“Membaca” Sejarah Masuknya Islam ke Nusantara (Bagian 2/2)

Tulisan sebelumnya: Hubungan Kekaisaran Cina dengan Kekhalifahan Islam mengalami zaman terbaiknya pada abad ke-7 dan ke-8. Para Khalifah Islam, baik dari masa Khulafa al-Rasyidin maupun Daulah Bani Ummayah pernah mengirimkan 36 utusannya ke Cina dalam kurun 147 tahun (651-798). Bahkan, salah seorang sahabat Rasulullah Saw., Sa’ad bin Abi Waqqash, yang turut berdakwah ke Cina, wafat dan dimakamkan di Guangzhou.

Oleh: Arini Retnaningsih

MuslimahNews.com, FOKUS – Catatan sejarah menunjukkan Khilafah saat itu tidak abai kewajiban dakwah Islam ke seluruh wilayah yang dikenalnya. Wilayah-wilayah yang menerima Islam menjadi bagian dari kekhilafahan yang sama hak dan kewajibannya dengan kaum muslimin lainnya.

Sedangkan wilayah yang tidak menerima Islam, namun bersedia tunduk di bawah sistem Islam, mereka dilindungi dan diperlakukan sama dengan kaum muslimin dengan tambahan membayar jizyah, seperti kota Yerusalem yang bergabung dalam Daulah Khilafah secara damai pada masa Umar bin Khaththab dengan tetap memeluk agama mereka.

Hal ini sekaligus membantah pendapat pakar Filologi Nusantara, Ahmad Baso, yang menyatakan Nusantara tidak memiliki hubungan dengan Khilafah karena Nusantara tidak pernah mengalami aneksasi wilayah. (nu.or.id/post/read/122856/ahmad-baso-sebut-ada-kekeliruan-tafsir-sejarah-khilafah-di-nusantara). Padahal, aneksasi bukanlah satu-satunya cara perluasan wilayah Khilafah Islamiyah.

Melihat fakta Khilafah menyebarkan Islam ke berbagai wilayah dengan mengirimkan utusan-utusannya, bukan merupakan hal mustahil jika Khilafah melakukan hal yang sama ke Nusantara.

Bukti Masuknya Islam ke Nusantara Merupakan Dakwah Khilafah

Ada banyak bukti berserak bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui para utusan Khilafah. Sepucuk surat didokumentasikan Abd Rabbih (246-329/860-940) dalam karyanya, Al-Iqd al-Farîd, berisi permintaan Raja Sriwijaya, Sri Indrawarman, agar Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengirimkan dai kepadanya.

Potongan surat tersebut ialah sebagai berikut:

Dari Raja Diraja…, yang adalah keturunan seribu raja… Kepada Raja Arab (Umar bin Abdul Aziz) yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.” (Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Edisi Revisi (Jakarta: Prenada Media, 2004)

Baca juga:  Editorial: Apa Dosa Khilafah?

Bahkan, ditemukan literatur pada 30 Hijriah atau 651 M semasa pemerintahan Khilafah Islam Utsman bin Affan (644-656 M), beliau memerintahkan mengirimkan utusannya ke tanah Jawa yaitu ke Jepara (pada saat itu namanya Kalingga). Hasil kunjungan duta Islam ini adalah raja Jay Sima, putra Ratu Sima dari Kalingga, masuk Islam. (Zainal Abidin Ahmad, 1979, Ilmu politik Islam V, Sejarah Islam dan Umatnya sampai sekarang; Bulan Bintang).

Namun, menurut Hamka sendiri, itu terjadi tahun 42 Hijriah atau 672 Masehi (Amrullah, Abdul Malik Karim (2017). Dari Perbendaharaan Lama: Menyingkap Sejarah Islam di Indonesia. Jakarta: Gema Insani Press)

Jejak di Aceh

Di Aceh, dalam hal pengajaran agama, Syarif Makkah yang juga merupakan bagian dari Khilafah Utsmaniyah, mengirimkan utusannya ke Aceh, seorang ulama bernama Syekh Abdullah Kan’an sebagai guru dan mubalig.

Sekitar 1582 M, datang dua orang ulama besar dari negeri Arab yakni Syekh Abdul Khair dan Syekh Muhammad Yamani. Di samping itu, di Aceh sendiri lahir sejumlah ulama besar, seperti Syamsuddin as-Sumatrani dan Abdur Rauf as-Singkeli.

Aceh juga memiliki qânûn (undang-undang) penerapan syariat Islam yang ditulis Abdur Rauf as-Singkeli. Ulama ini termasyhur sampai ke Turki. Di Istanbul, dicetak tafsir Alquran berbahasa Melayu karangan Abdur Rauf Sinkeli dengan tertera: “Dicetak oleh Sultan Turki, Raja seluruh orang Islam.” (Peunoh Daly, Hukum Nikah, Talak, Rujuk, Hadanah dan Nafkah dalam Naskah Mir’at al-Tullab Karya Abd Raauf Singkel, Disertasi Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah (Jakarta, 1982), hlm. 15-36).

Baca juga:  Adakah Jejak Khilafah di Nusantara?

Jejak di Jawa

Di Jawa, menurut Ketua Takmir Masjid Keraton Kasunanan Surakarta, K.H. Muhammad Muchtarom, Utsmaniyah kerap mengirimkan utusan-utusannya, baik untuk menjalin hubungan ekonomi maupun dengan mengirimkan para cendekiawan muslim untuk mensyiarkan Islam terutama pada masa Pakubuwana III, yang semasa dengan Sultan Mahmud I (1730-1754), Sultan Osman III (1754-1757), Sultan Mustafa III (1757-1774), dan Sultan Abdul Hamid I (1774-1789).

Menurut Kiai Muchtarom, pada masa ini Kesultanan Utsmaniyah mengirim ulama-ulama dari tanah Hijaz yang menjadi kekuasaannya ke Surakarta. Termasuk para qadhi atau hakim.

Melalui utusan-utusan Utsmaniyah itu, Keraton Kasunanan Surakarta perlahan-lahan membangun sistem perundang-undangan Islam. Pada kepemimpinan Sri Susuhunan Pakubuwana IV, keraton Surakarta mulai menetapkan hukum syariat Islam menjadi undang-undang negara.

Hubungan itu semakin kuat ketika masa kekuasaan Pakubuwana X (1893-1939). Menurut Muchtarom, pada masa ini banyak literatur-literatur Islam yang dibawa utusan-utusan Utsmaniyah ke Surakarta dan diajarkan kepada masyarakat.

Pada masa ini pula, penerapan hukum Islam sudah menyeluruh pada berbagai masalah. Muchtarom mengatakan kala itu Masjid Agung Keraton Surakarta mempunyai Pengadilan Serambi, tempat di mana pemutusan semua masalah-masalah sesuai hukum Islam.

Syekh Ahmad Akhwan adalah salah satu ulama Timur Tengah yang mensyiarkan Islam di Masjid Agung Keraton Surakarta. Bahkan ia wafat dan dimakamkan di komplek Masjid Agung Keraton Surakarta. (republika.co.id/berita/qfen4j483/takmir-ungkap-jejak-utsmani-di-masjid-keraton-surakarta)

Di Yogyakarta, K.H. Susetyo, salah satu abdi dalem Keraton Yogyakarta mengatakan, ada manuskrip catatan Keraton Yogyakarta mengenai Konco Kaji Selusin, yaitu selompok imam berjumlah 12 orang yang bertugas menjadi penasihat agama.

Menurut Kiai Yoyoh, dua belas imam tersebut aslinya berasal dari Turki. Mereka didatangkan sejak Sultan Muhammad al-Fatih berkuasa. Dua belas imam itu diutus untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Artinya, ujar dia, hubungan antara Utsmani dan Jawa sudah dimulai sejak era Kesultanan Demak.

Baca juga:  Jejak Kelam Penghancuran Khilafah di Libanon

Tidak hanya itu, Kekhalifahan Utsmani juga disebut menitipkan bendera kepada Keraton Yogyakarta. Saat berpidato pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI di Yogyakarta pada 9 Februari 2015, Sri Sultan Hamengkubuwono X menyatakan adanya hubungan Kerajaan Demak dengan Turki Utsmani yang dibuktikan dengan penyerahan bendera.

“Pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan Raden Patah sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, yaitu perwakilan Kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa dengan menyerahkan bendera laa ilaaha illallah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain kiswah Kakbah dan bendera bertuliskan Muhammadadur Rasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Keraton Yogyakarta sebagai pusaka. Penanda keabsahan Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat sebagai wakil kekhalifahan saat itu dari Turki,” kata Sri Sultan.” (republika.co.id/berita/q583g6430/misteri-perang-jawa-dan-hubungannya-dengan-turki-ustmani).

Khatimah

Inilah bukti pengembanan dakwah oleh Khilafah ke seluruh dunia, sehingga sampailah Islam ke Nusantara dan ikut merasakan rahmatan lil ’alamin dari dakwah Islam.

Dari sini kita bisa pelajari bahwa ide Khilafah telah masuk ke Nusantara berabad-abad lalu, meninggalkan akar sejarah yang melekat erat dengan perkembangan Islam di Indonesia.

Ide Khilafah bukanlah ide kontemporer yang dibawa gerakan transnasional, dan ide Khilafah ini bukan ide ahistoris sebagaimana dikatakan para penentang Khilafah di Indonesia.

Catatan sejarah adanya dakwah yang diemban Kekhilafahan Islam ke Nusantara menjadi bukti yang tak bisa diingkari, bahwa khilafah memiliki andil bagi negeri ini di masa lalu.

Saat negeri ini morat-marit dalam penguasaan sistem kapitalis dan butuh solusi, mengapa kita tidak menoleh kembali pada Khilafah, biarkan ia kembali memberikan andil bagi masa depan negeri ini? [MNews/Gz]

3 thoughts on ““Membaca” Sejarah Masuknya Islam ke Nusantara (Bagian 2/2)

  • 2 Oktober 2020 pada 16:24
    Permalink

    Catatan sejarah adanya dakwah yang diemban Kekhilafahan Islam ke Nusantara menjadi bukti yang tak bisa diingkari, bahwa khilafah memiliki andil bagi negeri ini di masa lalu.

    Balas
  • 30 September 2020 pada 10:15
    Permalink

    Sungguh bukti yg otentik bahwa ada tersebarnya Islam di Nusantara berkat jasa khilafah islam

    Balas
  • 29 September 2020 pada 21:57
    Permalink

    Udah bagian II, mari membaca sampai tamat.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *