Editorial: Jebakan Batman Ide Setara Upah

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Kesenjangan upah berdasar gender masih dipandang sebagai masalah besar di Indonesia. Karenanya Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan UN Women terus mendukung agar kesetaraan upah bisa segera terwujud di negeri ini.

Hal tersebut disampaikan Direktur ILO untuk Indonesia Michiko Miyamoto melalui keterangan persnya menjelang peringatan Hari Kesetaraan Upah Internasional, pada 18 September lalu. Indonesia sendiri baru kali pertama turut memperingati momen ini dan mendukung gerakan global kesetaraan upah.

+++++

Terkait hal ini, PBB telah mengeluarkan Konstitusi ILO tahun 1919 dan Konvensi Soal Upah yang Setara di tahun 1951. Sementara, Indonesia mulai meratifikasi konvensi ini tahun 1958.

Dua badan PBB, yakni ILO dan UN Women telah memimpin pendirian Koalisi Internasional untuk Kesetaraan Upah (Equal Pay International Coalition/EPIC). Bersama dengan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) dunia.

Data global menyebut, diskriminasi upah memang masih parah. Perempuan dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki, dengan perkiraan kesenjangan upah sebesar 16 persen. Sementara di Indonesia kesenjangan mencapai 23 persen.

Bahkan menurut ILO, perempuan terkondisi untuk mendapatkan pekerjaan bernilai rendah dan tak punya kesempatan untuk menutup kesenjangan upah berdasarkan gender.

Di Indonesia misalnya, jumlah perempuan pekerja yang bekerja sebagai profesional kurang dari 50 persen. Hanya 30 persennya yang menduduki posisi manajerial. Itu pun dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki, meskipun pendidikannya lebih tinggi dibanding laki-laki.

Kesenjangan ini ditengarai berdampak negatif bagi perempuan dan keluarganya. Karena keduanya merupakan kelompok yang rentan oleh ancaman kemiskinan. Apalagi pada situasi yang makin sulit di masa pandemi Covid-19 ini.

Terlebih faktanya kebanyakan kaum perempuan terlibat dalam sektor ekonomi yang paling terdampak krisis. Seperti sektor akomodasi, makanan, penjualan dan manufaktur. Serta dalam sektor informal yang tidak memiliki jaminan asuransi kesehatan dan perlindungan sosial.

Baca juga:  Perempuan dalam Lingkaran Kekuasaan

Karenanya, PBB terus mendorong pemerintah, pengusaha, pekerja dan organisasi mereka untuk membuat kemajuan nyata dan terkoordinasi menuju tujuan ini. Yakni melalui aksi-aksi bersama menentang diskriminasi berbasis gender.

+++++

Di era hegemoni kapitalisme, ide kesetaraan upah dan gender telah menjadi senjata untuk meyakinkan bahwa sistem ini tak bermasalah. Propaganda ini telah berhasil melakukan kamuflase. Seolah kapitalisme tetap memberi harapan bagi kaum perempuan selama mereka mau berjuang.

Padahal diskriminasi dan kemiskinan perempuan merupakan buah busuk penerapan kapitalisme. Sejak sistem ini berdiri, persoalan diskriminasi tak kunjung terselesaikan. Meski ketika negara-negara besar -melalui PBB- mengajak seluruh dunia untuk menghapusnya.

Pasalnya, sistem ini lahir dari buah pikir manusia yang rakus dan tak mau terikat dengan agama. Sehingga meniscayakan penguasaan faktor-faktor ekonomi dunia oleh segelintir pihak saja.

Tak heran jika jelang World Economic Forum di Davos, Swiss Januari lalu, Badan Amal Oxfam meliris laporan. Isinya, saat ini 2.153 orang terkaya di dunia memiliki uang lebih banyak dari pada 4,6 miliar orang paling miskin di dunia.

Para penjaga sistem kapitalisme sangat berkepentingan mendorong kaum perempuan untuk masuk pasar tenaga kerja. Selain sebagai pemasok buruh murah, kaum perempuan harus memiliki dayabeli agar menjadi pasar bagi produk mereka.

Perempuan  dipandang lebih menguntungkan dibandingkan dengan laki-laki. Sehingga kaum perempuan rentan dieksploitasi dalam arus industrialisasi dan kapitalisasi global.

Demi menutup wajah busuknya, narasi “pemberdayaan ekonomi dan politik perempuan” pun dipilih sebagai kemasan. Mirisnya, jualan mereka laku di pasar global. Termasuk di negeri-negeri muslim yang sudah lama disekularisasi dan dimiskinkan.

Baca juga:  Menagih Janji Manis Ide Kesetaraan Gender

Racun kebebasan dan konsumerisme yang berkelindan dengan kemiskinan akut telah menjadikan kaum perempuan rela menempuh bahaya di belantara dunia kerja.

Mereka dieksploitasi tenaga dan kehormatannya. Semua mengatasnamakan perjuangan kesetaraan dan spirit pemberdayaan perempuan.

Gagasan ini justru diadopsi oleh para penguasa sebagai solusi untuk menutup kegagalan mengurus rakyatnya. Para penguasa dibantu cheerleaders-nya gigih mengaruskan gagasan ini hingga ke level grassroot dengan berbagai cara.

Situasi pandemi dan krisis ekonomi yang berlarut menjadi pintu masuk untuk menancapkan doktrin soal urgensi gagasan ini. Mesin pemutar roda kapitalisme yang nyaris mandek butuh support tenaga kerja murah agar kembali berjalan.

+++++

Mereka terus mendorong kaum perempuan menjadi bumper ekonomi. Sembari terus mengiming-imingi kaum perempuan, seolah hak-hak mereka sedang gigih diperjuangkan. Bangga dengan gelar womenomic yang dielu-elukan.

Kaum perempuan di dunia Islam terus diberi harapan. Saat mereka terjun ke dunia kerja dengan upah pas-pasan, seolah pintu kesejahteraan terbuka lebar. Padahal pintu itu telah lama tertutup rapat sejak mereka mengadopsi sistem rusak yang hakekatnya merupakan penjajahan.

Begitu apik negara-negara adidaya beserta seluruh alat dan antek-anteknya berusaha menutup semua kebohongan demi mempertahankan sistem kapitalisme global.

Namun, makin hari, bau busuknya tak mampu lagi ditutup-tutupi. Karena borok-boroknya kian menjalar dan membawa pada kehancuran. Mulai tataran individu, keluarga, masyarakat hingga negara.

Perusahaan Hubungan Masyarakat Edelman melakukan jajak pendapat tentang kepercayaan masyarakat terhadap kapitalisme global.  Hasilnya, sebanyak 56 persen responden berpikir kapitalisme lebih banyak merusak dibandingkan bermanfaat. Padahal pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan naik di banyak negara.

Rupanya masyarakat dunia mulai sadar, bahwa tingginya angka pertumbuhan hanyalah alat kebohongan para penguasa untuk membodohi rakyat dunia. Terbukti, kesejahteraan itu hanya milik segelintir pemilik modal. Sementara mayoritas rakyat hidup dalam kesulitan.

Baca juga:  Berkedok Kesetaraan Upah, Perempuan dalam Pusaran Eksploitasi Ekonomi

Kenyataan ini semestinya menyadarkan umat Islam, bahwa sistem buatan manusia sama sekali tak layak dipertahankan. Sistem ini telah mencabut kemuliaan mereka, termasuk kemuliaan kaum perempuan.

Islam memberikan kesetaraan hakiki yang sesungguhnya dibutuhkan manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Yakni berupa posisi yang sama di hadapan Sang Pencipta Alam Semesta, sekalipun adakalanya diberi peran yang berbeda.

Islam begitu menghargai kaum perempuan, sebagaimana menghargai kaum laki-laki. Penghargaan itu, salah satunya tampak dari pemberian posisi yang politis dan strategis sebagai ibu bagi anak dan generasi. Posisi ini adalah tumpuan peradaban Islam.

Perempuan berdaya dalam Islam, tak diukur dengan besarnya jumlah penghasilan. Tapi diukur seberapa sukses seorang perempuan menjalankan peran keibuan.

Ketika ada perempuan yang sukses di luar peran keibuan, itu dipandang sebagai tambahan kesalehan yang menambah kemuliaan di hadapan Sang Pencipta Alam.

+++++

Islam tak melarang kaum perempuan bekerja mengaktualisasikan diri di luar rumah. Sepanjang tak melanggar ketetapan syariat Islam. Bahkan penerapan Islam kaffah oleh negara, akan menjadikan kiprah perempuan lebih optimal sebagai penyumbang peradaban.

Di dalam sistem Islam, hak-hak kaum perempuan akan terjaga. Mulai hak politik, ekonomi, keamanan, pendidikan, kesehatan dan finansial. Termasuk hak mendapat reward yang layak saat mereka bekerja, sesuai akad yang disepakati.

Maka, tak ada pilihan selain segera kembali ke pangkuan sistem Islam (khilafah). Sebuah sistem yang selama belasan abad berhasil membuktikan bahwa kesejahteraan, keadilan dan kesetaraan bukanlah mimpi semata. [MNews/SNA]

4 thoughts on “Editorial: Jebakan Batman Ide Setara Upah

  • 3 Oktober 2020 pada 20:21
    Permalink

    Astagfirullah… Beginilah jadinya jika kita masih percaya sama sistem yg benar” tidak ada adilnya sama sekali untuk rakyat, makanya mari kita cerdas melihat, bahwa allah telah menurunkan aturan untuk umat islam..

    Balas
  • 2 Oktober 2020 pada 16:14
    Permalink

    tak ada pilihan selain segera kembali ke pangkuan sistem Islam (khilafah)

    Balas
  • 30 September 2020 pada 12:03
    Permalink

    Sistem kapitalis ini biang persoalan negeri.saatnya campakkan!!!!
    Sambut peradaban Islam yg gemilang di bawah naungan KHILAFAH rosyidah’alaa minhajinubuwwah.

    Balas
  • 29 September 2020 pada 21:44
    Permalink

    Khilafah solusi segala masalah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *