Peringatan 75 Tahun PBB, Persatuan yang Terkoyak

Oleh : Pratma Julia Sunjandari

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL – Menandai 75 tahun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 24 September 2020, mantan Sekretaris Jenderalnya, Ban Ki Moon menyebut multilateralisme sedang dalam kekacauan serius[1].  PBB adalah lembaga multilateral terbesar. Menghimpun 193 negara.  Amerika Serikat yang menjadi penggagas utama kelahiran PBB –bersama Inggris, Rusia dan Cina- menjadi ‘penghancur’ utama gagasan multilateralisme itu.

AS Ingkari Multilateralisme

‘America First’, kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump membuat AS mengabaikan beberapa perjanjian multilateral seperti perjanjian Iklim Paris hingga kesepakatan nuklir Iran[2] yang diinisiasi PBB.  Trump memang pemuja unilateralisme, yakni doktrin yang mendukung tindakan sepihak[3].

Dalam pidato virtual di depan Sidang Umum PBB (22/9), Trump menyatakan semua pemimpin dunia harus mengikuti teladannya untuk mengutamakan negara sendiri.  Dia sesumbar, jika terpilih kembali, unilateralismenya akan menjadi lebih jelas, dan PBB mungkin akan semakin terpinggirkan oleh Washington[4].

Amerika mengubah haluan politik, saat berkembang superioritasnya.  Kondisi itu amat berbeda ketika Presiden ke-32 AS, Franklin D. Roosevelt menandatangani Piagam Atlantik pada Agustus 1941 yang menandai pendirian PBB.

Usai Perang Dunia ke-2, sebagai pemain baru dalam politik global, AS harus bersaing dengan sesama pemenang perang.  Karena itu AS menghimpun negara-negara lain untuk melakukan kontrol terhadap manuver pesaing-pesaingnya tersebut.  Negara-negara kuat menyetujui perjanjian multilateral tersebut karena memiliki hak istimewa untuk menetapkan aturan, memiliki hak veto dan status khusus.

Superioritas AS tak terbendung sejak memenangkan perang dingin pada tahun 1991.  Sekjen PBB periode 1997-2006, Kofi Annan berpendapat bahwa AS cenderung bertindak secara sepihak dalam situasi dengan implikasi internasional.

Tren ini dimulai ketika Senat AS, pada bulan Oktober 1999, menolak meratifikasi Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty (Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif ) yang telah ditandatangani Presiden Bill Clinton September 1996[5]. Karena itu, sekalipun Majelis Umum PBB telah mengadopsinya menjadi multilateral treaty pada 10 September 1996, tetapi belum diberlakukan, karena delapan negara tertentu belum meratifikasi perjanjian itu[6].

Di bawah George W. Bush, AS menolak perjanjian multilateral seperti Protokol Kyoto, Pengadilan Kriminal Internasional, Perjanjian Ottawa yang melarang ranjau darat dan rancangan protokol untuk memastikan kepatuhan negara-negara dengan Konvensi Senjata Biologi. Sebagai negara yang paling kuat, AS akan mengalami kerugian paling sedikit karena meninggalkan multilateralisme.

Baca juga:  Staf PBB dan UNICEF Bertanggung Jawab pada 60 Ribu Pemerkosaan dalam Satu Dekade, Pengamat: Dunia Butuh Islam

Saling Tuding

Karena itu Duta Besar AS untuk PBB, Kelly Craft, dalam pidatonya di Dewan Keamanan PBB (24/9) berani mencerca WHO yang dituduhnya membantu kampanye China untuk tidak bekerja sama dan berbohong kepada dunia sehingga menyebabkan penyebaran virus Corona ke seluruh dunia[7].

Craft mengulang pidato Trump yang menuntut China bertanggungjawab karena keputusan Partai Komunis China menyembunyikan asal mula virus dan menekan kerja sama ilmiah yang mengubah epidemi lokal menjadi pandemi global[8].

Saling tuding tentang siapa yang bersalah dalam menangani dan mempolitisasi pandemi, makin menajam dalam pertemuan organ elit PBB, Dewan Keamanan.  Duta Besar China untuk PBB, Zhang Jun, secara tegas menentang tuduhan AS yang menyebarluaskan virus politik, disinformasi, dan menciptakan konfrontasi.  “AS harus memahami bahwa kegagalannya dalam menangani Covid-19 adalah kesalahannya sepenuhnya,” lanjutnya.

Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, menyatakan penyesalannya bahwa Craft menggunakan pertemuan tersebut “untuk membuat tuduhan tidak berdasar” terhadap salah satu anggota dewan[9].

Era kesepakatan Big Four memang telah lama berakhir, tak lama setelah PBB berdiri.  Empat besar -AS, Inggris, Uni Soviet dan China- yang merumuskan tujuan, struktur,dan fungsi United Nations[10]tak lagi bersekutu membagi pampasan perang buah kemenangan mereka dalam perang dunia.  Padahal persatuan itu dibutuhkan saat ini, sebagaimana tema 75 tahun PBB, The Future We Want, the United Nations We Need: Reaffirming Our Collective Commitment to Multilateralism[11].

Pandemi virus corona telah mengubah tatanan dunia, sebagaimana diprediksi politisi veteran AS, Henry Kissinger (4/4/2020).  Kissinger menulis, pandemi Sars Cov-2  ini akan menyebabkan keberlanjutan kekacauan politik dan ekonomi selama beberapa generasi.  Dunia mulai ‘menyambut’ kekacauan itu.

Sekalipun Presiden Cina, Xi Jinping tidak berniat memasuki Perang Dingin[12] namun sikap unilateralisme AS dan persaingan yang semakin memanas antara AS dan China, mengakibatkan gesekan geopolitik.  Dewan Keamanan PBB lumpuh, sehingga banyak pekerjaan produktif PBB yang macet.[13]Kita bergerak ke arah sangat berbahaya, harus menghindari Perang Dingin baru” ujar Sekjen PBB, Antonio Guterres.

Cina yang saat ini secara jelas memposisikan dirinya sebagai pendukung baru PBB[14], tentu menjadi pendukung utama multilateralisme yang berpusat pada PBB sebagaimana pernyataan Menlu China, Wang Yi[15].

Berebut Pasar Vaksin

Benarkah para anggota DK PBB bakal tulus menyelesaikan seluruh masalah dunia, bukan hanya terkait bisnis vaksin?  Bagaimanapun juga, semua negara di dunia yang didominasi kapitalisme sedang berjuang keluar dari resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19.  Sebagaimana isi pidato Jokowi di depan Majelis Umum PBB, vaksin adalah penentu dalam perang melawan pandemi[16].

Baca juga:  World Economy Forum: Ajang Memperlebar Kesenjangan Ekonomi Dunia

Hampir semua negara bergantung pada produksi vaksin, yang jelas-jelas dikapitalisasi korporasi farmasi negara besar.  Di sinilah the Big Four turut bersaing ketat memperebutkan ceruk pasar yang amat luas.

Xi Jinping mengumumkan bahwa Beijing akan memberi tambahan USD 50 juta bagi rencana tanggap kemanusiaan global Covid-19 PBB.  Negaranya membuat kemajuan dalam vaksin[17].

Paling tidak, China telah meyakinkan Indonesia yang khusus mengirim Menlu Retno Marsudi dan Menteri BUMN Erick Thohir ‘bekerja sama’ dengan dua perusahaan Sinopharm dan CanSino Biologics, setelah sebelumnya menggandeng Sinovac[18] bermitra dengan Biofarma.

Trump tak mau kalah dengan memastikan pihaknya akan memproduksi massal vaksin virus Corona sebelum pemilu Presiden Amerika 3 November yang akan datang[19]. Pemerintah Inggris dan AS berlomba untuk membuat kesepakatan dengan perusahaan farmasi untuk mendapatkan pasokan vaksin Covid-19.

Saat ini, baru Rusia dengan vaksin Covid-19 Sputnik-V sebagai vaksin pertama yang dicatatkan secara resmi[20].Dalam pidato melalui video di PBB (22/9), Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Moskow siap memberi vaksinnya secara gratis supaya PBB bisa memvaksinasi stafnya[21].

Anggota Big Four terakhir, Inggris, lewat Menlu-nya, Dominic Raab, mengatakan kesuksesan KTT  Vaksin Global yang diselenggarakan Inggris pada bulan Juni telah mengumpulkan USD 8,8 miliar. WHO bekerja sama dengan kelompok penanggulangan pandemi, Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI)  dan perkumpulan negara untuk isu vaksin, Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI).

Setidaknya 80 negara kaya, termasuk Inggris menggagas rencana vaksin global (Contemporary Culture Virtual Archive in XML/Covax)untuk mengumpulkan Rp 29 triliun sebelum 2021 yang diklaim akan digunakan membeli dan mendistribusikan obat-obatan secara adil.  Dengan mengumpulkan sumber daya di Covax, anggota koalisi berharap jamin 92 negara berekonomi rendah di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan, untuk mendapatkan akses terhadap vaksin virus[22].

Namun semua itu bukan kerja donasi gratis, ada harga yang harus dibayar. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyatakan kementeriannya telah menyiapkan anggaran sebesar Rp3,8 triliun untuk pembayaran uang muka vaksin corona yang dikembangkan WHO bersama GAVI dan CEPI melalui skema pembiayaan ‘sukarela’ kepada COVAX Advance Market Commitment (AMC)[23].

Baca juga:  World Economy Forum: Ajang Memperlebar Kesenjangan Ekonomi Dunia

Khatimah

Demikianlah dunia ini ditata.  Ideologi Kapitalis telah memaksa dunia turut bermain dan menderita dalam tatanan global yang dibuat demi keuntungan mereka.

Untuk apa harus mengikuti bahkan bergantung pada ‘bantuan’mereka?  Bukankah mereka sendiri lemah dan rapuh dalam menghadapi kesulitan dunia, termasuk pandemi Covid-19?  Padahal hanya Allah SWT sajalah yang Mahatahu kapan pandemi, krisis dan semua kesulitan ini bakal berakhir.

Sudah saatnya negeri-negeri muslim melepaskan keterikatannya pada PBB karena syariat Islam mengharamkan bersikap wala’ (loyal) pada kaum kafir.  Kalaupun mereka belum mau meluruskan keimanannya, realitas membuktikan bahwa negara-negara kafir itupun lemah dalam mengatasi segala masalah yang ditimbulkan oleh mereka sendiri.

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 41)

PBB tak bisa digunakan sebagai tempat berlindung.  Termasuk berharap masalah Palestina, Myanmar, Uighur atau Khasmir diselesaikan dan berpihak pada kepentingan muslim.  PBB juga tak bakal menghentikan derita muslim Suriah, Yaman atau Afghanistan akibat konflik yang diciptakan para pemilik hak veto.

Apalagi kelahiran PBB tak bisa dilepaskan dari Liga Bangsa-bangsa yang sengaja didirikan untuk melestarikan kekuasaan keluarga Kristen Eropa (Holy Alliance). LBB didirikan untuk membagi bekas kepemilikan Jerman dan Daulah Khilafah Utsmaniyyah yang kalah dalam Perang Dunia ke-1.

Karena itu menyelesaikan carut marut masalah yang membelit dunia, hanya dengan mewujudkan negara adikuasa baru, pengganti supremasi AS ataupun negara kuat lainnya, yakni Khilafah Islamiyah.

Bukan sekadar mewujudkan persatuan dan kerjasama multilateral palsu. Namun Khilafah Islamiyah mampu menyatukan semua perbedaan tanpa harus menyebabkan penderitaan dunia. Bahkan, atas izin Allah SWT, semua masalah akan terurai satu demi satu sebagai buah penerapan syariat Islam kaffah sebagai jaminan rahmatan lil ‘alamiin. [MNews/Rgl]


[1]https://www.bbc.com/indonesia/dunia-54260352

[2]Ibidem1

[3]https://en.wikipedia.org/wiki/Unilateralism

[4] Ibidem 1

[5]https://en.wikipedia.org/wiki/Multilateralism

[6]https://en.wikipedia.org/wiki/Comprehensive_Nuclear-Test-Ban_Treaty

[7]https://www.voaindonesia.com/a/as-kecam-who-di-dewan-keamanan-pbb-/5596357.html

[8]https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200925091109-134-550786/as-china-dan-rusia-cekcok-bahas-pandemi-di-dk-pbb

[9] Ibidem 8

[10]https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/31/163000469/sejarah-berdirinya-pbb?page=all

[11]https://kemlu.go.id/portal/id/read/1707/berita/menlu-ri-75-tahun-berdiri-pbb-harus-perkuat-relevansi-dan-adaptasi-hadapi-tantangan-global

[12]https://www.matamatapolitik.com/horor-sidang-majelis-umum-pbb-dipicu-konflik-corona-as-china-news/

[13]https://www.voaindonesia.com/a/peringatan-75-tahun-pbb-di-tengah-pandemi/5591743.html

[14]Ibidem 1

[15]Ibidem 8

[16]https://www.voaindonesia.com/a/china-as-rusia-soroti-respons-covid-19-di-pbb-/5594351.html

[17]Ibidem 16

[18]https://www.inews.id/finance/makro/selain-sinovac-indonesia-kembali-gandeng-2-perusahaan-china-produksi-vaksin-covid-19

[19]https://news.detik.com/internasional/d-5123418/trump-pastikan-amerika-produksi-vaksin-corona-sebelum-november

[20]https://dunia.tempo.co/read/1375844/novavax-pasok-100-juta-dosis-vaksin-covid-19-ke-amerika/full&view=ok

[21]Ibidem 16

[22]https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-54252635

[23]https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200827143216-32-539961/terawan-siapkan-rp38-t-buat-uang-muka-vaksin-corona-who

One thought on “Peringatan 75 Tahun PBB, Persatuan yang Terkoyak

  • 2 Oktober 2020 pada 08:37
    Permalink

    Khilafah Islamiyah mampu menyatukan semua perbedaan tanpa harus menyebabkan penderitaan dunia

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *