Khilafah Melindungi Jilbab

Oleh: Nida al Khoir

MuslimahNews.com, TARIKH – Saat ini sedang viral video buatan  DW Indonesia. Video tersebut menayangkan pernyataan seorang feminis, Darol Mahmada tentang dampak sosial anak yang diharuskan memakai hijab sejak kecil. Menurut Darol Mahmada, hal itu dikhawatirkan akan membawa pola pikir anak menjadi eksklusif.

Hijab (menutup aurat) adalah kewajiban dari Allah SWT. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS An Nur: 31 dan Al Ahzab: 59. Banyak hadis Nabi Saw. yang menjelaskan kewajiban berhijab.

Sistem Islam yakni Khilafah menjamin pelaksaaan kewajiban berhijab. Tak hanya itu, Khilafah bahkan melindungi para muslimah dalam berhijab.

Berikut adalah kisah-kisah dalam sejarah khilafah tentang perlindungan Khilafah terhadap hijab.

  1. Kejadian di Pasar Bani Qainuqa’

Diceritakan dalam ar-Rahiq al-Makhtum karya Syaikh Shafiyurrahman Mubarakfury, bahwa ada seorang wanita Arab yang datang ke pasar kaum Yahudi Bani Qainuqa.

Dia duduk di dekat perajin perhiasan. Diam-diam perajin perhiasan ini mengikat ujung jilbabnya. Ketika ia bangkit, auratnya seketika itu juga tersingkap.

Muslimah ini spontan berteriak dan seorang laki-laki muslim yang berada di dekatnya menolongnya dan membunuh Yahudi tersebut. Orang-orang Yahudi kemudian membalas dengan mengikat laki-laki muslim tersebut lalu membunuhnya.

Baca juga:  Menggapai Lailatul Qadar Saat Haid atau Nifas

Kabar tentang kejadian ini sampai kepada Rasulullaah Saw. Rasulullaah Saw. bersama pasukan kaum muslim berangkat menuju tempat Bani Qainuqa dan mengepung mereka dengan ketat.

Bani Qainuqa akhirnya bertekuk lutut dan menyerah setelah dikepung selama 15 hari. Allah SWT memasukkan rasa gentar dan takut ke dalam hati orang Yahudi ini.

Hampir saja semua kaum laki-laki Bani Qainuqa ini dihukum mati oleh Rasulullaah Saw. Namun keputusan itu berubah ketika Abdullah bin Ubay memohon pada Rasulullaah Saw. untuk memaafkan mereka. Akhirnya Rasulullaah Saw.  bermurah hati dan memerintahkan Bani Qainuqa untuk pergi sejauh-jauhnya dan tak boleh lagi tinggal di Madinah.

  1. Kisah di Masa Khalifah al-Mu’tashim Billah, Khalifah Bani Abbasiyah.

Kota Amurriyah yang dikuasai oleh Romawi saat itu berhasil ditaklukkan oleh al-Mu’tashim. Pada penyerangan itu sekitar 3.000 tentara Romawi tewas terbunuh dan sekitar 30.000 menjadi tawanan.

Di antara faktor yang mendorong penaklukan kota ini adalah karena adanya seorang wanita dari sebuah kota pesisir yang ditawan di sana. Ia berseru, “Wahai Muhammad, wahai Mu’tashim!”

Setelah informasi itu terdengar oleh khalifah, ia pun segera menunggang kudanya dan membawa bala tentara untuk menyelamatkan wanita tersebut. Akhirnya kota tempat wanita itu ditawan pun ditaklukkan. Setelah berhasil menyelamatkan wanita tersebut al-Mu’tashim mengatakan, “Kupenuhi seruanmu, wahai wanita!”

  1. Kisah Tentang Sultan al-Hajib al-Manshur

Beliau adalah seorang pemimpin Daulah Amiriyah di Andalusia yang menggerakkan pasukan untuk menyelamatkan tiga wanita Muslimah yang menjadi tawanan di kerajaan Navarre. Saat itu kerajaan Navarre terikat perjanjian dengan al-Hajib al-Mansur. Salah satu perjanjiannya adalah pihak kerajaan Navarre tidak dibenarkan menawan seorang kaum muslimin atau menahan mereka.

Baca juga:  Meluruskan Metode Tafsir Jilbab ala Liberalis (Bagian 1/2)

Kisah ini bermula ketika seorang utusan sultan pergi menuju kerajaan Navarre. Sang utusan berjalan berkeliling dengan raja Navarre. Saat itu ia menemukan tiga orang wanita muslimah di dalam salah satu gereja mereka.

Utusan ini pun akhirnya mengetahui bahwa ketiga wanita Muslimah tersebut ditawan di dalam gereja. Utusan tersebut marah besar dan segera kembali menemui sultan dan menyampaikan kasus tersebut.

Al-Manshur kemudian mengirimkan pasukan besar untuk menyelamatkan wanita tersebut. Betapa kagetnya Raja Navarre ketika melihat pasukan yang siap untuk berperang tersebut.

“Kami tidak tahu untuk apa kalian datang, padahal antara kami dengan kalian terikat perjanjian untuk tidak saling menyerang. Lagi pula kami sudah membayar jizyah,” ucap Sang Raja.

Dengan lantang, pimpinan pasukan muslim mengatakan bahwa kerajaan Navarre telah menawan beberapa wanita Muslimah. Pihak kerajaan menjawab, “Kami sama sekali tidak mengetahui hal tersebut.”

Setelah diperlihatkan ketiga muslimah yang ditawan, Raja Navarre kemudian mengirimkan surat permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada al-Manshur. Ia menyampaikan bahwa akan menghancurkan gereja tersebut. Pasukan Sultan pun kembali ke negerinya dengan membawa ketiga muslimah tersebut.

Demikianlah perlindungan khilafah terhadap kewajiban hijab. Saat ini kewajiban hijab diserang oleh kaum kafir. Muslimah di berbagai negeri dilarang berhijab.

Baca juga:  Propaganda Antijilbab, Upaya Mendistorsi Ajaran Islam (Bagian 2/2)

Hal ini terjadi karena sistem hidup demokrasi sekuler yang diterapkan dunia. Kebebasan yang mereka serukan hanya jargon belaka. Nyatanya muslimah tidak bebas berhijab.

Hanya khilafah sistem yang menjaga para muslimah untuk mengenakan pakaian takwa ini. Tidak hanya dengan seruan. Namun bahkan dengan pengerahan pasukan. [MNews/Rgl]

4 thoughts on “Khilafah Melindungi Jilbab

  • 1 Oktober 2020 pada 21:16
    Permalink

    Masya Allah, Islam memuliakan perempuan

    Balas
  • 1 Oktober 2020 pada 19:20
    Permalink

    Betullah apa yang dikatakan rocky gerung, ijazah hanyalah tanda kita pernah sekolah bukan berfikir.. Miris di negri y mayoritas Islam ini, umat Islam selalu di tindas

    Balas
  • 1 Oktober 2020 pada 14:21
    Permalink

    Islam memuliakan perempuan.
    Hanya Khilafah yang bisa menjaga dan melindungi Perempuan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *