Keluarga Bahagia dalam Naungan Khilafah

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FOKUS – Sangat nyata di hadapan kita, pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada kehidupan sosial-ekonomi masyarakat.

Tidak sedikit kepala keluarga yang kehilangan pekerjaan dan akhirnya berimbas pada ekonomi dan keuangan keluarga. Ditambah aspek materi yang mendominasi sistem kehidupan saat ini, menjadikan nilai-nilai ketakwaan dalam keluarga makin melemah.

Inilah yang memunculkan riak-riak dalam rumah tangga yang berujung pada ketidakharmonisan dan berpotensi memicu kehancuran benteng keluarga.

Sekularisme Memicu Ketidakharmonisan Keluarga

Lemahnya pemahaman umat terhadap ajaran Islam kaffah, sesungguhnya menjadi faktor utama kenapa kondisi ini terjadi. Ajaran Islam telanjur dipahami sebatas ritual saja, hingga tak mampu berpengaruh dalam perilaku, baik individu, keluarga, masyarakat, maupun negara.

Dengan minimnya pemahaman itu, tak sedikit individu muslim mengalami disorientasi hidup, mudah menyerah pada keadaan. Dalam konteks keluarga, tak sedikit yang mengalami disharmoni bahkan disfungsi akut, hingga keluarga tak bisa diharapkan menjadi benteng perlindungan dan tempat kembali yang paling diidamkan.

Adapun masyarakat, kian kehilangan fungsi kontrol akibat individualisme yang mengikis budaya amar makruf nahi mungkar. Sementara negara, tak mampu menjadi penjaga umat akibat sibuk berkhidmat pada asing dan pengusaha.

Hal ini diperparah sekularisme dan turunannya yang batil, seperti liberalisme dan materialisme, yang meniscayakan kehidupan serba sempit dan jauh dari berkah. Terbukti, hingga kini dunia terus dilanda krisis. Adanya pandemi semakin membebani mayoritas keluarga muslim dengan kehidupan yang serba sulit, sedangkan penguasa seolah masa bodoh dengan kondisi rakyatnya.

Feminisme dianggap Ideal?

Baru-baru ini muncul semacam propaganda dari teks pidato pengukuhan guru besar Alimatul Qibtiyah (UIN Sunan Kalijaga) yang kental aroma feminisme bertajuk “Keluarga Ideal adalah Keluarga Feminis”. Padahal sejatinya, feminisme adalah turunan dari ide sekuler kapitalis. Maka bisa dipastikan, jika akarnya batil, cabang-cabangnya pun batil, menyimpang dari Islam.

Dilansir ibtimes[dot]id, poster ini mengungkapkan narasi, ringkasnya: keluarga feminis mendorong suami dan istri bebas memilih peran terbaiknya, pilihan bebas tanpa paksaan. Sesuai ajaran Islam bahwa Allah hanya melihat kualitas ketakwaan. Keluarga feminis menganggap baik suami atau istri  memiliki tanggung jawab atas dirinya sendiri, anak-anak, dan masyarakat. Dalam keluarga feminis, suami dan istri harus saling menghormati, menyayangi, dan mendukung perkembangan diri dan membantu kesulitan masing-masing, dengan sepadan. Dalam keluarga feminis, jika terjadi bentrok kepentingan, maka suami dan  istri menyelesaikannya dengan cara kompromi dan negosiasi, bukan siapa yang lebih mendominasi. Kesimpulan mereka, hakikat keluarga feminis yaitu hubungan kesalingan (mubadalah) dan keluarga sakinah yang membahagiakan orang lain dan diri sendiri.

Baca juga:  Ibu, Istri, dan Manajer Rumah Tangga: Harga untuk "Perbudakan Mengandung Anak!"

Di sini, aroma liberalisasi atau kebebasan dan kesetaraan dalam pernyataan-pernyataan tersebut sangat kentara, tapi memaksa dikait-kaitkan dengan Islam. Sehingga jika tidak paham Islam dengan benar, bisa terbawa opini “sesat” propaganda ini. Sebab jika dicermati dengan pikiran benar dan lurus, sesungguhnya terdapat kontradiksi antara pernyataan yang satu dan yang lain.

Memang benar Allah menilai seseorang dari sisi ketakwaannya, tapi di pernyataan lainnya justru banyak pelanggaran syariat Islam, seperti qowwam suami; kewajiban masing-masing, baik istri maupun suami, atau ibu dan ayah; juga ketika terjadi perselisihan, seharusnya kembali kepada hukum syara’ bukan kepada pendapat manusia atau kompromi. Takwa bermakna melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, namun yang terjadi malah sebaliknya.

Hanya kepada Islam kita Kembali

Islam telah memberi solusi tuntas atas seluruh permasalahan umat manusia, termasuk masalah keluarga. Bekal iman dan takwa akan mendorong siapa pun untuk melaksanakan aturan-aturan Allah, karena inilah yang akan membawa kepada ketenteraman dan kebahagiaan. Hanya aturan Allah dan Rasul-Nya sajalah yang memuaskan akal, sesuai fitrah manusia, dan tidak akan pernah berubah sampai akhir zaman.

Hanya saja, hukum Islam tidak dapat tegak kecuali dengan menerapkan tiga pilar: pembinaan individu yang mengarah kepada pembinaan keluarga, kontrol masyarakat, dan adanya suatu sistem terpadu yang dilaksanakan Negara sebagai pelaksana aturan Allah dan Rasul-Nya.

Ketakwaan menjadi penentu lahirnya individu-individu muslim yang hanya patuh pada Allah SWT, ikhlas dengan Islam yang diyakininya. Ia akan mampu membentengi diri dari segala sesuatu yang membahayakan kehidupan mereka.

Keluarga muslim yang terbina ketakwaannya akan memahami bahwa terjadinya pandemi ini adalah musibah, ujian, dan bentuk sayangnya Allah untuknya. Yakin ini adalah ketetapan Allah yang akan menjadikannya bersabar menghadapi pandemi ini dan berupaya keras mencari jalan keluar menghadapinya, serta saling bahu membahu dengan sesama anggota keluarga. Situasi ini justru makin memperkukuh ikatan antara ibu, bapak, dan anak-anaknya.

Baca juga:  Tata Cara Rujuk

Islam juga sangat memperhatikan pentingnya hidup bermasyarakat dan menjaga kesehatan masyarakat dengan amar makruf nahi mungkar yang dilakukan menyeluruh, baik di keluarga, lingkungan kaum muslimin, dan jemaah-jemaah dakwah.

Demikian halnya media-media massa, akan membentuk kesadaran umum di masyarakat bahwa aturan Allah dan Rasul-Nya harus diterapkan di muka bumi.

Sementara Negara, sebagai pelindung bagi rakyatnya, akan menjamin terpenuhinya hak-hak warga negaranya berdasarkan aturan Islam. Negara wajib berperan aktif dan turut campur melindungi akidah umat dan menjaga ketakwaan rakyatnya agar tidak mudah tergerus berbagai macam godaan dan musibah yang melanda. Semua ini hanya mungkin terjadi jika syariat Islam diterapkan total dalam naungan Khilafah.

Keluarga Muslim Bahagia dalam Naungan Khilafah

Khilafah Islam adalah sistem pemerintahan berdasarkan akidah Islam. Syariat Islam mengatur seluruh aspek bermasyarakat dan bernegara. Penerapan Islam oleh Khilafah tidak hanya mewujudkan kesejahteraan rakyat, namun juga ketenteraman hidup setiap warganya.

Dengan menerapkan aturan kaffah, keimanan dan ketakwaan rakyatnya akan terjaga, yang akan menjadi benteng tiap muslim untuk menjaga hubungannya dengan Allah SWT.

Dalam pandangan Islam, selain memiliki fungsi sosial, keluarga juga memiliki fungsi politis dan strategis.

Secara sosial, keluarga adalah ikatan terkuat sebagai pranata awal pendidikan primer, dengan ayah dan ibu sebagai sumber pengajaran pertamanya sekaligus tempat membangun dan mengembangkan interaksi harmonis untuk meraih ketenangan dan kebahagiaan satu sama lain.

Secara politis dan strategis, keluarga berfungsi sebagai tempat paling ideal untuk mencetak generasi unggulan, yakni generasi bertakwa, cerdas, dan siap memimpin umat membangun peradaban ideal di masa depan, hingga umat Islam muncul sebagai khayru ummah.

Karenanya, keluarga dalam fungsi-fungsi ini bisa diumpamakan sebagai madrasah, rumah sakit, masjid, bahkan kamp militer yang siap mencetak pribadi-pribadi mujtahid sekaligus mujahid.

Adapun berbagai pembagian peran dan fungsi di dalamnya, termasuk berbagai implikasi pembagian hak dan kewajiban di antara anggota keluarga, dapat dipahami sebagai bentuk keadilan dan kesempurnaan yang diberikan Islam dalam rangka merealisasikan tujuan-tujuan duniawi dan ukhrawi yang mulia ini.

Baca juga:  Ketahanan Keluarga: Antara Harapan dan Kenyataan

Di samping memiliki aturan rinci mengenai hukum-hukum keluarga, Islam juga memiliki seperangkat aturan yang memastikan hukum-hukum ini tegak sempurna, baik yang harus dilaksanakan individu, masyarakat, maupun negara.

Terkait kebutuhan pokok berupa jasa (keamanan, kesehatan, dan pendidikan), pemenuhannya mutlak tanggung jawab negara sebab ketiganya termasuk “pelayanan umum” dan kemaslahatan hidup terpenting.

Negara wajib mewujudkan pemenuhannya bagi seluruh rakyat, seluruh biaya yang diperlukan ditanggung baitulmal. Melalui penerapan seluruh hukum Islam yang satu sama lain saling mengukuhkan, Khilafah akan menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyatnya secara massal dan individual.

Negara juga tidak akan mencampuri urusan privasi sebuah keluarga, akan tetapi negara memastikan setiap anggota keluarga mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik—seorang suami berkewajiban mencari nafkah untuk keluarganya dan bergaul dengan cara yang makruf, sedangkan istri wajib taat kepada suaminya dan menjalankan kewajibannya sebagai ummun wa rabbatul bait—sehingga terwujud kehidupan pernikahan sebagai kehidupan persahabatan, tercipta keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah dan mampu melahirkan generasi berkualitas.

Khatimah

Telah sangat jelas, hanya Khilafah yang mampu menjamin terwujudnya ketenangan dan kebahagiaan dalam keluarga. Islam dengan syariatnya (yang diterapkan Khilafah) akan mampu menjaga rakyatnya dalam keimanan dan ketakwaan yang kukuh, sehingga tidak mudah tergoyahkan derasnya permasalahan yang menghantam atau tipu daya pihak-pihak yang ingin menjauhkan dari Islam, semisal kalangan feminis.

Setiap pasangan suami istri dan anggota keluarga akan saling menguatkan dan berkomitmen melaksanakan kewajiban yang ditetapkan Islam untuknya.

Tidak akan ada anak-anak yang ditelantarkan, kaum perempuan yang dipaksa atau terpaksa bekerja, atau para bapak yang menganggur. Tidak akan muncul kerusakan akhlak generasi karena para bapak dan ibunya meninggalkan kewajiban dan tugasnya.

Karenanya –ketika saat ini Khilafah belum tegak– inilah saatnya bagi kita, umat Islam untuk terus berjuang bersama, bergandengan tangan mengupayakan tegaknya kembali Khilafah Islamiyah di muka bumi ini.

Hanya dengan Khilafah kita akan hidup mulia, bahagia, dan sejahtera. Hanya kepada Allahlah kita berlindung dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Gz]

5 thoughts on “Keluarga Bahagia dalam Naungan Khilafah

  • 3 Oktober 2020 pada 20:31
    Permalink

    Bukti rezim ini tdk berdaya dihadapan covid adalah makin bnyaknya keluarga yg merasakan kehidupannya sempit yang berdampak pada keharmonisan rumah tangga dan kebahagiaan keluarganya

  • 3 Oktober 2020 pada 05:36
    Permalink

    Selain dr tugas penguasa jg tugas kita sebagai kluarga untuk menguatkan aqidah keimanan dan ketaatan kita terhadap syara,krn dlm sistem sekuler ini tak ada jaminan kebahagiaan bg keluarga dan jg umat#saatbya kmbali kpd Islam

  • 2 Oktober 2020 pada 18:44
    Permalink

    Semoga umat Islam kembali sadar dan kembali kepada Islam kaffah dan ALLOH SWT segera menegakkan khilafah dibumi ini,aamiin!

Tinggalkan Balasan