Amalan Terbaik dan Istimewa

MuslimahNews.com, NAFSIYAH – Ketika seseorang akan memberikan sesuatu yang khusus bagi orang yang dicintainya, tentu ia akan berikan yang terbaik dan istimewa untuknya. Bukan yang biasa-biasa saja, apalagi berkualitas buruk. Begitu pun juga seseorang yang ikhlas, yang berupaya memberikan amalnya hanya untuk Allah
SWT. Ia akan memberikan amalan terbaik dan istimewa untuk-Nya.

Ikhlas didefinisikan para ulama dengan beramal semata-mata karena Allah. Meski ikhlas amalan kalbu, sesungguhnya dapat dideteksi dari amalan lahiriah pelakunya. Ikhlas juga memiliki konsekuensi yang tidak ringan.

Saat kita ikhlas dalam beramal, berarti menunjukkan bahwa amal kita semata-mata untuk Allah SWT, bukan selain-Nya. Lalu bagaimana jika seorang aktivis dakwah dapat dinilai ia ikhlas dalam aktivitas dakwahnya?

Seorang aktivis dakwah yang ikhlas dapat dilihat dari kualitas dakwahnya, terbaik juga optimal. Ia akan ihsan dalam dakwahnya. Sebaliknya, jika seorang aktivis dakwah tidak ikhlas, maka amalan dakwahnya biasa-biasa saja, cenderung asal-asalan, minimalis, dan seolah-olah dakwahnya bukan karena Allah SWT.

Setidaknya ada beberapa indikasi untuk mengukurnya, misal hanya memberikan waktu sisa bagi dakwahnya; malas menunaikan tugas dakwahnya, sering meninggalkan dakwah; melemparkan beban kewajiban dakwah kepada orang lain, ia berlepas diri dari dakwahnya; tidak bersungguh-sungguh dalam merencanakan juga mengerjakan tugas dakwah; ataupun mudah putus asa hingga gugur di jalan dakwah saat hadapi rintangan dakwah.

Baca juga:  Haram Menjegal Dakwah

Jika kita bagian dari pelaku dakwah, menunaikan amanah-amanah dakwah, tentu bisa menilai, apakah ikhlas dalam berdakwah atau belum? Apakah dakwahnya menjadi amalan yang diterima Allah atau tidak?

Sungguh merugi bagi kita, jika tidak ikhlas dalam melakukannya. Karena Allah dan Rasul-Nya menempatkan dakwah pada kedudukan yang mulia.

Allah SWT berfirman, “Siapakah yang ucapannya paling baik selain dari ucapan orang yang mendakwahi manusia ke jalan Allah, beramal saleh dan berkata, ‘Sesungguhnya aku ini bagian dari kaum Muslim.’?” (TQS Fushshilat [4] : 33)

Rasulullah Saw. juga bersabda, “Siapa saja yang menyeru (manusia) pada petunjuk (al-huda), baginya pahala yang setimpal dengan pahala orang yang dia tunjuki itu.” (HR Muslim)

Pernahkah kita mengetahui kisah Nabi Nuh as. yang tak kenal lelah dalam dakwah dan menjadi hamba Allah yang ikhlas? Bayangkan saja, Nabi Nuh berdakwah tidak kurang dari 950 tahun dan ia lakukan siang dan malam. Begitu pun Rasulullah Saw., tak mungkin kita ragukan perjuangan beliau dalam dakwah. Mempertaruhkan tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa di jalan dakwah.

Semoga Allah jadikan kita aktivis dakwah yang mukhlis, mengikhlaskan dakwah semata-mata karena Allah SWT. Berupaya memberikan amalan terbaik pada-Nya. [MNews/Rnd]

3 thoughts on “Amalan Terbaik dan Istimewa

Tinggalkan Balasan