“Membaca” Sejarah Masuknya Islam ke Nusantara (Bagian 1/2)

Oleh: Arini Retnaningsih

MuslimahNews.com, TSAQAFAH – Membaca sejarah adalah hal yang bisa dilakukan tiap orang. Tapi “membaca” dalam arti memahami dan menangkap apa yang di balik peristiwa sejarah sejarah, tidak semua orang mampu melakukannya. Hal ini karena sejarah memiliki subjektifitas yang tinggi, ditulis dalam kerangka pandang tertentu yang bersumber dari pemahaman penulisnya.

Sejarah Islam, bila ditulis oleh nonmuslim yang memiliki tendensi tertentu, atau memiliki cara pandang tertentu terhadap Islam, maka sifatnya sudah tidak objektif lagi. Ada upaya-upaya untuk mengarahkan sejarah pada apa yang ia inginkan dalam memandang Islam.

Sebagaimana dinyatakan Winston Churchill bahwa “history has been written by the victors”, sejarah ditulis oleh para pemenang, sejarah Islam telah mengalami distorsi begitu umat Islam berhasil dipinggirkan dari peta konstelasi perpolitikan internasional.

Contoh, Khilafah Islamiyah yang merupakan institusi penerap syariat Islam diidentikkan dengan peperangan, pertumpahan darah, aneksasi wilayah, dan perebutan kekuasaan. Hal ini menyebabkan umat Islam sendiri, yang tidak memahami sejarah, dihinggapi fobia terhadap Khilafah.

Di Indonesia sendiri, upaya perjuangan menegakkan Khilafah juga seringkali ditolak dengan alasan khilafah tidak dikenal dalam sejarah Indonesia, Khilafah ahistoris, Indonesia tidak pernah ditaklukkan Khilafah sehingga tidak pernah menjadi bagiannya, dan seterusnya. Semua ini terkait dengan bagaimana kita membaca sejarah.

Membingkai Sejarah Islam

Kebanyakan sejarah Islam justru ditulis nommuslim, misal buku The Preaching of Islam karya penulis Inggris Thomas W Arnold (w. 1930), Prof. HAR Gibb (w. 1971) yang berasal dari Inggris juga menyusun buku Studies on The Civilization of Islam, atau John L Esposito yang menyusun The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, sudah diterjemahkan dengan judul Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern oleh Penerbit Mizan (2001), dan lain-lain.

Maka ketika membaca sejarah tulisan mereka, kita akan digiring ke dalam sudut pandang mereka, sehingga tanpa kita sadari kita masuk dalam perangkap, terpatri dalam benak kita apa yang menjadi tujuan mereka ketika menulis.

Baca juga:  Pesan Liqo' Muharram Mubalighoh 1442 H: Tak Bisa Ditolak, Islamnya Nusantara karena Ada Peran Khilafah

Misalnya, bagaimana ketika kita di sekolah dulu diajarkan bahwa Musthofa Kemal Pasha adalah pahlawan Turki, membebaskan Turki dari sistem Khilafah otoriter yang menjadikan negara Turki lemah sehingga dijuluki The Sick Man of Europe. Ada fakta sejarah yang disembunyikan bahwa Musthofa Kemal adalah antek Yahudi dan Inggris yang membuat persekongkolan untuk meruntuhkan Khilafah Islam.

Sejarawan orientalis, mewarisi kebencian turun-temurun dari leluhur mereka yang terpaksa tunduk kepada Shalahudun Al Ayubi saat Perang Salib. Sedangkan sejarawan kapitalis memiliki kepentingan menghambat kebangkitan Islam. mereka tahu persis, kebangkitan Islam berarti dikuburkannya kapitalisme. Karena itu mereka membuat sejarah dari kacamata mereka dan memaksa kaum muslimin membaca juga dengan kacamata tersebut.

Melihat sejarah dengan kacamata yang salah akan menghasilkan kesimpulan yang salah. Maka, penting bagi kaum muslimin untuk memiliki kacamata sendiri, yang dengannya ia mampu membaca fakta sejarah dan menilainya.

Kacamata tersebut adalah akidah Islam beserta pemikiran yang terpancar darinya. Dengan kacamata ini, maka semua peristiwa sejarah bisa kita bingkai dengan sudut pandang yang khas, sehingga menghasilkan pemahaman yang sahih.

Teori Masuknya Islam ke Nusantara

Paling tidak ada tiga teori yang menjelaskan kedatangan Islam pertama kali ke kawasan Timur Jauh, termasuk ke Nusantara.

Teori pertama adalah Teori Gujarat yang dilontarkan Snouck Hurgronje. Ia mengatakan Islam masuk dari Gujarat, Bengali, dan Malabar di India.

Dalam buku L’arabie et les Indes Neerlandaises, Snouck mengatakan, teori tersebut didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam pada masa-masa awal, yaitu pada abad ke-12 atau 13 M. Snouck juga mengatakan, teorinya didukung adanya hubungan yang terjalin lama antara wilayah Nusantara dengan daratan India.

Teori kedua, adalah Teori Persia. Teori ini bersandar pada adanya kesamaan budaya yang dimiliki beberapa kelompok masyarakat Islam dengan penduduk Persia. Misalnya saja, tentang peringatan 10 Muharam yang dijadikan hari peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Rasulullah Saw.. Teori ini meyakini Islam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke-13 m. Dan wilayah pertama yang dirambah adalah kawasan Samudera Pasai.

Baca juga:  Doktor UIN Ungkap Bukti Hubungan Ottoman-Kesultanan Jawa, Peter Carey Terbantahkan?

Teori ketiga, yaitu Teori Arabia. Dalam teori ini disebutkan, Islam yang masuk ke Indonesia datang langsung dari Makkah atau Madinah. Waktu kedatangannya pun bukan abad ke-12 atau 13 M, melainkan awal abad ke-7 m. Artinya, menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriah (Suryanegara, AM, 1995, Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam di Indonesia).

Sudut Pandang Sejarawan

Dalam teori di atas, kita bisa lihat bagaimana pengaruh sudut pandang seseorang terhadap pembacaan fakta sejarah. Snouck Hurgronje adalah seorang orientalis yang diminta Belanda mencari kelemahan umat Islam di Indonesia. Ia menilai Islam dari sudut pandang orientalismenya.

Saat pendudukan Belanda di Nusantara, di Eropa, Daulah Utsmaniyyah masih merupakan kekuatan politik yang besar dan berpengaruh. Menyebut Islam Indonesia berasal dari Arab pada abad-abad awal hijriah, yang saat itu merupakan pusat Khilafah Islam, akan membahayakan posisi Belanda. Sebab, jika umat Islam Indonesia merasa merupakan bagian dari Khilafah, bisa jadi akan menolak pendudukan Belanda dan mengobarkan perlawanan dengan melibatkan bantuan Utsmani.

Apa yang disampaikan Snouck bahwa Islam Indonesia berasal dari Gujarat, dibawa para pedagang, mengesankan Islam masuk tanpa kesengajaan. Ini menafikan pengembanan dakwah yang dilakukan Khilafah saat itu. Bila kita gunakan sudut pandang Islam dalam menilai fakta ini, tampak jauhnya dari kebenaran.

Islam adalah agama dakwah. Tugas Khilafah adalah mengemban dakwah ini ke seluruh dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “… Jika engkau berjumpa dengan kaum musyrik berikanlah kepada mereka tiga pilihan atau kesempatan; jika mereka menyambut, terimalah, dan cukuplah atas apa yang mereka lakukan (yaitu) serulah mereka kepada Islam; jika mereka menyambutnya, maka terimalah dan cukuplah dari yang mereka utarakan; kemudian serulah mereka supaya berpindah ke negeri Muhajirin. Jika mereka menolak pindah, beritahukan bahwa kedudukan mereka seperti orang-orang Arab Muslim yang berlaku juga hukum Allah sebagaimana terhadap orang-orang Mukmin. Mereka tidak memperoleh ghanimah dan fa’i kecuali turut serta berjihad dengan kaum muslimin. Namun, jika mereka menolak (pilihan pertama) ini maka pungutlah jizyah. Jika mereka menyambutnya, terimalah dan cukuplah dari yang mereka utarakan. Akan tetapi, jika mereka menolak juga (pilihan kedua), maka mintalah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka.” (HR. Muslim).

Baca juga:  Gaung Khilafah Mendunia, Sistem Sekuler Memusuhinya

Perintah Rasulullah ini bukanlah perintah yang diberikan kepada individu melainkan kepada suatu institusi yang sanggup menjalankannya, yaitu negara. Dengan dasar nas inilah Khilafah Islam dari awal terbentuknya telah mengirimkan utusan-utusan untuk mendakwahkan Islam. Maka kita ketahui, dari sejarah, beberapa wilayah masuk Islam tanpa melalui peperangan, namun karena penduduknya masuk Islam secara damai.

Yaman adalah salah satunya. Rasulullah Saw. mengirim surat kepada Raja Yaman, Badzan bin Sasan. Saat Badzan mengumumkan beriman kepada Allah dan Rasulullah Saw., seluruh rakyat mengikutinya, mengucapkan dua kalimat syahadat.

Sejak saat itu, Yaman berada dalam naungan kedaulatan Islam. Azyumardi Azra (1999) dalam karyanya Renaisans Islam Asia Tenggara, Sejarah Wacana dan Kekuasaan, menyebutkan Islam masuk ke banyak wilayah di Asia Tenggara secara damai.

Begitu juga Cina, Islam masuk melalui dakwah. Hubungan Kekaisaran Cina dengan Kekhalifahan Islam mengalami zaman terbaiknya pada abad ke-7 dan ke-8. Para khalifah Islam baik dari masa Khulafa al-Rasyidin maupun Daulah Bani Ummayah pernah mengirimkan 36 utusannya ke Cina dalam kurun 147 tahun (651-798) (https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/polo91458/dua-jalur-masuknya-islam-ke-negeri-china).

Bahkan salah seorang sahabat Rasulullah Saw., Sa’ad bin Abi Waqqash, yang turut berdakwah ke Cina, wafat dan dimakamkan di Guangzhou. [MNews/Gz] Bersambung ke bagian 2/2

3 thoughts on ““Membaca” Sejarah Masuknya Islam ke Nusantara (Bagian 1/2)

  • 29 September 2020 pada 04:26
    Permalink

    Pentingnya memahami sejarah Islam di Nusantara. Karena banyak pengkaburan sejarah. Sesungguhnya jejak khilafah nyata nyata ada di Nusantara, yg menyebarkan Islam di nusantara

    Balas
  • 28 September 2020 pada 15:13
    Permalink

    Berharap sejarah yang shahih tentang Islam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *