Walimah Al-‘Ursy dalam Tuntunan Syariat (Bagian 2/3)

Sambungan dari bagian 1: https://www.muslimahnews.com/2020/09/25/walimah-al-ursy-dalam-tuntunan-syariat-bagian-1/


Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FIKIH – “Imam Ahmad berkata, “Walimah itu hukumnya sunah”. Menurut jumhur, walimah itu disunahkan (mandub). Jumhur mengatakan hukumnya sunah berdasarkan pendapat asy-Syafi’i rahimahullah.” (Subulus Salam, jil. 2)

Demikian pula pendapat Ibnu Qudamah rahimahullah: “Tiada perbedaan pendapat di antara ahli ilmu, bahwasanya hukum walimah di dalam majlis perkawinan adalah sunah dan disyariatkan (sangat dituntut), bukan wajib.” (Ibnu Qudamah, al-Mughni)
Walimah dilaksanakan dan diselenggarakan oleh suami. Ini adalah sebagaimana perbuatan yang telah dilakukan Rasulullah Saw.  dan diikuti oleh para sahabatnya. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ketika Rasulullah Saw. menikahi seorang perempuan, beliau mengutus aku untuk mengundang beberapa orang untuk makan.” (HR Bukhari, Tirmidzi)

Juga dari Anas ra, Abdurrahaman berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku baru saja menikah dengan seorang wanita dengan mahar satu nawat emas (emas sebesar biji kurma)”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Semoga Allah memberkahimu, adakanlah walimah walau pun hanya dengan menyembelih seekor kambing.” (HR Bukhari, no. 5169)

Walau pun begitu, tidak disyaratkan dalam walimah harus dengan menyembelih seekor kambing. Namun ia dilakukan sesuai dengan kemampuan suami. Karena Rasulullah SAW sendiri pernah melaksanakan walimah untuk Shafiyah dengan menyediakan campuran kurma tanpa biji yang dicampur dengan keju dan tepung di atas sumbangan para sahabat yang hadir. (HR Bukhari)

Mengingat pentingnya posisi walimah sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT dan juga sebagai bukti kecintaan kita kepada Rasulullah Saw., maka dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Tidak boleh menyimpang dari aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Baca juga:  Pemasangan Dua Kata –‘Alâqah dan Masyâkil- di Kitab an-Nizhâm al-Ijtimâ’iy adalah Pemasangan yang Dimaksudkan dan Memiliki Konotasi (Dalâlah)

Rincian Syariat Walimah al Ursy

Islam telah mengatur dengan rinci, antara lain:

1) Prosesi walimah haruslah bersih dari hal-hal yang tidak sesuai dengan aturan Islam.

Terhindar dari hal-hal yang mengandung kemusyrikan atau khurafat. Di masyarakat kita terdapat adat kebiasaan dalam prosesi pernikahan yang dapat menjerumuskan kepada penyekutuan Allah SWT.

Semua amal yang akan merusak aqidah dan bertentangan dengan Islam harus ditinggalkan. Misalnya, menyediakan sesajen agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Juga ritual tertentu yang merupakan adat yang mengandung makna tertentu. Seperti menginjak telur, sawer dan sebagainya.

Juga perhitungan calon pengantin apakah jodohnya baik atau buruk dengan perhitungan weton. Atau kebiasaan menentukan hari baik untuk pesta oleh dukun atau “orang pintar”. “Barang siapa yang mendatangi dukun atau paranormal dan percaya kepada ucapannya maka ia telah mengkufuri apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada Muhammad Saw.” (HR. Abu Daud)

2) Tidak menghadirkan hiburan yang dilarang oleh Allah SWT.

Misalnya disertai minum-minum atau makan yang diharamkan Allah SWT. Adanya hiburan memang tidak dilarang, asalkan tidak bertentangan dengan aturan Islam.

Dari Amir bin Sa’ad dia berkata: “Saya masuk ke rumah Quradhah bin Ka’ab ketika hari pernikahan Abu Mas’ud Al-Anshori. Tiba-tiba beberapa anak perempuan bernyanyi-nyanyi.” Lalu saya bertanya; bukankah anda berdua adalah shahabat Rasulullahsaw dan pejuang Badar, mengapa ini terjadi di hadapan anda? Maka jawab mereka: “Jika anda suka, maka boleh anda mendengarnya bersama kami, dan jika anda tidak suka maka boleh anda pergi. Karena kami diberi kelonggaran untuk mengadakan hiburan pada acara perkawinan.” (HR. Nasa’I dan Hakim).

Baca juga:  Walimah Al-‘Ursy dalam Tuntunan Syariat (Bagian 3/3)

Aisyah mengiringi Fathimah binti As’ad dengan disertai pula oleh Nabith bin Jabir Al-Anshari pada hari-hari pengantinnya ke rumah suaminya. Lalu Nabi saw bersabda: “Wahai Aisyah mengapa tidak kamu sertai dengan hiburan? Sesungguhnya orang-orang Anshar senang hiburan.” (HR. Bukhari, Ahmad dll)

Hanya saja hiburan ini wajib dijauhkan dari hal-hal yang dilarang. Seperti bercampur baur antara laki-laki dan perempuan (ikhtilath), tarian dan gerakan yang dapat membangkitkan syahwat (pornoaksi), perkataan (syair) yang keji dan kotor yang tidak pantas untuk didengar.

Demikian pula penggunaan alat musik, patut diperhatikan lagu atau instrumen yang dihasilkannya, tidak mengandung nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam, seperti musik degung (disertai keyakinan akan keberkahan dari lagu-lagu yang dimainkan), organ tunggal dengan lagi-lagu cinta yang merangsang, dll.

Sebaliknya hiburan yang disajikan selayaknya dapat menggugah para hadirin untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menggugah semangat untuk berkorban dan berjihad di jalan Allah. Atau lagu-lagu yang dapat menumbuhkan kecintaan kepada Allah dan RasulNya, mengingat akan kebesaran dan kenikmatan Allah SWT, seperti nasyid.

Karena itu walimah tidak hanya digunakan sebagai sarana untuk berkumpul dan memenuhi undangan makan. Namun dapat memberi nilai tambah terhadap para hadirin untuk menjadi hamba Allah yang lebih bersyukur atas segala kenikmatan yang telah dianugerahkan kepada semuanya, termasuk keberkahan dari acara walimah tersebut.

Baca juga:  Walimah Al-'Ursy dalam Tuntunan Syariat (Bagian 1)

3) Larangan bagi pengantin, khususnya pengantin perempuan untuk berdandan cantik dan dilihat oleh seluruh tamu undangan, termasuk laki-laki.

Tindakan ini merupakan pelanggaran terhadap hukum tabarruj (terlebih lagi jika pengantin perempuan tidak menutup aurat).

Islam memerintahkan kepada para perempuan untuk menutup aurat dengan sempurna (QS An Nur 31 dan Al Ahzab 59). Serta melarang melakukan tabarruj dengan larangan yang tegas dalam situasi apapun tanpa kecuali.

Allah SWT berfirman: ”Janganlah kalian bertabaruj seperti orang-orang jahiliah yang terdahulu” (TQS. Al-ahzab:33).

Rasulullah saw bersabda, ”Siapa saja wanita yang memakai wewangian kemudian melintas di suatu kaum (laki-laki) agar mereka menghirup wangi wanita itu, maka dia adalah pezina (pelacur)”.

Dalil-dalil diatas dan banyak lagi dalil yang lainnya secara gamblang menunjukkan larangan bertabaruj, maka tabarruj hukumnya haram. Keharaman ini bersifat umum, tidak terkecuali terhadap pengantin dan tamu undangan.

Atas dasar ini, setiap perhiasan yang tidak biasa –umumnya dikenakan pengantin-, memoles wajah dengan warna-warni tertentu, yang dapat menarik pandangan laki-laki dan dapat menampakkan kecantikan wanita adalah termasuk tindakan tabarruj, jika pengantin perempuan muncul di hadapan pria asing (bukan mahrom-nya).

Tetapi jika pengantin perempuan hanya menampakkan diri terhadap tamu undangan perempuan, tidaklah termasuk tabarruj. Dan hanya dikategorikan sebagai berhias dan memakai perhiasan yang hukumnya adalah mubah.

Karena itu guna menghindari pelanggaran terhadap hukum tabarruj ini, maka sudah semestinya tamu laki-laki terpisah dengan tamu perempuan secara mutlak. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Rgl] Bersambung ke bagian 3/3.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *