultan Nuruddin Muhammad Zanky memberikan pelayanan pendidikan yang sangat baik, seperti terjadi di Madrasah an-Nuriah di Damaskus yang didirikan pada abad 6 H. Di sekolah ini bukan saja dibangun kelas-kelas untuk kegiatan belajar mengajar, tapi terdapat juga fasilitas lain seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan, para pelayan, serta ruangan besar untuk ceramah dan diskusi.

Dalam kelengkapan sarana seperti ini, bisa dijamin para guru fokus mengajar, demikian juga siswa giat dan semangat menyerap setiap ilmu tanpa terganggu urusan teknis dan masalah keuangan.

Kedua, negara wajib menyiapkan tenaga pengajar yang mumpuni. Khilafah akan memastikan kemampuan dan kecakapan guru dalam mengajar. Di antaranya melalui program pembekalan secara berkala untuk memberikan pengayaan terkait materi ajar dan metodologi pengajaran.

Khilafah juga akan menjamin kesejahteraan para guru, sehingga mereka optimal menjalankan amanahnya. Sungguh Khilafah memuliakan para guru.

Imam Ad Damsyiqi menyampaikan sebuah riwayat dari Al Wadliyah bin Atha yang menyatakan, di Kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin Khaththab memberikan gaji pada mereka masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas).

Ketiga, menerapkan kurikulum berbasis akidah Islam. Dalam kitab Muqaddimah Dustur (rancangan UU), pasal 165: Kurikulum pendidikan wajib berlandaskan akidah Islam. Seluruh materi pelajaran dan metode pengajaran dalam pendidikan disusun agar tidak menyimpang dari landasan tersebut. Demikian juga disebutkan dalam kitab yang berjudul Usus Al Ta’liim Al Manhaji. (Taqiyuddin An Nabhani, 2004.)

Penerapan Sistem Ekonomi Islam Menjadikan Negara Mampu Menyelenggarakan Pendidikan yang Baik

Negara akan memiliki kecukupan dana untuk memenuhi semua kebutuhan rakyatnya seperti kesehatan dan pendidikan ketika negara mengelola sumber daya alam yang dianugerahkan Allah SWT sesuai ketentuan syariat.

Pengelolaan harta milik umum yang melimpah berupa air, api (barang tambang, gas, dan energi), serta padang rumput (hutan) tidak boleh diserahkan kepada swasta, baik asing maupun warga negara daulah. Negaralah yang akan mengurusinya demi menyejahterakan rakyat.

Baca juga:  [Mafahim Islamiyah] Asy-Syakhsiyatu Aqliyatun wa Nafsiyatun

Negara juga akan memastikan penanggung jawab keluarga, yakni ayah/suami memiliki pekerjaan layak dan mendapat penghasilan yang mencukupi kebutuhan keluarganya.

Ketika suami/ayah mampu memenuhi nafkah, istri tidak dituntut mencari nafkah dan akan memiliki waktu dan kesempatan yang cukup untuk menjalankan peran utamanya sebagai ibu pendidik bagi putra putrinya.

Melalui pengurusan, pengasuhan, pendampingan, dan pendidikan yang baik dari seorang ibu, akan lahir generasi saleh dan salihah yang siap menjalankan taklif sebagai generasi penerus.

Penerapan Sistem Pergaulan Islam Akan Membentengi Generasi dari Kerusakan

Negara bertanggung jawab menerapkan sistem pergaulan Islam. Tidak akan dibiarkan pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, tidak akan dibiarkan terbukanya aurat dan gerakan erotis yang merangsang syahwat, juga tidak akan dibiarkan adanya makanan dan minuman yang merusak fisik dan akal seperti narkoba dan miras.

Khilafah akan mengangkat qadhi hizbah, yakni para qadhi yang tugasnya memberikan sanksi kepada para pelanggar aturan langsung di tempat kejadian. Keberadaan mereka di berbagai tempat akan memudahkan pencegahan, pengawasan, dan penyelesaian kemaksiatan seperti khalwat dan mempertontonkan aurat di tempat umum.

Pendidikan dalam keluarga dan sekolah harus sejalan dengan kehidupan nyata di masyarakat. Karenanya, negara berkewajiban membangun masyarakat yang dinaungi suasana keimanan yang kuat serta diliputi kepedulian dan tanggung jawab menegakkan amar makruf nahi mungkar.

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)

Masyarakat menyadari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan menurunkan sanksi jika mereka tidak menegakkan amar makruf nahi mungkar, sebagaimana firman-Nya, “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS al-Anfaal: 25).

Baca juga:  [Fikrul Islam] Syakhshiyah (Kepribadian Manusia)

Terkait ayat ini Imam Ibnu Katsir mengutip penafsiran Ibnu Abbas ra, “Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memerintahkan orang-orang beriman agar mereka tidak membiarkan kemungkaran terjadi di hadapan mereka, sebab Allah bisa menimpakan azab secara merata.” 

Media Massa dalam Khilafah, Mencerdaskan dan Mengukuhkan Tujuan Pendidikan

Pendidikan yang baik akan berfungsi optimal jika didukung kehadiran media massa yang produktif dan konstruktif. Hanya saja, keberadaannya harus dipastikan tidak kontraproduktif dengan tujuan pendidikan.

Anak-anak harus dijauhkan dari informasi rusak dan merusak, tidak boleh dijejali informasi yang akan melemahkan keimanan seperti kesyirikan, takhayul, dan khurafat. Anak-anak juga harus dijaga dari paparan informasi berisikan tayangan merusak akhlak, seperti kekerasan, adegan porno, dan pergaulan bebas.

Sebagai sarana pencerdasan, media massa dalam Khilafah akan penuh dengan materi ilmu pengetahuan, tsaqafah Islam, dan berbagai hal yang akan meningkatkan keimanan, membangun ketaatan, serta mendorong tersebarnya beragam kebaikan istibaqulkhairat

Negara bertanggung jawab memastikan semua media di dalam negeri aman bagi warga negara. Keberadaannya sebagai sumber informasi yang valid dan mencerdaskan, jauh dari kebohongan serta berita manipulatif.

Semua itu berfungsi untuk membangun masyarakat yang kukuh. Negara akan mengarahkan pengelola media terkait konten-konten berita yang tidak boleh dimuat dan sanksi apa yang akan diberikan jika ketentuan tersebut dilanggar.

Khilafah akan Menerapkan Sanksi Tegas

Aturan akan sulit ditaati manakala tidak disertai sanksi kepada orang yang membangkang. Alih-alih ditakuti dan disegani, yang terjadi justru aturan tersebut dilecehkan dengan banyaknya kasus pelanggaran.

Maka, Islam sebagai paket aturan yang sempurna telah menetapkan sanksi sebagai bagian dari syariat yang harus diterapkan. Sanksi uqubat ada agar semua ketentuan syariat dilaksanakan sempurna demi menjaga keberlangsungan kehidupan manusia serta menjauhkannya dari kehancuran.

Demikian juga halnya dengan upaya mencetak generasi tangguh, Khilafah akan menjatuhkan sanksi pada siapa pun yang terbukti melakukan pelanggaran yang mengancam terwujudnya generasi berkualitas. Wallahu a’lam. [MNews/Gz]

5 komentar pada “Khilafah Pencetak Generasi Tangguh Penegak Peradaban Mulia

  • MasyaAllah… kami rindu khilafah

    Balas
  • Fathunia

    Peradaban mulia yang dibangun dengan pendidikan berasas dan bertujuan mulia.

    Balas
  • MasyaAllah, pantas saja dengan Islam peradaban mulia pasti terwujud karena dalam daulah, pendidikan itu bertujuan untuk membangun manusianya. Dibangun pemikirannya dengan standar Islam yang tentu memuliakan

    Balas
  • EMI NURHAYATI

    Tak terbayangkan betapa indah dan nikmatnya jk islam diterapkn dlm naungan khilafah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *