Walimah Al-‘Ursy dalam Tuntunan Syariat (Bagian 3/3)

(Sambungan dari bagian 1 dan 2)

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FIKIH – Walimah menurut tuntunan syariat, salah satunya adalah meminta para tamu undangan untuk mengenakan busana yang syar’i, yakni busana yang menutup seluruh auratnya. Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang ( biasa ) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya.” ( QS An Nuur [24] : 31)

Islam melarang penyelenggaraan walimah yang hanya mengundang orang-orang tertentu saja.

Yaitu hanya mengundang orang kaya dan terhormat dan tidak mengundang para fakir miskin, sekalipun masih termasuk kerabat atau tetangga.

Mengenai hal ini Rasulullah Saw. menjelaskan di dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh ra, bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda: ”Makanan yang paling jelek adalah pesta perkawinan yang tidak mengundang orang yang mau datang kepadanya (miskin), tetapi mengundang orang yang enggan datang kepadanya ((kaya). Barang siapa tidak memperkenankan undangan maka sesungguhnya telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR Muslim)

Dalam hadis yang lain dikatakan bahwa “Sejelek-jelek makanan ialah makanan walimah yang hanya mengundang orang yang kaya tetapi meninggalkan orang-orang miskin “(HR Bukhari dari Abu Hurairah ra)

Islam melarang kondisi campur baur antara tamu undangan.

Sehingga memungkinkan terjadinya interaksi (ikhtilat) antara tamu laki-laki dan tamu perempuan yang bukan mahram sambil bersenda gurau dan membicarakan hal-hal yang tidak syar’i.

Guna menghindari hal tersebut, maka yang dilakukan adalah memisahkan secara sempurna antara tamu laki-laki dengan tamu perempuan. Sehingga kondisinya adalah pengantin perempuan dengan kerabat dan para tamu yang perempuan, sedangkan pengantin laki-laki dengan kerabat dan tamu laki-laki. Masing-masing dengan tempat makan dan pelaminan yang berbeda.

Baca juga:  Tata Cara Rujuk

Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa uslub (cara). Misalnya walimah diselenggarakan pada waktu yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Atau menggunakan dua tempat atau dua gedung yang berbeda.

Bisa juga dengan tempat yang sama tapi dipisah dengan tabir sempurna antara laki-laki dan perempuan. Sehingga tidak terjadi pertemuan dalam satu ruangan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini karena dalam masyarakat Islam kehidupan laki-laki dan perempuan terpisah satu dengan lainnya.

Dalil-dalil tentang hai ini banyak sekali. Di antaranya adalah dari Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik RA bahwa neneknya Malikah pernah mengundang Rasulullah Saw. untuk menikmati jamuan makanan yang dibuatnya. Lalu Rasulullah Saw. memakannya kemudian berkata: “Berdirilah kamu agar aku mendoakan bagi kamu…” hingga perkataan Anas bin Malik, “Maka berdirilah Rasulullah SAW dan berbarislah aku dan seorang anak yatim di belakang beliau, dan perempuan tua di belakang kami.

Adapun Abu Dawud telah meriwayatkan, Rasulullah Saw. bersabda, “Barisan yang terbaik untuk lelaki adalah barisan terdepan, ( yang paling jauh dari barisan perempuan) dan barisan yang paling baik untuk perempuan adalah di barisan belakang, dan yang terburuk adalah di depan (paling dekat dengan barisan lelaki).” (HR Abu Dawud)

Baca juga:  Hukum Seputar Hakam (Juru Damai) dalam Perselisihan Suami Istri

Diriwayatkan oleh Aisyah ra, beliau berkata: “Aku selalu bermain dengan teman-temanku dan tatkala Rasulullah masuk, mereka (teman-temanku) akan pergi dan apabila beliau Saw. keluar, mereka akan kembali seperti semula” (HR Abu Dawud)

Sedangkan terkait dengan pernikahan atau walimatul ‘ursy, beberapa dalil menjelaskan keterpisahan ini. Dari Aisyah ra berkata: “Rasulullah mengawiniku pada usia tujuh tahun dan kami mengadakan hubungan di usia sembilan tahun dan tatkala aku berpindah ke Madinah, segolongan perempuan mempersiapkan ku untuk majlis perkawinan ku dan tidak pernah sekali-kali mereka maupun aku, bercampur dengan lelaki di dalam rumah yang dipenuhi perempuan. Pihak perempuan menyambutku dan pihak lelaki menyambut Rasulullah dan kemudian kami masuk ke rumah.” (HR Abu Dawud)

Sesungguhnya Nabi Saw. pernah mukim di antara Khaibar dan Madinah selama tiga malam dimana ia mengadakan pesta menjelang berumah tangga dengan Shafiyah , kemudian aku mengundang kaum muslimin untuk menghadiri walimah …..Lalu kaum muslimin bertanya ….. Kemudian tatkala Nabi SAW mendengarnya, ia melangkah ke belakang dan menarik tabir.” (HR Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Penyelenggaraan walimah memudahkan para undangan untuk bisa makan dan minum dengan cara yang Islami.

Tidak diperbolehkan makan dan minum dengan berdiri. Hal ini berdasarkan larangan dari Rasulullah Saw.

Baca juga:  Nafkahi Keluarga dengan Harta Halal

Dari Anas dan Qatadah, Rasulullah Saw bersabda, ”Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata, ”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu kebih buruk lagi”. (HR Muslim dan Turmidzi)

Hadis yang lain dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Jangan kalian minum sambil berdiri! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR Muslim)

Maka penyelenggara walimah tidak diperbolehkan mengadakan standing party. Harus disiapkan tempat duduk untuk seluruh tamu yang hadir.

Demikianlah, Islam telah mengatur masalah walimatul ‘ursy ini dengan sedemikian rinci. Aturan ini menjadi panduan bagi umat Islam, sehingga menjadi pernikahan yang penuh dengan rahmat Allah SWT. Keberkahan Allah SWT selalu tercurah bagi pengantin serta anak keturunannya kelak.

Tata cara ini telah sangat jelas dan dilandasi dalil-dalil syara’. Kaum muslim wajib terus berupaya untuk mengubah kebiasaan masyarakat yang bertentangan dengan syariat Islam serta mensyiarkan ajaran Islam mengenai penyelenggaraan walimah ini.

Walaupun mayoritas masyarakat belum terbiasa dengan tata cara walimah demikian, merasa asing atau aneh. Yakinlah lambat laun menjadi terbiasa seiring dengan kegigihan kita dalam menyosialisasikannya. Semoga setiap usaha kita dalam mensyiarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya mendapatkan imbalan yang berlipat ganda di sisi-Nya. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Rgl]

2 komentar pada “Walimah Al-‘Ursy dalam Tuntunan Syariat (Bagian 3/3)

  • 5 Oktober 2020 pada 16:07
    Permalink

    Benar .. memang harusnya sepeeti itu .. , namun walimatul ‘ursy yang syar’i masih tabu fi tengah masarak kita karena belum membudaya

  • 2 Oktober 2020 pada 23:08
    Permalink

    Masya Allah, begitu sempurna nya islam mengatur kahidupan, termasuk masalah walimatul ‘ursy yang sedemikian rincinya

Tinggalkan Balasan