Iringi Seruan Tobat dengan Seruan Taat Syariat, Berani?

Oleh: Rindyanti Septiana, S.H.I.

MusliahNews.com, OPINI – Pada Muktamar IV PP Persaudaran Muslimin Indonesia (Parmusi) tahun 2020 di Istana Bogor, secara virtual Presiden Joko Widodo menyampaikan kata sambutannya. Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak lupa mengingat Allah SWT di tengah pandemi Covid-19. (merdeka[dot]com, 26/9/2020).

Dalam kata sambutannya ia meminta masyarakat berzikir dan tobat. Ia juga mengingatkan untuk memperbanyak sedekah, sebab banyak orang yang keadaannya sulit di tengah pandemi.

Seruan Jokowi untuk beristigfar dan tobat kita sambut dengan baik. Tapi apakah bertobat tanpa diiringi dengan ketaatan pada syariat bisa atasi wabah?

Pandemi kini makin menjadi-jadi. Penambahan kasus positif hariannya sudah mencapai empat ribu lebih. Wabah corona telah mengubah rencana kerja pemerintah yang telah disiapkan sejak awal. Kini, ekonomi negara sedang berada di ambang resesi. Banyak perusahaan yang tutup dan merumahkan sejumlah pegawainya.

Semua protokol kesehatan ternyata tak juga menghentikan penyebaran wabah. Menteri Kesehatan belum juga mengambil langkah apapun guna menghentikan wabah. Presiden akhirnya menunjuk Menteri Koordinator Bidang kemaritiman dan Investasi  Luhut Binsar Panjaitan menangani virus.

Strategi Jokowi Atasi Corona

“Luhut Binsar Panjaitan dianggap tepat untuk mengeksekusi perintah Presiden. Berbekal kepercayaan, Presiden menugaskannya untuk menekan angka positif virus di sembilan provinsi,” ungkap Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden Donny Gahral Adian. (16/9/2020)

Adapun kesembilan provinsi yaitu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua, dan Bali. Semua daerah tersebut penyumbang kasus harian Covid-19 terbanyak. Sementara, strategi yang disiapkan untuk mencapai target Jokowi dalam kurun waktu dua minggu.

Pertama, menyamakan data antara pusat dan daerah untuk mempercepat pengambilan keputusan. Kedua, melakukan operasi yustisi untuk penegakan disiplin protokol kesehatan. Dilakukan dengan menggunakan peraturan pidana.

Ketiga, meningkatkan manajemen perawatan pasien Covid-19 untuk menurunkan angka kematian (mortality rate) dan angka kesembuhan (recovery rate). Keempat, penanganan secara spesifik klaster-klaster Covid-19 di provinsi tersebut.

Baca juga:  Kebijakan Ekonomi Khilafah Jika Menghadapi Corona

Setelah Luhut ditunjuk oleh Presiden untuk melakukan tugasnya selama dua pekan, apakah berhasil menekan kasus positif virus? Doni Monardo mengklaim jumlah kasus aktif virus di Indonesia mulai menurun usai Presiden memerintahkan Luhut mengurui sembilan provinsi.

Tapi faktanya, hingga saat ini penambahan kasus positif hariannya telah menembus empat ribu lebih. Publik harus percaya data yang mana? Klaim dari pemerintah atau informasi penambahan kasus positif harian yang diberitakan setiap harinya?

Tobat Harus Taat Syariat

Allah SWT berfirman, “Dan musibah apa saja yang menimpamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (asy Syura: 30)

Syaikh Abdurrahman as- Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Allah SWT mengabarkan bahwa musibah apa pun yang menerpa seorang hamba, baik menimpa badan, harta, anak-anaknya, atau musibah yang menimpa segala yang dia cintai dan berharga, semua itu disebabkan kemaksiatan yang telah dia lakukan. Bahkan, dosa-dosa yang Allah SWT ampuni lebih banyak. Sebab Allah tidak akan menzalimi hamba-hamba-Nya tetapi merekalah yang menzalimi diri merka sendiri.” (Tafsir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan 1/759)

Seruan tobat yang disampaikan kepala negera seharusnya diiringi dengan ketaatan pada syariat-Nya. Karena Allah SWT tegas menolak keimanan seseorang yang enggan taat pada syariat-Nya.

“Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara apa saja yang mereka perselisihkan, kemudia mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka atas putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa: 65)

Mengingat Allah, mengimani-Nya, tapi mencampakkan segala aturan-Nya serta tidak meneladani Rasul-Nya dalam kehidupan, pertanda ia belum beriman dengan sepenuhnya.

Baca juga:  Keterlaluan, Jualan di Tengah “Panic Game” Corona

Ajakan untuk bertobat dan beristighfar yang disampaikan petinggi negeri terkesan basi-basi belaka jika ia sendiri selaku pemimpin tertinggi tak bersegera untuk menjalankan syariat-Nya secara totalitas.

Silih berganti musibah yang datang, wabah corona makin meradang, seharusnya menjadi peringatan bagi seluruh pejabat negara untuk kembali pada hukum-hukum-Nya. Mengabaikan syariat-Nya hanya akan menuai azab.

Allah SWT berfirman, “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (az-Zumar: 53-54)

Teladan Khalifah dalam Khilafah Atasi Krisis

Pada masa kepemimpinan Khlifah Umar bin Khaththab. Kemajuan Islam banyak dicapai serta sejahtera disebabkan Khalifah Umar memilih kepala daerah atau gubernur yang benar-benar bekerja untuk rakyat. Bukan dari kalangan orang-orang munafik yang mengutamakan diri dan kepentingan kelompoknya.

Pada 18 H, orang-orang di Jazirab Arab tertimpa kelaparan hebat dan kemarau. Saat itu, Khalifah Umar bin Khaththab adalah kepala negaranya. Tahun itu disebut tahun kelabu, jarang ada makanan. Orang-orang pedalaman pergi ke perkotaan, mengadu dan meminta solusi dari Amirul Mukminin.

Teladan pertama yang dilakukan Khalifah Umar ialah ia tidak bergaya hidup mewah. Makanan seadanya, bahkan kadarnya sama dengan rakyat yang paling miskin. Kedua, Khalifah Umar langsung memerintahkan membuat posko-posko bantuan.

Diriwayatkan dari Aslam, “Pada tahun kelabu (masa krisis), bangsa Arab dari berbagai penjuru datang ke Madinah. Khalifah Umar menugaskan beberapa orang ( jajarannya) untuk menangani mereka. Suatu malam, saya mendengar beliau berkata, “Hitunglah jumlah orang yang makan malam bersama kita.” 

Ternyata berjumlah 70 ribu orang. Orang yang sakit dan memerlukan bantuan sebanyak 40 ribu orang. Selang beberapa hari, jumlah orang yang datang dan memerlukan bantuan mencapai 60 ribu.

Tidak berapa lama kemudian, Allah mengirim awam. Saat hujan turun, saya melihat Khalifah Umar menugaskan orang-orang untuk mengantarkan mereka ke perkampungan dan memberi makan juga pakaian. Banyak tejadi kematian di tengah-tengah mereka. Sepertiga dari mereka mati.

Ketiga, Khalifah Umar semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT meminta pertolongan-Nya. Khalifah juga langsung memimpin tobat nasuha karena bencana atau krisis yang terjadi bisa jadi akibat kesalahan-kesalahan dan dosa yang dilakukan Khalifah serta masyarakatnya.

Baca juga:  Virus Corona Mengganas, Ekonomi Indonesia Terimbas

Khalifah menyerukan tobat, meminta ampun kepada Allah agar bencana segera berlalu. Jadi, menyeru masyarakat bertobat sementara kepala negaranya tidak menerapkan seluruh syariat atasi wabah, merupakan teladan yang buruk.

Keempat, Khalifah segera memenuhi kebutuhan makanan rakyatnya. Jika tidak bisa mendatangi Khalifah meminta makanan, makanan akan diantar ke rumahnya. Hal itu terjadi selama beberapa bulan sepanjang masa bencana.

Kelima, Khalifah Umar juga menunda pungutan zakat pada masa krisis dan bencana. Khalifah mulai mengumpulkan zakat pascabencana dan krisis berakhir, saat kelaparan berakhir dan bumi mulai subur. Artinya, Khalifah menilai itu sebagai utang bagi orang-orang yang mampu agar bisa menutupi kelemahan bagi orang-orang yang memerlukan dana agar di baitulmal ada dana setelah semuanya diinfakkan.

Terakhir, perkataan Khlifah Umar yang begitu menohok sekali. Saat ada suatu daerah yang nyaris hancur, padahal daerah itu sudah dibangun dan berkembang. Umar lalu ditanya, “Bagaimana bisa ada kampung yang hancur, padahal sudah dibangun kokoh dan berkembang?” Umar menjawab, “Jika para pembuat dosa lebih hebat dari pada orang-orang yang baik di daerah itu, kemudian pemimpin dan tokoh masyarakatnya adalah orang-orang munafik.”

Sungguh, memilih pemimpin yang amanah dan bertakwa menjadi keharusan agar negeri dan penduduk yang dipimpin dapat hidup aman serta sejahtera. Ketika pemimpin munafik serta abai terhadap syariat-Nya memimpin, negeri dan penduduknya tentu hidup dalam penderitaan. Astaghfirullah. [MNews/Gz]

4 thoughts on “Iringi Seruan Tobat dengan Seruan Taat Syariat, Berani?

Tinggalkan Balasan