Dr. Nazreen Nawaz: Islam dan Sekularisme Ibarat Terang dan Gelap

Keutamaan amar makruf nahi mungkar menampakkan betapa mulianya Islam. Jauh berbeda dengan sistem sekuler, apalagi didukung media, yang justru sarat memuja kebebasan.


MuslimahNews.com, INTERNASIONAL – Islam jelas menolak kebebasan berekspresi hasil dari peradaban sekuler. Dr. Nazreen Nawaz dalam acara live bertema Satu Jam bersama Dr. Nazreen Nawaz, “Dalih Kebebasan Berekspresi untuk Menista Islam”, di kanal YouTube Fareastern Muslimah (Sabtu, 26/9/2020), menjelaskan pandangan tersebut.

Dalam diskusi itu, Dr. Nazreen menyitir QS Al-An’am: 108 yang artinya: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Hal ini merespons penistaan terhadap ajaran Islam yang terus terjadi. Seperti dilakukan majalah Charlie Hebdo yang memuat ulang kartun menghina Rasulullah dan dibela PM Perancis Macron, penusukan ulama, juga penangkapan aktivis muslim yang menunjukkan kecintaannya terhadap ajaran Islam.

“Dengan dalih kebebasan berekspresi, penghinaan kepada Rasulullah, Islam, dan ajarannya masif dilakukan. Ironisnya, aktivitas menyiarkan Islam justru dihalangi,” ujarnya.

Baca juga:  Hipokrisi Prancis dan Penguasa Muslim yang Membebek Barat, Dr. Nazreen: Mengenaskan

Ia mengungkapkan, konsep kebebasan berekspresi bukanlah nilai universal meski Barat menggaungkannya sebagai nilai universal. “Bagaimana bisa seseorang dengan mudahnya menghina sesuai keinginannya?” tanyanya.

Jauh Berbeda dengan Islam

Surah Al-An’am tadi, jelasnya, menampakkan jaminan Islam akan kehidupan masyarakat dengan karakter luhur, harmonis, tinggi moralnya, sampai larangan saling memaki dan mengolok-olok tanpa adab.

Sebenci apa pun umat Islam terhadap agama lain, dilarang menghina sembahan-sembahannya. “Sebagaimana hadis Rasulullah yang menyebutkan bahwa seorang muslim sejati tidak akan terlibat dalam perbuatan mengutuk, menghina, dan sebagainya,” paparnya.

Dampaknya akan lahir masyarakat yang saling menghormati antarsuku, antaragama, dan tidak terjadi disharmonisasi.

“Sangat berbeda dengan konsep kebebasan berekspresi yang sekuler dan sangat bertentangan dengan sistem Islam,  konsep ini justru mengakomodir sikap mengolok-olok termasuk mengolok-olok Tuhan,” tukasnya.

Islam Mewujudkan Masyarakat Beradab

Dr. Nazreen menekankan, setiap ekspresi di depan publik akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Beliau mengisahkan tentang Abu Musa al-Asy’ari ra. dari perkataan Rasulullah Saw., “(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Untuk itu ia mengingatkan, dalam Islam, apa pun ekspresi publik yang dilakukan harus bersifat progresif/produktif, mengajak pada nilai-nilai Islam untuk menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat.

Baca juga:  [Rohingya] Apakah Para Pengungsi yang Mencari Perlindungan itu Kriminal?

“Menyeru manusia untuk berada di jalan yang benar sebagai sarana dakwah amar makruf nahi mungkar, serta dilakukan dengan cara yang baik dan penuh hikmah. Begitulah indahnya kualitas Islam,” urainya.

Allah berfirman dalam QS An Nahl 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Salah satu gambaran kualitas Islam yang tercermin dalam ekspresi publik, disebut Dr. Nazreen, adalah aktivitas menasihati penguasa dan kaum tiran agar menegakkan keadilan. Aktivitas ini menjadi tanggung jawab kaum muslimin, bukan hanya hak melainkan juga kewajiban.

Hal ini jauh berbeda dengan sistem sekuler (yang didukung media), menurutnya justru sarat memuja kebebasan dan diperparah akibat setiran kaum kapitalis yang menyerukan kerusakan di dalam masyarakat seperti LG87, pornografi, dan sebagainya.

“Sungguh berbahaya. Bagaikan dua sisi, Islam dan sekularisme ibarat terang dan gelap,” tandasnya.

Lalu yang manakah sesungguhnya masyarakat beradab itu? “Masyarakat sekuler dengan kebebasan berekspresinya yang penuh kemunafikan dan standar ganda? Atau masyarakat dalam peradaban Islam (dengan nilai luhurnya-red.)?” tanyanya retoris menutup perbincangan. [MNews/Ruh]

3 thoughts on “Dr. Nazreen Nawaz: Islam dan Sekularisme Ibarat Terang dan Gelap

  • 2 Oktober 2020 pada 18:34
    Permalink

    Islam adalah satu”nya agama yg diridho Alloh,dan sangat” pastilah hanya Islam yg akan menjadikan kehidupan didunia ini jadi beradab dengan penerapan hukum” ALLOH SWT Imas

    Balas
  • 2 Oktober 2020 pada 13:12
    Permalink

    Jelas sekali perbedaannya..Islam bercahaya yg mampu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya…

    Balas
  • 2 Oktober 2020 pada 11:44
    Permalink

    Ketenangan atau harmonis akan muncul dalam keteraturan. Teratur >< bebas. Maka wajar jika kebebasan akan melahirkan ketidakharmonisan. Masing2 akan merasa lebih berhak untuk mengekspresikan pendapat dan haknya. Ayo kita kembali kepada keteraturan yang Allah telah ciptakan. Pilih hidup dibawah naungan Islam….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *