“Storynomics” Pariwisata DIY, Strategi Baru Dongkrak Ekonomi Daerah?

MuslimahNews.com, LENSA DAERAH – Siapa yang tak kenal Yogyakarta. Kota yang dikenal sebagai Kota pelajar, Kota budaya, juga Kota pariwisata. Berbagai destinasi wisata ada di kota ini. Kekhasan budayanya turut membuat betah siapa pun yang mengunjunginya.

Sebagai Kota Pariwisata, Yogyakarta memiliki ratusan bahkan ribuan destinasi wisata. Potensi wisata ini sudah barang tentu dianggap sebagai sektor strategis untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah.

Salah satu cara untuk dapat meningkatkan promosi potensi wisata yang dimiliki Daerah Istimewa Yogyakarta, adalah melalui pendekatan storynomic. Pendekatan storynomic dinilai korelatif dengan Sustainable Tourism Management (Pariwisata Berkelanjutan).

Menurut World Tourism Organization, pariwisata berkelanjutan menunjukkan adanya keserasian antara kebutuhan ekonomi, sosial, dan di satu pihak mempertahankan integritas budaya, proses ekologi esensial, keanekaragaman hayati, dan sistem penunjang kebutuhan pada lain pihak. Prinsip ini dikembangkan dalam kepariwisataan di skala global dan digencarkan pula di Indonesia. (ekbis.harianjogja.com)

Apa itu Storynomics?

Istilah storynomics mulai populer di dunia pariwisata Indonesia pada pertengahan tahun 2019, ketika Luhut Binsar Panjaitan menyebutnya sebagai strategi pengembangan pariwisata. Pernyataan tersebut ditegaskan Menteri Pariwisata pada kabinet lalu, Arief Yahya yang menyatakan penetapan strategi storynomics tourism merupakan pendekatan yang tepat untuk pariwisata Indonesia.

Storynomics berlandaskan pada kekayaan budaya Indonesia, sehingga nantinya promosi kawasan wisata akan dilakukan dengan narasi storytelling serta dikemas dalam konten menarik yang terkait dengan budaya setempat. (venuemagz.com, 10/8/2019), dan ini semua dijadikan sebagai DNA destinasi.

Destinasi wisata selama ini dipandang hanya berfokus pada “wisata selfie” atau “destinasi Instagrammable”—yang berakhir dengan membangun fasilitas-fasilitas konyol dan tidak sustainable hanya untuk kepentingan foto. Sementara storynomics condong pada memperkuat konten narasi yang sebenarnya banyak dimiliki Indonesia, tetapi belum cukup mendapat panggung.

Baca juga:  Daulat Asing di Balik Pariwisata

Kata storynomics sendiri diambil dari salah satu buku yang direkomendasikan para pelaku ekonomi digital. Buku itu berjudul Storynomics: Story Driven Marketing in the Post Advertising World yang ditulis Robert McKee, yang terbit tahun 2018.

Dongkrak Ekonomi Via Storynomics Wisata Yogya

Keberadaan storynomics yang diadopsi sebagai langkah strategis mendongkrak pertumbuhan ekonomi DIY dari sektor wisata, bukan sekadar mengejar pertumbuhan pengunjung saja, tetapi juga mendorong jumlah belanja para wisatawan.

Kepala Bidang Destinasi Wisata, Dinas Pariwisata DIY Aria Nugrahadi pada 2019 lalu menjelaskan penetapan strategi storynomics tourism didasarkan pada kekayaan budaya Indonesia. “… nantinya promosi kawasan wisata akan dilakukan dengan narasi story telling serta dikemas dalam konten menarik yang terkait dengan budaya setempat.”

Dinas Pariwisata DIY menargetkan penyusunan rencana storynomic  Sumbu Filosofis Yogyakarta dapat selesai akhir tahun ini. Bahkan, ke depan tak hanya storynomic tentang Sumbu Filosofis yang bisa dikemas, tetapi juga akan dikembangkan untuk mengangkat histori budaya Kerajaan Mataram di Kotagede, dari Kedaton Pleret, Kedaton Kerto sampai Imogiri.

Aria mengungkapkan standardisasi dari naskah storynomic masih menjadi kendala. Oleh karena itu, penyusunan standar operasional dari naskah yang akan disampaikan mesti dirampungkan.

Cerita sejarah yang akan disampaikan harus distandarkan dan diterjemahkan dengan baik. Tujuannya, agar cerita yang nanti disampaikan kepada wisatawan dapat mudah dipahami dan tidak keluar dari konteks sejarah dari objek wisata bersangkutan.

Pendekatan storynomics sendiri telah lebih dulu diwacanakan dan dinilai tepat bagi pengembangan lima kawasan destinasi superprioritas yang ada di Indonesia, yaitu Danau Toba (Sumatra Utara), Borobudur (Jawa Tengah), Likupang (Manado), Mandalika (NTB), dan Labuan Bajo (NTT).

Baca juga:  Jebakan Sektor Pariwisata, Pintu Gerbang Penjajahan! Adakah yang Berani Mengubah?

Penetapan kawasan destinasi super prioritas akan mendorong pemerintah untuk membenahi infrastruktur dan mengembangkan industri ekonomi kreatif daerah. Hal tersebut diyakini dapat memajukan pariwisata Indonesia, serta mampu berdampak menyeluruh, termasuk peningkatan kualitas hidup masyarakat di daerah tersebut.

Mengungkap Sejarah Berdimensi Politis

Tak dimungkiri, Yogyakarta memiliki destinasi wisata termasuk wisata sejarah yang cukup banyak. Maka bukan tanpa alasan mengapa Dinas Pariwisata mengadopsi storynomics sebagai strategi baru promosi wisata daerah. Sebagai satu strategi pemasaran, story telling bisa jadi mampu meningkatkan kunjungan wisatawan.

Sayangnya, kepentingan ekonomi jelas terlihat dalam storynomics ini. Terlebih dengan adanya standardisasi naskah storynomics berpotensi mereduksi sebagian sejarah dengan pertimbangan ekonomi. Padahal, sejarah berperan dalam menunjukkan keagungan satu peradaban.

Sebagaimana kesan yang ditangkap dari apa yang disampaikan Aria Nugrahadi dari Dinas Pariwisata DIY bahwa nantinya Kotagede akan dinarasikan sebagai salah satu jejak Mataram Kuno (abad 8). Padahal, Kotagede pernah menjadi ibu kota Kerajaan Mataram Islam sekitar abad ke-16.

Seharusnya, cerita sejarah yang disampaikan mampu menyentuh dimensi kesadaran politis. Bukan sekadar penelusuran jejak sejarah tanpa arti dengan tujuan untuk menarik pengunjung. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari nusantara, Yogyakarta memiliki cerita sejarah yang lekat dengan Islam juga Kekhilafahan Islam.

Jejak Khilafah di Bumi Yogyakarta

Jejak keagungan peradaban Islam di bumi Yogyakarta sendiri layak untuk diungkap dan dipahami sebagai fakta sejarah yang tak terbantahkan. Sebab Kesultanan Yogyakarta merupakan penerus kesultanan Mataram Islam.

Fakta ini diakui secara langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono x pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-6 di Yogyakarta. Saat itu ia menjelaskan hubungan yang erat antara Keraton Yogyakarta dengan kekhilafahan Utsmani di Turki.

Baca juga:  Saat Komodo Terusik karena Kapitalisme

Menurut Sri Sultan Hamengku Buwana X,  bukti bahwa Keraton Yogyakarta merupakan  kelanjutan Khilafah Turki Utsmani ditandai dengan penyerahan bendera hitam dari kiswah Kakbah bertuliskan ‘La Ilaha Illallah’ dan bendera hijau bertuliskan ‘Muhammad Rasul Allah’. Kedua bendera itu masih disimpan di Keraton Yogyakarta.

“Sultan Turki mengukuhkan Raden Patah sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaah illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Kakbah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau,” jelas Sultan dalam pidato sambutannya, ketika itu.

“Duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki,” demikian, tambah Sultan.

Terang saja, jika sejarah ini diungkap secara politis, akan memberi inspirasi para generasi bagaimana mengulang kembali peradaban agung yang pernah ada di Nusantara. Sebaliknya, mereduksi sejarah Islam justru akan memutus nasab negeri ini dengan peradaban Islam yang agung.

Sangat disayangkan, terlebih di tengah cengkeraman kapitalisme sekuler saat ini. Jika storynomics hanya mempertimbangkan sisi ekonomi, bukan tak mungkin negeri ini lupa akan sejarahnya. Atau ada maksud menghapus jejak peradaban Islam di bumi Yogyakarta jika narasi storynomics menjadi standardisasi untuk kepentingan ekonomi? Terlebih di tengah geliat kesadaran masyarakat akan jejak Khilafah di bumi Nusantara.

Ada baiknya kita meresapi pepatah Arab yang mengatakan, “Pelajari sejarah! Karena suatu kaum yang melupakan sejarahnya, Seperti anak pungut yang tidak mengetahui nasabnya.” [MNews/Juan]

7 thoughts on ““Storynomics” Pariwisata DIY, Strategi Baru Dongkrak Ekonomi Daerah?

  • 3 Oktober 2020 pada 01:55
    Permalink

    Sejarah sengaja ditutupi oleh rezim ini demi kepentingan entah siapa

    Balas
  • 2 Oktober 2020 pada 21:26
    Permalink

    suatu kaum yang melupakan sejarahnya, Seperti anak pungut yang tidak mengetahui nasabnya.

    Balas
  • 30 September 2020 pada 19:38
    Permalink

    Sejarah yg sengaja dilupakan

    Balas
  • 30 September 2020 pada 19:35
    Permalink

    Astaghfirullah,… Sejarah yg sengaja dilupakan

    Balas
  • 30 September 2020 pada 19:29
    Permalink

    Astaghfirullah,…

    Balas
  • 30 September 2020 pada 07:44
    Permalink

    Tepat sekali.

    Balas
  • 30 September 2020 pada 07:13
    Permalink

    Politisasi sejarah berdasarkan kepentingan sesaat tidak akan membuahkan sesuatu yang mbawa perubahan hakiki.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *