Tantangan Dakwah

MuslimahNews.com, NAFSIYAH – Begitu luar biasa teladan dari Rasulullah Saw. dalam upaya menyebarkan risalah Islam di muka bumi. Demi mendapatkan pertolongan dakwah, beliau berjalan kaki menuju Thaif. Hanya berteman seorang budaknya bernama Zaid bin Haritsah.

Setiap kali Rasul bertemu kabilah dalam perajalannya menuju Thaif, Rasul pasti menyeru mereka dengan Islam. Namun, tak seorang pun yang menanggapi seruan beliau. Bahkan sesampainya di Thaif, Rasul diusir dengan penuh hina.

Beberapa orang dan budak belian mencerca dan memaki Rasul. Mereka berteriak-teriak hingga orang-orang pun berkumpul di dekat beliau. Lalu mereka mulai melempari Rasul dengan batu sambil terus memaki hingga kedua terompah Rasul basah karena darah.

Kepala Zaid pun terluka terkena lemparan batu penduduk Thaif saat berusaha melindungi Rasul dengan tubuhnya. Rasul pergi meninggalkan Thaif dengan wajah muram.

Tiba di Qarn Tsa’alib, beliau menengadahkan wajahnya dan melihat segumpalan awan menaunginya. Rasul melihat Jibril berada di sana dan berkata padanya, “Allah telah mendengar ucapan dan penolakan kaummu terhadapmu. Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung agar engkau dapat memerintahkannya melalukan apa pun sekehendak hatimu.”

“Wahai Muhammad, apa yang engkau inginkan sekarang? Kalau engkau mau, aku siap menumpahkan Akh-Syabain (nama dua gunung di pinggir Makkah) kepada mereka.” seru malaikat penjaga gunung.

Rasul menjawab, “Tidak, aku hanya berharap semoga Allah melahirkan dari mereka keturunan yang mau menyembah Allah SWT tanpa menyekutukan-Nya.” (HR al-Bukhari)

Dari sepenggal kisah ini, kita dapat mengambil teladan dari sikap Rasul menghadapi tantangan dakwah. Pertama, Rasul mencontohkan kesabaran, keikhlasan, dan hanya mengharap rida Allah SWT, meski banyak tantangan dan rintangan menghadang. Kedua, Rasul tetap berlapang dada, meski dimaki, dibenci, diusir, bahkan dilukai fisiknya ketika mengemban risalah Islam.

Bisa saja Rasul membalas dengan memerintahkan malaikat membumihanguskan mereka. Tapi, Rasul justru mendoakan mereka, meminta pada Allah agar keturunan mereka menyembah Allah SWT. Masya Allah.

Terkadang, kita sebagai pengemban dakwah, baru menghadapi tantangan dakwah yang “tak begitu besar”. Masih sekadar ditolak bukan dilukai, namun langsung menyerah tak mau melakukannya lagi. Ketika diuji dengan himpitan ekonomi, mengatakan tak akan mampu berjalan dalam perjuangan ini. Dituduh teroris atau radikal, sudah pergi meninggalkan jalan perjuangan.

Apalagi saat pekerjaan menjadi taruhannya, kita diuji dengan alasan sibuk bekerja hingga tak lagi optimal dalam menunaikan amanah dakwah.

Padahal, harus dipahami bahwa dakwah merupakan muhimamatur rusul (tugas para Nabi dan Rasul). Memiliki keutamaan karena merupakan ahsanul a’mal (sebaik-baik amal). Dengan berdakwah, seorang muslim meraih pahala yang teramat besar (al-hushul ‘alal ajro al-azhim).

Apalagi dakwah dapat menyelamatkan dai dari azab Allah SWT dan pertanggungjawaban di akhirat. Dakwah juga jalan menuju khairu ummah (terbentuknya umat yang terbaik). Sungguh indah… Maka, masihkah kita ragu, lalu menarik diri dari dakwah?

Bersabarlah. Sesungguhnya itu tak seberapa dibanding tantangan dakwah yang dialami Rasul. Ujian yang akan menjadikan kita “naik tingkat” demi meraih rida-Nya dan melayakkan kita menjadi pewaris para Nabi dan Rasul-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita pendakwah yang istikamah, yang meneladani sebaik-baiknya teladan dalam kehidupan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [MNews/Rnd]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *